Pelajaran Menghargai

Setiap pagi di kelas Mawiya ada jam writing. Hari ini materinya sama sekali tidak kami duga sebelumnya. Setelah berbagi goodie bags untuk perayaan Mawlid Nabi kemarin, Miss Griffith, guru Mawiya mengajak seluruh kelas untuk menulis ucapan terima kasih untuk Mawiya. Di atas kertas yang sangat besar! “I’ve got a loooooootttt of thank you card, so I cant put my lunch bag in my backpack!” Teriaknya begitu turun dari bis sekolah. Ada 23 kartu. Atau mungkin poster lebih tepatnya! Ucapan-ucapan ini terasa begitu tulus dan membahagiakan kami. Terima kasih, sudah mengijinkan kami untuk berbagi kebahagiaan di hari Mawlid An Nabi kali ini. Sungguh kami merasakan cinta Nabi tidak terbatas ruang dan waktu. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW.

Advertisements

I Don’t Like Being Moslem

Keluarga besarku tinggal di satu lingkup, mengelilingi rumah mbah buyut yang besar. Setiap memasuki bulan Shaffar, aku dan beberapa saudara perempuanku berlatih membaca puisi tentang Nabi Muhammad. Hampir setiap sore kami berkumpul dirumah saudaraku. Sementara para santri putri berlatih membaca Diba‘ dan Barzanji.

Pada hari Maulid, semua orang akan datang berkumpul di ruang tamu mbah buyut. Rumahnya besar dan atapnya tinggi. Khas rumah jaman Belanda. Ruang tamunya dihias dengan kain besar bertuliskan “Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW”. Pot pot tanaman menghiasi sisi kanan kiri kain itu. Di pintu dan jendela digantungkan rangkaian bunga sedap malam. Aromanya semerbak, bercampur dengan aroma parutan buah jeruk purut yang diletakkan di tiap sudut ruangan.

Malam itu dan malam-malam Maulid lainnya selalu menyisakan perasaan bahagia dalam hatiku. Selepas maghrib, aku dan saudara-saudaraku akan dirias. Orang-orang antusias menanti penampilan kami membacakan puisi. Aku suka melihat bunga sedap malam menghiasi rumah mbah buyut. Bunga itu baru dilepas jika sudah mengering. Aku suka berkumpul bersama saudara-saudaraku dan bermain hingga larut malam. Biasanya kami harus pulang paling lambat jam 5 sore. Tapi karena ini perayaan maulid, kami jadi punya waktu ekstra untuk main. Begitulah tradisi maulid di keluargaku.

Di sekolah juga selalu meriah. Aku suka pergi ke sekolah tanpa harus belajar dan memakai seragam. Kami datang berbusana muslim dan membawa makanan. Buah-buahan dan kue-kue basah yang ditempatkan di atas cobek tanah liat. Beberapa orang membungkusnya dengan plastik bermotif bunga, lalu dihias dengan bendera kertas warna warni. Semua makanan akan dikumpulkan, lalu guru akan membagikannya kembali sebelum kami pulang.

Continue reading I Don’t Like Being Moslem

Blessed Friday – جمعة مباركة

Aku tidak tahu hari ini bisa jadi begitu emosional. Hari sabtu yang lalu aku bertemu dengan tetangga komplek. Kami baru bertemu sekali ini. Sepasang suami istri yang ternyata muslim. Suaminya berasal dari Bangladesh, istrinya dari Taiwan. Mereka sudah puluhan tahun tinggal di AS.

Mr. Sayyid & Mrs. Lina bercerita setiap hari jumat mereka pergi ke masjid Potomac untuk melaksanakan salat jumat. Mereka berbaik hati menawari untuk ikut bergabung kalau aku mau. Tentu aku mau banget.

Aku tidak sabar menanti jumat. Seperti apa suasananya nanti? Sebesar apa masjidnya? Bagaimana bentuknya? Apa yang akan disampaikan khatib nanti? Ini adalah even religi yang pertama untukku di AS sejak kepindahanku 3 bulan yang lalu.

Sepanjang perjalanan, Mr. Sayyid bercerita tentang banyak hal. Dulu dia bekerja di Discovery Channel selama belasan tahun. Lalu pada tahun 2000 dia berhenti dan mendirikan perusahaannya sendiri di bidang properti. Sejak tahun 2000 itulah dia baru bisa rutin melaksanakan salat jumat karena jam kerjanya lebih fleksibel.

“Apakah ini masjid yang terdekat dengan rumah kita?” Tanyaku.

“Bukan. Ada masjid yang lebih dekat. Tapi kami lebih suka disini karena imamnya bagus dalam menyampaikan ceramah. Nanti aku tunjukkan masjid yang terdekat,” jawabnya.

Beberapa menit kemudian Mr. Sayyid menunjukkan masjidnya. Sebuah bangunan besar dengan tulisan “Bethesda United Church of Christ“.

“Gereja ini memang digunakan untuk salat jumat setiap minggunya. Jadi sebenarnya ini bukan benar-benar masjid. Kadang kami salat disini kalau waktunya mepet,” jelas Mr. Sayyid.

Pohon-pohon di pinggir jalan mulai memerah. Langit mendung menambah kesan dramatis siang itu. Sekitar 15 menit berkendara, kami pun sampai di daerah Potomac. Bangunannya biasa, seperti halnya bangunan lain di daerah ini. Pot bunga warna-warni dan beberapa buah labu berukir wajah seram menghiasi sekitar pintu masuk. Haloween baru 4 hari berlalu.

Kami datang lebih awal rupanya. Masjid yang baru berusia 2 tahun ini masih sepi. Kami melewati loker sepatu, toilet dan perpustakaan kecil sebelum memasuki ruangan utama. Jamaah pria dan wanita hanya dipisahkan oleh seutas tali beludru.

Aku tidak tahu air mataku akan terus mengalir sejak pertama kali aku mengangkat tanganku, memulai salat tahiyyatul masjid. Aku tidak tahu perasaan apa yang kualami melihat tulisan-tulisan arab itu, melihat beberapa orang yang melakukan gerakan yang sama denganku. Aku tidak bisa menahan air mataku.

Satu per satu, jamaah berdatangan. Pakaian mereka beragam. Para wanita memakai baju, celana panjang, rok atau abaya. Beberapa menutup kakinya dengan kaos kaki, beberapa membiarkannya begitu saja. Beberapa memakai kerudung yang tertutup rapat, beberapa memakainya begitu saja dengan rambut menyembul dimana-mana. Mereka salat dengan pakaian sebagaimana mereka datang.

Muadzin berkemeja dan bercelana jeans mulai membacakan beberapa ayat Alquran dengan suara dan nada yang indah. Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku haqqul yaqin ketampanannya maksimal! Tidak lama kemudian dia berdiri melantunkan adzan. Allah… adzan terakhir yang kudengar itu 3 bulan yang lalu. Aku menunduk menutup wajahku. Air mataku tidak terbendung. Aku tidak tahu suara adzan bisa membuatku begitu emosional. Sebelum ini aku mendengar adzan lebih dari 5 kali sehari. Dan aku sering merasa capek terus-terusan menjawab dan berdoa sesudah adzan. Katakan, “cukup menjawab adzan yang pertama saja”. Oh… lisan ini sudah otomatis, Yuk! Bahkan ketika otak sedang memikirkan apa, lisan punya pekerjaan sendiri ketika adzan berkumandang.

Khatib berdiri dan memulai khutbah jumat. Kata Mr. Sayyid tadi, beliau adalah seorang dosen. Entah dosen apa. Dia mengawali khutbah dengan cerita kejujuran Nabi Muhammad SAW. Tidak ada satupun orang yang meragukan kejujuran Nabi, bahkan musuhnya. Seseorang yang terus menerus menyebarkan berita begitu saja, tanpa klarifikasi sebelumnya, dia termasuk orang yang tidak jujur.

Di akhir khutbah, khatib mengumumkan jadwal kegiatan masjid minggu ini. Termasuk mengundang jamaah untuk perayaan Maulid Nabi 2 minggu lagi. “If you think that Maulid Nabi is a bid’ah, you still can come to have dinner,” kata khatib disambut tawa jamaah.

Khutbah diakhiri dengan bacaan doa qunut. Khatib lalu memimpin salat jumat, dengan bacaan bismillah secara jahr di awal Alfatihah.

Ini adalah hari jumat yang indah dan penuh berkah.

Turki Dalam Sekejap

Dalam perjalanan menuju Washington DC yang lalu, kami memilih Turkish Air supaya bisa transit di Istanbul. Selama 9 jam transit, sekitar 6 jam kami melihat beberapa tempat di Istanbul.

Sebelumnya, untuk menghemat waktu dan tenaga, kami menghubungi mahasiswi disana, minta tolong dianterin jalan jalan.

Kami tiba di bandara internasional Ataturk pada pukul 5 pagi. Setelah mengurus imigrasi, ke toilet dan musholla dulu, sambil nunggu mbaknya yang mau nemenin kami datang.

Jam 7 pagi kami mulai jalan. Koper kabin kami dititipkan di tempat penitipan bandara. Kalau ngga salah sekitar 25 lira per koper. Tergantung ukuran juga.

Stasiun kereta bawah tanah menyatu dengan bandara. Kita tidak perlu keluar gedung. Cukup naik lift atau eskalator ke bawah tanah. Karena satu kartu bisa dipakai beberapa orang sekaligus, kami jadi ngga beli kartu. Nebeng aja sama kartu Mbaknya, tinggal diisi ulang. Kami melalui lorong-lorong persimpangan di bawah tanah. Ganti lajur dan turun di stasiun UI alias Universitas Istanbul 😁. Dari situ, jalan sedikit lalu naik bus macam transjakarta.

Tujuan pertama kami adalah Blue Mosque alias masjid biru. Salah satu masjid bersejarah yang menjadi ikon Turki. Didirikan pada tahun 1616, Sultan Ahmed I memprakarsai pembangunan masjid ini untuk menegaskan kembali kekuasaan Ottoman.

Sayang sekali kami datang di hari jumat pagi. Masjid ditutup untuk persiapan salat jumat. Kami ngga punya waktu menunggu salat selesai.

Masjid biru ini didirikan di depan Hagia Sofia. Diantara kedua bangunan ini terdapat taman-taman dan air mancur yang indah dan nyaman. Banyak penjual jagung bakar pula. Di bulan ramadlan, umat Islam ramai beraktivitas di taman ini. Berekreasi sambil menanti saatnya salat di masjid biru.

Hagia Sophia sendiri tak kalah indah dan menariknya dengan Masjid Biru. Awalnya adalah gereja, lalu beralih fungsi menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Lagi-lagi kami ngga bisa masuk karena gedung ini sedang direnovasi.

Kami terus berjalan kaki menjauh dari Masjid Biru, menuju istana Topkapi. Di sepanjang jalan angin sejuk mulai menyapa meskipun masih agustus. Aroma chesnut panggang tercium wangi sekali.

Rupanya para penjual chesnut panggang berjajar di pinggir jalan menuju Topkapi. Mereka menjual berdasarkan berat. 10 lira sebungkus rasanya belum cukup. Manis, chewy, hangat, dan wangi chesnut panggang ini begitu serasi dengan angin yang berhembus sejuk.

Gerbang depan Topkapi saat itu sedang dalam tahap renovasi juga. Setelah itu kami bertemu taman yang sangat luas. Hijau dan rindang dengan pepohonan besar. Anjing-anjing liar berbaring malas di pinggir jalan.

Istana ini mulai dibangun pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II. Begitu luasnya istana hingga pernah dihuni oleh 4000 orang.

Pada abad ke 17, Sultan banyak menghabiskan waktu di istana baru di Bosporus. Perlahan kepentingan istana Topkapi ini memudar. Hingga pada tahun 1921, istana ini dialihfungsikan sebagai museum.

Dari istana Topkapi sebenarnya ada jalan menuju Bosporus. Tapi jalan ini tertutup untuk umum. Jadi kami harus keluar kompleks dan naik taksi menuju selat bosporus. Ada kereta juga kalau mau lebih irit. Hanya saja waktu kami terbatas.

Turun dari taksi di Bosporus, kami melewati kios penuh warna. Rupanya mereka menjual Kumpir dan wafel. Kumpir adalah kentang panggang dengan berbagai macam topping.

Etalase mereka memajang dengan cantik keju, mentega, jagung pipil, sosis, salad, buah zaitun, mayonais, saus tomat dan acar warna warni untuk topping kumpir. Di sisi yang berbeda, 9 macam coklat leleh berbagai rasa dan warna, stroberi, pisang, biskuit dan kacang kacangan, tertata rapi untuk topping wafel.

Satu kumpir, dan satu wafel, ternyata sudah cukup mengenyangkan untuk aku, Rahmat, Mawiya dan Nahrisyah.

Di Bosporus kami menghabiskan waktu di playground anak anak. Ada juga tur selat dengan menaiki kapal. Tapi lagi-lagi waktunya terbatas.

Kami harus segera kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju Washington DC. Satu saat nanti semoga bisa menikmati Turki dengan thuma’ninah.

Penyesuaian Diri

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar diplomat ditugaskan ke luar negeri? Beberapa teman berpikir, kami pindah tinggal bawa keperluan pribadi saja. Sisanya sudah diurus kantor. Rumah dinas, mobil dinas, sekolah anak diurusin. Sederet staff sudah siap membantu kemudahan hidup kami di negara baru.

Asumsi itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Beberapa kantor perwakilan Indonesia memang menyediakan rumah dinas. Biasanya satu komplek dengan kantor, seperti di Riyadh atau Seoul. Tapi, yang tidak menyediakan rumah dinas lebih banyak lagi. Di kantor perwakilan seperti ini, kami mendapat tunjangan sewa rumah. Kadang jumlahnya memang cukup, kadang kami harus nombok. Tergantung kebutuhan pribadi dan situasi negara setempat.

Mobil dinas, duta besar sih sudah tentu dapet. Tapi diplomat remah remah macam kami, kalo mau punya mobil ya bellliii..

Jadi, apa aja yang harus kami lakukan di bulan pertama posting? Begini..

Identitas

Meskipun tercatat sebagai staff kedutaan, seorang diplomat tetap harus lapor diri ke kantor perwakilan. Ya sambil ngantor sih. Ada dokumen dari Kemlu di tanah air yang harus diserahkan ke kantor perwakilan. Paspor seluruh keluarga juga diserahkan untuk diurus status kependudukannya. Setelah itu kami akan mendapat diplomatic card sebagai kartu identitas yang sah.

Rumah

Seperti yang aku bilang tadi, ada kantor perwakilan yang menyediakan rumah dinas. Tapi kebanyakan sih enggak. Kami mendapat tunjangan sewa rumah. Bentuk rumahnya tergantung situasi negara.

Tahun 2011, aku datang ke Damaskus ketika Rahmat sudah berada disana selama 6 bulan. Jadi semua sudah rapi. Aku ngga tau gimana repotnya dia nyari apartemen.

Tapi di DC ini, aku ikut prosesnya dari awal. Kami dibantu oleh staff kantor mencari rumah yang disewakan. Selain itu kami juga mencari informasi dari internet. Total ada 16 rumah & apartemen yang kami datangi dalam waktu 2 minggu. Kebayang ga capeknya, jetlag diri sendiri belum ilang, masih harus mengatasi jetlag anak-anak.

Selama belum mendapat tempat tinggal, kantor menyediakan serviced apartment untuk kami. Kenapa ngoyo tempat tinggal harus fix maximal dalam 3 minggu? Karena di AS, sekolah anak bergantung pada tempat tinggalnya. Kalau rumah belum jelas, ngga bisa ngurus sekolah anak.

Di Damaskus dulu, kami menyewa apartemen 2 kamar tidur. Masih pengantin baru ❤❤… Disana hampir semua hunian disewakan fully furnished. Memudahkan banget karena lengkap sampe kesetnya. Apartemen salah satu teman kami bahkan tersedia mesin pembuat pasta dan sandal di tiap kamar.

Yang sekarang ini, semua hunian, baik apartemen maupun rumah, disewakan kosongan kecuali dapur. Kulkas, kompor, microwave, mesin cuci piring sudah tersedia. Tapi perabotannya ngga ada. Maka urusan rumah ini luar biasa menyita waktu, tenaga dan kantong. Karena kita bener-bener harus beli SEMUANYA. Untuk menghemat, bisa beli barang bekas melalui internet. Atau jeli memanfaatkan masa diskon. Seperti sekarang ini, menjelang labour day, diskon abis-abisan deh.

Saat ini kami menyewa sebuah town house 3 lantai. Hampir semua rumah modelnya begitu. Yang cuma 2 lantai harganya ga karuan 😁. Kami jatuh cinta sama rumah ini, tapi tidak pada harganya. Udah dihindari, nyari kemana mana, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan jadi menyewa. Begitu ngasih kabar ke perusahaannya, lah kok katanya udah ada yang mau sewa. Baruuuu tadi pagi deal-nya. Oalah… yo wes.. berjuang maneh..

Besoknya pas lagi nyari-nyari info sewa rumah, dapet kabar kalo penyewa yang kemarin ngga di approve pemilik. Entah kenapa. Wah.. jodoh nih. Langsung deal saat itu juga. Alhamdulillah.. rumah fix tepat 3 minggu setelah kedatangan kami.

Sekolah

Begitu lokasi rumah jelas, kami langsung melapor ke kantor dinas pendidikan setempat, ke bagian internasional. Anak-anak pindahan, harus mengikuti tes bahasa inggris dan matematika untuk mengetahui di kelas mana dia akan belajar nanti. Tapi karena Mawiya baru kelas 1 SD, dia ngga perlu mengikuti tes itu.

Selain tes tulis, anak-anak pindahan di AS juga harus dicek kelengkapan imunisasinya. Disini kami cukup menunjukkan kartu atau buku catatan vaksin dari rumah sakit atau dokter. Peraturan ini sangat mungkin berbeda dengan negara lain. Seperti cerita teman diplomat di australia misalnya, catatan yang diminta tidak berupa buku, tapi berupa sertifikat. Sertifikat ini bisa didapat dari puskesmas dengan menunjukkan buku vaksin.

Di AS, anak-anak pindahan juga wajib mendapat vaksin TB disini (bukan di Indonesia). Hasilnya harus diserahkan ke sekolah, dengan nota di atas kertas pink, “Simpan baik-baik. Dokumen akan berguna ketika kamu ngurus sekolah, kuliah, dan kerja di seluruh dunia.”

Oke, jadi sekarang catatan vaksin sejak bayi procot itu harus disimpan dan di laminating macam akta kelahiran. Tak punya catatan vaksin? Tenang, bisa vaksin ulang. Seperti yang kebetulan terjadi pada anak salah satu teman kami. Anaknya udah naik kelas X, anak kedua pula. Sewajarnya banget kalo catatan imunisasinya udah ngga ada. Hari itu dia rapelan 5 vaksin sekaligus! Bayangkan! LIMA! Keluar ruangan dia jalan sambil pelukan nyandar ibunya. Kliyengan abis. Kemeng. Mumet.

Sekolah seperti apa yang kami pilih? Amerika Serikat punya sistem pendidikan yang bagus. Sekolah negerinya bagus dan gratis. Jadi kami ngga perlu repot milih, karena udah otomatis sesuai tempat tinggal. Ngga perlu khawatir tentang kualitas karena udah standar dan semuanya bagus.

Beda dengan di Damaskus. Sekolah lokal kurang mengakomodir kebutuhan siswa internasional. Jadi anak-anak asing kebanyakan belajar di sekolah internasional dan tidak terikat zona tinggal.

SIM

Ketika mendampingi suami di Damaskus dulu, cukup setor foto, paspor dan SIM A yang masih berlaku, aku udah langsung dapet semua kartu identitas. Visa tinggal, kartu diplomatik dan SIM Syria. Tapi di DC, kami harus ikut tes. Tanpa kecuali! Bahkan dubes.

Karena sudah punya SIM A yang masih berlaku, kami ngga perlu tes praktek, cukup tes pengetahuan aja. Ini jadi horor buatku karena selain bahasa inggrisku terlalu ngepres, tesnya banyak hafalan dari manual setebal 101 halaman. Seperti berapa jarak parkir dari hydrant. Kenyataan bahwa sebagian besar teman-teman ngga lulus pada trs yang pertama, jadi tekanan tersendiri. Mereka yang bahasa inggrisnya lebih jago aja harus ngulang lagi, apalagi aku kan… Ada 6x jatah mengulang tes. Kalo gagal 6x harus nunggu setahun dari tes yang pertama.

Alhamdulillah setelah try out 14x dan tes 2x, aku lulus. Satu tahapan lain terlewati.

Berbenah

Sebulan tinggal di hotel, tentu banyak barang yang sudah keluar dari koper. Belum lagi belanjaan baru yang dicicil sedikit demi sedikit untuk rumah. Pindah dari hotel ke rumah sewa ternyata tidak semudah itu. Tapi kami juga ngga mau terlalu repot packing rapi. Toh nanti dibongkar lagi. Packing asal masuk aja. Asal ngga ada yang ketinggalan di hotel.

Sampai di rumah, bongkar lagi semuanya. Lemari sudah tersedia, menyatu dengan dinding (aku suka banget lemari macam ini karena kamar jadi terlihat rapi). Semua barang asal masuk lemari aja. Rapi rapinya sambil jalan. Yang penting koper bisa disimpan, enyah dari pandangan mata! 3 bulan penuh berurusan sama koper itu bikin eneg.

Sambil memasukkan barang ke lemari, Rahmat bilang,” dulu pas daftar jadi diplomat, aku ngga kebayang loh akan jadi (ribet) kaya gini. Kirain semua udah ada yang ngurusin.”

“Tapi ngga menyesal kan?” Kataku.

“Yo lapo…” 😂😂😂

Mobil

Entar dulu lah… Bernafas dulu..


Untuk menambah suasana drama, semua itu dilakukan ketika masih jetlag. Perbedaan waktu mencapai 11 jam. Menunggu Isya datang di jam 9.20 terasa sangat berat karena ngantuk. Nahrisyah tantrum hampir 30 menit setiap harinya. Menangis, berteriak, meraung ngga jelas apa maunya. Ditambah lagi dia batuk flu.

Tapi dimana-mana, badai pasti berlalu. Alhamdulillah pelan pelan hidup kami makin teratur dan tertata. Sebelumnya ngga kebayang dan ngga ada yang ngajari secara detil gimana caranya hidup berpindah pindah. Sebagai keluarga diplomat, mau ngga mau kami harus bisa melakukannya.

Di Dalam Sebuah Taksi

Ini adalah Idul Adha pertama kami di Amerika Serikat. Baru sebulan pindah dan kami masih disibukkan dengan urusan rumah, sekolah dll. Pas malam takbiran, di rumah baru lagi rempong abis ngangkat kasur ke lantai atas. Kasurnya nyangkut di tangga karena kegedean 😥. Akhirnya terpaksa diturunkan lagi. Besoknya mereka akan datang lagi dengan tambahan orang. Untungnya malam itu kami masih bisa tidur di hotel.

Kami baru sampai hotel menjelang tengah malam. Anak-anak segera tidur karena kecapekan. Rahmat masih mencari informasi tempat salat Id. Kami punya dua pilihan tempat. Islamic center terdekat, atau Imaam center (milik orang Indonesia) yang lokasinya cukup jauh. Nyari nyari info kesana kemari, ngga juga dapet info tentang salat Id di Islamic center. Kalau ke Imaam center, kebayang jauhnya karena kami lelah dan akan pindahan setelah salat. Kami pun memutuskan untuk coba coba. Coba ke Islamic center aja, kalau ternyata sepi langsung cus ke Imaam center.

Bangun pagi ini rasanya super berat. Masih ngantuk dan capek pindahan rumah. Udah kesiangan nih kita. Segera naik taksi menuju Islamic center, yang ternyata sepi. Bener bener ngga ada tanda yang menunjukkan adanya kegiatan. Entah belum mulai, entah udah selesai, sepi tanpa petunjuk. Langsung putar balik menuju stasiun Dupont Circle. Naik kereta menuju Imaam Center di Silver Spring. Jaraknya sekitar 11 km, dan ada 10 stasiun yang kita lewati. Di kereta kami sudah pasrah kalau seandainya nanti ngga bisa ngejar waktu salat.

Sampai di stasiun Silver Spring, kami mencari taksi. Ternyata lokasinya cukup jauh. Taksi terdepan dikemudikan seorang wanita. Aku minta tolong dia untuk membuka pintu bagasi. Dia sedang membaca buku sambil menunggu penumpang. Dari jendela, terlihat buku yang sedang dibacanya. Ada 2 kolom di tiap halamannya. Yang kanan berbahasa arab, dan yang kiri berbahasa inggris.

Aku terkejut. “Kamu muslim?” Tanyaku.

“Oh bukan. Aku hanya sedang mencari tahu kenapa orang bisa membunuh dengan alasan agama. Aku katolik,” jawabnya.

Setelah mengetahui tujuan kami, dia bercerita bahwa seorang temannya yang beragama Islam memberikan Alquran kepadanya. Supaya dia bisa mencari tahu alasan orang yang membunuh atas nama agama.

“Kamu menemukan sesuatu?” Tanyaku.

“Ya. Tidak ada sama sekali perintah agama untuk membunuh. Lalu kenapa mereka melakukannya? Aku ngga habis pikir. Disini tertulis ‘jangan melakukannya’, tapi malah dilakukan.

“Mereka melakukannya untuk kepentingan mereka sendiri. Entah untuk uang atau kekuasaan atau yang lainnya,” kata Rahmat.

“Disini juga tertulis bahwa Allah adalah Master of Judge. Apa mereka tidak tahu tentang itu?” Kata pengemudi itu sambil menunjukkan surat Alfatihah ayat keempat.

“Tentu saja mereka tahu. Tapi mereka tetap melakukannya,” kata Rahmat.

“Kenapa mereka ingin semua orang menjadi Islam juga?”

“Islam yang seperti mereka. Jangankan dengan agama lain. Sesama Islam yang berbeda dengan mereka saja, juga dibunuh. Padahal Nabi Muhammad, ketika memasuki kota Makkah, tidak mewajibkan semua penduduk untuk pindah Islam. Nabi hanya membuat kesepakatan dengan mereka. Tertulis di Alquran ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’,” kata Rahmat.

“Begitu ya.. hei kelihatannya tempatnya kelewatan,” dia memutar balik mobilnya, tapi tidak menemukan Imaam center. “Kamu yakin alamatnya benar?”

Dia memeriksa lagi alamatnya, mengutak atik GPS nya, ternyata kami berjalan ke arah sebaliknya. Entah siapa tadi yang salah. Kami sudah sangat terlambat.

“Sudah selesai ya salatnya?” Tanya Rahmat pada petugas penjaga parkir. “Masih khutbah sih, Pak. Tapi beberapa menit lagi selesai.” Kami tertawa, dan memutuskan untuk langsung kembali ke stasiun, dengan taksi yang sama.

“Hari ini hari raya kami umat muslim,” kataku pada pengemudi.

“Ohya? Kalian muslim?”

“Iya. Ini hari ketika umat Islam menjalankan ibadah haji,” kataku.

“Apa itu haji?”

“Haji itu salah satu prinsip dasar dalam Islam. Umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Makkah.” Ngga akan cukup waktunya untuk menjelaskan haji 😁

“Oh.. begitu. Kalian ketinggalan ibadah, kalian ngga tau jamnya?”

“Tahu. Tapi kami ngga tau tempatnya. Tidak apa-apa, ini bukan wajib. Bagus kami terlambat, jadi bisa bertemu kamu.”

“Ya.. senang bertemu kalian”

“Sudah berapa lama kamu tinggal disini?” Tanyaku.

“Sudah 7 tahun. Aku datang bersama anakku. Tapi orang tidak memperlakukan kami dengan baik. Sepupu suamiku itu katanya mau membantu, karena kami baru pindah. Tapi dia terus minta minta sampai akhirnya uangku $3000 habis dalam waktu dua minggu.”

“Sekarang kamu masih bertemu dia?”

“Oh tidak.. aku tidak mau lagi bertemu dia. Dalam injil dikatakan, kita tidak perlu bertemu dengan orang yang berbuat negatif pada kita. Jangan menyakiti diri sendiri.”

“Itu adalah alasan yang sama dengan orang yang membunuh dengan alasan agama. Sepupu suamimu itu beralasan membantu, tapi sebenarnya dia hanya butuh uangmu. Orang orang itu membunuh dengan alasan agama, padahal dia punya kepentingan sendiri. Agama adalah senjata paling mudah untuk mengontrol orang lain. Jangan takut pada Islam.”

Obrolan terhenti karena kami sampai di stasiun Silver Spring. “Rugi banget deh kita, udah jalan jauh ternyata ngga bisa salat,” keluh Mawiya. “Ngga rugi kok, kan kita bisa ketemu sama sopir taksi yang seru,” jawabku.

Kami Pergi (lagi)

Sejak ketetapan kantor tentang penugasan suamiku dikeluarkan pada februari 2017 lalu, kami menerima banyak sekali sambutan dari saudara dan teman. Hampir semuanya menunjukkan ekspresi gembira dan antusias. Betapa menyenangkannya hidup di negara lain. Bertemu dengan orang baru, bicara dengan bahasa baru, mengalami budaya baru.

Lalu mulailah segala persiapan seru itu. Mempelajari tentang negara tujuan penempatan nanti. Apa saja yang perlu dibawa kesana. Menginventarisir kebutuhan. Mengikuti berbagai macam pembekalan dan orientasi. Memeriksakan kesehatan keluarga. Tak lupa bagian favoritku, mencari model dan menjahitkan baju baju khas Indonesia.

Tapi apakah semuanya memang terasa indah?

Goodbye Stuffs

Dua tahun terakhir ini kami tinggal di sebuah apartemen sewa. Karena sudah fully furnished, tidak banyak barang yang kami punya. Kami sendiri belum punya rumah. Jadi mau ngga mau, banyak barang yang terpaksa dititipkan ke rumah orangtua di Jawa Timur. Urusan barang ini, masya Allah… baru bab mainan aja rasanya tak kunjung usai. Aku ajak Mawiya untuk memilah mainan, mana yang akan dibawa pindah, mana yang akan disedekahkan, dan mana yang ingin disimpan di Jawa Timur. Baru masukin satu mainan, ketemu mainan yang lama. “Hei ada boneka ini… udah lama aku ngga main ini. Aku mau main dulu ya..” Lah kapan selesainyaaaa??

Demi kewarasan jiwa, akupun memilah secepat mungkin. Lalu aku kasih Mawiya kesempatan untuk berpamitan pada mainannya. “Bye bye toys…” katanya dengan nada sedih dan mata sayu. Aku tanya lagi, “Masih mau cek lagi ngga?” Dia menggeleng pasrah. Sip, semua sudah pada kardusnya. Tiba-tiba Nahrisyah melihat sesuatu yang menarik dari dalam kardus. Koleksi theeter! Dia tarik begitu saja kantong berisi theeter itu, lalu mengeluarkan semua isinya. Good, extra job for me!

Baju aku dan anak-anak, aku yang memilah. Baju suami, dia pilah sendiri. Begitupun buku anak-anak. Peralatan dapur sebagian besar aku hibahkan pada Bibik yang biasa membantu kami. Rumahnya di kampung belakang apartemen. Ada beberapa peralatan yang sangat membantu aku dalam berkemas. Bisa dibaca disini. Ini bukan kepindahan bertahap yang barangnya bisa dicicil. Semua harus beres dalam sekali angkut. Tidak ada jalan kembali.

Goodbye Friends

Pindah rumah berarti pindah sekolah juga. Di Amerika nanti anak-anak harus mendapat imunisasi tertentu sebagai persyaratan masuk sekolah. Sedangkan untuk dokumen, tidak banyak yang harus disiapkan karena Mawiya masih 5 tahun. Catatan hasil belajarnya juga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Sejak 6 bulan yang lalu, aku dan Mawiya berencana akan memberi kenang-kenangan berupa tas rajut kecil untuk teman-temannya. Tidak semuanya, hanya teman satu tim cheerleadingnya. Sebenarnya ini tidak harus, tapi aku ingin anak-anakku punya memori menyenangkan tentang perpisahan. Sudah menjadi jalan hidup mereka untuk sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan orangtuanya. Mereka akan berpisah dengan teman dan saudaranya berulang-ulang.

Tim cheerleading ini namanya Princess. Mawiya bergabung sejak tahun lalu dan chemistry yang tumbuh diantara mereka terasa begitu kuat. Disini Mawiya belajar tentang teamwork. Bahwa kalau kamu ngga konsentrasi, kamu bisa melukai dirimu sendiri dan temanmu. Kalau kamu ngga disiplin latihan, kamu merugikan teman-temanmu yang sudah bersusah payah datang tepat waktu karena ngga bisa membentuk formasi yang benar. Princess menjadi tim yang kompak dan solid.

Dimana-mana, ketika anak kecil berteman baik, biasanya emaknya juga menjadi dekat. Begitupun Mommies Princess. Dari yang awalnya hanya ngobrol latihan, berkembang tentang banyak hal. Maka selain membuat suvenir untuk tim Princess, aku dan Mawiya juga membuat bando mahkota untuk Mommies. Cuma buat heboh-hebohan aja. Mawiya sendiri dengan terlibat dalam proses pembuatan suvenir, dia makin sadar bahwa kami akan pindah, dan kebersamaan bersama teman-temannya akan berakhir.

“Mawiya gimana rasanya mau pindah?”
“Aku ngga tau. Kan aku belum tau Amerika itu seperti apa.”
“Maksudnya, Mawiya senang atau sedih?”
“Hhh..” menghela nafas. Sok gede banget. “Nanti kalo udah sampe sana aku kasih tau. Kalo sekarang aku ngga tau.”
“Oke.. Kalau mau pisahan sama teman-teman, Mawiya gimana rasanya?”
“Mmm…” matanya melihat ke bawah. “Nanti jangan hapus (pesan) whatsapp nya Princess ya..”
“Kenapa?”
“Supaya kita tau mereka lagi ngapain..”

Aku menangkap kesedihan dari nada bicaranya. Mungkin saat itu belum terlalu, karena masih bertemu teman-temannya.

Tibalah kami di hari itu. Ketika kami akan membagikan kenang-kenangan untuk Princess. Mawiya terlihat biasa saja. Aku yang lebay. Pake nangis segala. Bersama tim ini, kami mengumpulkan 2 piala juara 1 kompetisi tingkat DKI, 1 medali perak dan 1 medali perunggu di even olimpiade klub gym kami. Juga sebuah pertunjukan resital yang megah. Semua latihan yang ketat ini berakhir manis. Princess akan mengikuti kompetisi nasional, tetapi Mawiya tidak lagi tergabung sebagai tim. Semua penghargaan itu menjadi akhir yang menyenangkan untuk Mawiya. Sementara aku membayangkan situasi ini akan terus berulang. Ketika kita menjalin kedekatan dengan teman, ketika kita berhasil meraih penghargaan atas usaha selama ini, datanglah hari itu. Hari ketika kita harus berpindah ke tempat baru.

Goodbye Families

Oh Dear… apa yang paling menyakitkan di dunia ini selain berpisah dengan orang yang kau cintai?

Kami punya kesempatan untuk mudik lebaran sebelum pindah ke Amerika. Kesempatan yang sangat baik untuk berpamitan dengan keluarga besar. Semua orang meluangkan waktu untuk bertemu saudaranya. Setiap kali kesal pada mereka, aku menahan diri untuk tidak mengomel atau bersikap tidak baik. Aku tidak mau mengisi waktu yang sempit ini dengan situasi buruk. Setiap kali bertemu dengan keluarga yang sudah berusia lanjut, mataku terasa panas, membayangkan bisa saja ini terakhir kali aku melihat raga mereka. Setiap kali merasa nyaman berada di dekat mereka, hatiku berdesir, bertanya tanya apakah perasaan ini akan bertahan meski kami berjauhan.

Lebaran kemarin aku bertemu dengan saudara yang sedang merindukan anak perempuannya. Sejak menikah, anak perempuannya itu jarang sekali berkunjung karena suaminya tidak mengijinkan. Padahal jarak rumahnya tidak terlalu jauh. Padahal anak perempuan itu sebelumnya adalah aktivis yang lincah. Padahal anak perempuan itu adalah kesayangan dan kebanggannya. Padahal menantunya itu juga kebanggannya. Lalu sekarang dia merasa seperti tidak punya hak atas anak perempuannya. Lah kan aku jadi heran dengernya… Bukankah suami itu memang lebih berhak atas seorang wanita daripada orangtuanya?

Disini aku merasa pernikahanku dengan Rahmat benar-benar dipenuhi nikmat dan rahmat Allah. Keridloan orangtua membuat langkah kami terasa lebih ringan. Tidak sanggup aku membayangkan apa yang akan kuhadapi seandainya aku jauh dari ridlo orangtua. Aku tahu mereka pasti merasa kehilangan, tapi juga sekaligus ikhlas. Terima kasihku yang tak terhingga pada orangtua atas doa dan keikhlasan mereka untuk hidup kami. Tidak sedikitpun, terucap keberatan dari orangtuaku tentang bagaimana Rahmat membawaku selama ini. Mereka sungguh menempatkan diri menjadi orangtua yang pantas untuk diteladani.

Mawiya sendiri, setiap kali berpisah dengan Teta dan Jiddo, pasti sedih. Pasti drama menangis tersedu-sedu. Entah Teta dan Jiddo yang pergi atau dia yang pergi. Ketika kami kembali ke Jakarta, aku cukup terkesan karena ternyata Mawiya tidak seheboh yang kupikirkan. Dia sedih, tapi hanya sebentar menangis. Sampai di playground, biasanya dia akan langsung main. Ternyata kali ini dia bilang, “aku belum siap main.” Oh My… ucapan itu terasa lebih menyedihkan buatku daripada dia menangis tersedu-sedu.

Akupun mengajak dia untuk duduk di pinggir playground bandara sambil mengawasi Nahrisyah bermain. Untungnya tidak lama kemudian, dia mau bermain.

Di pesawat, situasi cukup terkendali. Dia makan, bercanda dan bermain dengan Nahrisyah. Tiba-tiba dia diam, dan berkata,
” Mama, apakah mengucapkan selamat tinggal itu memang sulit?”
“Ya.. kadang-kadang. Mawiya masih sedih?”
Dia mengangguk sambil mengusap air matanya.
“Mama juga sedih. Teta dan Jiddo juga pasti sedih. Kita semua sedih.”
Dia menarik nafas panjang dan kembali mengusap matanya.

Sebelum kami berangkat ke DC, keluarga datang untuk melepas kami. Dibalik semua kerepotan mengurus bagasi, kesedihan kami bisa jadi lebih besar dari yang tampak. Beginilah kehidupan. Sampai jumpa semuanya. Miss you already..

Longlife Packing!!!

Sebagai rakyat suku nomaden, berkemas adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai. 6 bulan menjelang kepindahan, kami sudah disibukkan dengan berkemas. Sebenarnya ngga harus 6 bulan sebelumnya juga sih. Ini hanya karena kami belum punya tempat tinggal permanen di Jakarta. Tidak ada tempat untuk menyimpan barang yang ngga akan dibawa pindah. Mau ngga mau, barang harus dibawa ke Jatim, titip di rumah orangtua. Mengingat akses, banyaknya barang dan biaya, maka barang yang akan dibawa ke Jatim harus dicicil ketika kami ada kesempatan mudik.

Sebelumnya, sortir barang dulu. Kami membagi dalam 3 kategori. Satu, dijual, disedekahkan dan dibuang. Dua, disimpan di Jatim. Tiga, dibawa pindah.

Dijual, disedekahkan, dibuang

Untungnya kami belum punya furnitur berat macam kursi. Apartemen yang kami sewa sudah menyediakan semuanya. Barang berat yang kami punya cuma kulkas dan dispenser. Dua-duanya dijual dan baru diambil sebelum kami berangkat. Perabotan macam piring gelas sendok, disedekahkan ke Bibik. Banyaknya barang barang semacam ini sungguh bikin aku terpana. Ngga menyangka kalo ternyata banyak banget. Belum termasuk baju baju lama, sepatu, gombal kecil semacam saputangan, atau kain perca bekas crafting.

Tentang baju, berapa banyak baju yang kita punya? Lemari ngga muat sampai harus beli box tambahan? Atau bahkan tertumpuk di rak plastik terbuka. Sudah bersih dan disetrika tapi ngga juga masuk lemari karena repot masukinnya. Lemari overloaded. Ironi untuk hampir semua wanita di dunia, merasa ngga punya baju padahal lemarinya oveloaded.

Maka saat berkemas sebelum pindah adalah saat yang sangat tepat untuk memilah mana yang benar-benar kita butuhkan. Beberapa kriteria baju harus pergi dari kehidupanku adalah:

  • Ngga dipake dalam setahun terakhir. Termasuk baju yang sering membuatku berpikir “mungkin nanti ada kesempatan aku bisa pake baju ini” tapi ternyata ngga dipake pake.
  • Baju sarimbit punya suami dikasih ke orang. Aku ngga mau sarimbitan sama orang lain meskipun aku ngga akan bertemu orang itu.
  • Mengalami penurunan kualitas, misalnya karet molor, kena cat mawiya, warna memudar dll
  • Ngga bisa dipake menyusui. Karena aku masih menyusui dan berencana hamil lagi. Jadi buat apa ada baju yang resletingnya di belakang?
  • Aku udah bosen.

Disimpan

Untuk barang yang akan disimpan di Jatim, harus dikemas dengan sangat baik dengan pertimbangan ngga akan dibuka minimal selama 3 tahun. Pecah belah harus aman dari benturan, karena akan menempuh perjalanan panjang. Baju sebisa mungkin dibungkus plastik sebelum masuk kardus, supaya lebih awet kering. Beberapa kain aku simpan dalam vacuum bag alias plastik kedap udara. Sampai di Jatim, lemari penyimpanan aku penuhi dengan kapur barus.

Dibawa pindah

Panduan dari kantor tidak menyarankan kami untuk membawa barang terlalu banyak, karena hampir semuanya mudah didapat di tempat baru. Jadi kami tidak menggunakan kontainer untuk pindahan kali ini. Cukup memaksimalkan jatah bagasi dan kabin untuk 4 orang. Kalopun kepepet bisa beli bagasi tambahan.

Beberapa alat pendukung yang membantu aku banget untuk urusan mengemas, diantaranya:

  1. Plastik kedap udara. Plastik ini sangat membantu untuk menghemat ruang. Sekali lagi, ruang. BUKAN berat. Beberapa benda ukurannya besar, tapi ringan, contoh boneka, bahan flanel, wool. Kalau untuk disimpan di lemari sih, ngga perlu memikirkan berat. Tapi kalau untuk koper, harus diperhatikan betul beratnya. Jangan sampai karena merasa masih ada ruang di koper, kita terus aja memenuhinya sampai melebihi batas bagasi. 
  2. Penyedot debu. Aku beli plastik vacuum di ace hardware dan 3 online shop lain. Plastik yang beli di online shop, semua gratis pompa manual (sudah terkumpul 5 pompa anyway). Bentuknya kaya pompa balon. Menurutku pompa ini useless. Aku ngga berhasil mengeluarkan udara dari dalam plastik. Cuma nambah nambahin pegel di tangan aja. Plastik vacuum hanya akan efektif dengan pompa elektrik atau vacuum cleaner
  3. Timbangan koper. Atau timbangan badan, meskipun akan sulit melihat angkanya. Pada timbangan koper, posisi angka lebih mudah dilihat. Kalau kebetulan bertetangga dengan posyandu, bisa juga pinjam timbangan gantung yang biasa dipake bayi itu. Kalau bidannya ngijinin.
  4. Kontainer plastik. Yang aku punya ini kebetulan merk-nya lock n lock. Tadinya berfungsi sebagai penyimpanan bumbu dapur. Ketika pindahan begini bisa difungsikan untuk menyimpan benda keras yang ukurannya kecil dan mudah tercecer, kaya jepit rambut anak gadis, aksesoris, cetakan jeli. Meskipun cuma plastik, rasanya belum rela kasih ke orang 😀 . Aku mulai beli waktu di Syria dulu dan terus bertambah di Indonesia. Nanti di tempat baru, kontainer ini akan kembali masuk dapur.
  5. Kain flanel & pita. Kain flanel ini aku gunakan untuk membungkus pakaian anak-anak di koper kabin. Aku butuh sesuatu untuk menjaga pakaian kecil ini tetap rapi, tetap pada tempatnya, mudah dicari dan diambil.
  6. Kantong kecil. Di toko banyak dijual kantong kantong organizer untuk bepergian. Tapi kita ngga harus beli. Bisa pake kantong seadanya di rumah. Kantong atau dompet kecil ini berfungsi untuk menyimpan benda kecil di kabin. Seperti cemilan anak-anak, peralatan mandi, obat-obatan, kosmetik, charger, dll. Menyimpannya dalam kantong yang berbeda akan memudahkan kita menemukannya.
  7. Kardus. Aku hampir selalu menyimpan kardus pembungkus barang yang aku beli, berikut busa di dalamnya. Ini penting banget untuk bangsa nomaden macam kami. Blender akan tetap utuh dan terjaga dengan baik meski dibawa lintas negara.
  8. Stiker label. Tentunya untuk melabeli. Misalnya, catatan isi dan berat koper. Sekaligus berfungsi untuk mainan Mawiya *sigh* apasih yang ngga jadi mainan….
  9. Gunting & lakban.
  10. Kapur barus. Yang ini untuk keperluan penyimpanan barang yang akan ditinggal beberapa tahun.
  11. Koyo. Kami dapet jatah bagasi 148 kg yang harus dibagi dalam 7 koper. Ngga boleh kurang karena rugi dong. Jadi tiap selesai menata koper, aku angkat untuk ditimbang. Kurang, isi lagi. Timbang lagi. Kebayang ga apa yang terjadi sama otot lengan? Pijet? Tak de waktu lah….

So, itulah beberapa peralatan perang kami. Sampai sekarang aku masih bermimpi punya koper kaya punya Harry Potter. Yang seisi rumah bisa masuk ke dalamnya.

Btw aku punya tips pindahan ala-ala.

  1. Siapkan satu koper untuk baju seminggu sebelum pindah. Anggaplah kita sudah tidak berada di rumah. Pilih baju yang mudah dicuci, dan mudah padu padannya. Menjelang kepindahan biasanya ada acara perpisahan. Kita perlu menyiapkan baju yang pantas untuk itu juga. Setelah ini akan lebih mudah mengosongkan isi lemari.
  2. Berhenti memasak seminggu sebelumnya. Mengemas peralatan dapur tidak semudah mengemas baju, menurutku. Karena baju bisa dilipat dan disesel-seselin koper sampai detik terakhir sebelum berangkat. Tapi panci enggak. Harus diatur yang rapi supaya ngga makan tempat, ngga gelondangan, ngga pecah dll. Selain itu juga untuk menghemat waktu dan tenaga kita. Pindahan ini sangat menguras keduanya.
  3. Lakukan pengemasan di satu ruangan khusus. Ini membantu mengurangi stress karena tidak semua ruangan berantakan. Sekaligus memudahkan kita mengecek ruangan, apakah semua sudah dikosongkan.
  4. Kemas pakaian berdasarkan jenis, selain berdasarkan pemilik. Supaya di tempat baru nanti tidak perlu membongkar semua koper. Misalnya, baju hangat di satu koper. Karena kami pindah di musim panas, koper baju hangat akan tetap tertutup sampai beberapa bulan ke depan. Jadi barang tidak terlalu berantakan selagi rumah belum siap.
  5. Buat daftar manifes. Ini akan memudahkan kita mencari barang tertentu tanpa harus membuka kemasan koper atau kardus.
  6. Hitung dengan cermat, mana yang lebih besar biayanya, mengirim barang, atau menjual barang itu dan membeli lagi di tempat baru? Tidak hanya nominal rupiahnya, tapi juga nilai resikonya.
  7. Mainan harus mudah diakses. Mainan adalah barang primer anak anak. Tidak perlu semuanya. Beberapa saja sesuai kesepakatan orangtua dan anak.
  8. Anak-anak disimpen dimana? Libatkan mereka dalam prosesnya. Aku bilang sama duo ratu, “Beberapa hari ini kita akan packing setiap hari, seharian penuh. Mama ngga punya waktu untuk main. Jadi Mawiya tolong bantu Mama untuk jagain Nahrisyah ya. Ajak dia main, bantu dia kalo butuh sesuatu, biar dia ngga sering sering minta micuma.” Hasilnya, Narisya lapar, disuapin Mawiya. Narisya minta susu, diambilin Mawiya. Narisya numpahin susu, Mawiya teriak, “Mamaaaa… Narisya mau menunjukkan hasil karyanyaaaa..” Packing berhenti. Ngepel dulu.
  9. Tidur tepat waktu dan makan makanan sehat. Minum suplemen jika perlu. Berhenti masak, bukan berarti kita makan junk food tiap hari.

Drama Ramadlan 1438 H

Sepertiga pertama di Ramadlan ini telah berlalu. Rasanya begitu cepat. Ini tahun kedua untuk Mawiya berpuasa. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dari tahun lalu. Ketika dia pertama kali puasa di akhir usia 4 tahun, dia belum bangun untuk sahur dini hari. Sahurnya dimulai jam 8 sepeti jam sarapan seperti biasa. Kemudian dia akan berpuasa sampai maghrib. Alhamdulillah dia berhasil melaluinya dengan baik. Itu keren banget menurutku, soalnya aku sendiri masih puasa setengah hari waktu umur 7 tahun. Sementara dia sudah puasa full di usia 5 tahun.

Kupikir tantangan terbesarnya adalah berada di tengah teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa. Ternyata bukan itu. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam rumah. The most uyel-uyel-able creature in the house, Nahrisyah.

Malam itu Mawiya mendadak ngambek ngga mau ikut tarawih. Ramadlan tahun ini kami mengkondisikan dia untuk shalat lima waktu plus tarawih, dengan kartu ber-stiker. Aku tanya kenapa ngga mau shalat. Ngga suka wudlu, jawabnya. Dia terus saja menolak untuk shalat, sampai akhirnya aku shalat sendiri. Papanya kebetulan sedang ada acara di kantor.

Selagi aku shalat, dia hanya diam cemberut, gedebag-gedebug di kasur ngga jelas. Jelas dia kesal. Selesai shalat, aku suruh dia untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Dia kembali merengek, minta ke kamar mandi sama aku. Lah biasanya ke kamar mandi sendiri, sekarang minta ditemani. No! Dia mulai menangis.

“Ada apa sebenarnya? Kamu ngga mau shalat. Ke kamar mandi mau ditemani. Kenapa?”
“Nahrisyah ngga mau wudlu,” jawabnya sambl menangis.
“Loh, apa hubungannya sama Nahrisyah?”
“Aku mau dia melakukan semua yang aku lakukan!”

Oooohhh… crystal clear! Jadi ini masalahnya. Dia cemburu karena Nahrisyah ngga harus shalat dan puasa seperti dia. Ini bayi emang godaan banget. Kerjaannya buka kulkas melulu. Inspeksi isi kulkas, dan mondar mandir dari kulkas ke depan tv sambil bawa makanan. Pada hari pertama puasa Ramadlan, Mawiya menarik bajunya sampai menutupi wajahnya waktu Nahrisyah datang membawa yoghurt dingin. Aku angkat Nahrisyah menjauh dari kakaknya, dia lari lagi menuju tempat semula.

Setelah melalui dialog panjang, alhamdulillah dia mengerti apa bedanya dia dengan bayi 1,5 tahun ini. Setelah itu, kalau lihat Nahrisyah membawa makanan, dia hanya berkata, “Jangan makan di depan kakak ya.. kakak lagi puasa.” Ajaibnya, bayi ini terus pergi dari hadapan kakaknya hahahaha….

Kupikir ini sudah selesai. Kalau hanya ucapan ingin makan, atau ngga sabar nunggu maghrib, biasalah… Yang dewasa aja juga suka begitu. Tapi ternyata ada episode drama lagi. Aku haid. Sebelum ini kami sudah sering bicara tentang haid. Dia sudah tahu wanita dewasa akan haid. Dia juga tahu wanita haid itu tidak boleh shalat. Selama ini ngga pernah drama kalau aku haid. Nah, karena Ramadlan ini ada kartu ber-stiker, dia jadi dilema. Dia ingin shalat dan mendapat stiker, sekaligus iri kenapa aku boleh tidak shalat.

Sepanjang periode haid, 5x sehari, dia terus mempertanyakan kapan aku selesai haid. “Aku mau mama berhenti haid.” “Mama curang, ngga perlu wudlu, ngga perlu shalat.” “Udah adzan, tapi mama tetap saja ngga shalat.” Dan berbagai protes lainnya. Untung ngga pake spanduk. Dia beneran ngga mau shalat, kecuali papanya ada di rumah. Itupun tetep diiringi protes. Sepanjang periode haid pula, 5x sehari, kami berdua berusaha menjelaskan tentang konsekuensi haid. Bahwa dia nanti juga akan haid pada usia tertentu. Ketika itu dia akan resmi menjadi dewasa, serta memiliki tanggung jawab dan konsekuensi yang berbeda dengan sebelum haid. Bahwa haid itu tidak sekedar “ngga shalat”.

Pernah membaca panduan jawaban untuk pertanyaan anak di facebook? Itu hal yang sangat baik untuk dipelajari orangtua. Tapi jangan berharap anak akan menerima pada penyampaian pertama. Dia akan bertanya lagi malamnya, esoknya, lusanya, sampai pada titik kita berpikir, “Ya Tuhan… nanya lagi! Udah dikasih tau berkali-kali masih nanya lagi!!!”

Panduan jawaban yang benar itu penting. Pake banget. Tapi jangan lupa, selain kemampuan bikin orangtuanya bingung, anak juga punya kekuatan super untuk nanya hal yang sama berulang-ulang-ulang-ulang. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu juga harus dikalikan dengan jumlah anak yang kita punya.

Salam…

Lebih dari satu tahun berlalu sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Postingan terakhir tentang arti nama putri kedua kami. Selama hamil pun aku tidak menulis karena tidak betah berlama-lama di depan layar laptop. Apalagi mengurus Mawiya sudah cukup menguras waktu.

Alhamdulillah Allah menyetujui rencana kami menambah anak. Usia Mawiya pun sudah pas untuk menjadi kakak.

Sebenarnya dia sudah memulai menyebar berita ke guru dan teman-temannya “di perut Mama ada adek bayi”, meskipun waktu itu kami berdua belum berencana punya anak lagi. Jadilah orang di sekolah pada kasih selamat hahaha… Oke deh, ini kode kalo dia memang sudah siap menjadi kakak. Sebelumnya kalau ditanya, “Mawiya mau punya adek ga?” Dia selalu menjawab, “Ngga ah.. aku mau anjing aja.” Atau kali lain dia jawab ingin kucing. Aku tanya, buat apa anjing dan kucing. Dia jawab, untuk main hahaha..

Aku mengetahui kehamilan ini ketika sedang berjauhan dengan Rahmat. Dia sedang dinas ke Papua. Karena cukup lama, jadi aku pulang ke Pasuruan. Seperti kehamilan sebelumnya, dia yang ngeh duluan kenapa aku belum datang bulan. Benar, aku hamil.

Saat di Papua itu dia menerima perintah dari kantor untuk berangkat ke Yaman. Begitu menerima tugas ke Yaman, dia berencana untuk menemuiku di Pasuruan, sepulangnya dari Papua. Tapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Dia pun berangkat ke Yaman, tanpa menemuiku, selama kurang lebih 2 minggu.

Yaman di bulan April 2015 bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi. Perang sedang berkecamuk. WNI disana harus segera di evakuasi. Kemlu pun menurunkan tim untuk membantu percepatan proses evakuasi. Untuk kedua kalinya, setelah Suriah, suamiku bersentuhan lagi dengan negara konflik. Tidakkah aku khawatir? Entahlah. Kematian bisa datang kapan saja dimana saja. Biarlah dia dalam lindungan Tuhan yang menciptakannya.

Komunikasi kami berjalan cukup lancar. Kecuali video call yang sering tersendat karena di Sana’a sering mati listrik. Selebihnya kami bisa chatting via whatsapp. Kantor memperpanjang tugas Rahmat disana hingga sebulan.

Aku mulai merasa mual dan pusing. Untungnya sedang berada di rumah orangtua. Ada banyak keluarga yang membantu mengurus Mawiya. Hingga sore itu, 20 April 2015, Rahmat menyapaku di WA. Menanyakan kabarku dan mengatakan, “Aku lagi di wisma duta. Barusan ada bom di KBRI”.

Aku terkejut. Sejauh apa jarak dari KBRI ke wisma duta? Apa yang dia lakukan disana?

Dia bilang dia baik-baik saja dan sekarang sedang menenangkan orang-orang yang shock. Dia mengirimiku foto terbarunya. Memakai sweater biru tua, berdiri di salah satu ruangan wisma duta. Tidak lama kemudian muncul berita di TV dan radio tentang pengeboman itu. Orangtuaku mulai cemas. Aku meyakinkan mereka bahwa Rahmat baik-baik saja.

Video-video yang ditayangkan di TV itu begitu mengerikan. Aku masih berpikir Rahmat selamat karena dia berada di wisma duta. Sambil terus chatting dengannya, baru aku sadar bahwa ketika terjadi ledakan itu, dia sedang berada di KBRI. Setelah itu bersama WNI lainnya, mereka menuju wisma duta. Barulah dia menghubungiku setelah situasi lebih terkendali.

Copot rasanya jantungku! Meski aku tahu dia baik-baik saja, mengetahui situasi yang baru saja dialaminya membuatku tidak tenang. Sangat tidak tenang. Apalagi yang bisa terjadi? 3 tahun sebelumnya, sebuah bom mobil meledak tengah malam di depan apartemen kami, beberapa minggu setelah aku dan Mawiya pulang ke Indonesia, meninggalkan Rahmat di Suriah. Lalu beberapa bulan setelah itu, ketika dia bersama seorang staff KBRI dan seorang pengacara pergi ke bandara Damaskus, mobilnya ditembak pasukan oposisi dari kaca penumpang menembus kaca sopir. Serpihan kaca memenuhi wajahnya. Dan sekarang, dia berada di tempat yang terkena efek ledakan dahsyat.

Aku tahu, kematian itu bisa datang setiap saat. Aku juga tahu bahwa meski kita berada di situasi yang sangat berbahaya, jika Allah masih mengijinkan kita untuk hidup, maka kita pasti selamat. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menahan air mataku. Perasaan dan pikiran buruk menguasaiku.

Pemberitaan media tentang peristiwa itu makin sering. Keluarga, teman-teman dan kerabat menanyakan kabar kami dan mengucapkan doa-doa terbaik. Aku berterima kasih atas empati yang disampaikan oleh Presiden Jokowi atas kejadian itu. Untuk pertama kalinya, aku merasa keberadaan kami diakui oleh negara.

Yah.. inilah salah satu resiko menikah dengan diplomat. Tidak selamanya berisi hal-hal indah. Berkesempatan keluar negeri memang menyenangkan. Tapi dibalik itu, akan selalu ada keringat dan darah yang mengiringi. Dan dari semua itu, kebersamaan kami adalah hal yang terpenting.