Ciudad de Mexico : Mexico City

Libur lebaran kali ini bersamaan dengan libur musim panas anak sekolahan. Kami merencanakan jalan-jalan ke Meksiko atau Kanada. Mengingat di Meksiko ada teman yang akan segera mengakhiri masa tugasnya, kami pun memilih Meksiko. Kanada-nya nanti diatur lagi.

Setelah membandingkan harga tiket edisi summer 😥, ternyata berangkat dari bandara Baltimore lebih murah daripada dari bandara Dulles. Dengan jarak yang hampir sama dari rumah, harganya bisa separuh lebih murah. Dengan menyebut nama Allah,,kami pun cusss berangkat ke Meksiko.

Jam 3 pagi kami keluar rumah dengan 1 koper bagasi, 1 koper kabin dan 3 ransel. Bagasi ini ngga ada ceritanya gratis. Bayar $25 untuk koper pertama (23 kg). Mobil di parkir di parkiran harian bandara dengan tarif $12/hari. Sebenarnya ada yang $10 dan $8 per hari. Tapi semua penuh.

Proses check in selesai saat masuk waktu Subuh. Dari website bandara, kami dapat info ada Meditation Room, yang bisa digunakan untuk beribadah, bermeditasi atau sekedar menenangkan diri. Lokasinya agak tersembunyi, tapi mudah ditemukan. Sayangnya hanya beroperasi dari jam 7 pagi sampai 7 malam saja. Kami pun salat Subuh di lorong depannya yang sepi.

Setelah menempuh 6 jam perjalanan dan satu kali transit di New York, sampailah kami di Mexico City, Meksiko. Kesan pertama adalah : ini Jakarta apa Surabaya?

Jalanan kecil penuh kendaraan, mobil bisa belok kanan dari lajur kiri, penyebrang jalan tidak menunggu lampu merah, bangunan penuh grafiti, semriwing aroma comberan, pedagang kaki lima di tiap sudut kota dan tidak ketinggalan : klakson to the max!!! 😂😂😂

Hari pertama di Mexico City kami isi dengan jalan-jalan keliling kota diantar teman tersayang. Malam itu kami berencana makan churros dan tacos. Mehiko man… kudu wajib makan itu! Sekalipun makanan ini bisa ditemui dimanapun, tetep aja harus makan churros dan tacos di sini, diiringi mariachi!

Best churros in Mexico City

Tapi ternyata, baru makan seporsi churros aja kami sudah kekenyangan. Tacos-nya besok ajalah.

Chapultepec

Chapultepec merupakan taman terbesar kedua di Amerika Latin, setelah Santiago Metropolitan Park di Chile. Luasnya mencapai 686 ha dan terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah yang tertua dan paling sering dikunjungi. Di dalamnya terdapat beberapa tempat seperti Istana Chapultapec, museum antropologi, museum seni modern, kebun binatang, juga danau.

Kami hanya mengunjungi istana Chapultapec yang saat ini berfungsi sebagai museum sejarah nasional. Istana ini merupakan satu-satunya istana kerajaan di Amerika. Jalanan menuju istana menanjak karena terletak di atas bukit. Tidak ada biaya masuk, tapi kita tidak boleh membawa makanan, stroller dan tripod. Lift yang tersedia hanya boleh digunakan untuk pengunjung difabel.

Bagian depan istana Chapultepec

Istana ini berisi lukisan yang bercerita tentang sejarah dan kebudayaan Meksiko yang sayangnya semua keterangan dalam bahasa Spanyol. Jadi kami sama sekali ngga ngerti. Lukisan-lukisannya sungguh mencengangkan. Begitu detil dan vulgar menggambarkan penderitaan di masa lalu, seperti pemenggalan kepala dan lain-lain.

Centro Histórico de la Ciudad de México

Dari Chapultapec, kami menuju kota tua. Jalanan macet karena masyarakat merayakan kemenangaan tim kesebelasan Meksiko atas Jerman. Masyarakat berkonvoi dalam kostum kebanggannya, mengibarkan bendera, berteriak dan menyetel musik kencang-kencang. Meriah sekali!

Untuk masuk ke kota tua ini juga agak repot karena banyak jalanan ditutup. Di tengah kota tua, terdapat Zócalo atau plaza utama yang merupakan plaza terbesar di Amerika Latin. Zócalo ini bisa menampung hingga 100.000 orang. Selama musim piala dunia ini, terdapat tenda dan layar raksasa yang dipasang untuk nonton bareng. Bahkan disediakan juga 2 lapangan bola mini. Sore itu artis lokal sedang mengisi acara untuk merayakan kemenangan Meksiko.

Zócalo ini dikelilingi banyak bangunan tua dan bersejarah. Diantaranya Metropolitan Cathedral dan National Palace. Di sisi lain terdapat pasar emas, pertokoan dan restoran. Tatanannya mengingatkan pada alun-alun di Indonesia yang dikelilingi pusat pemerintahan, rumah ibadah dan pusat perniagaan.

Capek muter-muter, kami pun berhenti di kedai jus. Tidak satupun di kedai itu yang bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa isyarat, kami memesan satu jus nanas kelapa dan satu jus mangga jambu. Lah.. yang keluar malah 4 gelas!

Teotihuacan

Ini adalah destinasi kami di hari ketiga, komplek arkeologi di Mexico City. Di dalamnya terdapat kuil Quetzalcoatl (entah gimana bacanya), dan dua piramida peninggalan masyarakat Mesoamerica.

Kami naik ke piramida Matahari (yang lebih dekat pintu masuk masuk), dan memandang piramida Bulan dari kejauhan. Sama sekali ngga berniat mendekatinya karena kaki udah terasa lemes duluan. Tangga piramida ini tebal, curam dan berbatu. Nahrisyah keren abis berhasil naik piramida Matahari sampai 2 tingkat. Setelah itu aku dan Nahrisyah istirahat, sementara Mawiya dan Rahmat lanjut terus sampai puncak setinggi 63 meter.

Ciudadela Market

Oke.. ini adalah destinasi favoritku! Siapa coba yang ngga demen di pasar kerajinan tradisional?

Mexico punya karakter yang kuat. Kerajinan tangannya penuh warna yang mencolok, berani, bertabrakan dan tebal! Blus dan gaun sederhana jadi menonjol karena dihiasi sulaman tangan berbentuk bunga, hewan dan motif tribal.

Ada juga kain tenun tradisional yang dibuat jadi ponco atau tas. Mereka juga membuat perhiasan dan gantungan kunci dari manik-manik yang mengingatkanku pada kerajinan khas Kalimantan. Selain itu mereka juga menganyam sejenis daun palm menjadi keranjang, tas atau mainan. Beberapa daun diwarnai terlebih dahulu, baru dianyam. Beberapa dibiarkan dalam warna aslinya, lalu ditambahkan hiasan atau bordiran warna-warni. Tidak ada warna lembut disini. Semuanya stands out!

Masyarakat Meksiko juga punya kerajinan tanah liat khas bernama Árbour de la vida atau pohon kehidupan. Temanya adalah tentang penciptaan Adam, Hawa dan seisi dunia. Árbour de la vida ini berfungsi sebagai alat ibadah jika dilengkapi dengan tempat pembakaran dupa. Tapi jika tidak, hanya berfungsi sebagai dekorasi. Masyarakat Meksiko memang masih memelihara tradisi dupa dan sesajen. Mereka meletakannya di depan patung Bunda Maria.

Kerajinan tanah liat lainnya adalah tengkorak warna-warni sebagai ikon Dia de Muerto atau Peringatan Hari Kematian yang dirayakan meriah di Meksiko pada 31 Oktober. Alih-alih seram, tengkorak ini justru terlihat lucu dengan gaun indah dan topi lebar. Tidak ketinggalan bunga-bunga.

Favorit Mawiya dan Nahrisyah adalah rug doll, boneka anak perempuan khas Meksiko. Juga boneka flanel yang dipenuhi sulam bunga warna-warni. Daaannn.. POM-POM! Astaga.. gantungan pom-pom dan tassel warna-warni dimana-mana! Semuanya cute!

Favorit Rahmat : Árbour de la vida dan taplak sulam.

Favorit Aku : Baju sulam, tas sulam, taplak sulam, selimut sulam dan tas anyam penuh pom-pom.

Pesona Ciudadela sungguh kuat! Tidak ada yang bisa menghalangi langkah kaki kami kesana, kecuali dompet!

The Angel of Independence

Atau disebut juga El Ángel, merupakan monumen yang terletak di bundaran jalan Reforma. Jalanan ini mirip sekali dengan Sudirman-Thamrin. Lebarnya, gedung-gedungnya, macetnya, juga demonya. El Ángel ini pada posisi seperti patung selamat datang di bundaran HI.

Di puncak monumen ini terdapat patung Nike, dewi kemenangan Yunani. Tangan kanannya memegang mahkota laurel yang melambangkan kemenangan. Sementara tangan kirinya memegang rantai patah, melambangkan kebebasan. Awalnya patung ini terbuat dari emas murni. Tapi gempa menjatuhkannya, pecah berkeping-keping, dan diambil oleh masyarakat. Patung yang sekarang terbuat dari perunggu berlapis emas.

Setiap hari kami melewati jalanan ini, tapi baru berhasil foto di hari kelima sebelum ke bandara. Setiap hari ada demo, mulai dari guru, petani sampai mahasiswa. Yang paling spektakuler adalah demo petani yang dilakukan oleh persatuan wanita dari berbagai kota. Mereka menginap di tenda berhari-hari, membagikan flyer dan mengumpulkan sumbangan dari pengendara. Selain itu, mereka berkumpul di tengah jalan, menyetel musik kencang-kencang dan joged tanpa busana sehelai pun! Aduuuhh.. kenapa pas kami datang siihh..


Kami pulang ke Maryland siang itu dan transit di Detroit. Di sini pun tersedia Religious Room. Agak tersembunyi juga, tapi petunjuk arahnya jelas dan mudah diikuti. Pesawat dari Detroit menuju Baltimore tertunda satu jam lamanya. Kami sudah sangat lelah sebenarnya. Sudah tengah malam ketika pesawat mendarat di Baltimore.

Ketika meninggalkan pesawat, tidak diduga, kapten memberikan pin pilot untuk Mawiya dan Nahrisyah. Waktu kami minta foto bersama, dia malah mempersilakan Mawiya masuk ke dalam kokpit pesawat, dan meminjamkan topinya! Keren abis! Sungguh penutup liburan yang sempurna! Segala puji bagi Allah yang telah mengatur semuanya.

Itulah sekelumit ziarah kami ke Mexico City. Kami selalu suka tempat yang berkarakter dan punya kebudayaan khas. Tidak semuanya indah untuk indera kita, tapi itu justru menyenangkan untuk dinikmati.

Advertisements

Tamu Istimewa

Hari ini Sabtu, sudah tanggal 5 Ramadan di AS. Kami tarawih di masjid Potomac. Ketika witir, imam membaca do’a qunut yang panjang sekali. Aku terbayang dua orang wanita yang datang ke rumahku tadi sore menjelang berbuka.


Sore itu seperti biasa, Mawiya dan Nahrisyah main di depan rumah bersama anak-anak tetangga. Rahmat mengawasi mereka di luar, sementara aku sedang menyiapkan makanan untuk berbuka. Tiba-tiba Mawiya berteriak memanggilku, ada orang katanya, dia tidak kenal.

Akupun keluar. Dua orang wanita berdiri di depan pintu.

Hi, my name is Sister Averett, and this is Sister Cleaver. We’re missionarist,” mereka memperkenalkan diri.

“I’m Ni’mah, nice to meet you. How can I help you?”

“Ni’mah? What a beatiful name. We are missionarist. We came here to help you.”

Aku bingung. Helping yang kaya gimana?

“Kami membantumu dalam kasih Yesus Kristus,” tambahnya.

Oh.. I see.. sebenarnya aku ini muslim. Well, muslim dan kristiani bersaudara kan..”

“Ya benar.. kita semua ini anak-anak Tuhan. Kamu muslim, berarti sekarang sedang merayakan Ramadan ya?” tanya Sister Averett.

“Iya benar”

“Apa yang kamu lakukan waktu Ramadan?”

“Kami berpuasa, tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seksual, sejak fajar sampai matahari terbenam”

Wow, that’s amazing! Bagaimana puasa ini bisa membuatmu lebih dekat dengan Tuhan?”

“Puasa ini benar-benar personal antara kita dan Tuhan. Memang ini kewajiban yang tertulis di Alquran. Tapi ya, selalu ada orang Islam yang tidak mengikuti kata Alquran. Hanya Tuhan yang berhak menilai seseorang. Orang kristen juga ada yang tidak mengikuti Injil kan?”

Mereka mengangguk, “iya benar..”

“Puasa melatih kontrol diri. Beberapa orang makan terlalu banyak ketika berbuka karena sudah seharian tidak makan. Yang seperti itu tidak baik. Seharusnya kita makan secukupnya sesuai kebutuhan tubuh, bukan hanya mengikuti nafsu makan. Puasa juga mengajak kita untuk banyak berbagi dengan sesama. Sekarang ini masjid dimana-mana pasti menyediakan makanan untuk berbuka. Kalian juga bisa datang untuk makan malam.”

Mereka tertawa.

Thank you so much for your faithfulness. Melakukan sesuatu untuk lebih dekat dengan Tuhan itu bagus sekali,” kata Sister Averett.

Well, aku mencoba. Aku tidak sempurna. Kalian bahkan berbuat lebih baik dengan memberi pelayanan dari rumah ke rumah.”

“Terima kasih, kami senang membantu sesama. Ini website kami. Kapanpun kamu butuh bantuan, hubungi kami. Kamu juga bisa download Book of Mormon dari website ini,” Sister Averett memberiku kartu nama.

Book of Mormon itu apa?”

“Oh.. itu salah satu testamen Yesus Kristus juga. Kami membaca Injil, juga Book of Mormon. Ketika membacanya, aku merasa tenang dan damai sekali. Rasanya begitu indah..” jelas Sister Cleaver.

“Ya ampun.. aku juga merasa begitu kalau sedang membaca Alquran. Kadang-kadang kamu pengen nangis juga ngga bacanya? Tanpa ada alasan yang jelas, tahu-tahu ada air mata begitu saja. Kamu juga kan?”

Sister Cleaver tersenyum dan mengangguk-angguk. Matanya berkaca-kaca.

“Oh.. please don’t cry..”

“Tidak.. tidak.. aku tidak akan menangis..” dia tersenyum.

That is the spirit of God. Hati kita dipenuhi cinta kepada Tuhan,” kata Sister Averett.

“Benar sekali. Oh.. senang sekali bisa bertemu kalian. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu. Aku sedang menyiapkan makanan untuk berbuka nanti.”

“Tidak apa-apa. Senang sekali bisa bicara denganmu. Sekali lagi hubungi kami kalau butuh bantuan. Apapun,” tegasnya.

“Can we just hug each other?” kata Sister Averett.

“Sure!”

Sister Cleaver, Aku dan Sister Averett. Kami kompak banget pake rok!

اللهم اهدنا فيمن هديت…

Wahai Tuhan.. semoga Engkau memberikan petunjuk kepada kami, sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk…

Ramadlan 2018 Punya Mawiya

Sehari sebelum Ramadlan..

“Asyik.. besok ngga usah bawa lunch bag! Tasku jadi ngga berat!”
“Kamu besok mau nunggu di mana waktu lunch?”
“Aku bisa nunggu di cafe sama teman-teman.”
“Ngapain? Nanti ngga kepingin liat teman-teman?”
“Mmm.. I’ll be a chatterbox!”
“Nanti teman-teman malah ngobrol sama kamu, ngga ngabisin makanannya. Mama email Ms. Griffth supaya kamu bisa nunggu di perpustakaan ya..”


Puasa hari pertama

Mawiya menangis begitu sampai rumah sepulang sekolah.

“Aku lapar…”
“Mau minum susu? Abis itu puasa lagi ya..”
“Oke..”
“Tadi nunggu dimana waktu lunch?”
“Di perpustakaan.”
“Tadi teman-teman tanya ngga kenapa kamu ngga makan?”
“Tadi waktu snack time, Madison bilang, ‘Ms. Griffith, Mawiya is not having her snack and just listening to the story.’ Terus Ms. Griffith bilang, ‘Mawiya is fasting.’ Udah gitu doang.”

Setelah minum segelas susu hangat dan makan pisang, dia kembali berpuasa sampai jam 8.15 malam.


Puasa hari kedua

“Ma, let’s see if I need a snack like yesterday or not. It’s a challenge.”
“Yeay!! You can do it Mawiya!!!”

Dia pun tertidur setelah salat Dzuhur. Dengan perjanjian nanti mandi sebelum Ashar, dan ngga pake rewel kalo dibangunin. Tapi ternyata dia rewel. Marah-marah, nangis. Aku mulai kesal.

“Cukup kak! Bangun sekarang! Mandi! Kamu udah janji ngga rewel!”

Dia pun bangun dengan muka ditekuk. Setelah mandi panggil-panggil aku.

“Mama… aku sekarang sekolah?”
“Sekolah apa?”
“Sekarang friday kan?”
“Hah?! Ini masih kamis! Kita bahkan belum buka puasa.”
“Loh.. tapi aku barusan tidur..”
“Kamu itu tidur siang, Kak.. Kamu pikir tidur malam?”
“Hehehe….”
“Pantesan ngga mau mandi!”
“Hahaha…”

Selama ini Mawiya memang ngga pernah tidur siang. Karena puasa, jadinya tertidur sepulang sekolah. Bagus sih, jadi nambah energi buat dia. Tapi dramanya malesin banget.

Pada akhirnya dia berhasil puasa 16 jam, tanpa jeda.

Oh ya, kami ngga mandi pagi hari. Kami mandi sehari sekali sebelum tidur malam.


Puasa hari keempat

Kami pergi ke acara Spring Fling, semacam pasar hiburan di sekolah Mawiya. Ada banyak sekali permainan yang tersedia. Setiap kali main, anak-anak akan dapat token untuk ditukar dengan hadiah. Mawiya mendapat 22 token, dan Nahrisyah 8. Nahrisyah memilih mainan gelembung dalam botol kecil. Sedangkan Mawiya menginginkan topi hewan senilai 50 token. Dia pun bertekad mengumpulkan lagi.

Sambil menemani Mawiya berkeliling, Nahrisyah pun tertidur. Tanpa aku sadari botol gelembung yang dipegangnya jatuh. Aku tidak bisa menemukannya lagi. Di akhir acara, Mawiya malah menukar tokennya dengan beberapa pensil, stiker dan cincin lampu.

“Ngga jadi topi hewan, kak?”
“Udah habis. Aku tuker ini aja. Aku juga tuker gelembung, Ma. Kasihan dia gelembungnya ilang.”
That’s very kind of you! You really did the Ramadan spirit!”
“What is that?”
“Kamu punya banyak token, itu rizki namanya, yang sebenarnya bisa kamu sendiri, tapi kamu memutuskan untuk berbagi sama Nahrisyah. Meskipun dia ngga minta. Bahkan mungkin dia lupa kalo punya gelembung. Kamu bisa aja berpikir ‘ngapain dibagi, aku yang capek ngumpulin’, tapi kamu ngga melakukan itu. Thank you so much for sharing with your sister. I’m so proud of you..”


Puasa hari keenam

“Aku tadi lihat teman-teman snacking jadi laper..” katanya sepulang sekolah.

“Memang puasa itu menahan lapar, kak. Mama juga lapar.”

“Mm.. tapi aku mau snack sekarang..”

“Bener-bener laper?”

Dia mengangguk.

“Sama sekali ngga tahan?”

Dia diam.

“Kalau kamu masih bisa tahan, tahan dulu. Tapi kalau bener-bener ngga kuat, boleh minum susu.”

“Tapi nanti jadi half day dong..”

“Iya. Gimana?”

“Ya udah aku minum susu aja”


Puasa hari kesembilan

“Ma, tadi Coco ikut puasa loh..”
“Ohya? Dia ngga lunch?”
Lunch. Cuma puasa sebelum lunch aja.”
“Oohh.. dia ngga snack berarti?”
Snack. Sebelumnya. Just half – half day
“Sebelum snack kan belajar. Kan memang ngga makan.”
“Iya sih..”
Mama ketawa geli.


Puasa hari kedelapan belas

Untuk kedua kalinya kami kesiangan. Mawiya tetap sahur di jam sarapan dan puasa sampai maghrib. Jadi kaya umur 4 tahun dulu. Sahur se-bangun-bangunnya.


Puasa hari kesembilan belas

Mawiya terus menerus mengomentari Nahrisyah yang tidak berhenti makan; kadang juga menawari Mawiya.

“Aku juga pengen susu”
“Aku lapar”
“Uuuhhh.. Nahrisyah ini loh.. wa..wa..wa..wa..wa..”
Aku tanya, “Kalau di sekolah lihat teman-teman makan, Mawiya ngga pengen?”
“Ya pengen juga. Tapi aku ngga bilang.”
“Kamu bisa tahan sama teman-temanmu yang banyak itu, masa sama Nahrisyah satu, bayi lagi, ngga tahan?”
Uuuugggghhhh….” dia cemberut, berhenti komentar beberapa saat. Tapi komentar lagi kalau Nahrisyah ganti menu. Oh.. life..


Setelah Salat Idul Fitri

“Ma, boleh ngga aku dapat hadiah?”

“Untuk apa?”

“Karena aku udah puasa 30 hari.”

“Boleh…”

“Asyiiik.. boleh minta (permen) push-pop?”

“Mama & papa akan kasih kamu uang $10. Terserah kamu mau pake uangnya untuk apa. Boleh belanja apapun, boleh juga ditabung.”

Menarik nafas panjang, “Wooowww.. I’ve got ten dollars!!!! Uuhh.. beli apa ya???”

Setelah melalui proses berpikir yang panjang, berkali-kali menghitung ulang dan berputar-putar di lorong supermarket, kami pun membeli permen push-pop (dia berbagi untuk adiknya juga 😍), mainan nom-nom, dan puzzle 100 keping. Kok bisa cukup $10? Karena semuanya clearence 😆.

Percaya Kamu Bisa

4 bulan telah berlalu sejak kami menyapih Nahrisyah. Di awal tahun 2018, aku dan Rahmat memutuskan untuk menghentikan proses menyusui Nahrisyah. Ini merupakan perlakuan yang berbeda dengan kakaknya dulu.

Pada Mawiya, aku lebih sering menghadapinya sendiri karena Rahmat sering dinas. Pada Nahrisyah, Rahmat hampir selalu di rumah setiap hari.

Pada Mawiya, dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti menyusu. Pada Nahrisyah, aku dan Rahmat yang memutuskan untuk berhenti menyusui.

Awalnya kami berencana untuk menerapkan hal yang sama. Begitu ulang tahun kedua, anak diberitahu bahwa ini saatnya dia berhenti menyusu. Kapan berhentinya, terserah dia. Butuh waktu 6 bulan untuk Mawiya akhirnya memutuskan sendiri berhenti menyusu.

Tapi Nahrisyah, kami ngga terlalu yakin bisa seperti itu. Komunikasi Nahrisyah belum lancar. Dia belum berbahasa dengan jelas, juga belum sepenuhnya memahami perkataan kami. Akhirnya malah jadi drama karena sama-sama ngga ngerti. Belum lagi karakternya yang cenderung rame. Kalo ngga dapat apa yang diinginkan, responnya marah meledak. Tidak setiap momen kami bisa mengalihkan keinginannya untuk menyusu. Kadang ada momen yang bikin aku terpaksa harus menyusui dia. Perlakuan yang tidak konsisten dari kami ini justru bikin dia sering tantrum.

Aku dan Rahmat pun memutuskan untuk menyapih Nahrisyah, tanpa persetujuannya, sebulan setelah ulang tahunnya yang kedua. Sounding sudah kulakukan sejak dia ulang tahun. Rahmat dan Mawiya bahkan sudah curi start duluan.

Selama Januari itu, tidak ada malam yang terlewati tanpa jeritan dan tangisan Nahrisyah. Mau makan pisang setandan, minum susu seliter, dan dibacakan buku sekarung sebelum tidur, tetap saja dia akan minta menyusu. Dia menolak digendong, bahkan disentuh dan lebih memilih menangis di lantai sambil menjerit. Tangisannya akan berhenti setelah dia kehabisan tenaga. Dia akan mendekat padaku, kami berpelukan lalu tertidur. Setiap malam adalah horor untuk kami bertiga. Aku dan Rahmat bergantian bertanya, “sampai kapan?”. Pagi hari kami berdua bangun seperti zombie. Nahrisyah tidak hanya menangis sebelum tidur, tapi juga tengah malam.

Aku frustrasi. Kenapa sesulit ini? Katanya kalo kita tega, konsisten untuk ngga menyusui, seminggu aja jadi. Ini sudah sebulan! Kenapa dia masih nangis jejeritan tiap malam?

Sampai suatu hari aku membaca laman pengasuhan di facebook. Laman yang aku paling suka karena santun dan ilmiah. Beliau menulis tentang kepercayaan orangtua bahwa anaknya bisa itu sangat penting.

Percayalah bahwa putra dan putri Anda mampu, maka ia akan sanggup melakukan apa pun — bahkan hal-hal yang selama ini tidak pernah Anda bayangkan bahwa ia mampu.

Itu dia! Itu yang terlewat! Percaya bahwa Nahrisyah bisa tidur tenang tanpa menyusu. Selama ini aku berpikir aku harus tega. Akhirnya aku jadi merasa bersalah karena membiarkan dia menangis menjerit sepanjang waktu. Karena ini bukan situasi yang aku harapkan.

Akupun menata hati. Bicara padanya, “Kamu anak pintar, Mama percaya kamu bisa tidur tenang tanpa micuma. Mama Papa sayang kamu. Kamu sudah besar, kamu bisa tidur tenang sampai pagi. Besok kita main lagi.”

Pelan-pelan aku merasa dadaku hangat. Perasaanku lebih tenang dan optimis. Nahrisyah pun untuk pertama kalinya, tenang setelah dibacakan buku. Dia memelukku. Wajah kami bersentuhan. Tangannya membelai pipiku. Lalu dia tertidur.

Memang itu bukan berarti malam-malam berikutnya benar-benar bebas dari tangisan. Tapi mengubah perasaan tega menjadi percaya itu membawa perubahan besar.

Terima kasih Nahrisyah, sudah bekerjasama dengan baik, sudah percaya pada dirimu sendiri. Terima kasih Pa, sudah menjadi partner hidup yang bisa diandalkan. Terima kasih Pak Dono Baswardono, untuk tulisan-tulisannya yang santun dan ilmiah. Terima kasih wahai Allah, untuk semuanya.

Terbebas dari Kutukan

Hari ini akhirnya datang juga. Dimana aku adalah Rapunzel yang bebas dari penyihir yang menyekapnya di dalam menara selama 18 tahun. Aku adalah Beast yang akhirnya menemukan cinta sejatinya. Aku adalah Snow White & Aurora yang terbangun dari tidur panjangnya.


Sejak memutuskan untuk merajut secara komersil pada 2012 yang lalu, aku bertemu banyak sekali situs yang berisi pola rajutan. Salah satu laman FB yang aku ikuti adalah Lion Brand Yarn, sebuah perusahaan benang di AS. LBY punya banyak sekali stok pola rajutan (knit & crochet), dari yang paling gampang sampai yang paling mumet. GHRATISSSSS!!!! Pake ghain!

Salah satu pola yang aku ambil dari situs LBY adalah selimut bayi Mawiya.

Dari laman ini, aku jadi tau tentang A.C. Moore, yang sepertinya itu toko jualan alat-alat crafting. A.C. Moore sering memberi diskon untuk barang-barang Lion Brand Yarn, dan di share oleh laman LBY. 4 tahun kemudian, ketika diputuskan kami akan ditempatkan di Washington DC, hal pertama yang aku lakukan adalah mengetik “yarn store in DC” di google. Tampilan foto toko benang yang cozy bikin aku meleleh… Membayangkan duduk merajut disitu dan tak lupa menimbun benang…

Semua stok benang di Jakarta aku serahkan pada Ama, yang lagi punya proyek ambisius merajut 1000 tempat tisu untuk pernikahan adik bungsuku (yang bahkan calon pengantin prianya belum ada). Aku sendiri sudah mengkhayal indah membeli Lion Brand Yarn.

Aku hanya membawa serta benang pom pom (yang sudah kurencanakan untuk winter) dan…. selimut bayi Nahrisyah yang belum selesai sejak aku masih hamil 4 bulan.

Selimut ini Masya Allah… aku booooooseeeennnn bangetttt!!!! Selagi hamil aku membuat tas botol untuk perpisahan dengan teman sekelas Mawiya. Akhirnya selimut belum beres sampai bayinya lahir. Setelah itu aku masih punya banyak alasan untuk menunda. Menerima beberapa pesanan rajutan, membuat dompet untuk perpisahan Mawiya dengan teman cheers-nya, membantu Ama membangun 1000 candi… 1000 tempat tisu maksudnya 😂

Jadi ya.. begitulah.. selimut itu masih menggumpal di jarumnya. Sampai kami tiba di DC, disibukkan dengan segala urusan pindahan. Kami keluar masuk banyak toko untuk membeli perlengkapan rumah tangga dan sekolah Mawiya. Hingga akhirnya kami melihat sebuah toko besar bertuliskan “Art & Craft Moore“. Ooooohhhhh…. jadi A.C. Moore itu kependekan dari Art & Craft…

Mawiya heboh sekali minta masuk ke dalam. Kami menahan diri untuk tidak masuk ke toko itu sebelum urusan rumah beres. Gimana caranya nyimpen barang-barang craft kalo rumah masih berantakan? Lalu begitu kesempatan itu datang, aku seperti anak kecil yang masuk toko mainan. Semua terlihat begitu menarik. Emmeshhhhhh…. bagus.. cantik.. cute.. harum.. duh….

Aku dan Mawiya menelusuri tiap lorongnya sambil tidak berhenti berkomentar dan menarik nafas panjang. Berkali-kali tanpa sadar kami berdua terbelalak dan melongo. Sampai kami tiba di lorong itu. Lorong yang penuh benang warna-warni dan terlihat sangat lembut. Dari benang yang kurus sampai yang chunky. Dari yang lurus, keriting, berbulu sampai ber-pom-pom. Namanya lucu-lucu pula. Chateau, Cotton Candy, Couture Jazz.. Oh… ini yang selalu aku impikan sejak 4 tahun yang lalu…

Tapi tiba-tiba, deretan benang menggemaskan itu berubah menjadi gumpalan selimut bayi Nahrisyah. Yang sudah berusia 2 tahun 3 bulan. Janji pun terucap. Demi Nahrisyah. Tidak akan terbeli satu helai benang pun, sebelum selimut itu terbentang sempurna…

Kami berjalan menuju kasir sambil membawa kertas warna-warni dan beberapa pita. Petugas kasir menawariku menjadi member supaya dapat banyak potongan harga. Akupun memberi nomor ponsel dan email.

Mulailah kutukan itu terjadi.

7 hari seminggu mereka mengirim email diskon hingga 70%. Dan selalu ada gambar benang-benang lucu nan menggemaskan di dalamnya. Aku tidak ingin membukanya. Tapi jariku seperti menolak keinginan tuannya. Email terkutuk!

Bukannya makin semangat menyelesaikan selimut, aku malah menyiksa diri dengan membuka email dan berlama-lama menatapnya. Apalagi jari-jemariku memang harus diistirahatkan karena trigger finger dan carpal tunnel syndrome.

Setiap hari aku membayangkan tumpukan benang lembut itu dan mengubahnya menjadi selimut yang nyaman dan hangat. Atau tas yang ceria dan penuh warna. Entah sampai kapan ini akan terjadi.


Tinggal 15 baris terakhir. Aku menguatkan tekad untuk menyelesaikan sebelum akhir pekan. Sabtu ini aku HARUS BELI BENANG PERDANA. Aku merajut lebih sering. Hingga akhirnya, setelah 2 tahun 6 bulan, aku berhasil membentangkannya dengan sempurna!

Sekarang aku sudah punya alat knit loom yang baru. Semoga teknik merajut yang baru ini bisa mengurangi rasa sakit di tanganku. Selamat menempuh hidup rajutan yang baru untukku…

Pelajaran Menghargai

Setiap pagi di kelas Mawiya ada jam writing. Hari ini materinya sama sekali tidak kami duga sebelumnya. Setelah berbagi goodie bags untuk perayaan Mawlid Nabi kemarin, Miss Griffith, guru Mawiya mengajak seluruh kelas untuk menulis ucapan terima kasih untuk Mawiya. Di atas kertas yang sangat besar! “I’ve got a loooooootttt of thank you card, so I cant put my lunch bag in my backpack!” Teriaknya begitu turun dari bis sekolah. Ada 23 kartu. Atau mungkin poster lebih tepatnya! Ucapan-ucapan ini terasa begitu tulus dan membahagiakan kami. Terima kasih, sudah mengijinkan kami untuk berbagi kebahagiaan di hari Mawlid An Nabi kali ini. Sungguh kami merasakan cinta Nabi tidak terbatas ruang dan waktu. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW.

I Don’t Like Being Moslem

Keluarga besarku tinggal di satu lingkup, mengelilingi rumah mbah buyut yang besar. Setiap memasuki bulan Shaffar, aku dan beberapa saudara perempuanku berlatih membaca puisi tentang Nabi Muhammad. Hampir setiap sore kami berkumpul dirumah saudaraku. Sementara para santri putri berlatih membaca Diba‘ dan Barzanji.

Pada hari Maulid, semua orang akan datang berkumpul di ruang tamu mbah buyut. Rumahnya besar dan atapnya tinggi. Khas rumah jaman Belanda. Ruang tamunya dihias dengan kain besar bertuliskan “Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW”. Pot pot tanaman menghiasi sisi kanan kiri kain itu. Di pintu dan jendela digantungkan rangkaian bunga sedap malam. Aromanya semerbak, bercampur dengan aroma parutan buah jeruk purut yang diletakkan di tiap sudut ruangan.

Malam itu dan malam-malam Maulid lainnya selalu menyisakan perasaan bahagia dalam hatiku. Selepas maghrib, aku dan saudara-saudaraku akan dirias. Orang-orang antusias menanti penampilan kami membacakan puisi. Aku suka melihat bunga sedap malam menghiasi rumah mbah buyut. Bunga itu baru dilepas jika sudah mengering. Aku suka berkumpul bersama saudara-saudaraku dan bermain hingga larut malam. Biasanya kami harus pulang paling lambat jam 5 sore. Tapi karena ini perayaan maulid, kami jadi punya waktu ekstra untuk main. Begitulah tradisi maulid di keluargaku.

Di sekolah juga selalu meriah. Aku suka pergi ke sekolah tanpa harus belajar dan memakai seragam. Kami datang berbusana muslim dan membawa makanan. Buah-buahan dan kue-kue basah yang ditempatkan di atas cobek tanah liat. Beberapa orang membungkusnya dengan plastik bermotif bunga, lalu dihias dengan bendera kertas warna warni. Semua makanan akan dikumpulkan, lalu guru akan membagikannya kembali sebelum kami pulang.

Continue reading I Don’t Like Being Moslem

Blessed Friday – جمعة مباركة

Aku tidak tahu hari ini bisa jadi begitu emosional. Hari sabtu yang lalu aku bertemu dengan tetangga komplek. Kami baru bertemu sekali ini. Sepasang suami istri yang ternyata muslim. Suaminya berasal dari Bangladesh, istrinya dari Taiwan. Mereka sudah puluhan tahun tinggal di AS.

Mr. Sayyid & Mrs. Lina bercerita setiap hari jumat mereka pergi ke masjid Potomac untuk melaksanakan salat jumat. Mereka berbaik hati menawari untuk ikut bergabung kalau aku mau. Tentu aku mau banget.

Aku tidak sabar menanti jumat. Seperti apa suasananya nanti? Sebesar apa masjidnya? Bagaimana bentuknya? Apa yang akan disampaikan khatib nanti? Ini adalah even religi yang pertama untukku di AS sejak kepindahanku 3 bulan yang lalu.

Sepanjang perjalanan, Mr. Sayyid bercerita tentang banyak hal. Dulu dia bekerja di Discovery Channel selama belasan tahun. Lalu pada tahun 2000 dia berhenti dan mendirikan perusahaannya sendiri di bidang properti. Sejak tahun 2000 itulah dia baru bisa rutin melaksanakan salat jumat karena jam kerjanya lebih fleksibel.

“Apakah ini masjid yang terdekat dengan rumah kita?” Tanyaku.

“Bukan. Ada masjid yang lebih dekat. Tapi kami lebih suka disini karena imamnya bagus dalam menyampaikan ceramah. Nanti aku tunjukkan masjid yang terdekat,” jawabnya.

Beberapa menit kemudian Mr. Sayyid menunjukkan masjidnya. Sebuah bangunan besar dengan tulisan “Bethesda United Church of Christ“.

“Gereja ini memang digunakan untuk salat jumat setiap minggunya. Jadi sebenarnya ini bukan benar-benar masjid. Kadang kami salat disini kalau waktunya mepet,” jelas Mr. Sayyid.

Pohon-pohon di pinggir jalan mulai memerah. Langit mendung menambah kesan dramatis siang itu. Sekitar 15 menit berkendara, kami pun sampai di daerah Potomac. Bangunannya biasa, seperti halnya bangunan lain di daerah ini. Pot bunga warna-warni dan beberapa buah labu berukir wajah seram menghiasi sekitar pintu masuk. Haloween baru 4 hari berlalu.

Kami datang lebih awal rupanya. Masjid yang baru berusia 2 tahun ini masih sepi. Kami melewati loker sepatu, toilet dan perpustakaan kecil sebelum memasuki ruangan utama. Jamaah pria dan wanita hanya dipisahkan oleh seutas tali beludru.

Aku tidak tahu air mataku akan terus mengalir sejak pertama kali aku mengangkat tanganku, memulai salat tahiyyatul masjid. Aku tidak tahu perasaan apa yang kualami melihat tulisan-tulisan arab itu, melihat beberapa orang yang melakukan gerakan yang sama denganku. Aku tidak bisa menahan air mataku.

Satu per satu, jamaah berdatangan. Pakaian mereka beragam. Para wanita memakai baju, celana panjang, rok atau abaya. Beberapa menutup kakinya dengan kaos kaki, beberapa membiarkannya begitu saja. Beberapa memakai kerudung yang tertutup rapat, beberapa memakainya begitu saja dengan rambut menyembul dimana-mana. Mereka salat dengan pakaian sebagaimana mereka datang.

Muadzin berkemeja dan bercelana jeans mulai membacakan beberapa ayat Alquran dengan suara dan nada yang indah. Aku tidak melihat wajahnya, tapi aku haqqul yaqin ketampanannya maksimal! Tidak lama kemudian dia berdiri melantunkan adzan. Allah… adzan terakhir yang kudengar itu 3 bulan yang lalu. Aku menunduk menutup wajahku. Air mataku tidak terbendung. Aku tidak tahu suara adzan bisa membuatku begitu emosional. Sebelum ini aku mendengar adzan lebih dari 5 kali sehari. Dan aku sering merasa capek terus-terusan menjawab dan berdoa sesudah adzan. Katakan, “cukup menjawab adzan yang pertama saja”. Oh… lisan ini sudah otomatis, Yuk! Bahkan ketika otak sedang memikirkan apa, lisan punya pekerjaan sendiri ketika adzan berkumandang.

Khatib berdiri dan memulai khutbah jumat. Kata Mr. Sayyid tadi, beliau adalah seorang dosen. Entah dosen apa. Dia mengawali khutbah dengan cerita kejujuran Nabi Muhammad SAW. Tidak ada satupun orang yang meragukan kejujuran Nabi, bahkan musuhnya. Seseorang yang terus menerus menyebarkan berita begitu saja, tanpa klarifikasi sebelumnya, dia termasuk orang yang tidak jujur.

Di akhir khutbah, khatib mengumumkan jadwal kegiatan masjid minggu ini. Termasuk mengundang jamaah untuk perayaan Maulid Nabi 2 minggu lagi. “If you think that Maulid Nabi is a bid’ah, you still can come to have dinner,” kata khatib disambut tawa jamaah.

Khutbah diakhiri dengan bacaan doa qunut. Khatib lalu memimpin salat jumat, dengan bacaan bismillah secara jahr di awal Alfatihah.

Ini adalah hari jumat yang indah dan penuh berkah.

Turki Dalam Sekejap

Dalam perjalanan menuju Washington DC yang lalu, kami memilih Turkish Air supaya bisa transit di Istanbul. Selama 9 jam transit, sekitar 6 jam kami melihat beberapa tempat di Istanbul.

Sebelumnya, untuk menghemat waktu dan tenaga, kami menghubungi mahasiswi disana, minta tolong dianterin jalan jalan.

Kami tiba di bandara internasional Ataturk pada pukul 5 pagi. Setelah mengurus imigrasi, ke toilet dan musholla dulu, sambil nunggu mbaknya yang mau nemenin kami datang.

Jam 7 pagi kami mulai jalan. Koper kabin kami dititipkan di tempat penitipan bandara. Kalau ngga salah sekitar 25 lira per koper. Tergantung ukuran juga.

Stasiun kereta bawah tanah menyatu dengan bandara. Kita tidak perlu keluar gedung. Cukup naik lift atau eskalator ke bawah tanah. Karena satu kartu bisa dipakai beberapa orang sekaligus, kami jadi ngga beli kartu. Nebeng aja sama kartu Mbaknya, tinggal diisi ulang. Kami melalui lorong-lorong persimpangan di bawah tanah. Ganti lajur dan turun di stasiun UI alias Universitas Istanbul 😁. Dari situ, jalan sedikit lalu naik bus macam transjakarta.

Tujuan pertama kami adalah Blue Mosque alias masjid biru. Salah satu masjid bersejarah yang menjadi ikon Turki. Didirikan pada tahun 1616, Sultan Ahmed I memprakarsai pembangunan masjid ini untuk menegaskan kembali kekuasaan Ottoman.

Sayang sekali kami datang di hari jumat pagi. Masjid ditutup untuk persiapan salat jumat. Kami ngga punya waktu menunggu salat selesai.

Masjid biru ini didirikan di depan Hagia Sofia. Diantara kedua bangunan ini terdapat taman-taman dan air mancur yang indah dan nyaman. Banyak penjual jagung bakar pula. Di bulan ramadlan, umat Islam ramai beraktivitas di taman ini. Berekreasi sambil menanti saatnya salat di masjid biru.

Hagia Sophia sendiri tak kalah indah dan menariknya dengan Masjid Biru. Awalnya adalah gereja, lalu beralih fungsi menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Lagi-lagi kami ngga bisa masuk karena gedung ini sedang direnovasi.

Kami terus berjalan kaki menjauh dari Masjid Biru, menuju istana Topkapi. Di sepanjang jalan angin sejuk mulai menyapa meskipun masih agustus. Aroma chesnut panggang tercium wangi sekali.

Rupanya para penjual chesnut panggang berjajar di pinggir jalan menuju Topkapi. Mereka menjual berdasarkan berat. 10 lira sebungkus rasanya belum cukup. Manis, chewy, hangat, dan wangi chesnut panggang ini begitu serasi dengan angin yang berhembus sejuk.

Gerbang depan Topkapi saat itu sedang dalam tahap renovasi juga. Setelah itu kami bertemu taman yang sangat luas. Hijau dan rindang dengan pepohonan besar. Anjing-anjing liar berbaring malas di pinggir jalan.

Istana ini mulai dibangun pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II. Begitu luasnya istana hingga pernah dihuni oleh 4000 orang.

Pada abad ke 17, Sultan banyak menghabiskan waktu di istana baru di Bosporus. Perlahan kepentingan istana Topkapi ini memudar. Hingga pada tahun 1921, istana ini dialihfungsikan sebagai museum.

Dari istana Topkapi sebenarnya ada jalan menuju Bosporus. Tapi jalan ini tertutup untuk umum. Jadi kami harus keluar kompleks dan naik taksi menuju selat bosporus. Ada kereta juga kalau mau lebih irit. Hanya saja waktu kami terbatas.

Turun dari taksi di Bosporus, kami melewati kios penuh warna. Rupanya mereka menjual Kumpir dan wafel. Kumpir adalah kentang panggang dengan berbagai macam topping.

Etalase mereka memajang dengan cantik keju, mentega, jagung pipil, sosis, salad, buah zaitun, mayonais, saus tomat dan acar warna warni untuk topping kumpir. Di sisi yang berbeda, 9 macam coklat leleh berbagai rasa dan warna, stroberi, pisang, biskuit dan kacang kacangan, tertata rapi untuk topping wafel.

Satu kumpir, dan satu wafel, ternyata sudah cukup mengenyangkan untuk aku, Rahmat, Mawiya dan Nahrisyah.

Di Bosporus kami menghabiskan waktu di playground anak anak. Ada juga tur selat dengan menaiki kapal. Tapi lagi-lagi waktunya terbatas.

Kami harus segera kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju Washington DC. Satu saat nanti semoga bisa menikmati Turki dengan thuma’ninah.

Penyesuaian Diri

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar diplomat ditugaskan ke luar negeri? Beberapa teman berpikir, kami pindah tinggal bawa keperluan pribadi saja. Sisanya sudah diurus kantor. Rumah dinas, mobil dinas, sekolah anak diurusin. Sederet staff sudah siap membantu kemudahan hidup kami di negara baru.

Asumsi itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Beberapa kantor perwakilan Indonesia memang menyediakan rumah dinas. Biasanya satu komplek dengan kantor, seperti di Riyadh atau Seoul. Tapi, yang tidak menyediakan rumah dinas lebih banyak lagi. Di kantor perwakilan seperti ini, kami mendapat tunjangan sewa rumah. Kadang jumlahnya memang cukup, kadang kami harus nombok. Tergantung kebutuhan pribadi dan situasi negara setempat.

Mobil dinas, duta besar sih sudah tentu dapet. Tapi diplomat remah remah macam kami, kalo mau punya mobil ya bellliii..

Jadi, apa aja yang harus kami lakukan di bulan pertama posting? Begini..

Identitas

Meskipun tercatat sebagai staff kedutaan, seorang diplomat tetap harus lapor diri ke kantor perwakilan. Ya sambil ngantor sih. Ada dokumen dari Kemlu di tanah air yang harus diserahkan ke kantor perwakilan. Paspor seluruh keluarga juga diserahkan untuk diurus status kependudukannya. Setelah itu kami akan mendapat diplomatic card sebagai kartu identitas yang sah.

Rumah

Seperti yang aku bilang tadi, ada kantor perwakilan yang menyediakan rumah dinas. Tapi kebanyakan sih enggak. Kami mendapat tunjangan sewa rumah. Bentuk rumahnya tergantung situasi negara.

Tahun 2011, aku datang ke Damaskus ketika Rahmat sudah berada disana selama 6 bulan. Jadi semua sudah rapi. Aku ngga tau gimana repotnya dia nyari apartemen.

Tapi di DC ini, aku ikut prosesnya dari awal. Kami dibantu oleh staff kantor mencari rumah yang disewakan. Selain itu kami juga mencari informasi dari internet. Total ada 16 rumah & apartemen yang kami datangi dalam waktu 2 minggu. Kebayang ga capeknya, jetlag diri sendiri belum ilang, masih harus mengatasi jetlag anak-anak.

Selama belum mendapat tempat tinggal, kantor menyediakan serviced apartment untuk kami. Kenapa ngoyo tempat tinggal harus fix maximal dalam 3 minggu? Karena di AS, sekolah anak bergantung pada tempat tinggalnya. Kalau rumah belum jelas, ngga bisa ngurus sekolah anak.

Di Damaskus dulu, kami menyewa apartemen 2 kamar tidur. Masih pengantin baru ❤❤… Disana hampir semua hunian disewakan fully furnished. Memudahkan banget karena lengkap sampe kesetnya. Apartemen salah satu teman kami bahkan tersedia mesin pembuat pasta dan sandal di tiap kamar.

Yang sekarang ini, semua hunian, baik apartemen maupun rumah, disewakan kosongan kecuali dapur. Kulkas, kompor, microwave, mesin cuci piring sudah tersedia. Tapi perabotannya ngga ada. Maka urusan rumah ini luar biasa menyita waktu, tenaga dan kantong. Karena kita bener-bener harus beli SEMUANYA. Untuk menghemat, bisa beli barang bekas melalui internet. Atau jeli memanfaatkan masa diskon. Seperti sekarang ini, menjelang labour day, diskon abis-abisan deh.

Saat ini kami menyewa sebuah town house 3 lantai. Hampir semua rumah modelnya begitu. Yang cuma 2 lantai harganya ga karuan 😁. Kami jatuh cinta sama rumah ini, tapi tidak pada harganya. Udah dihindari, nyari kemana mana, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan jadi menyewa. Begitu ngasih kabar ke perusahaannya, lah kok katanya udah ada yang mau sewa. Baruuuu tadi pagi deal-nya. Oalah… yo wes.. berjuang maneh..

Besoknya pas lagi nyari-nyari info sewa rumah, dapet kabar kalo penyewa yang kemarin ngga di approve pemilik. Entah kenapa. Wah.. jodoh nih. Langsung deal saat itu juga. Alhamdulillah.. rumah fix tepat 3 minggu setelah kedatangan kami.

Sekolah

Begitu lokasi rumah jelas, kami langsung melapor ke kantor dinas pendidikan setempat, ke bagian internasional. Anak-anak pindahan, harus mengikuti tes bahasa inggris dan matematika untuk mengetahui di kelas mana dia akan belajar nanti. Tapi karena Mawiya baru kelas 1 SD, dia ngga perlu mengikuti tes itu.

Selain tes tulis, anak-anak pindahan di AS juga harus dicek kelengkapan imunisasinya. Disini kami cukup menunjukkan kartu atau buku catatan vaksin dari rumah sakit atau dokter. Peraturan ini sangat mungkin berbeda dengan negara lain. Seperti cerita teman diplomat di australia misalnya, catatan yang diminta tidak berupa buku, tapi berupa sertifikat. Sertifikat ini bisa didapat dari puskesmas dengan menunjukkan buku vaksin.

Di AS, anak-anak pindahan juga wajib mendapat vaksin TB disini (bukan di Indonesia). Hasilnya harus diserahkan ke sekolah, dengan nota di atas kertas pink, “Simpan baik-baik. Dokumen akan berguna ketika kamu ngurus sekolah, kuliah, dan kerja di seluruh dunia.”

Oke, jadi sekarang catatan vaksin sejak bayi procot itu harus disimpan dan di laminating macam akta kelahiran. Tak punya catatan vaksin? Tenang, bisa vaksin ulang. Seperti yang kebetulan terjadi pada anak salah satu teman kami. Anaknya udah naik kelas X, anak kedua pula. Sewajarnya banget kalo catatan imunisasinya udah ngga ada. Hari itu dia rapelan 5 vaksin sekaligus! Bayangkan! LIMA! Keluar ruangan dia jalan sambil pelukan nyandar ibunya. Kliyengan abis. Kemeng. Mumet.

Sekolah seperti apa yang kami pilih? Amerika Serikat punya sistem pendidikan yang bagus. Sekolah negerinya bagus dan gratis. Jadi kami ngga perlu repot milih, karena udah otomatis sesuai tempat tinggal. Ngga perlu khawatir tentang kualitas karena udah standar dan semuanya bagus.

Beda dengan di Damaskus. Sekolah lokal kurang mengakomodir kebutuhan siswa internasional. Jadi anak-anak asing kebanyakan belajar di sekolah internasional dan tidak terikat zona tinggal.

SIM

Ketika mendampingi suami di Damaskus dulu, cukup setor foto, paspor dan SIM A yang masih berlaku, aku udah langsung dapet semua kartu identitas. Visa tinggal, kartu diplomatik dan SIM Syria. Tapi di DC, kami harus ikut tes. Tanpa kecuali! Bahkan dubes.

Karena sudah punya SIM A yang masih berlaku, kami ngga perlu tes praktek, cukup tes pengetahuan aja. Ini jadi horor buatku karena selain bahasa inggrisku terlalu ngepres, tesnya banyak hafalan dari manual setebal 101 halaman. Seperti berapa jarak parkir dari hydrant. Kenyataan bahwa sebagian besar teman-teman ngga lulus pada trs yang pertama, jadi tekanan tersendiri. Mereka yang bahasa inggrisnya lebih jago aja harus ngulang lagi, apalagi aku kan… Ada 6x jatah mengulang tes. Kalo gagal 6x harus nunggu setahun dari tes yang pertama.

Alhamdulillah setelah try out 14x dan tes 2x, aku lulus. Satu tahapan lain terlewati.

Berbenah

Sebulan tinggal di hotel, tentu banyak barang yang sudah keluar dari koper. Belum lagi belanjaan baru yang dicicil sedikit demi sedikit untuk rumah. Pindah dari hotel ke rumah sewa ternyata tidak semudah itu. Tapi kami juga ngga mau terlalu repot packing rapi. Toh nanti dibongkar lagi. Packing asal masuk aja. Asal ngga ada yang ketinggalan di hotel.

Sampai di rumah, bongkar lagi semuanya. Lemari sudah tersedia, menyatu dengan dinding (aku suka banget lemari macam ini karena kamar jadi terlihat rapi). Semua barang asal masuk lemari aja. Rapi rapinya sambil jalan. Yang penting koper bisa disimpan, enyah dari pandangan mata! 3 bulan penuh berurusan sama koper itu bikin eneg.

Sambil memasukkan barang ke lemari, Rahmat bilang,” dulu pas daftar jadi diplomat, aku ngga kebayang loh akan jadi (ribet) kaya gini. Kirain semua udah ada yang ngurusin.”

“Tapi ngga menyesal kan?” Kataku.

“Yo lapo…” 😂😂😂

Mobil

Entar dulu lah… Bernafas dulu..


Untuk menambah suasana drama, semua itu dilakukan ketika masih jetlag. Perbedaan waktu mencapai 11 jam. Menunggu Isya datang di jam 9.20 terasa sangat berat karena ngantuk. Nahrisyah tantrum hampir 30 menit setiap harinya. Menangis, berteriak, meraung ngga jelas apa maunya. Ditambah lagi dia batuk flu.

Tapi dimana-mana, badai pasti berlalu. Alhamdulillah pelan pelan hidup kami makin teratur dan tertata. Sebelumnya ngga kebayang dan ngga ada yang ngajari secara detil gimana caranya hidup berpindah pindah. Sebagai keluarga diplomat, mau ngga mau kami harus bisa melakukannya.