My Favourite Group Ever!!!

Beberapa waktu terakhir ini Line lagi naik daun karena kecerdasannya menggandeng bintang film Ada Apa Dengan Cinta. Tiba-tiba saja masyarakat Indonesia seperti terjangkit virus yang sama, gagal move on. Thanks God kegagalannya bukan karena pilpres (meskipun masih ada sih), tapi karena mengenang kejayaan Rangga dan Cinta. Buatku pribadi situasi ini lebih menyejukkan ketimbang melihat orang yang gagal move on karena pilpres. Sayangnya ini tidak berlangsung lama.

Aku juga mengalami momen gagal move on ini. Cekakak cekikik seperti Cinta dan sahabat-sahabatnya. Aku sih merasa lebih seru daripada mereka, karena mereka cuma berempat, sedangkan aku se-angkatan!!! Ini gila banget deh. Semalam saja chat kami di WA mencapai 2000an. Aku membayangkan ekspresi teman-temanku, bangun tidur, belum juga sadar penuh, lihat jam di hp dan langsung semebyar matanya lihat ribuan chat di grup.

Sebenarnya grup angkatan SMU kami ini sudah lama ada. Waktu awal-awal dulu pembicaraan masih sopan, teratur, dipenuhi sharing teman-teman tentang panduan dan motivasi hidup. Sampai-sampai aku merasa tidak ada bedanya dengan grup dharma wanita. Beberapa hari terakhir ini admin menambahkan beberapa nomor teman-teman yang baru ditemukan. Dan terjadilah ledakan chat itu!

Selepas SMU kami menempuh jalur pendidikan yang berbeda. Kami juga menekuni hobi serta mengikuti komunitas yang berbeda. Di grup SMU ini ada ibu rumah tangga, dokter, psikolog, akuntan, notaris, bidan, pegawai pemerintah atau swasta, guru, dosen, tentara, pengusaha, you named it! Artinya, kami punya profesional yang bisa ditanyai, gratis! Mau tanya apa, anak demam? Anak susah makan? Anak susah diatur? Cara mengurus sertifikat? Cara mendapat beasiswa? Hukum agama dan negara? Kontrasepsi? Jawabannya tersedia di grup.

Mau diskusi tentang syariat, tumbuh kembang anak, komik terbaru, skor bola, tingkah polah anak, sampai urusan mantan pacar, semua dibahas. So far selalu saja ada yang memiliki ketertarikan atau memiliki pengalaman yang sama. Kalo lagi seru diskusi begini, chat bisa mencapai ribuan. Herannya, seserius apapun bahasannya, selalu saja ada yang berperan jadi badut. Selalu saja ada momen cekakak cekikik ngga jelas.

Aku pernah nyasar ketika jalan kaki menuju bank, karena terus menunduk mantengin hp. Ada yang hari ini memutuskan jadi “istri microwave” karena tidak memasak, hanya menghangatkan makanan dan konsentrasi pada WA. Ada juga yang dimarahi calon suami yang merasa terabaikan. Lalu dia berjanji tidak akan begitu setelah mereka menikah nanti, dan tidak ada satupun diantara kami yang mempercayainnya.  Ada yang terus dilirik rekan kerjanya karena laporannya belum juga selesai. Bahkan sampai kena tilang karena menyetir sambil WA. Ini semua akibat grup setengah sinting itu…

Beberapa teman akhirnya mengeluhkan traffic chat yang padat ini karena membuat hp mereka error. Aku mungkin juga akan kesel kalau jadi mereka. Lagi dalam situasi urgent, butuh hp, tiba-tiba hp error gara-gara cekakak cekikik ngga jelas dan harus di-restart.

Kami sedang dalam masa euforia setelah sekian tahun tidak bertemu dan tidak tahu kabar satu sama lain, tiba-tiba Allah menyatukan kami lagi di dunia maya. Kami mengulang masa-masa seru dan gila (yang hanya bisa dimengerti oleh anggota grup, karena waktu aku cerita pada suamiku, dia sama sekali tidak tertarik 🙂 ). Cerita bolos sekolah, dihukum guru, termasuk mantan. Yang terakhir ini seru sekali. Bayangkan saja, si A pacaran dengan si B, Lalu mereka putus. Si A sekarang menikah dengan si C, dan si B menikah dengan si D. ABCD adalah teman SMU seangkatan. Obrolan antara mereka berempat selalu seru. Saling ledek, saling tendang, pura-pura marah ketika pasangannya share sesuatu di grup. Sampai sekarang hubungan mereka baik-baik saja, means ngga ada sirik-sirikan… isn’t it lovely? Meskipun tidak semua orang mucul waktu mereka chat di grup, tapi aku yakin yang lain ikut menyimak dan tertawa di tempat masing-masing.

Ada beberapa pasangan seangkatan lainnnya yang juga seru untuk dibahas di grup. Kami selalu kepo, kok bisa sih mereka nikah? Mengingat kelakuan masing-masing waktu SMU dulu. Salah satu teman kami, waktu mau nikah dulu, tidak berterus terang tentang calon suaminya. Pada hari H, dia mengejutkan semua teman yang hadir di pernikahannya. Calon mempelai pria ternyata adalah teman sekelas di SMU! Gimana bisa mereka berdua menyimpan rahasia dari kami? Sampai sekarang kisah cinta mereka masih ditunggu kejelasannya.

Grup ini juga menjadi semacam “pengakuan dosa”, yang dulu kami terlalu malu untuk mengakuinya. Aku mengaku bahwa namaku sebenarnya tidak ada di daftar penerimaan siswa baru. Eh.. ternyata aku tidak sendiri :-).. Belum lagi pengakuan tentang cinta. Selalu seru! Dia pernah nembak yang ini, dia pernah naksir yang itu, dia pernah ditolak yang satu lagi. Never ending story 🙂

Tahukah kalian kalau WA bisa jadi terapi uuntuk mengatasi pengalaman traumatik masa lalu? Grup WA SMU-ku ini bisa! Salah seorang teman merasa massa SMU-nya tidak terlalu menyenangkan karena merasa terpaksa tinggal di pesantren. Ya, SMU kami terletak di dalam pesantren di Jombang, Jawa Timur. Selepas lulus, dia sering bermimpi seolah mau berangkat sekolah, tapi ada saja masalahnya. Yang seragam ilang lah, belum disetrika lah, antri mandi, tergopoh-gopoh takut telat dll. Masalah khas anak pesantren. Perasaan tidak nyaman ini terus tersimpan dan muncul dalam mimpi-mimpinya, sampai dia merasa tidak punya kenangan indah untuk dikenang. Dia bahkan tidak ingat siapa teman sekelasnya. Setelah bergabung di grup WA, pelan-pelan dia mulai bisa melihat masa SMU dari sisi yang menyenangkan, melaui kisah yang dibagi teman-teman. Sedikit demi sedikit dia menerima informasi lain yang melengkapi puzzle-nya. Mudah-mudahan setelah ini dia tidak lagi mimpi buruk tentang masa SMU.

Di grup ini kami tiba-tiba menjadi akrab dengan teman yang dulu hanya kenal nama. Kami bisa becanda lepas, tertawa bersama, berdiskusi dengan nyaman, saling berbagi infromasi dan bantuan. Teman-teman kami tersebar di seluruh Indonesia, dan ini seperti mini jaringan couch surfing, jaringan untuk para traveler di seluruh dunia. Orang-orang di jaringan ini merelakan diri menjadi host atau guide jika ada traveler yang berkunjung ke negara mereka. Kemanapun kita pergi, akan selalu ada teman disana. Seperti itulah grup WA SMU ini, waktu aku ikut suami dinas ke Lombok. Sementara suamiku mengikuti acara kantor, aku jalan-jalan dengan teman SMU-ku yang tinggal di Lombok. Teman seperti ini adalah best guide ever! Kita mengenalnya dengan baik, dia menunjukkan tempat terbaik disana dan membuat kita merasa nyaman tanpa takut terjadi hal buruk.

Kalaupun tidak pergi kemana-mana, hanya dirumah saja sendirian, bete, galau, grup ini juga menyediakan ratusan bahu untuk ditangisi. Perhatiannya, obrolan ngga jelasnya, ledekan-ledekannya membuat kami tersenyum. Perhatian grup tidak sebatas bilang “sabar ya…”, tapi juga mendoakan dan memberi solusi semampu mereka bisa. Memberi solusi teknis yang dibutuhkan. What do you expect more? Yang mengalami masalah mungkin hanya satu orang, tapi yang mengambil pelajaran semua anggota grup.

Sampai detik ini, grup WA SMU masih jadi favorit dan teraktif buatku. Bahkan mungkin untuk semua anggota grup. Dalam 5 jam saja aku di kehidupan nyata, waktu terima raport anakku, sudah ada 626 pesan yang belum terbaca. Dan buatku ngga gampang juga untuk mengabaikan ratusan pesan itu begitu saja. Bukan hanya aku, tapi juga teman-teman yang lain. Bisa gitu sabar baca ribuan pesan yang ngga selalu penting. Sudah gitu, tiap kali mereka selesai baca ribuan pesan itu, mereka selalu mengetik, “Alhamdulillah khatam… (ikon joget-joget)”. Hal ngga penting yang seru untuk dilakukan. Aku mematikan notification selama setahun, tapi tetap saja ngintip tiap menit.

image
Kurang dari 24 jam

image
Kurun waktu 5 jam

Aku punya beberapa sahabat, dari tempat kuliah, tempat kerja. Tapi teman SMU ini berbeda. Aku merasakan ikatan batin yang luar biasa. Mungkin rasanya naik turun, tapi tetap terjaga. Selama SD sampai SMU, aku tidak pernah suka belajar di sekolah. Yang kusuka, tidak diajarkan, yang tidak kusuka, diajarkan. Sekolah hanya formalitas untukku. Baru di kampus kuliah, aku merasa bahagia ketika belajar. Selama sekolah itu, teman-temanlah yang membuatku bahagia. Membuatku tetap bertahan untuk pergi sekolah. Mereka jugalah motivator dan inspiratorku untuk tetap menulis. Seperti kata pepatah Arab, رب أخ لك لم تلده أمك . Bisa jadi, seorang saudara tidak dilahirkan oleh ibumu. Itulah mereka, teman-teman SMU-ku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s