Mawiya’s Spring : No More Tears

2010-2011

Damaskus seharusnya merupakan kota yang tenang, damai dan penuh toleransi. Kota ini memang tidak se-gemerlap Dubai, tapi ia memiliki keindahannya sendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Ia menyimpan segala kenangan indah para nabi, sahabat, raja di masa lalu. Tersimpan dalam bangunan kokoh di kota tua.

Aku mencintai Damaskus melalui proses, tidak pada pandangan pertama. Cinta tumbuh seiring aku menyusuri jalan berbatu di kota tua. Memperhatikan sepatu-sepatu hak tinggi wanita Damaskus yang gemar bersolek, rambut klimis pria Damaskus yang seperti kebanyakan gel, juga cara mereka saling mencium ketika bertemu teman atau saudara. Aku mencintai wanita bersasak yang pergi ke gereja, seperti aku mencintai anak-anak yang berlari gembira di pelataran masjid Umawy. Semakin hari semakin tumbuh, bersama janin dalam perutku.

Tiba-tiba saja ketenangannya terusik. Orang-orang dari barat menamainya Arab’s Spring, musim seminya Arab. Apa mereka pikir selama ini Arab di masa kegelapan seperti gelapnya musim dingin? Menurutku ini tidak seperti musim semi. Segala demo, bom, ledakan, pengungsi, kehilangan orang yang dicintai, bagiku terlihat seperti bencana. Bukan musim semi.

Perang begitu menyakitkan, bahkan bagi orang yang tidak berhubungan dengan perang. Kenapa keluarga kami yang harus terpisah? Kenapa para mahasiswa itu yang harus terhenti kuliahnya? Kenapa anak-anak kami yang harus ketakutan? Kenapa orang-orang lanjut usia itu harus menghabiskan masa tuanya di tenda pengungsian?

2011-2012

Tepat di usia 1 tahun, aku dan Mawiya terpaksa pulang ke Indonesia karena situasi makin buruk. Sebenarnya kekhawatiran sudah ada sejak aku hamil. Seumur hidup tinggal di Pasuruan yang tenang, lalu tiba-tiba mendengar suara bom di negara lain, sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Kami sudah mencari alternatif untuk melahirkan di Beirut kalau situasi tidak memungkinkan.  Tapi alhamdulillah, sampai hari kelahiran, Damaskus masih kondusif untuk ditinggali.

Makin lama suara bom makin sering terdengar. Rumah salah satu staff KBRI bahkan ada yang terkena ledakan. Situasi tidak membaik. Bom yang tadinya hanya terdengar waktu weekend, bertambah frekuesinya. Seminggu sekali, seminggu dua kali, sampai sepanjang minggu selalu terdengar bom dan tembakan. Dari yang awalnya hanya mendengar suara, sekarang kami bisa melihat asap hitamnya dari balkon apartemen. Kaca jendela pun ikut bergetar. Kami memutuskan untuk tidak lagi menempati kamar tidur, karena langsung menuju balkon. Mawiya selalu menyusu ketika merasa takut dan kaget.

Tidak ada lagi acara jalan-jalan di malam hari. Meskipun pemerintah tidak menerapkan jam malam, kami tetap mengkhawatirkan keselamatan kami. Beberapa keluarga KBRI mulai menimbang-nimbang  untuk pulang ke Indonesia, karena khawatir sekolah anak-anak akan terganggu. Listrik pun dipadamkan pada jam-jam tertentu secara bergilir. Awalnya listrik padam 2 jam sehari. Berikutnya tambah lagi menjadi 4 jam. Musim dingin terasa lebih berat karena pasokan solar sebagai bahan bakar penghangat rumah menjadi barang langka. Stok gas untuk memasak pun terbatas. Situasi itu sama sekali tidak membaik setiap harinya.

Kesibukan suamiku makin tidak terkendali. Posisinya di bagian konsuler membuatnya harus berada di kantor hampir 24 jam. Ratusan TKI datang dari penjuru Syria untuk meminta perlindungan. KBRI sendiri tidak hanya menunggu dan menerima WNI yang datang, tapi juga menjemput bola, berusaha mendatangi dan membawa mereka ke Damaskus, untuk kemudian dipulangkan ke Indonesia. Shelter yang tersedia makin sesak, sementara WNI terus berdatangan.

Rumitnya situasi keamanan Syria membuat proses ini tidak berjalan mudah. Orang-orang asing tidak bebas keluar Damaskus. Bahkan yang bertujuan untuk menyelamatkan warga negaranya yang terjebak di tengah perang. Staf di konsuler sudah mulai melupakan keluarganya. Mereka konsentrasi penuh pada misi penyelamatan WNI.

Situasi terasa makin tidak nyaman, terutama sejak salah satu staff KBRI turut menjadi korban penembakan. Siang itu salah seorang staff KBRI sedang membawa mobil kantor ke bengkel langganan untuk di servis. Tiba-tiba saja datang sebuah mobil, dan keluar tembakan bertubi-tubi dari dalamnya. Mereka menembak ke segala arah. Sasarannya adalah pemilik bengkel yang ditengarai anggota penting kelompok oposan. Pemilik bengkel itu sendiri sudah mempersiapkan diri dengan mengenakan rompi anti peluru. Tapi tidak dengan teman kami ini. Kematiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi kami.

Beberapa keluarga KBRI yang tinggal di daerah tepi Damaskus akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Rumah mereka tidak lagi aman untuk dihuni. Mereka pergi meninggalkan suaminya yang masih harus bertugas di KBRI. Sepeninggal keluarganya, para suami ini memilih untuk tinggal di KBRI. Sekolah Indonesia Damaskus di lingkungan KBRI akhirnya ditutup dan berubah menjadi shelter WNI yang makin banyak.

Aku sendiri, karena Mawiya belum masuk usia sekolah, memutuskan untuk tetap tinggal di Damaskus. Tapi ternyata keputusan ini tidak berlangsung lama. Seminggu sebelum Ramadlan 2012, terjadi peperangan di ladang kaktus, sekitar 50 meter saja dari KBRI. Yang berarti 100 meter dari apartemen kami. Suara tembakan sangat jelas terdengar. Aku melihat formasi pesawat di udara, menembakkan peluru dari atas. Seperti ada kembang api di atas sana. Suamiku pun memutuskan, aku dan Mawiya harus pulang ke Indonesia. Tidak saja karena alasan keselamatan, tapi juga agar dia lebih banyak waktu untuk mengurus penyelamatan WNI.

Seperti halnya staf KBRI lain, suamiku akhirnya lebih sering menginap di kantor daripada di apartemen kami. Dua minggu setelah kepulanganku ke Indonesia, pada dini hari, sebuah bom mobil meledak di depan apartemen kami. Baru aku merasa kepulanganku ini adalah keputusan yang sangat tepat. Tidak tahu apa jadinya kalau malam itu aku dan Mawiya masih tidur di Damaskus. Setelah itu suamiku memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih kecil. Selain karena alasan praktis, dia mengaku tidak sanggup selalu terbayang-bayang Mawiya tiap kali pulang ke apartemen yang lama.

2012-2013

Pulang ke Indonesia tidak lantas serta merta jadi lebih baik. Mawiya mengalami gegar budaya. Dari yang sebelumnya hanya tinggal berdua dan bertiga, sekarang dia harus tinggal dengan keluarga besar yang meriah. Mawiya adalah cucu pertama di keluarga kami. tinggal di tempat yang jauh pula. Jadilah semua orang berusaha merebut perhatiannya supaya mau digendong. tapi semua usaha itu justru membuatnya makin ketakutan.

Aku mengamati perilakunya, dia selalu menangis ketakutan ketika ada suara keras. Entah itu suara benda atau suara orang. Dadanya berdebar-debar, dan dia lari bersembunyi di pelukanku. Tidak hanya suara keras, suara yang mengagetkan juga membuatnya menangis ketakutan. Dia bisa terbangun dari tidur siangnya hanya gara-gara mendengar suara deru motor di jalanan. Dia tidak suka berada di tengah acara yang hingar bingar, terutama orang-orang yang berebut perhatiannya. Menyusuinya adalah cara yang paling mudah untuk menenangkannya. Ini adalah masa sulit untuk kami.

Tidak hanya pada suara keras, Mawiya juga takut pada orang asing. Mawiya begitu sulit beradaptasi di tengah keluarga besar kami. Aku sendiri merasa berat menghadapi ketakutan Mawiya tanpa suami. Mau ke kamar mandi saja sulit. Sementara dia sendiri belum mau dengan orang lain. Butuh 2 bulan untuk Mawiya menerima keluarga barunya.

2013-2014

Setelah satu tahun berpisah dengan suami, masa tugasnya di Damaskus pun berakhir. Kami kembali hidup bertiga di apartemen mungil. Ketakutan Mawiya pada orang asing makin teratasi, tetapi tidak pada suara keras. Awalnya aku mengira itu hanya proses adaptasi di lingkungan baru. Tapi sudah satu tahun berjalan, dia masih menangis ketakutan ketika mendengar suara keras. Sementara pada orang asing, dia hanya diam dan berpaling.

Kami tinggal di apartemen yang masih banyak tukang bekerja untuk memasang interior. Hampir setiap hari ada suara bor atau pukulan palu terdengar. Setiap kali itu pula Mawiya, yang sedang asyik bermain, langsung berlari ketakutan ke arahku sambil menangis. Aku harus segera menghentikan aktivitasku untuk memeluknya, sampai tangisnya mereda dan dia siap kembali bermain.

Musim hujan juga menjadi saat yang menyedihkan bagi kami. Petir menyambar dan menggelegar. Letak apartemen kami di lantai 11 terasa sangat dekat dengan langit. Lagi-lagi aku harus menghentikan aktivitasku untuk memeluknya.

Malam tahun baru 2014 adalah puncak mimpi buruk bagi kami. Pesta kembang api selama 2 hari membuat Mawiya ketakutan luar biasa. Desember itu dia baru saja menyapih dirinya sendiri. Jadi aku tidak lagi menyusuinya ketika dia takut. Dia ingin kami bertiga harus selalu bersama. Dia menganggap aku dan papanya juga takut seperti dia. Tidak ada yang boleh memisahkan diri. Semalam suntuk dadanya berdebar, merengek, memeluk dan terus berkata, “aku takut.. “. Akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis tepat di pergantian tahun.

2014-2015

Tahun berganti, tapi ketakutan pada suara keras masih saja setia. Syukurnya respon Mawiya tidak se-heboh dulu. Masih takut dan berdebar-debar tapi tidak lagi histeris. Setiap kali dia ketakutan kami hanya berpelukan sambil menunggu dia tenang dengan sendirinya. Setelah itu kami akan berkata, “itu cuma suara, tidak menyakiti Mawiya..”.

Suatu hari di musim hujan, petir menyambar. Mawiya terhenyak, diam, lalu tertawa. Dia berkata, “hahaha… ada petir… petirnya keras ya Ma..”. Dan begitu terus pada petir-petir berikutnya. dia terus tertawa tiap kali ada petir. Lama-lama petir terasa makin dekat. Suaranya seperti tepat diatas kepala. Suaranya kali ini paling keras dibanding sebelumnya. Aku kaget, dia pun kaget. Lalu dia kembali menangis ketakutan dan kami berpelukan.

Ketika sedang asyik bermain, kami mendengar suara bor. Mawiya diam, lalu berkata sambil cemberut, “..mmmm pak tukang jangan ngebor-ngebor terus dong.. aku kan jadi kaget.. kan berisik.. “. Dia tidak lagi menangis. Dia berhasil mengatasi ketakutannya!

2 hari menjeelang tahun baru, aku berkata pada Mawiya, “mulai nanti sore, ada banyak sekali kembang api di luar. Suaranya keras dan berisik. Mawiya takut ngga?” Dia menjawab, “Ngga, kan aku pemberani..”. Ternyata benar, malam itu dia justru keluar menonton kembang api dari balkon.

Malam tahun baru, aku dan suami sudah mempersiapkan diri kalau-kalau Mawiya akan menangis ketakutan seperti tahun lalu. Tapi dia hanya merengek takut sebentar, lalu tidur sampai pagi, bahkan sebelum pergantian tahun.

You did it, girl!  Ini baru namanya musim semi yang indah. Mawiya’s Spring..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s