Nahrisyah Satyaputikeswara Hindiarta

Nahrisyah, dikenal juga dengan Nahrasyiyah, adalah sultanah atau ratu pertama di kesultanan Samudra Pasai. Sultanah Nahrisyah binti Sultan Zainal Abidin Malikudhahir memimpin Samudra Pasai sejak tahun 1416 M hingga wafat pada 27 September 1428 M atau bertepatan pada hari Senin, 17 Dzulhijjah 831 H. Kekuasan Samudera Pasai sendiri berlangsung kurang lebih dari abad ke-13 hingga 16 Masehi, yang akhirnya bergabung menjadi satu di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Makamnya bisa dijumpai di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Sekitar 18 kilometer sebelah timur Kota Lhokseumawe, tidak jauh dari Makam Malikussaleh.

Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian, MA dalam tulisannya di buku Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah” mengungkapkan bahwa Ratu Nahrasiyah merupakan seorang ratu yang menjadi pusat perhatian para ahli sejarah untuk menulisnya. Tak terkecuali Dr Cristian Snouck Hourgronje dari Belanda. 

Ketika awal awal diangkat menjadi guru besar di Rijks Universiteit Leiden, dan dikukuhkan pada 23 Januari 1907, Snouck sangat tertarik untuk meneliti tentang kuburan Ratu Nahrisyah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai. Dalam buku “Arabie en Oost Indie,” 1907, Snouck menulis tentang Ratu Nahrisyah yang dimakamkan di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai yang makamnya terbuat dari pualam, yang merupakan makam ratu Islam yang terindah di Asia Tenggara, yang dihiasi dengan ukiran kaligrafi. 

Menurut Snouck makan Ratu Nahrisyah merupakan duplikat dari makam Umar ibn Akhmad al-Kazaruni di Cambay, Gujarat, India yang mangkat pada 734 H atau 1333 M. Bentuk nisan seperti itu satu abad lebih setelah wafatnya Ratu Nahrisyah juga dipakai pada pembangunan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. 

Melihat bentuk makamnya yang indah dan istimewa, bisa dipastikan kalau Ratu Nahrisyah merupakan raja perempuan terbesar pada zamannya. Pada nisannya terdapat nukilan-nukilan huruf Arab yang berisi informasi tentang makam tersebut. Ibrahim Alfian menjelaskan, ukiran berbahasa Arab itu bila diterjemahkan dalam bahasa Melayu bermakna; 

“Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci Ratu yang terhormat almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah…putri Sultan Zain al-Abidin putera Sulthan Ahmad putra Sulthan Muhammad Putra Sulthan Al Malikul Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya, meninggal dunia dengan rahmat Allah pada hari Senin 17 Zulhijah 832.” 

J. P. Moquete dalam “De Grafsteenen te Pase en Grisse verge leken met dergelijke mo menten uit Hindoestan” memperkirakan tanggal dan tahun hijriah yang tertera di makam itu bertepatan dengan 27 September 1428 masehi. 

Menurut Ibrahim Alfian, kebiasaan raja-raja Pasai selalu mengeluarkan mata uang emas yang disebut deureuham atau dirham, namun dirham atas nama Ratu Nahrisyah yang memerintah lebih 20 tahun tidak ditemukan baik dalam berbagai koleksi maupun literatur numismatik mata uang emas kerajaan kerajaan Islam di Aceh. 

Mengenai hal itu Ibrahim Alfian menjelaskan hal itu karena Ratu Nahrisyah setelah suaminya wafat, dengan suami yang kedua sama-sama memimpin Kerajaan Samudera Pasai. Suaminya, Salahuddin tidak memakai gelar Malik az-Zahir pada sisi depan mata uang emasnya karena ia bukan keturunan dinasti Malik az-Zahir. Hanya pada sisi belakang dirhamnya tercantum kata “As Sulthan Al Adil” sebagaimana lazimnya dirham emas raja-raja Pasai. Dirham Salahuddin beratnya 0,60 gram dengan diameter 10 mm dengan mutu emas 17 karat. 

Ratu Nahrisyah sendiri merupakan anak dari Sulthan Zainal Abidin yang mangkat pada tahun 1405. Pada masanya dikeluarkan dirham dengan sisi depan bertulis Arab, “Zainal Abidin Malik az Zahir” dan di bagian belakang tertulis, “As Sulthan Al Adil”. Dirham milik Sulthan Zainal Abidin berdiameter 13 mm dengan berat 0,06 gram dengan mutu emas 18 karat. Dalam literatur Tiongkok seperti kronik Dinasti Ming (1368-1643), nama Sulthan Zainal Abidin dikenal dengan sebutan Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki. 

Ibrahim Alfian menjelaskan, berdasarkan kronik Dinasti Ming buku 32 diungkapkan, Raja tsa-nu-li-a-pi-ting-ki mengirimkan utusan-utusannya ditemani seorang penerjemah (sida-sida) Cina bernama Yin Ching ketika menghadap raja Cina Ch’engtsu (1403-1424) dan membawakan upeti. Maharaja Cina kemudian mengeluarkan dekrit dan mengangkatnya sebagai raja Sumatera. Raja tsa-nu-li-a-pi-ting-ki mengirim upeti setiap tahun kepada Ch’engtsu selama maharaja itu masih hidup. 

Selain jejak sejaran berupa nisan, keterangan tentang Ratu Nahrasiyah juga terdapat dalam buku sejarah Cina, “Ying-yai Sheng-lan” yang berisi tentang laporan umum mengenai pantai-pantai Sumatera waktu itu. Ma Huan seorang pelawat Cina muslim dalam pengantar buku itu menjelaskan, karena dapat menerjemah buku-buku asing, ia dikirim oleh maharaja Cina ke berbagai negeri mengiringi Laksamana Cheng Ho. 

Di dalam Ying-yai Sheng-lan diceritakan bahwa Raja Samudera diserang oleh Raja Nakur, dan dalam pertempuran itu, Raja Samudera tewas terkena panah beracun. Permaisurinya menyatakan sumpah di depan rakyatnya bahwa siapa yang dapat menuntut balas atas kematian suaminya, ia akan menikahinya dan bersedia pula untuk memerintah kerajaan Samudera bersama-sama. 

Muncullah sosok yang telah berumur, seorang Panglima Laot, pejabat kerajaan yang ditugaskan untuk mengurus perikanan menyatakan kesanggupannya untuk mengemban amanah itu. Makan berangkatlah ia memimpin bala tentara Samudera untuk berperang melawan Raja Nakur. Dalam peperangan itu, pasukan Raja Nakur berhasil dikalahkan, menyerah dan mengundurkan diri, serta berjanji tidak akan melakukan permusuhan terhadap Kerajaan Samudera. Ratu, sebagaimana seharusnya seorang pemimpin, menepati janjinya dan menikah dengan Panglima Laot. 

Pada tahun 1409 M, karena sadar akan kewibawaanya, suami sang ratu itu mengantar upeti kepada raja Cina Ch’engtsu (1403-1424) yang terdiri dari berbagai hasil bumi negerinya dan diterima dengan senang hati oleh raja Cina. Dalam tahun 1412 ia kembali ke Samudera, putra raja terdahulu yang telah beranjak dewasa secara rahasia bersekutu dengan para bangsawan dan berhasil membunuh ayah tirinya seta mengambil alih tampuk kerajaan. 

Suami kedua ratu itu yang mempunyai kemenakan Su-Kan-Lah (Sekandar, Iskandar). Ia mengumpulkan pengikut-pengikutnya beserta keluarga-keluarga mereka, lalu menarik diri ke daerah pegunungan. Di sana ia mendirikan benteng pertahanan dan kemudian melakukan serangan-serangan ke Samudera untuk menuntut balas atas kematian pamannya, Sulthan Salahuddin. 

Pada tahun 1415 M Cheng Ho dan armadanya mengunjungi Kerajaan Samudera. Dalam Kronik Dinasti Ming (1368-1643) buku 32 diceritakan, Sekandar bersama dengan beberapa ribu pengikutnya menyerang dan merampok Cheng Ho. Serdadu-serdadu Cina dan rakyat Samudera dapat mengalahkan mereka, membunuh sebagian besar penyerang itu dan mengejar mereka sampai ke Lambri di ujung pulau Sumatera. 

Sekandar kemudian tertangkap dan dibawa sebagai tawanan ke istana maharaja Cina. Di sana Sekandar dijatuhi hukuman mati. Menurut Ibrahim Alfian, ratu yang dimaksud dalam cerita Cina itu tak lain adalah Ratu Nahrisyah, putri Sulthan Zainal Abidin. 

Pada makan Ratu Nahrisyah terukir surat Yasin dengan kaligrafi yang indah bersama ayat kursi dalam surat Al Baqarah. Selain itu terdapat juga petikan dari kitab suci Alquran antara lain ayat 18 dan 19 surat Ali Imran. H B Jasin dalam buku “Bacaan Mulia” terbitan Jembatan, Jakarta, 1991 menterjemahkan kedua ayat itu: 

Allah menyatakan 
Tiada Tuhan selain Ia 
Yang berdiri di atas keadilan 
Demikian pula malaikat 
Dan orang berilmu [menyatakan demikian] 
Tiada Tuhan selain Ia 
Yang maha perkasa 
Yang maha bijaksana 

Sunguh, 
Agama pada Allah ialah Islam 
Dan tiada berselisih orang 
Yang diberii Alkitab 
Kecuali sesudah beroleh ilmu 
Karena kedengkian antara sesama 
Dan, barang siapa ingkar ayat-ayat Allah 
Sungguh, Allah cepat dalam perhitungan 

Ayat 285 dan 286 dalam surat Albaqarah juga turut dipahat pada makam Ratu Nahrasiyah. Kedua ayat itu ditafsirkan bermakna:

Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. 
[demikian pula] orang-orang yang beriman 
Masing-masin [mereka] beriman kepada Allah, 
malaikat-malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasulnya. 
“Kami tiada membedakan Rasul-rasul-Nya yang satu dari yang lain,” [kata mereka] 
Dan mereka berkata [pula] 
“Kami mendengar dan kami taat, berilah kami ampun, Tuhan kami, 
Jangan hukum kami, kepadamulah kami kembali.” 

Allah tiada membebani seseorang, 
Kecuali menurut kemampuannya. 
Ia mendengar [pahala] dari [kebaikan] yang dilakukannya 
Dan mendapat [azab] dari [kejahatan] yang dilakukannya 
[Berdoalah] “Tuhan kami jangan hukum kami, jika kami lupa atau melakukan kekeliruan. 

Tuhan kami, janganlah bebani kami dengan beban [yang berat] 
Seperi yang Kau bebankan atas orang sebelum kami. 
Ampunilah kami dan rahmatilah kami 
Kaulah pelindung kami 
Maka tolonglah kami melawan kaum kafir.” 

Makam Ratu Nahrisyah tampak begitu penting bagi rakyatnya, sehingga dibangun dengan sangat indah. Makam itu dibuat begitu monumental, penuh kebesaran dan keindahan, sebesar dan seindah masa hidupnya sebagai seorang ratu. Terhadap kebesaran dan keagungan Ratu Nahrisyah itu, di akhir tulisannya Ibrahim Alfian menulis: 

“Kita yang sekarang hidup di lingkungan yang jauh lebih sekuler mungkin tak lagi begitu memahami dan menghayati arti makam. Akan tetapi, kitapun selalu merasakan dan menyaksikan bahwa selalu ada yang kurang dalam hidup. Para wisatawan yang berasal dari negara-negara makmur berkelana ke wilayah-wilayah yang lebih jauh dari tempat asalnya untuk sesuatu yang terasa kurang itu. Dan makan Ratu Nahrasiyah yang begitu agung dan indah ini mungkin salah satu yang dicari mereka dan mungkin pula kita semua.”

***

Satyaputikeswara. Secara harfiah, Satya dalam bahasa sansekerta berarti setia. Sedangkan Puti dalam bahasa Minang berarti putri. Keswara (kishwar) dalam bahasa Persia berarti kerajaan. Jadi, istilah satyaputikeswara dapat dimaknai secara bebas sebagai Putri yang setia pada kerajaannya.

Satyaputikeswara sendiri adalah bagian dari gelar yang dimiliki oleh Ratu Shima, ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur.

Ratu Shima adalah isteri Kartikeyasinga yang menjadi raja Kalingga antara tahun 648 sampai dengan 674 M. Saat Kartikeyasinga wafat tahun 674, Ratu Shima mengambil alih posisi suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Dalam pemerintahannya, menantunya, Mandiminyak dan adik iparnya, Narayana, diangkat menjadi pembantu-pembantunya. Pemerintahan di pusat kerajaan oleh Ratu Sima didelegasikan kepada 4 orang menteri yang mengatur negara beserta 28 negara taklukan yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bekas-bekas kerajaan Kalingga sampai saat ini masih banyak terlihat di daerah Dieng.

Kisah yang sangat terkenal dari Ratu Shima adalah ketegasannya dalam menegakkan hukum. Syahdan, kejujuran dan kepatuhan rakyat Kalingga terkenal ke seluruh penjuru hingga ke kerajaan asing. Seorang raja asing pun penasaran ingin membuktikan kebenarannya. Ia lalu meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Mulanya Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran.

Versi lain mengatakan, sang putra mahkota sengaja menendang kantong itu sambil mencemooh raja asing yang melakukannya. Ia mengatakan kejujuran dan kepatuhan rakyat Kalingga tidak akan goyah hanya karena sekantong emas. Putra mahkota pun mendapat hukuman karena sikap tidak terpujinya itu. Mencemooh orang lain sama buruknya seperti mengambil yang bukan haknya.

Catatan beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pada tahun 30 Hijriyah atau sekitar 651 M, semasa pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan (644-656 M), memerintahkan Muawiyah bin Abu Sufyan ke tanah Jawa, yaitu ke Jepara (Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah masuk Islamnya salah satu putra Ratu Shima, Jay Shima.

Terdapat ketidakcocokan antara nama putra Ratu Shima. Satu sumber mengatakan Ratu Shima memiliki putra bernama Jay. Sementara sumber lain mengatakan nama putra Ratu Shima adalah Parwati dan Narayana (Iswara). Parwati kemudian memiliki cucu yang bernama Sanjaya. Apakah Jay Shima yang dikatakan memeluk Islam ini adalah cicit Ratu Shima yang bernama Sanjaya? Wallahu a’lam.

***

Seperti halnya Mawiya, kami suka mengambil nama pemimpin sebagai nama anak kami. Nusantara memiliki banyak sekali Ratu yang mengagumkan. Diantara sekian ratu itu, kami memilih Ratu Nahrisyah dan Ratu Shima untuk menjadi bagian dari nama putri kedua kami. Nahrisyah, wanita pertama yang menjadi ratu dalam sebuah dinasti, memerintah kerajaannya dengan tegas namun dikenal tetap lembut dan keibuan. Shima, wanita yang sangat tegas menegakkan hukum, bahkan kepada anggota keluarganya sendiri. Dia pemeluk Hindu Siwa yang menerapkan ajaran Rasulullah yang mengatakan “seandainya Fatimah mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Itulah kisah dibalik Nahrisyah Satyaputikeswara Hindiarta. Semoga Allah menjadikannya pribadi yang tegas, jujur, berwibawa, dan berjiwa pemimpin. Karena bukankah setiap manusia adalah pemimpin di muka bumi ini…

sumber :
http://acehsky.blogspot.co.id/2012/06/ratu-nahrasiyah-keagungan-seorang-ratu.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai
http://wongwedoknusantara.blogspot.co.id/2010/10/ratu-sima.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ratu_Shima
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Indonesia
cerita sahabat yang mencintai sejarah Nusantara
dan banyak lagi artikel yang bertebaran di internet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s