Category Archives: Indonesia

Jawa Timur : Batik, Rafting & Hiu

… Sebelumnya

1 Januari 2015

Waktu hunting tiket pesawat beberapa hari yang lalu, harga termurah ada pada penerbangan terakhir tanggal 31 desember, dan penerbangan pertama tanggal 1 januari. Memperhitungkan macet di jalan menuju dan dari bandara, kami pilih penerbangan pertama tanggal 1 januari. Ternyata emang enak, lalu lintas lancar waktu menuju bandara Soehat dan dari bandara Juanda.

Jam 6.30 pagi sampai di Juanda, Ama, Buya dan adekku sudah menunggu disana. Dari Juanda kami berencana ke Pasar Batik Bangkalan. Sebelumnya mampir masjid bandara dulu untuk mandiin Mawiya. Kami melewati jembatan Suramadu menuju pulau Madura. Pasar Batik Bangkalan terletak di pusat kota Bangkalan.

Seperti halnya kampung Kauman di Solo, Pasar Batik Bangkalan ini bikin mataku jereng! Kain-kain batik ini cantik banget! Para penjual menawarkan harga yang ngga kira-kira. Kain-kain ini harus ditawar sampai lebih dari separuh harga. Kain yang aku suka dihargai 900 ribu dan dilepas dengan harga 350 ribu.

Penjual di kampung Kauman, Solo sepertinya lebih rasional dalam memberi harga. Meskipun harga memang dinaikkan untuk turis, tapi setidaknya lebih masuk akal. Ada kain batik di pasar ini yang menawarkan selembar kain batik seharga 3 juta. Cantik banget emang.. tapi 3 juta? Ngga segitunya juga kelleesss.. Masa abis nawarin 3 juta trus turun jadi 1,5 juta. Mana ada orang yang mau kehilangan duit 1,5 juta begitu saja. Ada banyak sekali pilihan motif batik khas Madura di pasar ini. Penjualnya juga sangat banyak, jadi jangan ragu untuk meninggalkannya kalo masih kemahalan.

Aku bertemu dengan 2 teman SMU ku yang tinggal di Madura. Nurul dan Nisa. Ketemu Nurul di pasar batik dan menghadiahi aku dua kantong besar berisi cemilan. Ketemu Nisa dirumahnya, dan berasa sedang di warung. Datang, makan, pulang. Nisa juga membawakan aku sekarung kerupuk yang enak benget. Serunya sekolah di pesantren, teman tersebar di mana-mana!

image
Bersama Nurul di Pasar Batik Bangkalan

Rumah Nisa terletak di dekat penyebrangan Kamal. Sebelum ada jembatan Suramadu, penyebrangan ini adalah satu-satunya penghubung pula Madura dan Jawa. Antriannya bisa berjam-jam. Perjalanan fery-nya sendiri hanya sekitar 15 menit. Sekarang sudah sangat jauh berkurang. Hari ini bahkan tidak ada antrian. Biaya tol Suramadu memang lebih murah dibanding penyebrangan Kamal. Tapi untuk penduduk yang lokasi rumahnya seperti Nisa, penyebrangan Kamal tetap jadi pilihan karena lebih dekat.

image
Di depan rumah Nisa

Mawiya senang sekali bisa naik fery. Dia berdiri di pinggir pagar kapal sepanjang perjalanan. Tidak lupa komentar pedas kalo lihat sampah di laut. “Orang-orang mesti buang sampah sembarangan! Kan lautnya jadi kotor!”
image

Di sebelah kami ada seorang ibu yang membawa kresek hitam berisi kelengkeng. Dia mengupas buah untuk dirinya sendiri dan anaknya. Kulit dan bjinya dilempar sesuka hati ke laut. Mawiya menoleh ke arahku dan bicara keras sekali dengan suaranya yang cempreng, “Iiihh.. kenapa buang sampah sembarangan? Nanti kan lautnya jadi kotor!” Aku merasa tidak enak mendengarnya, tapi akhirnya aku bilang, “Iya ya.. kenapa ngga ditaroh plastiknya lagi aja Bu?” Ibu itu lalu berhenti melempar kulit dan biji kelengkeng.

Untuk menegur perilaku publik yang salah itu, Mawiya jauh lebih pemberani daripada aku.

2-6 Januari 2015

Kami menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Pasuran dan Mojokerto.

7 Januari 2015

Seru-seruan terakhir sebelum liburan berakhir. Jam 5 pagi kami berangkat dari Mojokerto ke Pasuruan, lalu lanjut ke Probolinggo. Kami mau rafting disana. Mawiya langsung diangkat dengan baju tidrnya, pindah tidur di mobil. Jam 10 siang kami sampai di Probolinggo.

Probolinggo dianugerahi sungai-sungai yang lebar, deras dan penuh batu besar. Pas banget buat arung jeram. Ada beberapa pengelola wisata arung jeram, Regulo, Songa dan Noars. Masing-masing punya jeram, ketinggian, dan durasi waktu yang berbeda. Kali ini kami mencoba trip Songa Atas (ada Songa Bawah yang lebih pendek). Pengennya sih Mawiya juga ikut, tapi ternyata ga boleh. Minimal usia 7 tahun.
image

Kita bebas mau pake baju apa aja. Tapi yang disarankan tentu saja outdoor fit. Kaos, celana pendek, tidak berbahan parasut karena nanti pasti menggembung kena air. Atau baju renang panjang. Segala aksesoris sebaiknya dilepas. Setelah mendapat helm, jaket pelampung dan dayung, kami mendapat briefing awal dari mas-mas pemandu.
image

Untuk menuju ke titik awal arung jeram, kita harus naik kendaraan. Mobil bak terbuka cyind.. seru abis! Jalanannya sempit, tidak rata dan berkelok-kelok. Berasa mau jatuh ke jurang kalo ada mobil dari arah berlawanan. setelah mobil berhenti, kita masih harus berjalan kaki, entah berapa jauh dan berapa lama. Tidak ada hanphone, jam dll. Nikmati saja perjalanan yang naik turun, terjal dan berbatu ini. Setidaknya ada dayung yang bisa difungsikan sebagai tongkat pegangan.
image

Sesampainya di bibir sungai, mas-mas pemandu membagi kami dalam 2 kelompok. Masing-masing perahu bisa diisi 5-7 orang, termasuk satu pemandu. Karena kami datang cuma bertujuh, jadi satu kelompok berisi 4 orang plus 1 pemandu, satu kelompok lainnya berisi 3 orang plus 2 pemandu.

Mas-mas pemandu kemudian memberi briefing tentang cara memegang dayung, cara mendayung, dan kode-kode yang harus diingat beserta artinya. Mulailah keseruan ini. Apalah artinya arung jeram tanpa teriakan! Tenggorokanku seperti mau putus setelahnya.

Tidak peru khawatir soal dokumentasi karena pengelola sudah menyiapkan fotografer di spot-spot terbaik. Memang harus bayar untuk tiap file yang kita pilih. Tapi worth it lah.. Mereka sudah tau pasti dimana bisa memperoleh gambar dengan ekspresi dan pemandangan yang fantastis. Salah satunya di air terjun dan gua kelelawar.

image
Apa jadinya kejatuhan air kayak gini tanpa helm..

image
Jelas terlihat kalo yang kerja mas pemandunya doang 😀

Ditengah perjalanan arung jeram ini kami mendengar suara melengking dan jatuhnya air. Ternyata kami melewati tebing-tebing yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Suaranya sih masih tahan. Tapi baunya… Menyengat banget!!! Ribuan kelelawar itu menakjubkan! Tebing-tebing itu seperti ditutup tirai yang terbuat dari tetesan air. Indah sekali. Rasanya seperti berada di dunia lain.

image
Warna hitam dibalik air terjun itu adalah ribuan kelelawar. Warna hijau adalah lumut

Setelah separuh perjalanan, kita berhenti di sebuah pondok di pinggr sungai. Pengelola menyediakan makanan ringan disana. Pisang goreng dan teh rempah yang hangat. Aliran air di sekitar pondok lebih tenang dibanding sebelumnya, dan tidak ada batu-batu besar. Pemandu yang jahil akan membalikkan perahu sehingga semua orang jatuh tercebur ke sungai. Tenang.. sudah pake pelampung kan..

Perjalanan lalu berlanjut sampai di garis finish. Total semuanya 2-2,5 jam. Lalu kami kembali melewati jalan setapak yang menanjak dan berbatu, untuk kembali naik mobil bak terbuka, menuju pos dari arah yang berlawanan waktu berangkat tadi.

Setelah mandi, berganti pakaian dan salat, saatnya makan siang. Nasi jagung dan kawan-kawanya ini terasa enak banget! Pas dengan suasana pedesaan. Apalagi teh rempah-rempahnya.. Juara! Makan siang ini sudah termasuk dalam harga paket sebesar 269 ribu per orang. File foto dijual terpisah.

Kami sudah lumayan capek, tapi pemandu kami menawari mampir ke pantai Bentar. Aku sudah sering melewatinnya, tapi tidak pernah tertarik untuk mampir. Pantai Bentar di Probolinggo yang terletak di jalur pantura ini tidak memiliki garis pantai berpasir, melainkan tebing. Karena tadi Mawiya agak kecewa ngga boleh ikut rafting, akhirnya kami memutuskan mampir ke Pantai Bentar untuk naik perahu.

Mawiya senang sekali bisa naik perahu. dia bilang “Yeay.. kita rafting!” Ooohh kasian sekali kamu nak… Kita akan datang lagi 4 tahun mendatang ya.. Makin lama, perahu makinn jauh meninggalkan pantai. Angin berhembus makin kencang, dan kapal bergoncang makin keras. Kami mulai ngeri. Delapan orang dewasa, satu anak, dan dua orang pemandu di dalam kapal kayu. Ban pelampung yang tersedia hanya 6. Kalo terjadi sesuatu mo minta tolong siapa? Ngga lucu banget deh..

Suamiku akhirnya bilang ke pengemudi supaya berbalik arah ke pantai. Entah ngga denger, entah ngga ngerti, bapak itu diam saja. Suamiku bilang lagi dan dia hanya menjawab, “sebentar..” Sementara kapal makin jauh ke tengah laut. Ini ngga mungkin mau menyebrangi lautan sampai ketemu pulau lain kan..

Suamiku lalu bertanya pada pengemudi, “kita mau kemana?” Bapak itu menjawab pendek, “Nyari hiu.” HAAAHHHHH!!! Ngga salah denger apa? Maksudnya apa coba nyari hiu.. Suamiku bertanya lebih lanjut.

Bapak itu lalu menjelaskan kalau disitu banyak hiu totol yang sering muncul ke permukaan. Hiu-hiu ini merupakan satwa yang dilindungi, dan Pantai Bentar ternyata adalah cagar alam untuk hiu-hiu totol.
image

Tuhan.. Kenapa Bapak itu ngga bilang dari tadi.. Sepanjang perjalanan dia diam saja, ngga ngomong kalo ngga ditanya. Mungkin bapak itu sendiri berpikir kami sudah berniat dari awal untuk melihat hiu. Kenyataannya kami sama sekali ngga tahu.

Perahu lalu terasa berbelok ke kiri. Perasaanku sih begitu, karena pemandangan semua sama, biru. Tiba-tiba bapak itu berkata, “itu hiunya.. item-item itu..” Kami mulai mencari-cari, tapi hanya terlihat air. Bapak itu terus menunjuk ke depan ke arah sesuatu berwarna hitam yang tidak terlihat oleh kami. Ini apa-apaan sih..

Lama-lama kami melihat segitiga-segitga kecil berwarna hitam, jauh di depan. Itu sirip hiu! Subhanallah.. jantungku seperti mau copot! Seperti di film kartun saja. Rupanya pandangan kami kurang ke depan, jadinya kami ngga melihat adanya hiu. Makin lama makin dekat, hiu-hiu tampak jelas di permukaan. Badannya sepanjang perahu yang kami naiki. Kepalanya terlihat pipih dan mulutnya lebar. Tidak runcing seperti penampakan hiu pada umumnya. Kulitnya hitam dengan totol-totol putih. Mereka berenang bebas di sekitar perahu kami.
image

Tidak tahu ada berapa banyak hiu yang kami lihat sore itu. Kami terkesima. Menahan nafas waktu hiu berenang ke arah kami. Hiu itu akan menabrak kapal. Tapi pengemudi buru-buru berbelok, memberi jalan pada hiu itu.

Hiu-hiu cantik ini menjadi penutup liburan tahun baru kami. Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan. Mulai dari kuliner yang lezat, kain-kain tradisional yang cantik sampai menjelajahi alam yang indah dan memacu adrenalin. Semua itu bahkan terasa jauh lebih indah karena adanya keluarga dan teman-teman teristimewa.

Untuk aku dan suami, liburan kali ini bikin kami makin bingung gimana caranya mengunjungi destinasi wisata yang tidak ada habisnya di Indonesia…

Mawiya’s 1st Trip To Indonesia (Part 2)

…sebelumnya

Sampai di Jakarta aku dijemput orangtuaku. Wuah senangnya mereka ketemu sang cucu. Tapi situasi tidak terlalu menyenangkan buat Mawiya karena dia masih jetlag. Perubahan jam Damaskus –Jakarta kan 5 jam. Udah gitu capek pula karena perjalanan jauh. Dan aku kesal karena bantal menyusuiku ketinggalan di pesawat huhuhu… Dalam hati berharap bantalnya selamat di lost n found Soetta.

Besoknya aku ke kemlu untuk minta exit permit dan langsung ke Surabaya sorenya. Dan inilah bedanya penerbangan internasional dibanding lokal. Pertama pas check in, kita disuruh ngisi formulir yang intinya kami bertanggungjawab atas bayi berusia 3 bulan yang kami bawa ini. Eee.. pas udah di pesawat disuruh ngisi lagi formulir yang sama! Katanya yang tadi itu untuk di bawah, dan yang ini untuk di atas.

Udah gitu aku ternyata dapet seat tengah yang ngga memungkinkan dipasang bassinette. Trus aku tanya mbak pramugari,

“Mbak saya bisa minta baby bassinette?”

“Oh bisa bu, nanti kita ambilkan”

Trus mbaknya dateng lagi ngasih sabuk pengaman dan pelampung buat bayi.

Pesawat pun siap-siap take off, aku mulai menyusui Mawiya. Tapi sampe Mawiya tidur, belom naik juga itu pesawat. Ga taunya ngantri nunggu tiga pesawat yang mo landing! Ajegile! Sibuklah aku bangunin Mawiya biar dia mau micuma. Gimana dia ga tidur, lha wong nunggunya aja setengah jam.

Pas tanda sabuk pengaman sudah mati, bassinette ngga dateng-dateng juga. Aku tanya lagi sama mbaknya (mbak yang lain).

“Mbak, saya bisa minta bassinette”

“Maaf ibu, kami ngga menyediakan bassinette”

“Loh, tadi kata mbaknya ada”

“Siapa yang bilang, Ibu?”

“Yang ngasih sabuk pengaman sama pelampung”

“Untuk bayi kami cuma menyediakan sabuk pengaman sama pelampung”

…bengong… dasar Lion Air! Udah delay 1 jam, nunggu landasan setengah jam, ngisi formulir yang sama 2x, diboongin pula!

Cukup sudah, suamiku akhirnya memutuskan kita naik Garuda pas balik Surabaya-Jakarta. Emang beda ya yang harganya 2x lipat ini. Kita dapet bassinette, dapet baby kit yang isinya mainan, tisu basah, pospak, dan kantong sampah. Udah gitu ga pake delay pula, dan menambah pemasukan negara hahaha…

Jadi begitulah kisah perjalanan 2 hari 2 malam berdua bayi 3,5 bulan. Capek? Sangat. Tapi ngga sulit kok. Btw, bantalku ketemu di lost n found. Alhamdulillah.

Mawiya’s 1st Trip To Indonesia (Part 1)

Ini cerita lama sebenernya, 3 bulan yang lalu kejadiannya. Cuman baru ditulis sekarang.

Ceritanya aku sudah sangat pengen pulang keIndonesia, plus mbah lagi sakit dan kebayang-bayang buyut barunya. Jadi aku dan suami ngitung-ngitung tanggal berapakah enaknya pulang. Setelah ketemu, kami memutuskan untuk pulang sendiri-sendiri. Mengingat suamiku ga bakal bisa cuti lama-lama. Jadi, aku dan Mawiya pulang duluan, baru nanti suamiku nyusul. Nantinya kita balik ke Damaskus barengan. Orangtuaku akan jemput di Jakarta.

Waktu itu Mawiya masih 3,5 bulan. Sebelum berangkat cek kesehatan dulu ke DSA, dan semua oke. Boleh banget melakukan perjalanan panjang dengan pesawat. Kita pun pesan tiket, dan tak lupa minta seat yang pake baby bassinette.

Selain satu koper gede buat ditaro bagasi, aku juga bawa satu tas bayi buat kabin. Isinya adalah :

  1. Baju ganti buat Mawiya
  2. Baju hangat buat Mawiya
  3. Baju ganti aku
  4. Baju hangat aku
  5. Nursing apron
  6. Selimut bayi
  7. Pospak (banyak)
  8. Kantong plastik untuk sampah
  9. Vitamin, obat penurun panas dan thermometer digital (dalam satu dompet)
  10. Tisu basah
  11. Tisu kering
  12. Paspor
  13. Kartu identitas dari kemlu Suriah
  14. Akte kelahiran Mawiya
  15. Charger hape
  16. Netbook & charger
  17. Rajutan
  18. Uang tentu saja

Aku juga bawa gendongan dan bantal menyusui. Aku ga bawa stroller karena aku tau nanti di bandara Dubai tempat aku transit disediakan stroller gratis. Okeh, lengkap sudah, mari kita berangkat!

Perjalanan pertama, Damaskus-Dubai, waktu tempuh 2 jam. Aku dapet kursi paling depan emang, yang bisa dipasang baby bassinette di depannya. Tetapi oh tetapi, di sebelahku itu ibu-ibu bawa bayi juga. Dan karena pesawatnya ini ga terlalu gede, jadinya hanya bisa pasang bassinette satu doang. Sementara di seat yang lain udah penuh dengan bayi-bayi yang lain.

Mbak pramugari dengan baik hati meletakkan tasku di kabin. Akunya susah dong naro tas di atas sambil bawa bayi. Waktu pesawat take off, Mawiya micuma dengan sukses. Pas lagi micuma itu, aku merasa ada getaran yang tidak asing lagi. Yeah, dia poop sodara!

Setelah tanda sabuk pengaman mati, aku minta tolong si mbak ngambilin tasku. Ambil pospak, tisu basah dan kantong plastik, lalu pergi ke toilet. Aku cari toilet dengan pintu bergambar orang dan bayi. Toilet dengan logo itu mengandung meja lipat buat tempat ganti popok. Selesai, kembali ke tempat duduk dan tersenyum melihat bassinette-nya ditempati bayi lain. Ya sudahlah, cuma 2 jam aja kok mangku Mawiya. Bantal menyusui ini benar-benar membantu.

Ada beberapa tipe bantal menyusui. Ada yang berisi spon, ada yang berisi dakron, ada yang berisi butir-butir seperti pasir. Menurut perkiraanku, yang berisi spon dan dakron ini kurang nyaman kalo dipake di kursi yang ada pegangannya seperti di pesawat, karena bentuknya kaku. Yang pasir lebih enak karena bentuknya luwes dan menyesuaikan kebutuhan. Ini perkiraan ajah loh yah.. punyaku sih yang isinya pasir hehehe..

Ngga ada masalah apapun sampai tiba waktunya makan. Gimana caranya aku bisa makan di tempat sesempit itu sambil mangku Mawiya? Tapi ajaibnya, ternyata bisa! Mejanya masih bisa dibuka berdesakan dengan bantal dan Mawiya. Ibu-ibu sebelahku, yang bayinya tidur di bassinette, dengan ramah membantu aku membuka makanan dan minumanku. Alhamdulillah.

Sampai akhirnya pesawat landing. Kembali micuma, dan perjalanan Damaskus-Dubai ini alhamdulillah lancar.

Sampai di Dubai Int’l Airport aku langsung lapor untuk penerbangan berikutnya dan memastikan dapet baby bassinette. Setelah itu ambil stroller. Tapi Mawiya ga betah lama-lama di stroller. Dia lapar, padahal aku harus scan mata, lapor ke imigrasi, nyari hotel dll. Jadinya micuma pun dilakukan sambil jalan. Strollernya jadi tempat tas deh.

Waktu periksa paspor, aku ditanya paspornya Mawiya. Dia belom punya emang. Lha wong baru lahir di negara orang. Cuma ada fotonya di pasporku dan kutunjukkan akte lahirnya sebagai bukti dia benar-benar anakku. Semua beres, waktunya nyari hotel. Aku udah dapet voucher di hotel bandara. Tapinya jarak dari pemeriksaan paspor ke pintu keluar itu jauuuuuuuuuuuuuuh banget! Gila ni bandara!

Sampe di pintu keluar sudah ada minibus jemputan dari hotel. Cek in, dan akupun dapat kamar. Aku juga dapet voucher dinner, breakfast dan snack 24 jam. Setelah dinner, bersihin dan boboin Mawiya, saatnya aku berendam. Capek banget man! Ga kebayang kalo aku dapet transit 6 jam tanpa hotel. Bener-bener keputusan yang tepat memilih transit 14 jam plus hotel.

Besoknya setelah mandi dan sarapan, aku balik ke bandara 2 jam sebelum take off. Pake minibus jemputan hotel juga. Untung banget deh, dengan harga tiket yang sama dengan transit 6 jam, aku bisa dapet hotel dan makan. Badan fresh lagi, siap menempuh perjalanan 7 jam ke depan.

Setelah lapor dan melalui berbagai pemeriksaan, aku nyari gate 202. dan betapa bengongnya aku pas ketemu gate ini. Berasa udah di Indonesia bo. TKW buanyak amit-amit! Mereka ini juga transit 14 jam tapi ga dapet hotel. Ga kebayang juga sih kalo dapet hotel. Betapa bingungnya mereka tar di bandara segede itu.

Alhamdulillah aku dapet bassinette-ku. Dubai-Jakarta terasa lancar. Kaya gini nih enaknya Mawiya bobo di pesawat.

Image

…bersambung

Missing Indonesia (part 2)

Setiap tanggal 17 Maret, rakyat Suriah merayakan Hari Guru. Dan kali ini ma’had aku mengadakan pesta untuk merayakannya sehari sebelum Hari Guru. Sekitar 2 minggu sebelumnya ma’had sudah mengumumkan pesta ini dan meminta mahasiswa untuk menampilkan kebudayaan masing-masing negara. Tidak hanya penampilan di atas panggung tapi juga pakian tradisional masing-masing.

Syahdan.. berkumpullah mahasiswa yang berasal dari Indonesia di sebuah warung bernama Popeye. Mereka pun berdiskusi, bertukar pikiran, memeras otak dengan sangat keras, pertunjukan apakah yang kiranya akan ditampilkan pada perayaan Hari Guru itu. Sementara tangan mereka sibuk memasukkan potongan ayam dan kentang goreng ke dalam mulut masing-masing. Dan tak lupa saling beradu cepat memindahkan makanan dari piring besar ke piring masing-masing.

Halah!!!

Tadinya sih kita mau nampilin poco-poco. Yah.. mengingat keterbatasan talenta gitu loh… Tapi ternyata setelah ngobrol dengan beberapa orang kedutaan, banyak yang ngga nyaranin untuk nampilin itu. Biasa banget soalnya. Akhirnya diputuskan kita mo main kolintang. Dan sebagai bumil yang ngga boleh terlalu capek, aku memilih tugas sebagai narrator sajalah.

Setiap hari temen-temen latihan di KBRI. Rencananya mau mainin lagu kebangsaan Suriah, Can’t Help Fallin In Love, sama Ayam Jago. Sumpah temen-temen niat banget latihannya. KBRI juga support kita abis. Padahal ini cuma pesta di ma’had aja.

Tapi ternyata ngga sia-sia kita latihan. Belakangan ma’had mengubah lokasi pesta dari halaman belakang ke markaz tsaqaafii alias gedung cultural center. Udah gitu ternyata menteri kebudayaannya juga mo datang. Wuih! Dahsyat nih keknya! Kita pun mengubah kostum. Tadinya mo pake batik saja. Tapi karena acaranya pindah ke gedung, kita memutuskan untuk pake baju adat Sumatra sajo. Sedangkan aku dan mbak Lia (cuma kita berdua yang cewek) pake baju bodo. Suamiku pun dengan semangat 45 membantu aku bikin narasi tentang penjelasan alat musik dan baju adat yang kita pake. Aku bikin narasi dalam bahasa Indonesia, dan dia terjemahin ke bahasa Arab. Ngga main-main, abis itu kita tunjukin ke sekpri Dubes buat dikoreksi. Bo.. berasa bikin nota diplomatik sajah…

Tanggal 15, orang ma’had pengen ngeliat penampilan semua mahasiswa. Semacam gladi bersih gitulah. Berhubung alat kita gede banget, pihak ma’had dengan senang hati datang ke KBRI untuk ngeliat penampilan kita. Mereka bilang kita sungguh professional!

Dan tibalah hari H… Temen-temen cowok pada berangkat duluan untuk ngangkutin kolintang, angklung dan gendang. Sementara aku dan mbak Lia sibuk berdandan. Aksesoris yang kita pake bikin kita berasa jadi pengantin lagi hihihi… setelah itu kita berdua menuju ma’had. Kali ada pengumuman apa gitu sambil nunggu temen-temen cowok selesai setting alat di gedung. Begitu kita masuk ma’had, semua orang langsung terpukau! Wuaahh… aku jadi pengen malu diliatin begitu rupa hehehe… padahal yang keliatan baru kepala doang tuh. Kita berdua masih pake mantel panjang.

Setelah temen-temen cowok selesai berganti kostum di KBRI, kita pun berangkat bersama-sama dengan riang gembira. Sesampainya kita di markaz tsaqaafii, beberapa orang ma’had yang jaga pintu masuk langsung ngajak kita foto-foto. Okeh okeh… sebentar.. kulepas dulu mantelku… Pas lagi foto-foto, tiba-tiba kita diteriakin “Indonesia.. Indonesia…” sambil disuruh segera masuk. Kupikir ada pintu yang menuju backstage untuk para penampil. Ternyata kita masuk dari pintu penonton! Sudah gitu MCnya tereak-tereak di panggung pake microphone nyuruh mahasiswa Indonesia untuk segera ke panggung.

Just imagine this..

MC memanggil kita

Kita berjalan beriringan dari pintu penonton menuju panggung

Dan seisi gedung bertepuk tangan mengiringi kita menuju panggung

Set dah! Keren banget rasanya!

Dalam waktu bersamaan kita sekaligus bingung. Jangan-jangan kita udah telat dateng. Jangan-jangan acara udah dimulai dan ini giliran kita tampil. Ternyata kita disuruh setting alat musik doang! Acara belom dimulai. Dan aku baru tau kalo acara ini diliput TV nasional Suriah. Jadi jalannya acara agak lama dan banyak break untuk keperluan syuting. Ngga diliput secara langsung emang.

Kurasa panitia ngga professional banget nyiapin acara ini. Ato mungkin ini sudah professional untuk ukuran orang sini. Bayangin aja, kita ngga tau tampil di urutan keberapa, kita bahkan ngga dikasih tau urutan acaranya apa aja. Ngga abis pikir deh dengan acara yang amburadul ini. Secara untuk nyiapin acara perpisahan skul aja aku bikin perhitungan waktu sampai ke menitnya. Nah ini, setingkat acara yang diliput media nasional dan dihadiri pejabat sekelas menteri, kita ngga tau susunan acaranya gimana. Luar biasa bukan sodara-sodara!

Tapi ya sudahlah, lupakan saja bagian itu. Mari kita fokus pada mahasiswa Indonesia yang keren abis ini hehehe…

Setelah selesai setting alat, kita disuruh stand by di atas panggung. Trus dikasih tau kalo kita harus menampilkan lagu kebangsaan saja. Lagu-lagu berikutnya nanti, diselingi beberapa penampilan yang lain. Tirai pun ditutup. MC membuka acara, lagu kebangsaan Suriah pun dimainkan dengan indahnya menggunakan kolintang, angklung dan gendang.

Aku yang ngga ikut main, mengamati ekspresi penonton. Alih-alih bersikap selayaknya ketika lagu kebangsaan dimainkan, orang-orang Suriah ini malah sibuk mengagumi permainan teman-teman. Ekspresi wajah dan tubuh mereka seolah bilang “Eh.. mereka bisa…” Konyol banget deh ekspresinya. Udah gitu semua orang bertepuk tangan setelah lagu selesai. Hahahaha… sumpah baru kali ini aku tau ada tepuk tangan setelah lagu kebangsaan di acara resmi begini.

Setelah itu ada beberapa sambutan entah dari siapa (aku sedang di backstage). Disusul dengan penampilan tarian rakyat Suriah yang sangat energik dan dinamis. Gila, ngeliatnya aja capek. Tapi tarian mereka keren. Abis itu giliran mahasiswi Armenia. Mereka menampilkan lagu rakyat yang sayang sekali ada gangguan dengan lagu pengiringnya. Suara dari laptop mereka ngga bisa masuk ke sound system. Akhirnya mereka terpaksa nyanyi tanpa musik. Tapi penonton sungguh supportif dengan bertepuk tangan mengiringi lagu mereka. Heran deh, bagaimana bisa orang Arab begitu betah bertepuk tangan sepanjang lagu.

Setelah mahasiswi Armenia, tiba-tiba kita diteriakin lagi, disuruh naik panggung. Nah loh… apa susahnya sih ngasih tau sebelumnya kalo setelah Armenia itu Indonesia? Kita pun tampil membawakan dua lagu yang udah kita latih. Sebelumnya pamer negara dulu dong. Aku menjelaskan alat musik, pakaian dan lagu daerah yang akan kita tampilkan. Daerah asal, bahan pembuatnya, dan sedikit kisah tentang suku Betawi (karena lagu Ayam Jago dari Betawi). Tentu saja tepuk tangan penonton membahana setelah penampilan kita. Sayang banget ada gangguan dengan mikrofon aku pas lagu daerah kita. Akhirnya suara aku baru kedengeran di bait terakhir.

Begitu tirai ditutup, salah seorang ustadzah ma’had manggil aku. Katanya orang TV Suriah mo wawancara. What??? Kubilang jangan aku, Ramzi aja karena dia udah kelas 6. dia jauh lebih jago kemana-mana ngomong Arab ketimbang aku. Tapi si Raghad, ustadzah bohai itu ngga mo tau. Dia bilang “oke kamu berdua Ramzi” sambil menarik tanganku melewati penonton menuju luar ruangan.

Kupikir kami diwawancara berdampingan. Biar Ramzi yang mendominasi pembicaraan. Tapi si mbak TV itu mintanya gantian. Aku dulu baru Ramzi. Hah??? Mampus deh! Aku bilang kalo aku ngga lancar ngomong Arab. Dia bilang ngga papa, pelan-pelan saja. Menurut mereka di panggung tadi aku bicara dengan sangat baik. Hahahaha… mbak.. mbak.. gimana aku ngga lancar ngomongnya, lha wong aku baca teks! Aku bahkan ngga hafal teksnya! Setelah memastikan bahwa ini tidak disiarkan secara langsung, aku agak tenang. Mereka pun mulai nanya, kenapa aku belajar bahasa Arab, apakah aku suka dengan bahasa Arab. Okeh, untuk pertanyaan ini aku nangkep karena ustadzah aku sering menggunakan kalimat itu di ma’had. Tapi pertanyaan berikutnya bla bla bla .. dia ngomong panjang banget! Tak taulah aku apa maksudnya. Kupanggil Ramzi. Menyerah deh… Ramzi pun bicara dengan lancar. Si mbak ngga percaya sih dibilangin Ramzi jauh lebih jago dari aku!

Tanpa sepengetahuan aku, suamiku ternyata dari tadi di belakangku. Begitu selesai wawancara sama Ramzi, suamiku bilang sama si mbaknya, kalo Ramzi sudah kelas 6, sedangkan aku baru kelas 2. Oh terima kasih sayangku, sudah mengatakan aku kelas 2. Padahal sebenarnya aku kelas 3. Jadi aku ngga terlalu malu hehehe… Dan terjadilah pembicaraan antara suamiku dan si mbak, entah tentang apa. Sampai akhirnya si mbak bilang sama mas kameramen wawancara sama suamiku saja. Baguslah, dia lebih layak daripada aku. Akupun berdiri mendampinginya sambil tersenyum manis, karena cuma itu yang bisa kulakukan hahaha…

Setelah semua penampilan selesai, acara ditutup dengan bersama-sama menari ala Syria. Semua orang bergandengan dan membentuk lingkaran sampai berlapis-lapis. Lalu semua berfoto di panggung. Pak fotografer menyuruh aku untuk berada di tengah. Ciee… seru abis deh. Sesi foto masih berlanjut sampai sekitar ½ jam ke depan. Banyak banget yang pengen foto sama kita karena kostum yang kita pakai.

Bangganya jadi orang Indonesia. Cintaku jadi makin berlipat-lipat. Semua orang mengagumi kebudayaan kita. FYI, ma’had tempat aku belajar ini adalah ma’had khusus untuk orang asing. Artinya penduduk Suriah yang ingin belajar bahasa arab ngga boleh belajar di ma’had ini. Jadi pelajarnya datang dari berbagai penjuru dunia. Sekarang, pertanyaan yang tersisa dari semua ini adalah apakah setelah ini pedagang di Pasar Hamidiyeh akan berhenti memanggil kita “Malaysia..” dan mulai memanggil “Indonesia..”? Apakah semua ini cukup membuat – paling tidak – orang Suriah mengakui bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang hanya punya TKW?

1st Orchestra

Aku selalu suka musik yang menggunakan banyak alat musik. Entah itu lagu klasik, tradisional, atau apapun. Jatuh cinta banget sama karya-karya Erwin Gutawa & Addie MS karenanya. Karena itu aku bersyukur banget punya suami yang ternyata punya selera musik yang hampir sama.

Setiap bulan, Kementerian Pariwisata Suriah mencetak buku kecil berisi agenda kegiatan selama sebulan. Mulai dari pertunjukan-pertunjukan musik di gedung opera maupun di jalanan, perlombaan, pesta, nonton film bareng, pertunjukan untuk anak-anak dan lain-lain. Sudah tentu aku & suami pengen nonton orkestra. Hampir setiap bulan selalu ada agenda konser. Tapi setiap bulan juga rencana kami nonton selalu gagal.

Akhirnya, ketika aku positif hamil, kami berdua bertekad untuk nonton! Harus nonton! Karena selain kita berdua emang suka, pengen ngasih stimulasi juga buat Bambi. Kita tunggu sampe Bambi memasuki usia ketika indra pendengarannya sudah berfungsi.

Sejak awal Februari lalu, kita udah rencanain mo nonton konser 2 kali. Tanggal 16 dan 22. Tapi karena kelalaian aku, konser tanggal 16 lewat deh.. hiks.. hiks.. hiks.. Ya sudahlah, masih ada tanggal 22. Berhubung suami aku baru bisa beli tiket sehari sebelum pertunjukan, kami dapet seat di balkon kedua! Ajegile.. tinggi amat! Yah.. bird view biasanya lebih bagus (positive thinking sajalah hehehe). Dan, sungguh tak kusangka tak kuduga kalo ternyata itu tiket harganya 100 LS saja alias ngga nyampe 20 ribu rupiah sodara-sodara! Padahal ini yang mo tampil ini The Syrian National Symphony Orchestra. Coba di Indonesia, berapa harga tiket untuk pertunjukan semacam ini?

Ketika bangun tidur selasa pagi aku sudah deg-degan ngebayangin konser nanti malam (lebbay is my middle name, okey!). Siangnya sepulang dari Ma’had, ganti Bambi yang ngga bisa diem. Cedut-cedut mulu di dalem (gen-ku menurun kepadanya). Dan akhirnya malam pun tiba… Jam 7 malem mulai dandan. Kita harus pake formal dress untuk nonton konser semacam ini.

Konser ini adalah kerjasama antara Kedutaan Republik Dominika di Uni Emirat Arab dengan Kementerian Kebudayaan Suriah. Akupun terbayang-bayang kapankah kiranya negaraku bisa melakukan kerjasama semacam ini? Bukan hanya kerjasama kirim TKW doang…

Konser The Syrian National Symphony Orchestra dan The Dominican National Symphony Orchestra ini dipimpin oleh Jose Molina dari Republik Dominika. Tema konsernya adalah “Music From The Caribbean Sea”. Ada dua segmen dalam pertunjukan ini yang dipisahkan break 10 menit.

Jam 8 lebih dikit konser dimulai. Sudahkah aku mengatakan bahwa ini adalah kali pertama aku nonton orkestra secara langsung? Auranya sungguh berbeda sodara! Darahku rasanya mengalir cepppat sekali! Tangan sama kaki berkeringat waktu mendengar musiknya. Oh sudahlah, kata-kata klise seperti “jantungku berdetak seirama lagu” dan semacamnya itu bener bangggeeetttt!!!! Aku memang ngga kenal semua lagu yang dimainkan. Tapi aku sukaaa sekali mendengarnya waktu itu. Aku tekankan “waktu itu”, karena ternyata ketika aku nonton hasil rekaman videonya, aku ngga bisa ngerasain feel yang sama.

Musiknya lucu banget. Tentu saja sentuhan latinnya begitu kental terutama di segmen kedua. Kadang keinget adegan kelinci lompat-lompat waktu denger permainan solo serulingnya. Kadang pengen salsa waktu denger perkusinya (emang bisa????). Kadang merasa bajak lautnya mo dateng karena nuansa seramnya hihihi… Dan merasa begitu anggun elegan berkelas waktu dengar biolanya. Dari semua lagu, yang paling aku suka adalah overture-nya. Selalu dan selalu overture!

Jose Molina memimpin konser dengan sempurna. Aku seperti bisa merasakan power dan passion-nya dia. Konsernya sendiri berlangsung selama 2 jam. Dan itu ngga berasa sama sekali bo! Di akhir konser Jose menipu penonton dengan meninggalkan panggung seolah udah selesai. Lampu juga mulai menyala. Tapi itulah trik konser dimana-mana. Membuat penonton merasa dapet bonus. Ketika tepuk tangan mulai melemah, Jose balik lagi dan kembali memimpin konser. Tepuk tangan penonton jadi kenceng lagi. Jose malah ngajakin kita untuk bertepuk tangan seirama perkusi. Padahal tadinya ngga ada satupun yang tepuk tangan selama musik dimainkan. And that’s all…

Beneran deh, waktu di konser itu, rasanya aku pengen kasih tau semua orang betapa luar biasanya musik ini. Tapi aku ngga bisa! Bahkan foto dan rekaman video juga ngga akan bisa. Apalagi kalo yang ngambil gambar orang amatiran kaya aku gini hihihi…

Anyway aku tetap aplot foto disini. Ngga usah protes kualitasnya ya hehehe

‘Ied Milad fii Dimashq

Natal 2009 yang lalu, calon suamiku datang kerumah sama adeknya. Itu adalah pertemuan ketiga kami sejak dikenalin 3 minggu yang lalu. Kita ngobrol panjang tentang diri masing-masing dan konsekuensi yang akan aku hadapi kalo aku nikah sama dia. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk “oke, kita nikah!”

You can’t say that was a romantic night for a couple that decided to get married. Kubilang lebih mirip ngobrol sama customer yang mo pesen tempat di restoran aku hihihi… Abisnya biasa banget! Ngga kaya di pilem-pilem itu (nah loh ketauan banget suka ngayal!). Tadinya aku berharap aku akan nikah sama orang yang aku cinta, vice versa. Kita emang belom saling cinta waktu itu, tapi ngga tau kenapa bisa aja Tuhan menuntun kami untuk menerima satu sama lain.

Pada akhirnya cinta tumbuh seiring berjalannya waktu (jiah.. jadul banget kata-katanya!). Alhamdulillah numbuhnya sebelum nikah. Jadi nikah terasa begitu membahagiakan buat kami. Sampai detik ini, dialah rahmat Tuhan yang paling indah buatku *berbunga-bunga*.

Natal 2010 ini, kami sedang bersiap menanti kehadiran Bambino. Betapa baiknya Tuhan sama kami berdua. Semua kebahagiaan ini ngga bisa diitung, bahkan seperti ngga sepadan dengan apa yang sudah aku lakukan. Termasuk kesempatan untuk berada di Damaskus kali ini.

Eniwei, Natal kali ini kan jatuh pada hari Sabtu. Karena libur mingguan di Damaskus adalah Jumat & Sabtu, maka pemerintah menambah 1 hari libur pada hari Minggu untuk Natal. Aku dan suami udah lama banget pengen tau gimana suasana Natal disini. Tadinya kan kita dipersilakan datang ke rumah salah satu local staff yang Nasrani. Tapi ternyata November kemarin salah satu keluarganya meninggal. Jadi dia ngga mengadakan perayaan Natal seperti biasa. Seperti halnya di Indonesia, mereka juga ada perayaan 40 hari kematian loh. Tapi ngga tau gimana caranya. Mereka punya masa berkabung yang lama juga.

24 desember malem aku dan suami jalan-jalan ke Baab Touma. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, Baab Touma adalah kawasan Kristen di Damaskus. Banyak gereja disini dan bangunannya lebih menonjol ketimbang masjid. Jalanan di Baab Touma ini terhubung dengan jalanan menuju Masjid Umawy dan pasar Hamidiyeh. Tapi kali ini kami ngga mampir ke Umawy.

Ternyata tidak semua gereja di Baab Touma merayakan Natal pada 25 Desember. Salah satu gereja yang kami kunjungi adalah gereja ortodoks (maaf kalo aku salah, maklum masnya ngomong pake bahasa arab!) baru merayakan Natal pada 6 Januari. Itu menjawab pertanyaan aku kenapa ngga ada misa malam itu. Yang ada malah orang-orang yang keluar masuk gereja dan foto-foto didalemnya. Dan yang masuk itu kurasa muslim, karena wanitanya berjilbab. Seperti orang-orang non muslim masuk ke Umawy aja. Meski belum merayakan Natal, gereja-gereja ini sudah menghias diri begitu cantiknya. Begitu juga jalanannya. Lampunya lucu-lucu banget. Ngga berasa lagi di negara Arab yang identik dengan Islam deh.

Malam Natal ternyata ngga terlalu nyaman untuk jalan di Baab Touma. Puenuh buanget!!! Tubuh kita berimpitan dengan tubuh orang saking penuhnya. Udah gitu jalannya sempit, masih harus berbagi sama mobil. Asap knalpotnya bikin tambah sesek. Okeh, jangan diulang lagi kejadian ini! Tapi tetep berkesan sih. Ngga semua jalanan sesesak itu. Itu adalah jalan yang menuju Umawy karena disitu banyak kios yang murah-murah.Jalanan menuju gereja-gereja justru ngga seramai itu. Beberapa karena memang belum ada perayaan, beberapa karena sedang berlangsung misa. Btw, tahukah Anda apakah MISA dalam bahasa Arab? Jawabannya adalah SHOLAT !!!

Tadinya kita mau ngerasain nongkrong di café yang duduknya di trotoar. Tapi berhubung udah malem dan makin dingin ajah (waktu itu udah sekitar 5 DC), kita memutuskan untuk pulang demi kesehatan aku dan Bambi. Lagian kita masih harus menyusuri jalan yang tadi untuk ngambil mobil.

Besoknya, alias hari Sabtu 25 Desember, kita pergi ke Maloula. Maloula ini adalah sebuah kota Kristen yang dibangun diatas gunung batu. Dari Damaskus butuh waktu sekitar 1,5 jam. Aku ngga tau berapa kilo jaraknya. Kotanya sih biasa aja, aku ngga bisa bilang kota ini indah karena keliatannya gersang, kering, dan berdebu. Gunung batu gitu loh! Yang kebayang adalah betapa hebatnya orang jaman dulu membangun kota ini di medan yang cukup sulit dengan teknologi terbatas.

Maloula adalah kota yang penduduknya masih menggunakan bahasa Aramaic sebagai bahasa doa. Bahasa Aramaic adalah bahasa kuno yang digunakan oleh Kristus. Orang tua mengajarkan bahasa ini secara turun temurun melalui lisan.

Di sini terdapat 2 gereja yang bersejarah. Yang pertama ku kunjungi adalah gereja St. Thecle. Melelahkan sekali keliling bangunan ini (untuk ukuran bumil ya), karena dibangun diatas gunung jadi banyak tangga yang harus dilewati. St Thecle adalah termasuk orang suci generasi pertama yang diakui gereja. Beliau adalah seorang murid dari para Rasul agama masehi, yang mengasingkan diri karena dikejar-kejar oleh tentara Romawi. Disini pun mereka tidak merayakan Natal pada 25 Desember. Tapi maaf aku lupa kapan hehehe… kalau tidak salah tanggal 6 Januari juga karena ortodoks.

Tempat ibadahnya sendiri tidak terlalu besar. Banyak sekali lukisan-lukisan dan tulisan di atapnya yang menggambarkan sejarah. Sayang sekali disini kita tidak diperbolehkan mengambil gambar. Para suster disini berjubah dan bekerudung hitam. Dengan pakaian itu, mereka tidak berbeda dengan wanita muslim. Makam St. Theckle juga terletak di bangunan yang sama dengan gereja, tapi lebih tinggi. Disebelahnya terdapat mata air suci yang konon katanya baik untuk kesehatan.

Tepat di sebelah bangunan terdapat gua dengan jalanan berbatu yang dialiri mata air kecil. Bukan gua beneran kurasa, karena atapnya terbuka. Sekali lagi, kalau soal keindahan, Indonesia punya puluhan gua yang jauh lebih indah! Jalanan ini digunakan penduduk yang akan beribadah ke gereja dengan berjalan kaki. Semacam jalan pintas menuju gereja.

Selanjutnya kami menuju gereja St. Sergius dan Bacchus. Kalau ada banyak pengunjung, akan ada yang memimpin doa dalam bahasa Aramaic disini. Kebetulan waktu itu cuma ada aku, suamiku, dan sepasang turis lainnya. Jadi tidak ada pembacaan doa.

Kita juga tidak diperkenankan mengambil gambar disini. Bedanya dengan gereja st Theckle, dinding gereja St. Sergius benar-benar batu alami utuh. Sementara St Theckle nampak lebih modern. Keliatan tembok banget. Gereja St Sergius benar-benar seperti gunung batu yang dilubangi dan diukir menjadi bangunan. Pintu-pintu masuknya begitu rendah sehingga kita harus membungkuk. Ada bantalan empuk di atasnya untuk mencegah orang terluka. Tidak ada ventilasi udara dalam ruangan sehingga terasa lembab. Kesan kunonya begitu terasa.

Di gereja ini, sama seperti St Theckle, tidak merayakan Natal pada 25 Desember. Tidak ada pohon natal seperti di gereja lainnya. Yang ada hanya diorama kelahiran Jesus. Karena berdasarkan keterangan guide gereja, simbol Natal itu bukanlah pohon, tapi diorama. Perayaan pohon atau disebut ‘Ied Syajar nanti ada sendiri, tanggal 27 Desember. Pada saat itu mereka baru memasang pohon Natal.

Seperti halnya di gereja St. Theckle, disini juga ada museum dan toko souvenir. Selain menjual souvenir yang bernuansa Kristen & Maloula, mereka juga menjual wine dan selai yang merupakan mata pencaharian penduduk sekitar. Di museumnya bahkan ada lubang di lantai yang dulu digunakan penduduk kuno untuk memproduksi wine dengan menginjak-injak anggurnya.

Syria menyimpan banyak sejarah tentang orang suci dan agama, baik Islam maupun Kristen. Meskipun penduduk Kristen hanya 15% dari total penduduk, tapi mereka hidup tenang berdampingan dengan kaum Muslim. Kaum non muslim bebas berkunjung ke masjid Umawy asalkan mereka menutup aurat. Sebaliknya kaum Muslim juga bebas masuk gereja dengan jilbabnya.

Mereka mengucapkan nama Tuhan dengan cara yang sama (Allah seperti dalam Al-Quran, bukan Allah seperti kaum Kristen di Indonesia). Mereka menggunakan istilah “shalat” untuk beribadah, mengucapkan “insya Allah” ketika berjanji, “masya Allah” dan “laa haula wa laa quwwata illa billah” untuk berekspresi. Tidak akan orang yang memandang aneh kaum Kristen yang mengucapkan kalimat-kalimat itu. Jadi tidak ada alasan untuk terjadi perpecahan karena agama. Arab bukanlah milik Islam. Arab berbeda dengan Islam.

Btw foto-foto ada disini

Missing Indonesia

Salahkan perubahan hormon yang terjadi secara besar-besaran ini hehehe… Bumil, bawaannya sensi mulu. Dikit-dikit nangis. Untung sih nangis, bukan marah. Tapi nangisnya bukan karena sedih atau tersinggung, melainkan karena terharu. Baca buku tentang kehamilan, nangis. Baca buku tentang IMD (inisiasi menyusu dini), nangis. Lihat anak kecil lagi becanda sama orangtuanya, nangis. Nganterin orang pergi haji, nangis. Halah! Cengeng! Hehehe

Bambi sekarang sudah masuk usia 5 bulan. Para orangtua di Indonesia sudah ngadain selamatan untuk cucu pertama mereka. Bambi adalah cucu pertama baik dari aku maupun suamiku. Jadi para eyang ini menyambut kehadiran bambi dengan riang gembira.

Oh how much I miss my Indonesia… Kangen nasi goreng yang dijual dipinggir jalan. Kangen bakso. Kangen masakan rumah. Di awal kehamilan, bahkan sampe genap 4 bulan ini aku ngga bisa banget masuk dapur. Aku ngga suka ngeliatnya, ngga suka baunya, ngga suka bau masakan. Thanks God suamiku pengertian banget. Bukannya marah karena aku ngga bisa nyiapin makanan buat dia, malah dia yang nyiapin makanan buatku. Akhirnya aku minta tolong satu TKW untuk bantu di rumah. Hanya beberapa jam aja dia dirumah. Nemenin aku dari pulang kuliah sampe suamiku pulang kantor dan bantuin aku masak. Soalnya asisten rumah tangga yang rencananya mo kubawa dari Indonesia belum bisa berangkat.

Ngomong-ngomong soal TKW ini, dia seharusnya sudah pulang ke Indonesia karena masa kontraknya sudah selesai. Masalahnya adalah, uang gajinya sebanyak US$1800 dibawa kabur sama agennya. TKW nya sendiri tidak bermasalah dengan majikannya. Majikannya memperlakukan dia dengan baik, memberikan hak-haknya secara penuh. Giliran masa kontraknya habis, agennya malah kabur. Majikannya bingung. Akhirnya dia kirim TKW itu ke KBRI. Sudah 1,5 bulan dia tinggal di penampungan, menunggu kasusnya selesai ditangani. Adaaaaa saja masalah. Kalau ngga majikan yang ngga bener, agen yang nakal, bisa jadi TKW-nya sendiri yang cari masalah.

Pernah ada kasus TKW yang memasukkan lelaki asing ke rumah majikan. Mereka lalu berzina di ruang tamu ketika majikannya sedang tidur. Suatu saat majikan memergoki mereka tidak berbusana! Pernah juga ada TKW yang punya hubungan baik dengan majikannya. Ketika masa kontraknya habis, TKW ini diminta untuk membuat kue oleh majikan sebelum pulang. TKW ini pun mau membuatkan kue dengan syarat dia bikin 2. Satu untuk majikan, satu lagi untuk dia sebagai kenang-kenangan. Setelah jadi, TKW ini pun berangkat ke bandara bersama majikan dan beberapa anggota keluarganya. Di tengah jalan, dia ingat kuenya ketinggalan. Kata majikannya beli saja di Indonesia, kan banyak. Tapi si TKW ini ngotot minta pulang. Menyerahlah si majikan. Begitu sampai di rumah, kue itu ternyata sudah dipotong sama anak majikan. Dan tahukah Anda apa yang terjadi berikutnya? Kue itu ternyata berisi perhiasan emas milik majikan yang dicuri oleh TKW itu!

So, masih berpikir bahwa TKW kita diperlakukan secara tidak adil? Beberapa memang iya. Tapi tidak sedikit juga merekalah yang memperlakukan majikan secara tidak adil. TKW bermasalah ini biasanya jadi sasaran empuk LSM abal-abal untuk dimintai uang. Mereka sok aktif menjemput TKW di bandara, kemudian berkata pada keluarga bahawa mereka mati-matian memperjuangkan TKW itu di luar negeri. Padahal bullshit! LSM itu tidak melakukan apapun! Dikira gampang berurusan dengan hukum di negara orang? Dikira bisa menyelesaikan masalah seperti itu hanya melalui telepon dan email?

Seringkali staff KBRI bekerja seolah ngga punya keluarga. Ngga ingat harus pulang ketika jam kantor sudah selesai karena harus melakukan lobi dengan majikan atau agen. Sering juga KBRI mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai orangtua si A (TKW). Dia bilang sedang butuh uang dan minta ditransfer. Ketika ditanya nomor rekeningnya, orang itu berkata akan mengirimkannya via email. Hello LSM abal-abal… jangan harap trik itu berhasil, karena jangankan kirim email, pegang hape aja keluarganya belum tentu bisa!

Serba-serbi TKW itu begitu rumit. Di satu sisi mereka memang mendatangkan uang ke negara kita. Tapi di satu sisi, mereka juga membuat citra negara kita kurang baik. Rasanya perlu juga ada kajian ulang, bener ngga sih TKW itu mendatangkan keuntungan finansial untuk negara kita? Mengingat gaji bulanan mereka segitu aja (disini sekitar $100-$150). Sebanding ngga sih dengan biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk menangani masalah yang muncul? Sebagai gambaran aja, satu masalah tidak akan selesai dalam hitungan hari. Bisa bulanan bahkan tahunan. Selama TKW ini bermasalah, dia tidak dipekerjakan alias ditampung oleh KBRI. Dan selama itu pula hidupnya dibiayai oleh pemerintah. Belum lagi biaya sewa pengacara. Belum biaya kesehatan kalau masalahnya menyangkut kekerasan. Belum biaya tiket kepulangan mereka. Masih berlaku ngga sih istilah “pahlawan devisa”?

Sebagai negara yang banyak mendatangkan TKW dari Indonesia, masyarakat disini sering meremehkan ketika kita masuk ke toko-toko branded. Seringkali pelayan tidak segera melayani. Baru ketika meletakkan belanjaan di kasir dengan nilai yang lumayan, mereka mulai ramah (telat!). Selanjutnya adalah nanya-nanya, suamimu orang mana? Orang Arab ya? Dih! Dikira orang Arab doang yang punya duit!

Kalau dulu di Indonesia, ketika masuk toko yang pelayanannya ngga oke, kita bisa langsung pergi dan mencari toko lain. Tapi di negara yang penuh TKW seperti ini, ketika mereka tidak melayani kita dengan baik, memandang kita dari atas sampai bawah, maka yang bisa kita lakukan adalah pamerkan kemampuan kita hahaha… Keluarin duit yang banyak, meskipun belanja sedikit. Atau beli yang paling mahal. Ini bukan lagi soal uang, tapi soal harga diri. Mungkin kesannya belagu atau ngga penting. Kenapa juga kita harus menunjukkan harga diri bangsa dengan cara seperti itu?

Idealnya memang ditunjukkan misalnya melalui prestasi, menduduki jabatan penting di perusahaan luar negeri, menjadi ilmuwan, atau apapunlah. Tapi itu butuh waktu dan effort yang tidak sedikit.

Kadang, untuk sesuatu atau seseorang yang dicintai, kita bisa melakukan apapun tanpa berpikir panjang. Bukankah para pendahulu kita juga merebut kemerdekaan tanpa berpikir dulu bagaimana mengelola negara dengan baik dan benar? Seandainya aja dulu mereka terlebih dahulu memikirkan berapa banyak komisi di DPR/MPR, bagaimana sistem pemilunya, bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan hal-hal lainnya, mungkin sampai sekarang kita belum punya naskah teks proklamasi kemerdekaan. Jadi lakukan apapun demi negara. Lakukan yang terbaik tanpa menuntut apapun dari negara. Karena, mengutip kata-kata Andrea Hirata, mengharap sesuatu dari negara ini agak riskan, Kawan…

17-an di Damaskus

Aku mau certain pengalaman 17-an pertamaku di luar negeri. Udah lewat jauh banget emang. Dan tulisan ini aku buat setelah selesai upacara yang lalu. Tapi karena baru punya blog, ya baru diposting sekarang. Lagian, nanti akan ada tulisan tentang malam gembira perayaan hari kemerdekaan yang mau diadakan KBRI tanggal 16 september mendatang.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan merayakan HUT RI di luar negeri. Dan rasanya… seperti yang akan aku ceritakan kali ini.

Selepas Subuh aku dan suami, begitu juga masyarakat Indonesia lain yang akan mengikuti upacara, tidak lagi kembali tidur seperti biasa. Kami semua tidak ingin keenakan tidur karena semalam tidur sebentar saja dan akhirnya terlambat mengikuti upacara. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, di musim panas siang lebih panjang dari malam. Kami baru selesai tarawih pukul 10 atau 11 malam. Jadi baru tidur pada pukul 12 atau 1 dini hari. Kemudian sudah harus bangun untuk sahur pada pukul 3. Kebayang kan ngantuknya.

Kami harus siap di tempat upacara pada pukul 6.45. Upacara dilakukan pada pukul 7.00 WS atau pukul 10.00 WIB. Jadi bareng kan sama di Indonesia. Lagian, ngga kebayang deh kalau harus upacara pada pukul 10.00 WS seperti di Indonesia. Panasnya minta ampun!

Upacara diikuti oleh seluruh staff KBRI dan perwakilan masyarakat Indonesia di Syria. Peserta tidak lebih dari 200 orang (termasuk anak-anak). Peserta pria mengenakan full dress dan peci, sedangkan peserta wanita mengenakan busana nasional.

Tidak ada yang berbeda dari susunan acara, karena itu memang sudah pakem. Yang berbeda adalah jumlah anggota Paskibra-nya. Kalau di Indonesia format pasukannya diatur 17-8-45, disini hanya ada 6 pasukan. 3 perempuan pembawa bendera, 3 laki-laki sebagai pengibar. Tidak ada ketentuan tinggi badan juga seperti di Indonesia, karena siswa di Sekolah Indonesia Damaskus sangat terbatas. Meski demikian mereka berlatih sungguh-sungguh setiap hari sejak sebelum puasa. Paskibra ini tampil sempurna dan membanggakan.

Sebelum upacara, bahkan sampai upacara dimulai pun, perasaan aku biasa-biasa saja. Tidak ada yang berbeda dari upacara ini selain dilakukan di bulan Ramadlan. Melihat wajah-wajah melayu dan ibu-ibu berkebaya itu membuat aku merasa sedang di Indonesia saja. Waktu paskibra melaksanakan tugasnya aku mulai deg-degan. Tapi sekali lagi ini adalah perasaan yang sudah biasa. Melihat paskibra di Indonesia juga deg-degan. Begitu pengibar mengatakan “bendera siap!”, tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba ada alunan orkestra Indonesia Raya! Suara orkestra itu terdengar begitu gagah, megah dan berwibawa. Seperti ada listrik yang menyengat tengkuk belakang aku dan mengalir ke sekujur tubuh! Sekuat tenaga aku tahan air mata dan itu membuat tenggorokan jadi tercekat sakit. Susah sekali mengeluarkan suara untuk menyanyi dalam keadaan seperti itu. Baru aku menyadari bahwa aku berada di ribuan kilo jauhnya dari Indonesia. Dari tanah kelahiran yang indah, gemah ripah loh jinawi. Dari keluarga dan sahabat yang tercinta. Dari keramahan bangsa yang dipuji bangsa lain.

Lupakan sejenak, tentang korupsi, tentang Malaysia brengsek, tentang anak-anak putus sekolah, tentang petani yang mengeluhkan harga pupuk, tentang demokrasi yang belum juga dewasa, tentang semua persoalan yang ada. Coba ingat dan sadari bahwa kita adalah bangsa yang besar dan kaya. Kita bisa melakukan apapun asalkan kita mau. Kita sama hebatnya dengan Negara lain yang mengaku adidaya. Negara lain sangat tergantung pada keberadaan kita. Kita adalah bangsa yang tidak bisa diremehkan. Masalah itu akan selalu ada selama kita hidup. Yang terpenting adalah kita tidak lari darinya. Selama kita memiliki cinta yang besar dan tidak bersyarat pada Negara, aku yakin kita bisa menyelesaikan masalah yang ada. Cinta itu akan membuat kita menjaga Negara secara otomatis.

Rasa nasionalisme seperti menguat ketika kita berada di luar Indonesia. Termasuk ketika bertemu TKW yang diperlakukan secara tidak adil dan manusiawi. Di Syria sendiri permasalahan TKW tidak ada habisnya. Seperti yang kita tahu, Negara Timur Tengah adalah tujuan utama pengiriman TKW. Nanti aku akan ceritakan permasalahan TKW yang ada di Syria.

Kembali ke upacara bendera, biasanya dilakukan pagi dan sore. Tapi karena saat ini Duta Besar yang baru belum daatang, maka upacara dilakukan sekali saja. Acara resepsi diplomatik yang biasanya ada juga ditiadakan. Selesai upacara ada penyerahan hadiah bagi pemenang lomba yang diadakan sebelum puasa. Setelah itu kami pulang, dan membayar hutang tidur kami.