Category Archives: Keluarga

Ciudad de Mexico : Mexico City

Libur lebaran kali ini bersamaan dengan libur musim panas anak sekolahan. Kami merencanakan jalan-jalan ke Meksiko atau Kanada. Mengingat di Meksiko ada teman yang akan segera mengakhiri masa tugasnya, kami pun memilih Meksiko. Kanada-nya nanti diatur lagi.

Setelah membandingkan harga tiket edisi summer 😥, ternyata berangkat dari bandara Baltimore lebih murah daripada dari bandara Dulles. Dengan jarak yang hampir sama dari rumah, harganya bisa separuh lebih murah. Dengan menyebut nama Allah,,kami pun cusss berangkat ke Meksiko.

Jam 3 pagi kami keluar rumah dengan 1 koper bagasi, 1 koper kabin dan 3 ransel. Bagasi ini ngga ada ceritanya gratis. Bayar $25 untuk koper pertama (23 kg). Mobil di parkir di parkiran harian bandara dengan tarif $12/hari. Sebenarnya ada yang $10 dan $8 per hari. Tapi semua penuh.

Proses check in selesai saat masuk waktu Subuh. Dari website bandara, kami dapat info ada Meditation Room, yang bisa digunakan untuk beribadah, bermeditasi atau sekedar menenangkan diri. Lokasinya agak tersembunyi, tapi mudah ditemukan. Sayangnya hanya beroperasi dari jam 7 pagi sampai 7 malam saja. Kami pun salat Subuh di lorong depannya yang sepi.

Setelah menempuh 6 jam perjalanan dan satu kali transit di New York, sampailah kami di Mexico City, Meksiko. Kesan pertama adalah : ini Jakarta apa Surabaya?

Jalanan kecil penuh kendaraan, mobil bisa belok kanan dari lajur kiri, penyebrang jalan tidak menunggu lampu merah, bangunan penuh grafiti, semriwing aroma comberan, pedagang kaki lima di tiap sudut kota dan tidak ketinggalan : klakson to the max!!! 😂😂😂

Hari pertama di Mexico City kami isi dengan jalan-jalan keliling kota diantar teman tersayang. Malam itu kami berencana makan churros dan tacos. Mehiko man… kudu wajib makan itu! Sekalipun makanan ini bisa ditemui dimanapun, tetep aja harus makan churros dan tacos di sini, diiringi mariachi!

Best churros in Mexico City

Tapi ternyata, baru makan seporsi churros aja kami sudah kekenyangan. Tacos-nya besok ajalah.

Chapultepec

Chapultepec merupakan taman terbesar kedua di Amerika Latin, setelah Santiago Metropolitan Park di Chile. Luasnya mencapai 686 ha dan terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah yang tertua dan paling sering dikunjungi. Di dalamnya terdapat beberapa tempat seperti Istana Chapultapec, museum antropologi, museum seni modern, kebun binatang, juga danau.

Kami hanya mengunjungi istana Chapultapec yang saat ini berfungsi sebagai museum sejarah nasional. Istana ini merupakan satu-satunya istana kerajaan di Amerika. Jalanan menuju istana menanjak karena terletak di atas bukit. Tidak ada biaya masuk, tapi kita tidak boleh membawa makanan, stroller dan tripod. Lift yang tersedia hanya boleh digunakan untuk pengunjung difabel.

Bagian depan istana Chapultepec

Istana ini berisi lukisan yang bercerita tentang sejarah dan kebudayaan Meksiko yang sayangnya semua keterangan dalam bahasa Spanyol. Jadi kami sama sekali ngga ngerti. Lukisan-lukisannya sungguh mencengangkan. Begitu detil dan vulgar menggambarkan penderitaan di masa lalu, seperti pemenggalan kepala dan lain-lain.

Centro Histórico de la Ciudad de México

Dari Chapultapec, kami menuju kota tua. Jalanan macet karena masyarakat merayakan kemenangaan tim kesebelasan Meksiko atas Jerman. Masyarakat berkonvoi dalam kostum kebanggannya, mengibarkan bendera, berteriak dan menyetel musik kencang-kencang. Meriah sekali!

Untuk masuk ke kota tua ini juga agak repot karena banyak jalanan ditutup. Di tengah kota tua, terdapat Zócalo atau plaza utama yang merupakan plaza terbesar di Amerika Latin. Zócalo ini bisa menampung hingga 100.000 orang. Selama musim piala dunia ini, terdapat tenda dan layar raksasa yang dipasang untuk nonton bareng. Bahkan disediakan juga 2 lapangan bola mini. Sore itu artis lokal sedang mengisi acara untuk merayakan kemenangan Meksiko.

Zócalo ini dikelilingi banyak bangunan tua dan bersejarah. Diantaranya Metropolitan Cathedral dan National Palace. Di sisi lain terdapat pasar emas, pertokoan dan restoran. Tatanannya mengingatkan pada alun-alun di Indonesia yang dikelilingi pusat pemerintahan, rumah ibadah dan pusat perniagaan.

Capek muter-muter, kami pun berhenti di kedai jus. Tidak satupun di kedai itu yang bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa isyarat, kami memesan satu jus nanas kelapa dan satu jus mangga jambu. Lah.. yang keluar malah 4 gelas!

Teotihuacan

Ini adalah destinasi kami di hari ketiga, komplek arkeologi di Mexico City. Di dalamnya terdapat kuil Quetzalcoatl (entah gimana bacanya), dan dua piramida peninggalan masyarakat Mesoamerica.

Kami naik ke piramida Matahari (yang lebih dekat pintu masuk masuk), dan memandang piramida Bulan dari kejauhan. Sama sekali ngga berniat mendekatinya karena kaki udah terasa lemes duluan. Tangga piramida ini tebal, curam dan berbatu. Nahrisyah keren abis berhasil naik piramida Matahari sampai 2 tingkat. Setelah itu aku dan Nahrisyah istirahat, sementara Mawiya dan Rahmat lanjut terus sampai puncak setinggi 63 meter.

Ciudadela Market

Oke.. ini adalah destinasi favoritku! Siapa coba yang ngga demen di pasar kerajinan tradisional?

Mexico punya karakter yang kuat. Kerajinan tangannya penuh warna yang mencolok, berani, bertabrakan dan tebal! Blus dan gaun sederhana jadi menonjol karena dihiasi sulaman tangan berbentuk bunga, hewan dan motif tribal.

Ada juga kain tenun tradisional yang dibuat jadi ponco atau tas. Mereka juga membuat perhiasan dan gantungan kunci dari manik-manik yang mengingatkanku pada kerajinan khas Kalimantan. Selain itu mereka juga menganyam sejenis daun palm menjadi keranjang, tas atau mainan. Beberapa daun diwarnai terlebih dahulu, baru dianyam. Beberapa dibiarkan dalam warna aslinya, lalu ditambahkan hiasan atau bordiran warna-warni. Tidak ada warna lembut disini. Semuanya stands out!

Masyarakat Meksiko juga punya kerajinan tanah liat khas bernama Árbour de la vida atau pohon kehidupan. Temanya adalah tentang penciptaan Adam, Hawa dan seisi dunia. Árbour de la vida ini berfungsi sebagai alat ibadah jika dilengkapi dengan tempat pembakaran dupa. Tapi jika tidak, hanya berfungsi sebagai dekorasi. Masyarakat Meksiko memang masih memelihara tradisi dupa dan sesajen. Mereka meletakannya di depan patung Bunda Maria.

Kerajinan tanah liat lainnya adalah tengkorak warna-warni sebagai ikon Dia de Muerto atau Peringatan Hari Kematian yang dirayakan meriah di Meksiko pada 31 Oktober. Alih-alih seram, tengkorak ini justru terlihat lucu dengan gaun indah dan topi lebar. Tidak ketinggalan bunga-bunga.

Favorit Mawiya dan Nahrisyah adalah rug doll, boneka anak perempuan khas Meksiko. Juga boneka flanel yang dipenuhi sulam bunga warna-warni. Daaannn.. POM-POM! Astaga.. gantungan pom-pom dan tassel warna-warni dimana-mana! Semuanya cute!

Favorit Rahmat : Árbour de la vida dan taplak sulam.

Favorit Aku : Baju sulam, tas sulam, taplak sulam, selimut sulam dan tas anyam penuh pom-pom.

Pesona Ciudadela sungguh kuat! Tidak ada yang bisa menghalangi langkah kaki kami kesana, kecuali dompet!

The Angel of Independence

Atau disebut juga El Ángel, merupakan monumen yang terletak di bundaran jalan Reforma. Jalanan ini mirip sekali dengan Sudirman-Thamrin. Lebarnya, gedung-gedungnya, macetnya, juga demonya. El Ángel ini pada posisi seperti patung selamat datang di bundaran HI.

Di puncak monumen ini terdapat patung Nike, dewi kemenangan Yunani. Tangan kanannya memegang mahkota laurel yang melambangkan kemenangan. Sementara tangan kirinya memegang rantai patah, melambangkan kebebasan. Awalnya patung ini terbuat dari emas murni. Tapi gempa menjatuhkannya, pecah berkeping-keping, dan diambil oleh masyarakat. Patung yang sekarang terbuat dari perunggu berlapis emas.

Setiap hari kami melewati jalanan ini, tapi baru berhasil foto di hari kelima sebelum ke bandara. Setiap hari ada demo, mulai dari guru, petani sampai mahasiswa. Yang paling spektakuler adalah demo petani yang dilakukan oleh persatuan wanita dari berbagai kota. Mereka menginap di tenda berhari-hari, membagikan flyer dan mengumpulkan sumbangan dari pengendara. Selain itu, mereka berkumpul di tengah jalan, menyetel musik kencang-kencang dan joged tanpa busana sehelai pun! Aduuuhh.. kenapa pas kami datang siihh..


Kami pulang ke Maryland siang itu dan transit di Detroit. Di sini pun tersedia Religious Room. Agak tersembunyi juga, tapi petunjuk arahnya jelas dan mudah diikuti. Pesawat dari Detroit menuju Baltimore tertunda satu jam lamanya. Kami sudah sangat lelah sebenarnya. Sudah tengah malam ketika pesawat mendarat di Baltimore.

Ketika meninggalkan pesawat, tidak diduga, kapten memberikan pin pilot untuk Mawiya dan Nahrisyah. Waktu kami minta foto bersama, dia malah mempersilakan Mawiya masuk ke dalam kokpit pesawat, dan meminjamkan topinya! Keren abis! Sungguh penutup liburan yang sempurna! Segala puji bagi Allah yang telah mengatur semuanya.

Itulah sekelumit ziarah kami ke Mexico City. Kami selalu suka tempat yang berkarakter dan punya kebudayaan khas. Tidak semuanya indah untuk indera kita, tapi itu justru menyenangkan untuk dinikmati.

Advertisements

Percaya Kamu Bisa

4 bulan telah berlalu sejak kami menyapih Nahrisyah. Di awal tahun 2018, aku dan Rahmat memutuskan untuk menghentikan proses menyusui Nahrisyah. Ini merupakan perlakuan yang berbeda dengan kakaknya dulu.

Pada Mawiya, aku lebih sering menghadapinya sendiri karena Rahmat sering dinas. Pada Nahrisyah, Rahmat hampir selalu di rumah setiap hari.

Pada Mawiya, dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti menyusu. Pada Nahrisyah, aku dan Rahmat yang memutuskan untuk berhenti menyusui.

Awalnya kami berencana untuk menerapkan hal yang sama. Begitu ulang tahun kedua, anak diberitahu bahwa ini saatnya dia berhenti menyusu. Kapan berhentinya, terserah dia. Butuh waktu 6 bulan untuk Mawiya akhirnya memutuskan sendiri berhenti menyusu.

Tapi Nahrisyah, kami ngga terlalu yakin bisa seperti itu. Komunikasi Nahrisyah belum lancar. Dia belum berbahasa dengan jelas, juga belum sepenuhnya memahami perkataan kami. Akhirnya malah jadi drama karena sama-sama ngga ngerti. Belum lagi karakternya yang cenderung rame. Kalo ngga dapat apa yang diinginkan, responnya marah meledak. Tidak setiap momen kami bisa mengalihkan keinginannya untuk menyusu. Kadang ada momen yang bikin aku terpaksa harus menyusui dia. Perlakuan yang tidak konsisten dari kami ini justru bikin dia sering tantrum.

Aku dan Rahmat pun memutuskan untuk menyapih Nahrisyah, tanpa persetujuannya, sebulan setelah ulang tahunnya yang kedua. Sounding sudah kulakukan sejak dia ulang tahun. Rahmat dan Mawiya bahkan sudah curi start duluan.

Selama Januari itu, tidak ada malam yang terlewati tanpa jeritan dan tangisan Nahrisyah. Mau makan pisang setandan, minum susu seliter, dan dibacakan buku sekarung sebelum tidur, tetap saja dia akan minta menyusu. Dia menolak digendong, bahkan disentuh dan lebih memilih menangis di lantai sambil menjerit. Tangisannya akan berhenti setelah dia kehabisan tenaga. Dia akan mendekat padaku, kami berpelukan lalu tertidur. Setiap malam adalah horor untuk kami bertiga. Aku dan Rahmat bergantian bertanya, “sampai kapan?”. Pagi hari kami berdua bangun seperti zombie. Nahrisyah tidak hanya menangis sebelum tidur, tapi juga tengah malam.

Aku frustrasi. Kenapa sesulit ini? Katanya kalo kita tega, konsisten untuk ngga menyusui, seminggu aja jadi. Ini sudah sebulan! Kenapa dia masih nangis jejeritan tiap malam?

Sampai suatu hari aku membaca laman pengasuhan di facebook. Laman yang aku paling suka karena santun dan ilmiah. Beliau menulis tentang kepercayaan orangtua bahwa anaknya bisa itu sangat penting.

Percayalah bahwa putra dan putri Anda mampu, maka ia akan sanggup melakukan apa pun — bahkan hal-hal yang selama ini tidak pernah Anda bayangkan bahwa ia mampu.

Itu dia! Itu yang terlewat! Percaya bahwa Nahrisyah bisa tidur tenang tanpa menyusu. Selama ini aku berpikir aku harus tega. Akhirnya aku jadi merasa bersalah karena membiarkan dia menangis menjerit sepanjang waktu. Karena ini bukan situasi yang aku harapkan.

Akupun menata hati. Bicara padanya, “Kamu anak pintar, Mama percaya kamu bisa tidur tenang tanpa micuma. Mama Papa sayang kamu. Kamu sudah besar, kamu bisa tidur tenang sampai pagi. Besok kita main lagi.”

Pelan-pelan aku merasa dadaku hangat. Perasaanku lebih tenang dan optimis. Nahrisyah pun untuk pertama kalinya, tenang setelah dibacakan buku. Dia memelukku. Wajah kami bersentuhan. Tangannya membelai pipiku. Lalu dia tertidur.

Memang itu bukan berarti malam-malam berikutnya benar-benar bebas dari tangisan. Tapi mengubah perasaan tega menjadi percaya itu membawa perubahan besar.

Terima kasih Nahrisyah, sudah bekerjasama dengan baik, sudah percaya pada dirimu sendiri. Terima kasih Pa, sudah menjadi partner hidup yang bisa diandalkan. Terima kasih Pak Dono Baswardono, untuk tulisan-tulisannya yang santun dan ilmiah. Terima kasih wahai Allah, untuk semuanya.

I Don’t Like Being Moslem

Keluarga besarku tinggal di satu lingkup, mengelilingi rumah mbah buyut yang besar. Setiap memasuki bulan Shaffar, aku dan beberapa saudara perempuanku berlatih membaca puisi tentang Nabi Muhammad. Hampir setiap sore kami berkumpul dirumah saudaraku. Sementara para santri putri berlatih membaca Diba‘ dan Barzanji.

Pada hari Maulid, semua orang akan datang berkumpul di ruang tamu mbah buyut. Rumahnya besar dan atapnya tinggi. Khas rumah jaman Belanda. Ruang tamunya dihias dengan kain besar bertuliskan “Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW”. Pot pot tanaman menghiasi sisi kanan kiri kain itu. Di pintu dan jendela digantungkan rangkaian bunga sedap malam. Aromanya semerbak, bercampur dengan aroma parutan buah jeruk purut yang diletakkan di tiap sudut ruangan.

Malam itu dan malam-malam Maulid lainnya selalu menyisakan perasaan bahagia dalam hatiku. Selepas maghrib, aku dan saudara-saudaraku akan dirias. Orang-orang antusias menanti penampilan kami membacakan puisi. Aku suka melihat bunga sedap malam menghiasi rumah mbah buyut. Bunga itu baru dilepas jika sudah mengering. Aku suka berkumpul bersama saudara-saudaraku dan bermain hingga larut malam. Biasanya kami harus pulang paling lambat jam 5 sore. Tapi karena ini perayaan maulid, kami jadi punya waktu ekstra untuk main. Begitulah tradisi maulid di keluargaku.

Di sekolah juga selalu meriah. Aku suka pergi ke sekolah tanpa harus belajar dan memakai seragam. Kami datang berbusana muslim dan membawa makanan. Buah-buahan dan kue-kue basah yang ditempatkan di atas cobek tanah liat. Beberapa orang membungkusnya dengan plastik bermotif bunga, lalu dihias dengan bendera kertas warna warni. Semua makanan akan dikumpulkan, lalu guru akan membagikannya kembali sebelum kami pulang.

Continue reading I Don’t Like Being Moslem

Turki Dalam Sekejap

Dalam perjalanan menuju Washington DC yang lalu, kami memilih Turkish Air supaya bisa transit di Istanbul. Selama 9 jam transit, sekitar 6 jam kami melihat beberapa tempat di Istanbul.

Sebelumnya, untuk menghemat waktu dan tenaga, kami menghubungi mahasiswi disana, minta tolong dianterin jalan jalan.

Kami tiba di bandara internasional Ataturk pada pukul 5 pagi. Setelah mengurus imigrasi, ke toilet dan musholla dulu, sambil nunggu mbaknya yang mau nemenin kami datang.

Jam 7 pagi kami mulai jalan. Koper kabin kami dititipkan di tempat penitipan bandara. Kalau ngga salah sekitar 25 lira per koper. Tergantung ukuran juga.

Stasiun kereta bawah tanah menyatu dengan bandara. Kita tidak perlu keluar gedung. Cukup naik lift atau eskalator ke bawah tanah. Karena satu kartu bisa dipakai beberapa orang sekaligus, kami jadi ngga beli kartu. Nebeng aja sama kartu Mbaknya, tinggal diisi ulang. Kami melalui lorong-lorong persimpangan di bawah tanah. Ganti lajur dan turun di stasiun UI alias Universitas Istanbul 😁. Dari situ, jalan sedikit lalu naik bus macam transjakarta.

Tujuan pertama kami adalah Blue Mosque alias masjid biru. Salah satu masjid bersejarah yang menjadi ikon Turki. Didirikan pada tahun 1616, Sultan Ahmed I memprakarsai pembangunan masjid ini untuk menegaskan kembali kekuasaan Ottoman.

Sayang sekali kami datang di hari jumat pagi. Masjid ditutup untuk persiapan salat jumat. Kami ngga punya waktu menunggu salat selesai.

Masjid biru ini didirikan di depan Hagia Sofia. Diantara kedua bangunan ini terdapat taman-taman dan air mancur yang indah dan nyaman. Banyak penjual jagung bakar pula. Di bulan ramadlan, umat Islam ramai beraktivitas di taman ini. Berekreasi sambil menanti saatnya salat di masjid biru.

Hagia Sophia sendiri tak kalah indah dan menariknya dengan Masjid Biru. Awalnya adalah gereja, lalu beralih fungsi menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Lagi-lagi kami ngga bisa masuk karena gedung ini sedang direnovasi.

Kami terus berjalan kaki menjauh dari Masjid Biru, menuju istana Topkapi. Di sepanjang jalan angin sejuk mulai menyapa meskipun masih agustus. Aroma chesnut panggang tercium wangi sekali.

Rupanya para penjual chesnut panggang berjajar di pinggir jalan menuju Topkapi. Mereka menjual berdasarkan berat. 10 lira sebungkus rasanya belum cukup. Manis, chewy, hangat, dan wangi chesnut panggang ini begitu serasi dengan angin yang berhembus sejuk.

Gerbang depan Topkapi saat itu sedang dalam tahap renovasi juga. Setelah itu kami bertemu taman yang sangat luas. Hijau dan rindang dengan pepohonan besar. Anjing-anjing liar berbaring malas di pinggir jalan.

Istana ini mulai dibangun pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II. Begitu luasnya istana hingga pernah dihuni oleh 4000 orang.

Pada abad ke 17, Sultan banyak menghabiskan waktu di istana baru di Bosporus. Perlahan kepentingan istana Topkapi ini memudar. Hingga pada tahun 1921, istana ini dialihfungsikan sebagai museum.

Dari istana Topkapi sebenarnya ada jalan menuju Bosporus. Tapi jalan ini tertutup untuk umum. Jadi kami harus keluar kompleks dan naik taksi menuju selat bosporus. Ada kereta juga kalau mau lebih irit. Hanya saja waktu kami terbatas.

Turun dari taksi di Bosporus, kami melewati kios penuh warna. Rupanya mereka menjual Kumpir dan wafel. Kumpir adalah kentang panggang dengan berbagai macam topping.

Etalase mereka memajang dengan cantik keju, mentega, jagung pipil, sosis, salad, buah zaitun, mayonais, saus tomat dan acar warna warni untuk topping kumpir. Di sisi yang berbeda, 9 macam coklat leleh berbagai rasa dan warna, stroberi, pisang, biskuit dan kacang kacangan, tertata rapi untuk topping wafel.

Satu kumpir, dan satu wafel, ternyata sudah cukup mengenyangkan untuk aku, Rahmat, Mawiya dan Nahrisyah.

Di Bosporus kami menghabiskan waktu di playground anak anak. Ada juga tur selat dengan menaiki kapal. Tapi lagi-lagi waktunya terbatas.

Kami harus segera kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju Washington DC. Satu saat nanti semoga bisa menikmati Turki dengan thuma’ninah.

Penyesuaian Diri

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar diplomat ditugaskan ke luar negeri? Beberapa teman berpikir, kami pindah tinggal bawa keperluan pribadi saja. Sisanya sudah diurus kantor. Rumah dinas, mobil dinas, sekolah anak diurusin. Sederet staff sudah siap membantu kemudahan hidup kami di negara baru.

Asumsi itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Beberapa kantor perwakilan Indonesia memang menyediakan rumah dinas. Biasanya satu komplek dengan kantor, seperti di Riyadh atau Seoul. Tapi, yang tidak menyediakan rumah dinas lebih banyak lagi. Di kantor perwakilan seperti ini, kami mendapat tunjangan sewa rumah. Kadang jumlahnya memang cukup, kadang kami harus nombok. Tergantung kebutuhan pribadi dan situasi negara setempat.

Mobil dinas, duta besar sih sudah tentu dapet. Tapi diplomat remah remah macam kami, kalo mau punya mobil ya bellliii..

Jadi, apa aja yang harus kami lakukan di bulan pertama posting? Begini..

Identitas

Meskipun tercatat sebagai staff kedutaan, seorang diplomat tetap harus lapor diri ke kantor perwakilan. Ya sambil ngantor sih. Ada dokumen dari Kemlu di tanah air yang harus diserahkan ke kantor perwakilan. Paspor seluruh keluarga juga diserahkan untuk diurus status kependudukannya. Setelah itu kami akan mendapat diplomatic card sebagai kartu identitas yang sah.

Rumah

Seperti yang aku bilang tadi, ada kantor perwakilan yang menyediakan rumah dinas. Tapi kebanyakan sih enggak. Kami mendapat tunjangan sewa rumah. Bentuk rumahnya tergantung situasi negara.

Tahun 2011, aku datang ke Damaskus ketika Rahmat sudah berada disana selama 6 bulan. Jadi semua sudah rapi. Aku ngga tau gimana repotnya dia nyari apartemen.

Tapi di DC ini, aku ikut prosesnya dari awal. Kami dibantu oleh staff kantor mencari rumah yang disewakan. Selain itu kami juga mencari informasi dari internet. Total ada 16 rumah & apartemen yang kami datangi dalam waktu 2 minggu. Kebayang ga capeknya, jetlag diri sendiri belum ilang, masih harus mengatasi jetlag anak-anak.

Selama belum mendapat tempat tinggal, kantor menyediakan serviced apartment untuk kami. Kenapa ngoyo tempat tinggal harus fix maximal dalam 3 minggu? Karena di AS, sekolah anak bergantung pada tempat tinggalnya. Kalau rumah belum jelas, ngga bisa ngurus sekolah anak.

Di Damaskus dulu, kami menyewa apartemen 2 kamar tidur. Masih pengantin baru ❤❤… Disana hampir semua hunian disewakan fully furnished. Memudahkan banget karena lengkap sampe kesetnya. Apartemen salah satu teman kami bahkan tersedia mesin pembuat pasta dan sandal di tiap kamar.

Yang sekarang ini, semua hunian, baik apartemen maupun rumah, disewakan kosongan kecuali dapur. Kulkas, kompor, microwave, mesin cuci piring sudah tersedia. Tapi perabotannya ngga ada. Maka urusan rumah ini luar biasa menyita waktu, tenaga dan kantong. Karena kita bener-bener harus beli SEMUANYA. Untuk menghemat, bisa beli barang bekas melalui internet. Atau jeli memanfaatkan masa diskon. Seperti sekarang ini, menjelang labour day, diskon abis-abisan deh.

Saat ini kami menyewa sebuah town house 3 lantai. Hampir semua rumah modelnya begitu. Yang cuma 2 lantai harganya ga karuan 😁. Kami jatuh cinta sama rumah ini, tapi tidak pada harganya. Udah dihindari, nyari kemana mana, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan jadi menyewa. Begitu ngasih kabar ke perusahaannya, lah kok katanya udah ada yang mau sewa. Baruuuu tadi pagi deal-nya. Oalah… yo wes.. berjuang maneh..

Besoknya pas lagi nyari-nyari info sewa rumah, dapet kabar kalo penyewa yang kemarin ngga di approve pemilik. Entah kenapa. Wah.. jodoh nih. Langsung deal saat itu juga. Alhamdulillah.. rumah fix tepat 3 minggu setelah kedatangan kami.

Sekolah

Begitu lokasi rumah jelas, kami langsung melapor ke kantor dinas pendidikan setempat, ke bagian internasional. Anak-anak pindahan, harus mengikuti tes bahasa inggris dan matematika untuk mengetahui di kelas mana dia akan belajar nanti. Tapi karena Mawiya baru kelas 1 SD, dia ngga perlu mengikuti tes itu.

Selain tes tulis, anak-anak pindahan di AS juga harus dicek kelengkapan imunisasinya. Disini kami cukup menunjukkan kartu atau buku catatan vaksin dari rumah sakit atau dokter. Peraturan ini sangat mungkin berbeda dengan negara lain. Seperti cerita teman diplomat di australia misalnya, catatan yang diminta tidak berupa buku, tapi berupa sertifikat. Sertifikat ini bisa didapat dari puskesmas dengan menunjukkan buku vaksin.

Di AS, anak-anak pindahan juga wajib mendapat vaksin TB disini (bukan di Indonesia). Hasilnya harus diserahkan ke sekolah, dengan nota di atas kertas pink, “Simpan baik-baik. Dokumen akan berguna ketika kamu ngurus sekolah, kuliah, dan kerja di seluruh dunia.”

Oke, jadi sekarang catatan vaksin sejak bayi procot itu harus disimpan dan di laminating macam akta kelahiran. Tak punya catatan vaksin? Tenang, bisa vaksin ulang. Seperti yang kebetulan terjadi pada anak salah satu teman kami. Anaknya udah naik kelas X, anak kedua pula. Sewajarnya banget kalo catatan imunisasinya udah ngga ada. Hari itu dia rapelan 5 vaksin sekaligus! Bayangkan! LIMA! Keluar ruangan dia jalan sambil pelukan nyandar ibunya. Kliyengan abis. Kemeng. Mumet.

Sekolah seperti apa yang kami pilih? Amerika Serikat punya sistem pendidikan yang bagus. Sekolah negerinya bagus dan gratis. Jadi kami ngga perlu repot milih, karena udah otomatis sesuai tempat tinggal. Ngga perlu khawatir tentang kualitas karena udah standar dan semuanya bagus.

Beda dengan di Damaskus. Sekolah lokal kurang mengakomodir kebutuhan siswa internasional. Jadi anak-anak asing kebanyakan belajar di sekolah internasional dan tidak terikat zona tinggal.

SIM

Ketika mendampingi suami di Damaskus dulu, cukup setor foto, paspor dan SIM A yang masih berlaku, aku udah langsung dapet semua kartu identitas. Visa tinggal, kartu diplomatik dan SIM Syria. Tapi di DC, kami harus ikut tes. Tanpa kecuali! Bahkan dubes.

Karena sudah punya SIM A yang masih berlaku, kami ngga perlu tes praktek, cukup tes pengetahuan aja. Ini jadi horor buatku karena selain bahasa inggrisku terlalu ngepres, tesnya banyak hafalan dari manual setebal 101 halaman. Seperti berapa jarak parkir dari hydrant. Kenyataan bahwa sebagian besar teman-teman ngga lulus pada trs yang pertama, jadi tekanan tersendiri. Mereka yang bahasa inggrisnya lebih jago aja harus ngulang lagi, apalagi aku kan… Ada 6x jatah mengulang tes. Kalo gagal 6x harus nunggu setahun dari tes yang pertama.

Alhamdulillah setelah try out 14x dan tes 2x, aku lulus. Satu tahapan lain terlewati.

Berbenah

Sebulan tinggal di hotel, tentu banyak barang yang sudah keluar dari koper. Belum lagi belanjaan baru yang dicicil sedikit demi sedikit untuk rumah. Pindah dari hotel ke rumah sewa ternyata tidak semudah itu. Tapi kami juga ngga mau terlalu repot packing rapi. Toh nanti dibongkar lagi. Packing asal masuk aja. Asal ngga ada yang ketinggalan di hotel.

Sampai di rumah, bongkar lagi semuanya. Lemari sudah tersedia, menyatu dengan dinding (aku suka banget lemari macam ini karena kamar jadi terlihat rapi). Semua barang asal masuk lemari aja. Rapi rapinya sambil jalan. Yang penting koper bisa disimpan, enyah dari pandangan mata! 3 bulan penuh berurusan sama koper itu bikin eneg.

Sambil memasukkan barang ke lemari, Rahmat bilang,” dulu pas daftar jadi diplomat, aku ngga kebayang loh akan jadi (ribet) kaya gini. Kirain semua udah ada yang ngurusin.”

“Tapi ngga menyesal kan?” Kataku.

“Yo lapo…” 😂😂😂

Mobil

Entar dulu lah… Bernafas dulu..


Untuk menambah suasana drama, semua itu dilakukan ketika masih jetlag. Perbedaan waktu mencapai 11 jam. Menunggu Isya datang di jam 9.20 terasa sangat berat karena ngantuk. Nahrisyah tantrum hampir 30 menit setiap harinya. Menangis, berteriak, meraung ngga jelas apa maunya. Ditambah lagi dia batuk flu.

Tapi dimana-mana, badai pasti berlalu. Alhamdulillah pelan pelan hidup kami makin teratur dan tertata. Sebelumnya ngga kebayang dan ngga ada yang ngajari secara detil gimana caranya hidup berpindah pindah. Sebagai keluarga diplomat, mau ngga mau kami harus bisa melakukannya.

Kami Pergi (lagi)

Sejak ketetapan kantor tentang penugasan suamiku dikeluarkan pada februari 2017 lalu, kami menerima banyak sekali sambutan dari saudara dan teman. Hampir semuanya menunjukkan ekspresi gembira dan antusias. Betapa menyenangkannya hidup di negara lain. Bertemu dengan orang baru, bicara dengan bahasa baru, mengalami budaya baru.

Lalu mulailah segala persiapan seru itu. Mempelajari tentang negara tujuan penempatan nanti. Apa saja yang perlu dibawa kesana. Menginventarisir kebutuhan. Mengikuti berbagai macam pembekalan dan orientasi. Memeriksakan kesehatan keluarga. Tak lupa bagian favoritku, mencari model dan menjahitkan baju baju khas Indonesia.

Tapi apakah semuanya memang terasa indah?

Goodbye Stuffs

Dua tahun terakhir ini kami tinggal di sebuah apartemen sewa. Karena sudah fully furnished, tidak banyak barang yang kami punya. Kami sendiri belum punya rumah. Jadi mau ngga mau, banyak barang yang terpaksa dititipkan ke rumah orangtua di Jawa Timur. Urusan barang ini, masya Allah… baru bab mainan aja rasanya tak kunjung usai. Aku ajak Mawiya untuk memilah mainan, mana yang akan dibawa pindah, mana yang akan disedekahkan, dan mana yang ingin disimpan di Jawa Timur. Baru masukin satu mainan, ketemu mainan yang lama. “Hei ada boneka ini… udah lama aku ngga main ini. Aku mau main dulu ya..” Lah kapan selesainyaaaa??

Demi kewarasan jiwa, akupun memilah secepat mungkin. Lalu aku kasih Mawiya kesempatan untuk berpamitan pada mainannya. “Bye bye toys…” katanya dengan nada sedih dan mata sayu. Aku tanya lagi, “Masih mau cek lagi ngga?” Dia menggeleng pasrah. Sip, semua sudah pada kardusnya. Tiba-tiba Nahrisyah melihat sesuatu yang menarik dari dalam kardus. Koleksi theeter! Dia tarik begitu saja kantong berisi theeter itu, lalu mengeluarkan semua isinya. Good, extra job for me!

Baju aku dan anak-anak, aku yang memilah. Baju suami, dia pilah sendiri. Begitupun buku anak-anak. Peralatan dapur sebagian besar aku hibahkan pada Bibik yang biasa membantu kami. Rumahnya di kampung belakang apartemen. Ada beberapa peralatan yang sangat membantu aku dalam berkemas. Bisa dibaca disini. Ini bukan kepindahan bertahap yang barangnya bisa dicicil. Semua harus beres dalam sekali angkut. Tidak ada jalan kembali.

Goodbye Friends

Pindah rumah berarti pindah sekolah juga. Di Amerika nanti anak-anak harus mendapat imunisasi tertentu sebagai persyaratan masuk sekolah. Sedangkan untuk dokumen, tidak banyak yang harus disiapkan karena Mawiya masih 5 tahun. Catatan hasil belajarnya juga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Sejak 6 bulan yang lalu, aku dan Mawiya berencana akan memberi kenang-kenangan berupa tas rajut kecil untuk teman-temannya. Tidak semuanya, hanya teman satu tim cheerleadingnya. Sebenarnya ini tidak harus, tapi aku ingin anak-anakku punya memori menyenangkan tentang perpisahan. Sudah menjadi jalan hidup mereka untuk sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan orangtuanya. Mereka akan berpisah dengan teman dan saudaranya berulang-ulang.

Tim cheerleading ini namanya Princess. Mawiya bergabung sejak tahun lalu dan chemistry yang tumbuh diantara mereka terasa begitu kuat. Disini Mawiya belajar tentang teamwork. Bahwa kalau kamu ngga konsentrasi, kamu bisa melukai dirimu sendiri dan temanmu. Kalau kamu ngga disiplin latihan, kamu merugikan teman-temanmu yang sudah bersusah payah datang tepat waktu karena ngga bisa membentuk formasi yang benar. Princess menjadi tim yang kompak dan solid.

Dimana-mana, ketika anak kecil berteman baik, biasanya emaknya juga menjadi dekat. Begitupun Mommies Princess. Dari yang awalnya hanya ngobrol latihan, berkembang tentang banyak hal. Maka selain membuat suvenir untuk tim Princess, aku dan Mawiya juga membuat bando mahkota untuk Mommies. Cuma buat heboh-hebohan aja. Mawiya sendiri dengan terlibat dalam proses pembuatan suvenir, dia makin sadar bahwa kami akan pindah, dan kebersamaan bersama teman-temannya akan berakhir.

“Mawiya gimana rasanya mau pindah?”
“Aku ngga tau. Kan aku belum tau Amerika itu seperti apa.”
“Maksudnya, Mawiya senang atau sedih?”
“Hhh..” menghela nafas. Sok gede banget. “Nanti kalo udah sampe sana aku kasih tau. Kalo sekarang aku ngga tau.”
“Oke.. Kalau mau pisahan sama teman-teman, Mawiya gimana rasanya?”
“Mmm…” matanya melihat ke bawah. “Nanti jangan hapus (pesan) whatsapp nya Princess ya..”
“Kenapa?”
“Supaya kita tau mereka lagi ngapain..”

Aku menangkap kesedihan dari nada bicaranya. Mungkin saat itu belum terlalu, karena masih bertemu teman-temannya.

Tibalah kami di hari itu. Ketika kami akan membagikan kenang-kenangan untuk Princess. Mawiya terlihat biasa saja. Aku yang lebay. Pake nangis segala. Bersama tim ini, kami mengumpulkan 2 piala juara 1 kompetisi tingkat DKI, 1 medali perak dan 1 medali perunggu di even olimpiade klub gym kami. Juga sebuah pertunjukan resital yang megah. Semua latihan yang ketat ini berakhir manis. Princess akan mengikuti kompetisi nasional, tetapi Mawiya tidak lagi tergabung sebagai tim. Semua penghargaan itu menjadi akhir yang menyenangkan untuk Mawiya. Sementara aku membayangkan situasi ini akan terus berulang. Ketika kita menjalin kedekatan dengan teman, ketika kita berhasil meraih penghargaan atas usaha selama ini, datanglah hari itu. Hari ketika kita harus berpindah ke tempat baru.

Goodbye Families

Oh Dear… apa yang paling menyakitkan di dunia ini selain berpisah dengan orang yang kau cintai?

Kami punya kesempatan untuk mudik lebaran sebelum pindah ke Amerika. Kesempatan yang sangat baik untuk berpamitan dengan keluarga besar. Semua orang meluangkan waktu untuk bertemu saudaranya. Setiap kali kesal pada mereka, aku menahan diri untuk tidak mengomel atau bersikap tidak baik. Aku tidak mau mengisi waktu yang sempit ini dengan situasi buruk. Setiap kali bertemu dengan keluarga yang sudah berusia lanjut, mataku terasa panas, membayangkan bisa saja ini terakhir kali aku melihat raga mereka. Setiap kali merasa nyaman berada di dekat mereka, hatiku berdesir, bertanya tanya apakah perasaan ini akan bertahan meski kami berjauhan.

Lebaran kemarin aku bertemu dengan saudara yang sedang merindukan anak perempuannya. Sejak menikah, anak perempuannya itu jarang sekali berkunjung karena suaminya tidak mengijinkan. Padahal jarak rumahnya tidak terlalu jauh. Padahal anak perempuan itu sebelumnya adalah aktivis yang lincah. Padahal anak perempuan itu adalah kesayangan dan kebanggannya. Padahal menantunya itu juga kebanggannya. Lalu sekarang dia merasa seperti tidak punya hak atas anak perempuannya. Lah kan aku jadi heran dengernya… Bukankah suami itu memang lebih berhak atas seorang wanita daripada orangtuanya?

Disini aku merasa pernikahanku dengan Rahmat benar-benar dipenuhi nikmat dan rahmat Allah. Keridloan orangtua membuat langkah kami terasa lebih ringan. Tidak sanggup aku membayangkan apa yang akan kuhadapi seandainya aku jauh dari ridlo orangtua. Aku tahu mereka pasti merasa kehilangan, tapi juga sekaligus ikhlas. Terima kasihku yang tak terhingga pada orangtua atas doa dan keikhlasan mereka untuk hidup kami. Tidak sedikitpun, terucap keberatan dari orangtuaku tentang bagaimana Rahmat membawaku selama ini. Mereka sungguh menempatkan diri menjadi orangtua yang pantas untuk diteladani.

Mawiya sendiri, setiap kali berpisah dengan Teta dan Jiddo, pasti sedih. Pasti drama menangis tersedu-sedu. Entah Teta dan Jiddo yang pergi atau dia yang pergi. Ketika kami kembali ke Jakarta, aku cukup terkesan karena ternyata Mawiya tidak seheboh yang kupikirkan. Dia sedih, tapi hanya sebentar menangis. Sampai di playground, biasanya dia akan langsung main. Ternyata kali ini dia bilang, “aku belum siap main.” Oh My… ucapan itu terasa lebih menyedihkan buatku daripada dia menangis tersedu-sedu.

Akupun mengajak dia untuk duduk di pinggir playground bandara sambil mengawasi Nahrisyah bermain. Untungnya tidak lama kemudian, dia mau bermain.

Di pesawat, situasi cukup terkendali. Dia makan, bercanda dan bermain dengan Nahrisyah. Tiba-tiba dia diam, dan berkata,
” Mama, apakah mengucapkan selamat tinggal itu memang sulit?”
“Ya.. kadang-kadang. Mawiya masih sedih?”
Dia mengangguk sambil mengusap air matanya.
“Mama juga sedih. Teta dan Jiddo juga pasti sedih. Kita semua sedih.”
Dia menarik nafas panjang dan kembali mengusap matanya.

Sebelum kami berangkat ke DC, keluarga datang untuk melepas kami. Dibalik semua kerepotan mengurus bagasi, kesedihan kami bisa jadi lebih besar dari yang tampak. Beginilah kehidupan. Sampai jumpa semuanya. Miss you already..

Longlife Packing!!!

Sebagai rakyat suku nomaden, berkemas adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai. 6 bulan menjelang kepindahan, kami sudah disibukkan dengan berkemas. Sebenarnya ngga harus 6 bulan sebelumnya juga sih. Ini hanya karena kami belum punya tempat tinggal permanen di Jakarta. Tidak ada tempat untuk menyimpan barang yang ngga akan dibawa pindah. Mau ngga mau, barang harus dibawa ke Jatim, titip di rumah orangtua. Mengingat akses, banyaknya barang dan biaya, maka barang yang akan dibawa ke Jatim harus dicicil ketika kami ada kesempatan mudik.

Sebelumnya, sortir barang dulu. Kami membagi dalam 3 kategori. Satu, dijual, disedekahkan dan dibuang. Dua, disimpan di Jatim. Tiga, dibawa pindah.

Dijual, disedekahkan, dibuang

Untungnya kami belum punya furnitur berat macam kursi. Apartemen yang kami sewa sudah menyediakan semuanya. Barang berat yang kami punya cuma kulkas dan dispenser. Dua-duanya dijual dan baru diambil sebelum kami berangkat. Perabotan macam piring gelas sendok, disedekahkan ke Bibik. Banyaknya barang barang semacam ini sungguh bikin aku terpana. Ngga menyangka kalo ternyata banyak banget. Belum termasuk baju baju lama, sepatu, gombal kecil semacam saputangan, atau kain perca bekas crafting.

Tentang baju, berapa banyak baju yang kita punya? Lemari ngga muat sampai harus beli box tambahan? Atau bahkan tertumpuk di rak plastik terbuka. Sudah bersih dan disetrika tapi ngga juga masuk lemari karena repot masukinnya. Lemari overloaded. Ironi untuk hampir semua wanita di dunia, merasa ngga punya baju padahal lemarinya oveloaded.

Maka saat berkemas sebelum pindah adalah saat yang sangat tepat untuk memilah mana yang benar-benar kita butuhkan. Beberapa kriteria baju harus pergi dari kehidupanku adalah:

  • Ngga dipake dalam setahun terakhir. Termasuk baju yang sering membuatku berpikir “mungkin nanti ada kesempatan aku bisa pake baju ini” tapi ternyata ngga dipake pake.
  • Baju sarimbit punya suami dikasih ke orang. Aku ngga mau sarimbitan sama orang lain meskipun aku ngga akan bertemu orang itu.
  • Mengalami penurunan kualitas, misalnya karet molor, kena cat mawiya, warna memudar dll
  • Ngga bisa dipake menyusui. Karena aku masih menyusui dan berencana hamil lagi. Jadi buat apa ada baju yang resletingnya di belakang?
  • Aku udah bosen.

Disimpan

Untuk barang yang akan disimpan di Jatim, harus dikemas dengan sangat baik dengan pertimbangan ngga akan dibuka minimal selama 3 tahun. Pecah belah harus aman dari benturan, karena akan menempuh perjalanan panjang. Baju sebisa mungkin dibungkus plastik sebelum masuk kardus, supaya lebih awet kering. Beberapa kain aku simpan dalam vacuum bag alias plastik kedap udara. Sampai di Jatim, lemari penyimpanan aku penuhi dengan kapur barus.

Dibawa pindah

Panduan dari kantor tidak menyarankan kami untuk membawa barang terlalu banyak, karena hampir semuanya mudah didapat di tempat baru. Jadi kami tidak menggunakan kontainer untuk pindahan kali ini. Cukup memaksimalkan jatah bagasi dan kabin untuk 4 orang. Kalopun kepepet bisa beli bagasi tambahan.

Beberapa alat pendukung yang membantu aku banget untuk urusan mengemas, diantaranya:

  1. Plastik kedap udara. Plastik ini sangat membantu untuk menghemat ruang. Sekali lagi, ruang. BUKAN berat. Beberapa benda ukurannya besar, tapi ringan, contoh boneka, bahan flanel, wool. Kalau untuk disimpan di lemari sih, ngga perlu memikirkan berat. Tapi kalau untuk koper, harus diperhatikan betul beratnya. Jangan sampai karena merasa masih ada ruang di koper, kita terus aja memenuhinya sampai melebihi batas bagasi. 
  2. Penyedot debu. Aku beli plastik vacuum di ace hardware dan 3 online shop lain. Plastik yang beli di online shop, semua gratis pompa manual (sudah terkumpul 5 pompa anyway). Bentuknya kaya pompa balon. Menurutku pompa ini useless. Aku ngga berhasil mengeluarkan udara dari dalam plastik. Cuma nambah nambahin pegel di tangan aja. Plastik vacuum hanya akan efektif dengan pompa elektrik atau vacuum cleaner
  3. Timbangan koper. Atau timbangan badan, meskipun akan sulit melihat angkanya. Pada timbangan koper, posisi angka lebih mudah dilihat. Kalau kebetulan bertetangga dengan posyandu, bisa juga pinjam timbangan gantung yang biasa dipake bayi itu. Kalau bidannya ngijinin.
  4. Kontainer plastik. Yang aku punya ini kebetulan merk-nya lock n lock. Tadinya berfungsi sebagai penyimpanan bumbu dapur. Ketika pindahan begini bisa difungsikan untuk menyimpan benda keras yang ukurannya kecil dan mudah tercecer, kaya jepit rambut anak gadis, aksesoris, cetakan jeli. Meskipun cuma plastik, rasanya belum rela kasih ke orang 😀 . Aku mulai beli waktu di Syria dulu dan terus bertambah di Indonesia. Nanti di tempat baru, kontainer ini akan kembali masuk dapur.
  5. Kain flanel & pita. Kain flanel ini aku gunakan untuk membungkus pakaian anak-anak di koper kabin. Aku butuh sesuatu untuk menjaga pakaian kecil ini tetap rapi, tetap pada tempatnya, mudah dicari dan diambil.
  6. Kantong kecil. Di toko banyak dijual kantong kantong organizer untuk bepergian. Tapi kita ngga harus beli. Bisa pake kantong seadanya di rumah. Kantong atau dompet kecil ini berfungsi untuk menyimpan benda kecil di kabin. Seperti cemilan anak-anak, peralatan mandi, obat-obatan, kosmetik, charger, dll. Menyimpannya dalam kantong yang berbeda akan memudahkan kita menemukannya.
  7. Kardus. Aku hampir selalu menyimpan kardus pembungkus barang yang aku beli, berikut busa di dalamnya. Ini penting banget untuk bangsa nomaden macam kami. Blender akan tetap utuh dan terjaga dengan baik meski dibawa lintas negara.
  8. Stiker label. Tentunya untuk melabeli. Misalnya, catatan isi dan berat koper. Sekaligus berfungsi untuk mainan Mawiya *sigh* apasih yang ngga jadi mainan….
  9. Gunting & lakban.
  10. Kapur barus. Yang ini untuk keperluan penyimpanan barang yang akan ditinggal beberapa tahun.
  11. Koyo. Kami dapet jatah bagasi 148 kg yang harus dibagi dalam 7 koper. Ngga boleh kurang karena rugi dong. Jadi tiap selesai menata koper, aku angkat untuk ditimbang. Kurang, isi lagi. Timbang lagi. Kebayang ga apa yang terjadi sama otot lengan? Pijet? Tak de waktu lah….

So, itulah beberapa peralatan perang kami. Sampai sekarang aku masih bermimpi punya koper kaya punya Harry Potter. Yang seisi rumah bisa masuk ke dalamnya.

Btw aku punya tips pindahan ala-ala.

  1. Siapkan satu koper untuk baju seminggu sebelum pindah. Anggaplah kita sudah tidak berada di rumah. Pilih baju yang mudah dicuci, dan mudah padu padannya. Menjelang kepindahan biasanya ada acara perpisahan. Kita perlu menyiapkan baju yang pantas untuk itu juga. Setelah ini akan lebih mudah mengosongkan isi lemari.
  2. Berhenti memasak seminggu sebelumnya. Mengemas peralatan dapur tidak semudah mengemas baju, menurutku. Karena baju bisa dilipat dan disesel-seselin koper sampai detik terakhir sebelum berangkat. Tapi panci enggak. Harus diatur yang rapi supaya ngga makan tempat, ngga gelondangan, ngga pecah dll. Selain itu juga untuk menghemat waktu dan tenaga kita. Pindahan ini sangat menguras keduanya.
  3. Lakukan pengemasan di satu ruangan khusus. Ini membantu mengurangi stress karena tidak semua ruangan berantakan. Sekaligus memudahkan kita mengecek ruangan, apakah semua sudah dikosongkan.
  4. Kemas pakaian berdasarkan jenis, selain berdasarkan pemilik. Supaya di tempat baru nanti tidak perlu membongkar semua koper. Misalnya, baju hangat di satu koper. Karena kami pindah di musim panas, koper baju hangat akan tetap tertutup sampai beberapa bulan ke depan. Jadi barang tidak terlalu berantakan selagi rumah belum siap.
  5. Buat daftar manifes. Ini akan memudahkan kita mencari barang tertentu tanpa harus membuka kemasan koper atau kardus.
  6. Hitung dengan cermat, mana yang lebih besar biayanya, mengirim barang, atau menjual barang itu dan membeli lagi di tempat baru? Tidak hanya nominal rupiahnya, tapi juga nilai resikonya.
  7. Mainan harus mudah diakses. Mainan adalah barang primer anak anak. Tidak perlu semuanya. Beberapa saja sesuai kesepakatan orangtua dan anak.
  8. Anak-anak disimpen dimana? Libatkan mereka dalam prosesnya. Aku bilang sama duo ratu, “Beberapa hari ini kita akan packing setiap hari, seharian penuh. Mama ngga punya waktu untuk main. Jadi Mawiya tolong bantu Mama untuk jagain Nahrisyah ya. Ajak dia main, bantu dia kalo butuh sesuatu, biar dia ngga sering sering minta micuma.” Hasilnya, Narisya lapar, disuapin Mawiya. Narisya minta susu, diambilin Mawiya. Narisya numpahin susu, Mawiya teriak, “Mamaaaa… Narisya mau menunjukkan hasil karyanyaaaa..” Packing berhenti. Ngepel dulu.
  9. Tidur tepat waktu dan makan makanan sehat. Minum suplemen jika perlu. Berhenti masak, bukan berarti kita makan junk food tiap hari.

Drama Ramadlan 1438 H

Sepertiga pertama di Ramadlan ini telah berlalu. Rasanya begitu cepat. Ini tahun kedua untuk Mawiya berpuasa. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dari tahun lalu. Ketika dia pertama kali puasa di akhir usia 4 tahun, dia belum bangun untuk sahur dini hari. Sahurnya dimulai jam 8 sepeti jam sarapan seperti biasa. Kemudian dia akan berpuasa sampai maghrib. Alhamdulillah dia berhasil melaluinya dengan baik. Itu keren banget menurutku, soalnya aku sendiri masih puasa setengah hari waktu umur 7 tahun. Sementara dia sudah puasa full di usia 5 tahun.

Kupikir tantangan terbesarnya adalah berada di tengah teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa. Ternyata bukan itu. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam rumah. The most uyel-uyel-able creature in the house, Nahrisyah.

Malam itu Mawiya mendadak ngambek ngga mau ikut tarawih. Ramadlan tahun ini kami mengkondisikan dia untuk shalat lima waktu plus tarawih, dengan kartu ber-stiker. Aku tanya kenapa ngga mau shalat. Ngga suka wudlu, jawabnya. Dia terus saja menolak untuk shalat, sampai akhirnya aku shalat sendiri. Papanya kebetulan sedang ada acara di kantor.

Selagi aku shalat, dia hanya diam cemberut, gedebag-gedebug di kasur ngga jelas. Jelas dia kesal. Selesai shalat, aku suruh dia untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Dia kembali merengek, minta ke kamar mandi sama aku. Lah biasanya ke kamar mandi sendiri, sekarang minta ditemani. No! Dia mulai menangis.

“Ada apa sebenarnya? Kamu ngga mau shalat. Ke kamar mandi mau ditemani. Kenapa?”
“Nahrisyah ngga mau wudlu,” jawabnya sambl menangis.
“Loh, apa hubungannya sama Nahrisyah?”
“Aku mau dia melakukan semua yang aku lakukan!”

Oooohhh… crystal clear! Jadi ini masalahnya. Dia cemburu karena Nahrisyah ngga harus shalat dan puasa seperti dia. Ini bayi emang godaan banget. Kerjaannya buka kulkas melulu. Inspeksi isi kulkas, dan mondar mandir dari kulkas ke depan tv sambil bawa makanan. Pada hari pertama puasa Ramadlan, Mawiya menarik bajunya sampai menutupi wajahnya waktu Nahrisyah datang membawa yoghurt dingin. Aku angkat Nahrisyah menjauh dari kakaknya, dia lari lagi menuju tempat semula.

Setelah melalui dialog panjang, alhamdulillah dia mengerti apa bedanya dia dengan bayi 1,5 tahun ini. Setelah itu, kalau lihat Nahrisyah membawa makanan, dia hanya berkata, “Jangan makan di depan kakak ya.. kakak lagi puasa.” Ajaibnya, bayi ini terus pergi dari hadapan kakaknya hahahaha….

Kupikir ini sudah selesai. Kalau hanya ucapan ingin makan, atau ngga sabar nunggu maghrib, biasalah… Yang dewasa aja juga suka begitu. Tapi ternyata ada episode drama lagi. Aku haid. Sebelum ini kami sudah sering bicara tentang haid. Dia sudah tahu wanita dewasa akan haid. Dia juga tahu wanita haid itu tidak boleh shalat. Selama ini ngga pernah drama kalau aku haid. Nah, karena Ramadlan ini ada kartu ber-stiker, dia jadi dilema. Dia ingin shalat dan mendapat stiker, sekaligus iri kenapa aku boleh tidak shalat.

Sepanjang periode haid, 5x sehari, dia terus mempertanyakan kapan aku selesai haid. “Aku mau mama berhenti haid.” “Mama curang, ngga perlu wudlu, ngga perlu shalat.” “Udah adzan, tapi mama tetap saja ngga shalat.” Dan berbagai protes lainnya. Untung ngga pake spanduk. Dia beneran ngga mau shalat, kecuali papanya ada di rumah. Itupun tetep diiringi protes. Sepanjang periode haid pula, 5x sehari, kami berdua berusaha menjelaskan tentang konsekuensi haid. Bahwa dia nanti juga akan haid pada usia tertentu. Ketika itu dia akan resmi menjadi dewasa, serta memiliki tanggung jawab dan konsekuensi yang berbeda dengan sebelum haid. Bahwa haid itu tidak sekedar “ngga shalat”.

Pernah membaca panduan jawaban untuk pertanyaan anak di facebook? Itu hal yang sangat baik untuk dipelajari orangtua. Tapi jangan berharap anak akan menerima pada penyampaian pertama. Dia akan bertanya lagi malamnya, esoknya, lusanya, sampai pada titik kita berpikir, “Ya Tuhan… nanya lagi! Udah dikasih tau berkali-kali masih nanya lagi!!!”

Panduan jawaban yang benar itu penting. Pake banget. Tapi jangan lupa, selain kemampuan bikin orangtuanya bingung, anak juga punya kekuatan super untuk nanya hal yang sama berulang-ulang-ulang-ulang. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu juga harus dikalikan dengan jumlah anak yang kita punya.

Salam…

Lebih dari satu tahun berlalu sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Postingan terakhir tentang arti nama putri kedua kami. Selama hamil pun aku tidak menulis karena tidak betah berlama-lama di depan layar laptop. Apalagi mengurus Mawiya sudah cukup menguras waktu.

Alhamdulillah Allah menyetujui rencana kami menambah anak. Usia Mawiya pun sudah pas untuk menjadi kakak.

Sebenarnya dia sudah memulai menyebar berita ke guru dan teman-temannya “di perut Mama ada adek bayi”, meskipun waktu itu kami berdua belum berencana punya anak lagi. Jadilah orang di sekolah pada kasih selamat hahaha… Oke deh, ini kode kalo dia memang sudah siap menjadi kakak. Sebelumnya kalau ditanya, “Mawiya mau punya adek ga?” Dia selalu menjawab, “Ngga ah.. aku mau anjing aja.” Atau kali lain dia jawab ingin kucing. Aku tanya, buat apa anjing dan kucing. Dia jawab, untuk main hahaha..

Aku mengetahui kehamilan ini ketika sedang berjauhan dengan Rahmat. Dia sedang dinas ke Papua. Karena cukup lama, jadi aku pulang ke Pasuruan. Seperti kehamilan sebelumnya, dia yang ngeh duluan kenapa aku belum datang bulan. Benar, aku hamil.

Saat di Papua itu dia menerima perintah dari kantor untuk berangkat ke Yaman. Begitu menerima tugas ke Yaman, dia berencana untuk menemuiku di Pasuruan, sepulangnya dari Papua. Tapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Dia pun berangkat ke Yaman, tanpa menemuiku, selama kurang lebih 2 minggu.

Yaman di bulan April 2015 bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi. Perang sedang berkecamuk. WNI disana harus segera di evakuasi. Kemlu pun menurunkan tim untuk membantu percepatan proses evakuasi. Untuk kedua kalinya, setelah Suriah, suamiku bersentuhan lagi dengan negara konflik. Tidakkah aku khawatir? Entahlah. Kematian bisa datang kapan saja dimana saja. Biarlah dia dalam lindungan Tuhan yang menciptakannya.

Komunikasi kami berjalan cukup lancar. Kecuali video call yang sering tersendat karena di Sana’a sering mati listrik. Selebihnya kami bisa chatting via whatsapp. Kantor memperpanjang tugas Rahmat disana hingga sebulan.

Aku mulai merasa mual dan pusing. Untungnya sedang berada di rumah orangtua. Ada banyak keluarga yang membantu mengurus Mawiya. Hingga sore itu, 20 April 2015, Rahmat menyapaku di WA. Menanyakan kabarku dan mengatakan, “Aku lagi di wisma duta. Barusan ada bom di KBRI”.

Aku terkejut. Sejauh apa jarak dari KBRI ke wisma duta? Apa yang dia lakukan disana?

Dia bilang dia baik-baik saja dan sekarang sedang menenangkan orang-orang yang shock. Dia mengirimiku foto terbarunya. Memakai sweater biru tua, berdiri di salah satu ruangan wisma duta. Tidak lama kemudian muncul berita di TV dan radio tentang pengeboman itu. Orangtuaku mulai cemas. Aku meyakinkan mereka bahwa Rahmat baik-baik saja.

Video-video yang ditayangkan di TV itu begitu mengerikan. Aku masih berpikir Rahmat selamat karena dia berada di wisma duta. Sambil terus chatting dengannya, baru aku sadar bahwa ketika terjadi ledakan itu, dia sedang berada di KBRI. Setelah itu bersama WNI lainnya, mereka menuju wisma duta. Barulah dia menghubungiku setelah situasi lebih terkendali.

Copot rasanya jantungku! Meski aku tahu dia baik-baik saja, mengetahui situasi yang baru saja dialaminya membuatku tidak tenang. Sangat tidak tenang. Apalagi yang bisa terjadi? 3 tahun sebelumnya, sebuah bom mobil meledak tengah malam di depan apartemen kami, beberapa minggu setelah aku dan Mawiya pulang ke Indonesia, meninggalkan Rahmat di Suriah. Lalu beberapa bulan setelah itu, ketika dia bersama seorang staff KBRI dan seorang pengacara pergi ke bandara Damaskus, mobilnya ditembak pasukan oposisi dari kaca penumpang menembus kaca sopir. Serpihan kaca memenuhi wajahnya. Dan sekarang, dia berada di tempat yang terkena efek ledakan dahsyat.

Aku tahu, kematian itu bisa datang setiap saat. Aku juga tahu bahwa meski kita berada di situasi yang sangat berbahaya, jika Allah masih mengijinkan kita untuk hidup, maka kita pasti selamat. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menahan air mataku. Perasaan dan pikiran buruk menguasaiku.

Pemberitaan media tentang peristiwa itu makin sering. Keluarga, teman-teman dan kerabat menanyakan kabar kami dan mengucapkan doa-doa terbaik. Aku berterima kasih atas empati yang disampaikan oleh Presiden Jokowi atas kejadian itu. Untuk pertama kalinya, aku merasa keberadaan kami diakui oleh negara.

Yah.. inilah salah satu resiko menikah dengan diplomat. Tidak selamanya berisi hal-hal indah. Berkesempatan keluar negeri memang menyenangkan. Tapi dibalik itu, akan selalu ada keringat dan darah yang mengiringi. Dan dari semua itu, kebersamaan kami adalah hal yang terpenting.

Jawa Timur : Batik, Rafting & Hiu

… Sebelumnya

1 Januari 2015

Waktu hunting tiket pesawat beberapa hari yang lalu, harga termurah ada pada penerbangan terakhir tanggal 31 desember, dan penerbangan pertama tanggal 1 januari. Memperhitungkan macet di jalan menuju dan dari bandara, kami pilih penerbangan pertama tanggal 1 januari. Ternyata emang enak, lalu lintas lancar waktu menuju bandara Soehat dan dari bandara Juanda.

Jam 6.30 pagi sampai di Juanda, Ama, Buya dan adekku sudah menunggu disana. Dari Juanda kami berencana ke Pasar Batik Bangkalan. Sebelumnya mampir masjid bandara dulu untuk mandiin Mawiya. Kami melewati jembatan Suramadu menuju pulau Madura. Pasar Batik Bangkalan terletak di pusat kota Bangkalan.

Seperti halnya kampung Kauman di Solo, Pasar Batik Bangkalan ini bikin mataku jereng! Kain-kain batik ini cantik banget! Para penjual menawarkan harga yang ngga kira-kira. Kain-kain ini harus ditawar sampai lebih dari separuh harga. Kain yang aku suka dihargai 900 ribu dan dilepas dengan harga 350 ribu.

Penjual di kampung Kauman, Solo sepertinya lebih rasional dalam memberi harga. Meskipun harga memang dinaikkan untuk turis, tapi setidaknya lebih masuk akal. Ada kain batik di pasar ini yang menawarkan selembar kain batik seharga 3 juta. Cantik banget emang.. tapi 3 juta? Ngga segitunya juga kelleesss.. Masa abis nawarin 3 juta trus turun jadi 1,5 juta. Mana ada orang yang mau kehilangan duit 1,5 juta begitu saja. Ada banyak sekali pilihan motif batik khas Madura di pasar ini. Penjualnya juga sangat banyak, jadi jangan ragu untuk meninggalkannya kalo masih kemahalan.

Aku bertemu dengan 2 teman SMU ku yang tinggal di Madura. Nurul dan Nisa. Ketemu Nurul di pasar batik dan menghadiahi aku dua kantong besar berisi cemilan. Ketemu Nisa dirumahnya, dan berasa sedang di warung. Datang, makan, pulang. Nisa juga membawakan aku sekarung kerupuk yang enak benget. Serunya sekolah di pesantren, teman tersebar di mana-mana!

image
Bersama Nurul di Pasar Batik Bangkalan

Rumah Nisa terletak di dekat penyebrangan Kamal. Sebelum ada jembatan Suramadu, penyebrangan ini adalah satu-satunya penghubung pula Madura dan Jawa. Antriannya bisa berjam-jam. Perjalanan fery-nya sendiri hanya sekitar 15 menit. Sekarang sudah sangat jauh berkurang. Hari ini bahkan tidak ada antrian. Biaya tol Suramadu memang lebih murah dibanding penyebrangan Kamal. Tapi untuk penduduk yang lokasi rumahnya seperti Nisa, penyebrangan Kamal tetap jadi pilihan karena lebih dekat.

image
Di depan rumah Nisa

Mawiya senang sekali bisa naik fery. Dia berdiri di pinggir pagar kapal sepanjang perjalanan. Tidak lupa komentar pedas kalo lihat sampah di laut. “Orang-orang mesti buang sampah sembarangan! Kan lautnya jadi kotor!”
image

Di sebelah kami ada seorang ibu yang membawa kresek hitam berisi kelengkeng. Dia mengupas buah untuk dirinya sendiri dan anaknya. Kulit dan bjinya dilempar sesuka hati ke laut. Mawiya menoleh ke arahku dan bicara keras sekali dengan suaranya yang cempreng, “Iiihh.. kenapa buang sampah sembarangan? Nanti kan lautnya jadi kotor!” Aku merasa tidak enak mendengarnya, tapi akhirnya aku bilang, “Iya ya.. kenapa ngga ditaroh plastiknya lagi aja Bu?” Ibu itu lalu berhenti melempar kulit dan biji kelengkeng.

Untuk menegur perilaku publik yang salah itu, Mawiya jauh lebih pemberani daripada aku.

2-6 Januari 2015

Kami menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Pasuran dan Mojokerto.

7 Januari 2015

Seru-seruan terakhir sebelum liburan berakhir. Jam 5 pagi kami berangkat dari Mojokerto ke Pasuruan, lalu lanjut ke Probolinggo. Kami mau rafting disana. Mawiya langsung diangkat dengan baju tidrnya, pindah tidur di mobil. Jam 10 siang kami sampai di Probolinggo.

Probolinggo dianugerahi sungai-sungai yang lebar, deras dan penuh batu besar. Pas banget buat arung jeram. Ada beberapa pengelola wisata arung jeram, Regulo, Songa dan Noars. Masing-masing punya jeram, ketinggian, dan durasi waktu yang berbeda. Kali ini kami mencoba trip Songa Atas (ada Songa Bawah yang lebih pendek). Pengennya sih Mawiya juga ikut, tapi ternyata ga boleh. Minimal usia 7 tahun.
image

Kita bebas mau pake baju apa aja. Tapi yang disarankan tentu saja outdoor fit. Kaos, celana pendek, tidak berbahan parasut karena nanti pasti menggembung kena air. Atau baju renang panjang. Segala aksesoris sebaiknya dilepas. Setelah mendapat helm, jaket pelampung dan dayung, kami mendapat briefing awal dari mas-mas pemandu.
image

Untuk menuju ke titik awal arung jeram, kita harus naik kendaraan. Mobil bak terbuka cyind.. seru abis! Jalanannya sempit, tidak rata dan berkelok-kelok. Berasa mau jatuh ke jurang kalo ada mobil dari arah berlawanan. setelah mobil berhenti, kita masih harus berjalan kaki, entah berapa jauh dan berapa lama. Tidak ada hanphone, jam dll. Nikmati saja perjalanan yang naik turun, terjal dan berbatu ini. Setidaknya ada dayung yang bisa difungsikan sebagai tongkat pegangan.
image

Sesampainya di bibir sungai, mas-mas pemandu membagi kami dalam 2 kelompok. Masing-masing perahu bisa diisi 5-7 orang, termasuk satu pemandu. Karena kami datang cuma bertujuh, jadi satu kelompok berisi 4 orang plus 1 pemandu, satu kelompok lainnya berisi 3 orang plus 2 pemandu.

Mas-mas pemandu kemudian memberi briefing tentang cara memegang dayung, cara mendayung, dan kode-kode yang harus diingat beserta artinya. Mulailah keseruan ini. Apalah artinya arung jeram tanpa teriakan! Tenggorokanku seperti mau putus setelahnya.

Tidak peru khawatir soal dokumentasi karena pengelola sudah menyiapkan fotografer di spot-spot terbaik. Memang harus bayar untuk tiap file yang kita pilih. Tapi worth it lah.. Mereka sudah tau pasti dimana bisa memperoleh gambar dengan ekspresi dan pemandangan yang fantastis. Salah satunya di air terjun dan gua kelelawar.

image
Apa jadinya kejatuhan air kayak gini tanpa helm..

image
Jelas terlihat kalo yang kerja mas pemandunya doang 😀

Ditengah perjalanan arung jeram ini kami mendengar suara melengking dan jatuhnya air. Ternyata kami melewati tebing-tebing yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Suaranya sih masih tahan. Tapi baunya… Menyengat banget!!! Ribuan kelelawar itu menakjubkan! Tebing-tebing itu seperti ditutup tirai yang terbuat dari tetesan air. Indah sekali. Rasanya seperti berada di dunia lain.

image
Warna hitam dibalik air terjun itu adalah ribuan kelelawar. Warna hijau adalah lumut

Setelah separuh perjalanan, kita berhenti di sebuah pondok di pinggr sungai. Pengelola menyediakan makanan ringan disana. Pisang goreng dan teh rempah yang hangat. Aliran air di sekitar pondok lebih tenang dibanding sebelumnya, dan tidak ada batu-batu besar. Pemandu yang jahil akan membalikkan perahu sehingga semua orang jatuh tercebur ke sungai. Tenang.. sudah pake pelampung kan..

Perjalanan lalu berlanjut sampai di garis finish. Total semuanya 2-2,5 jam. Lalu kami kembali melewati jalan setapak yang menanjak dan berbatu, untuk kembali naik mobil bak terbuka, menuju pos dari arah yang berlawanan waktu berangkat tadi.

Setelah mandi, berganti pakaian dan salat, saatnya makan siang. Nasi jagung dan kawan-kawanya ini terasa enak banget! Pas dengan suasana pedesaan. Apalagi teh rempah-rempahnya.. Juara! Makan siang ini sudah termasuk dalam harga paket sebesar 269 ribu per orang. File foto dijual terpisah.

Kami sudah lumayan capek, tapi pemandu kami menawari mampir ke pantai Bentar. Aku sudah sering melewatinnya, tapi tidak pernah tertarik untuk mampir. Pantai Bentar di Probolinggo yang terletak di jalur pantura ini tidak memiliki garis pantai berpasir, melainkan tebing. Karena tadi Mawiya agak kecewa ngga boleh ikut rafting, akhirnya kami memutuskan mampir ke Pantai Bentar untuk naik perahu.

Mawiya senang sekali bisa naik perahu. dia bilang “Yeay.. kita rafting!” Ooohh kasian sekali kamu nak… Kita akan datang lagi 4 tahun mendatang ya.. Makin lama, perahu makinn jauh meninggalkan pantai. Angin berhembus makin kencang, dan kapal bergoncang makin keras. Kami mulai ngeri. Delapan orang dewasa, satu anak, dan dua orang pemandu di dalam kapal kayu. Ban pelampung yang tersedia hanya 6. Kalo terjadi sesuatu mo minta tolong siapa? Ngga lucu banget deh..

Suamiku akhirnya bilang ke pengemudi supaya berbalik arah ke pantai. Entah ngga denger, entah ngga ngerti, bapak itu diam saja. Suamiku bilang lagi dan dia hanya menjawab, “sebentar..” Sementara kapal makin jauh ke tengah laut. Ini ngga mungkin mau menyebrangi lautan sampai ketemu pulau lain kan..

Suamiku lalu bertanya pada pengemudi, “kita mau kemana?” Bapak itu menjawab pendek, “Nyari hiu.” HAAAHHHHH!!! Ngga salah denger apa? Maksudnya apa coba nyari hiu.. Suamiku bertanya lebih lanjut.

Bapak itu lalu menjelaskan kalau disitu banyak hiu totol yang sering muncul ke permukaan. Hiu-hiu ini merupakan satwa yang dilindungi, dan Pantai Bentar ternyata adalah cagar alam untuk hiu-hiu totol.
image

Tuhan.. Kenapa Bapak itu ngga bilang dari tadi.. Sepanjang perjalanan dia diam saja, ngga ngomong kalo ngga ditanya. Mungkin bapak itu sendiri berpikir kami sudah berniat dari awal untuk melihat hiu. Kenyataannya kami sama sekali ngga tahu.

Perahu lalu terasa berbelok ke kiri. Perasaanku sih begitu, karena pemandangan semua sama, biru. Tiba-tiba bapak itu berkata, “itu hiunya.. item-item itu..” Kami mulai mencari-cari, tapi hanya terlihat air. Bapak itu terus menunjuk ke depan ke arah sesuatu berwarna hitam yang tidak terlihat oleh kami. Ini apa-apaan sih..

Lama-lama kami melihat segitiga-segitga kecil berwarna hitam, jauh di depan. Itu sirip hiu! Subhanallah.. jantungku seperti mau copot! Seperti di film kartun saja. Rupanya pandangan kami kurang ke depan, jadinya kami ngga melihat adanya hiu. Makin lama makin dekat, hiu-hiu tampak jelas di permukaan. Badannya sepanjang perahu yang kami naiki. Kepalanya terlihat pipih dan mulutnya lebar. Tidak runcing seperti penampakan hiu pada umumnya. Kulitnya hitam dengan totol-totol putih. Mereka berenang bebas di sekitar perahu kami.
image

Tidak tahu ada berapa banyak hiu yang kami lihat sore itu. Kami terkesima. Menahan nafas waktu hiu berenang ke arah kami. Hiu itu akan menabrak kapal. Tapi pengemudi buru-buru berbelok, memberi jalan pada hiu itu.

Hiu-hiu cantik ini menjadi penutup liburan tahun baru kami. Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan. Mulai dari kuliner yang lezat, kain-kain tradisional yang cantik sampai menjelajahi alam yang indah dan memacu adrenalin. Semua itu bahkan terasa jauh lebih indah karena adanya keluarga dan teman-teman teristimewa.

Untuk aku dan suami, liburan kali ini bikin kami makin bingung gimana caranya mengunjungi destinasi wisata yang tidak ada habisnya di Indonesia…