Category Archives: Keluarga

Kami Pergi (lagi)

Sejak ketetapan kantor tentang penugasan suamiku dikeluarkan pada februari 2017 lalu, kami menerima banyak sekali sambutan dari saudara dan teman. Hampir semuanya menunjukkan ekspresi gembira dan antusias. Betapa menyenangkannya hidup di negara lain. Bertemu dengan orang baru, bicara dengan bahasa baru, mengalami budaya baru.

Lalu mulailah segala persiapan seru itu. Mempelajari tentang negara tujuan penempatan nanti. Apa saja yang perlu dibawa kesana. Menginventarisir kebutuhan. Mengikuti berbagai macam pembekalan dan orientasi. Memeriksakan kesehatan keluarga. Tak lupa bagian favoritku, mencari model dan menjahitkan baju baju khas Indonesia.

Tapi apakah semuanya memang terasa indah?

Goodbye Stuffs

Dua tahun terakhir ini kami tinggal di sebuah apartemen sewa. Karena sudah fully furnished, tidak banyak barang yang kami punya. Kami sendiri belum punya rumah. Jadi mau ngga mau, banyak barang yang terpaksa dititipkan ke rumah orangtua di Jawa Timur. Urusan barang ini, masya Allah… baru bab mainan aja rasanya tak kunjung usai. Aku ajak Mawiya untuk memilah mainan, mana yang akan dibawa pindah, mana yang akan disedekahkan, dan mana yang ingin disimpan di Jawa Timur. Baru masukin satu mainan, ketemu mainan yang lama. “Hei ada boneka ini… udah lama aku ngga main ini. Aku mau main dulu ya..” Lah kapan selesainyaaaa??

Demi kewarasan jiwa, akupun memilah secepat mungkin. Lalu aku kasih Mawiya kesempatan untuk berpamitan pada mainannya. “Bye bye toys…” katanya dengan nada sedih dan mata sayu. Aku tanya lagi, “Masih mau cek lagi ngga?” Dia menggeleng pasrah. Sip, semua sudah pada kardusnya. Tiba-tiba Nahrisyah melihat sesuatu yang menarik dari dalam kardus. Koleksi theeter! Dia tarik begitu saja kantong berisi theeter itu, lalu mengeluarkan semua isinya. Good, extra job for me!

Baju aku dan anak-anak, aku yang memilah. Baju suami, dia pilah sendiri. Begitupun buku anak-anak. Peralatan dapur sebagian besar aku hibahkan pada Bibik yang biasa membantu kami. Rumahnya di kampung belakang apartemen. Ada beberapa peralatan yang sangat membantu aku dalam berkemas. Bisa dibaca disini. Ini bukan kepindahan bertahap yang barangnya bisa dicicil. Semua harus beres dalam sekali angkut. Tidak ada jalan kembali.

Goodbye Friends

Pindah rumah berarti pindah sekolah juga. Di Amerika nanti anak-anak harus mendapat imunisasi tertentu sebagai persyaratan masuk sekolah. Sedangkan untuk dokumen, tidak banyak yang harus disiapkan karena Mawiya masih 5 tahun. Catatan hasil belajarnya juga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Sejak 6 bulan yang lalu, aku dan Mawiya berencana akan memberi kenang-kenangan berupa tas rajut kecil untuk teman-temannya. Tidak semuanya, hanya teman satu tim cheerleadingnya. Sebenarnya ini tidak harus, tapi aku ingin anak-anakku punya memori menyenangkan tentang perpisahan. Sudah menjadi jalan hidup mereka untuk sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan orangtuanya. Mereka akan berpisah dengan teman dan saudaranya berulang-ulang.

Tim cheerleading ini namanya Princess. Mawiya bergabung sejak tahun lalu dan chemistry yang tumbuh diantara mereka terasa begitu kuat. Disini Mawiya belajar tentang teamwork. Bahwa kalau kamu ngga konsentrasi, kamu bisa melukai dirimu sendiri dan temanmu. Kalau kamu ngga disiplin latihan, kamu merugikan teman-temanmu yang sudah bersusah payah datang tepat waktu karena ngga bisa membentuk formasi yang benar. Princess menjadi tim yang kompak dan solid.

Dimana-mana, ketika anak kecil berteman baik, biasanya emaknya juga menjadi dekat. Begitupun Mommies Princess. Dari yang awalnya hanya ngobrol latihan, berkembang tentang banyak hal. Maka selain membuat suvenir untuk tim Princess, aku dan Mawiya juga membuat bando mahkota untuk Mommies. Cuma buat heboh-hebohan aja. Mawiya sendiri dengan terlibat dalam proses pembuatan suvenir, dia makin sadar bahwa kami akan pindah, dan kebersamaan bersama teman-temannya akan berakhir.

“Mawiya gimana rasanya mau pindah?”
“Aku ngga tau. Kan aku belum tau Amerika itu seperti apa.”
“Maksudnya, Mawiya senang atau sedih?”
“Hhh..” menghela nafas. Sok gede banget. “Nanti kalo udah sampe sana aku kasih tau. Kalo sekarang aku ngga tau.”
“Oke.. Kalau mau pisahan sama teman-teman, Mawiya gimana rasanya?”
“Mmm…” matanya melihat ke bawah. “Nanti jangan hapus (pesan) whatsapp nya Princess ya..”
“Kenapa?”
“Supaya kita tau mereka lagi ngapain..”

Aku menangkap kesedihan dari nada bicaranya. Mungkin saat itu belum terlalu, karena masih bertemu teman-temannya.

Tibalah kami di hari itu. Ketika kami akan membagikan kenang-kenangan untuk Princess. Mawiya terlihat biasa saja. Aku yang lebay. Pake nangis segala. Bersama tim ini, kami mengumpulkan 2 piala juara 1 kompetisi tingkat DKI, 1 medali perak dan 1 medali perunggu di even olimpiade klub gym kami. Juga sebuah pertunjukan resital yang megah. Semua latihan yang ketat ini berakhir manis. Princess akan mengikuti kompetisi nasional, tetapi Mawiya tidak lagi tergabung sebagai tim. Semua penghargaan itu menjadi akhir yang menyenangkan untuk Mawiya. Sementara aku membayangkan situasi ini akan terus berulang. Ketika kita menjalin kedekatan dengan teman, ketika kita berhasil meraih penghargaan atas usaha selama ini, datanglah hari itu. Hari ketika kita harus berpindah ke tempat baru.

Goodbye Families

Oh Dear… apa yang paling menyakitkan di dunia ini selain berpisah dengan orang yang kau cintai?

Kami punya kesempatan untuk mudik lebaran sebelum pindah ke Amerika. Kesempatan yang sangat baik untuk berpamitan dengan keluarga besar. Semua orang meluangkan waktu untuk bertemu saudaranya. Setiap kali kesal pada mereka, aku menahan diri untuk tidak mengomel atau bersikap tidak baik. Aku tidak mau mengisi waktu yang sempit ini dengan situasi buruk. Setiap kali bertemu dengan keluarga yang sudah berusia lanjut, mataku terasa panas, membayangkan bisa saja ini terakhir kali aku melihat raga mereka. Setiap kali merasa nyaman berada di dekat mereka, hatiku berdesir, bertanya tanya apakah perasaan ini akan bertahan meski kami berjauhan.

Lebaran kemarin aku bertemu dengan saudara yang sedang merindukan anak perempuannya. Sejak menikah, anak perempuannya itu jarang sekali berkunjung karena suaminya tidak mengijinkan. Padahal jarak rumahnya tidak terlalu jauh. Padahal anak perempuan itu sebelumnya adalah aktivis yang lincah. Padahal anak perempuan itu adalah kesayangan dan kebanggannya. Padahal menantunya itu juga kebanggannya. Lalu sekarang dia merasa seperti tidak punya hak atas anak perempuannya. Lah kan aku jadi heran dengernya… Bukankah suami itu memang lebih berhak atas seorang wanita daripada orangtuanya?

Disini aku merasa pernikahanku dengan Rahmat benar-benar dipenuhi nikmat dan rahmat Allah. Keridloan orangtua membuat langkah kami terasa lebih ringan. Tidak sanggup aku membayangkan apa yang akan kuhadapi seandainya aku jauh dari ridlo orangtua. Aku tahu mereka pasti merasa kehilangan, tapi juga sekaligus ikhlas. Terima kasihku yang tak terhingga pada orangtua atas doa dan keikhlasan mereka untuk hidup kami. Tidak sedikitpun, terucap keberatan dari orangtuaku tentang bagaimana Rahmat membawaku selama ini. Mereka sungguh menempatkan diri menjadi orangtua yang pantas untuk diteladani.

Mawiya sendiri, setiap kali berpisah dengan Teta dan Jiddo, pasti sedih. Pasti drama menangis tersedu-sedu. Entah Teta dan Jiddo yang pergi atau dia yang pergi. Ketika kami kembali ke Jakarta, aku cukup terkesan karena ternyata Mawiya tidak seheboh yang kupikirkan. Dia sedih, tapi hanya sebentar menangis. Sampai di playground, biasanya dia akan langsung main. Ternyata kali ini dia bilang, “aku belum siap main.” Oh My… ucapan itu terasa lebih menyedihkan buatku daripada dia menangis tersedu-sedu.

Akupun mengajak dia untuk duduk di pinggir playground bandara sambil mengawasi Nahrisyah bermain. Untungnya tidak lama kemudian, dia mau bermain.

Di pesawat, situasi cukup terkendali. Dia makan, bercanda dan bermain dengan Nahrisyah. Tiba-tiba dia diam, dan berkata,
” Mama, apakah mengucapkan selamat tinggal itu memang sulit?”
“Ya.. kadang-kadang. Mawiya masih sedih?”
Dia mengangguk sambil mengusap air matanya.
“Mama juga sedih. Teta dan Jiddo juga pasti sedih. Kita semua sedih.”
Dia menarik nafas panjang dan kembali mengusap matanya.

Sebelum kami berangkat ke DC, keluarga datang untuk melepas kami. Dibalik semua kerepotan mengurus bagasi, kesedihan kami bisa jadi lebih besar dari yang tampak. Beginilah kehidupan. Sampai jumpa semuanya. Miss you already..

Longlife Packing!!!

Sebagai rakyat suku nomaden, berkemas adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai. 6 bulan menjelang kepindahan, kami sudah disibukkan dengan berkemas. Sebenarnya ngga harus 6 bulan sebelumnya juga sih. Ini hanya karena kami belum punya tempat tinggal permanen di Jakarta. Tidak ada tempat untuk menyimpan barang yang ngga akan dibawa pindah. Mau ngga mau, barang harus dibawa ke Jatim, titip di rumah orangtua. Mengingat akses, banyaknya barang dan biaya, maka barang yang akan dibawa ke Jatim harus dicicil ketika kami ada kesempatan mudik.

Sebelumnya, sortir barang dulu. Kami membagi dalam 3 kategori. Satu, dijual, disedekahkan dan dibuang. Dua, disimpan di Jatim. Tiga, dibawa pindah.

Dijual, disedekahkan, dibuang

Untungnya kami belum punya furnitur berat macam kursi. Apartemen yang kami sewa sudah menyediakan semuanya. Barang berat yang kami punya cuma kulkas dan dispenser. Dua-duanya dijual dan baru diambil sebelum kami berangkat. Perabotan macam piring gelas sendok, disedekahkan ke Bibik. Banyaknya barang barang semacam ini sungguh bikin aku terpana. Ngga menyangka kalo ternyata banyak banget. Belum termasuk baju baju lama, sepatu, gombal kecil semacam saputangan, atau kain perca bekas crafting.

Tentang baju, berapa banyak baju yang kita punya? Lemari ngga muat sampai harus beli box tambahan? Atau bahkan tertumpuk di rak plastik terbuka. Sudah bersih dan disetrika tapi ngga juga masuk lemari karena repot masukinnya. Lemari overloaded. Ironi untuk hampir semua wanita di dunia, merasa ngga punya baju padahal lemarinya oveloaded.

Maka saat berkemas sebelum pindah adalah saat yang sangat tepat untuk memilah mana yang benar-benar kita butuhkan. Beberapa kriteria baju harus pergi dari kehidupanku adalah:

  • Ngga dipake dalam setahun terakhir. Termasuk baju yang sering membuatku berpikir “mungkin nanti ada kesempatan aku bisa pake baju ini” tapi ternyata ngga dipake pake.
  • Baju sarimbit punya suami dikasih ke orang. Aku ngga mau sarimbitan sama orang lain meskipun aku ngga akan bertemu orang itu.
  • Mengalami penurunan kualitas, misalnya karet molor, kena cat mawiya, warna memudar dll
  • Ngga bisa dipake menyusui. Karena aku masih menyusui dan berencana hamil lagi. Jadi buat apa ada baju yang resletingnya di belakang?
  • Aku udah bosen.

Disimpan

Untuk barang yang akan disimpan di Jatim, harus dikemas dengan sangat baik dengan pertimbangan ngga akan dibuka minimal selama 3 tahun. Pecah belah harus aman dari benturan, karena akan menempuh perjalanan panjang. Baju sebisa mungkin dibungkus plastik sebelum masuk kardus, supaya lebih awet kering. Beberapa kain aku simpan dalam vacuum bag alias plastik kedap udara. Sampai di Jatim, lemari penyimpanan aku penuhi dengan kapur barus.

Dibawa pindah

Panduan dari kantor tidak menyarankan kami untuk membawa barang terlalu banyak, karena hampir semuanya mudah didapat di tempat baru. Jadi kami tidak menggunakan kontainer untuk pindahan kali ini. Cukup memaksimalkan jatah bagasi dan kabin untuk 4 orang. Kalopun kepepet bisa beli bagasi tambahan.

Beberapa alat pendukung yang membantu aku banget untuk urusan mengemas, diantaranya:

  1. Plastik kedap udara. Plastik ini sangat membantu untuk menghemat ruang. Sekali lagi, ruang. BUKAN berat. Beberapa benda ukurannya besar, tapi ringan, contoh boneka, bahan flanel, wool. Kalau untuk disimpan di lemari sih, ngga perlu memikirkan berat. Tapi kalau untuk koper, harus diperhatikan betul beratnya. Jangan sampai karena merasa masih ada ruang di koper, kita terus aja memenuhinya sampai melebihi batas bagasi. 
  2. Penyedot debu. Aku beli plastik vacuum di ace hardware dan 3 online shop lain. Plastik yang beli di online shop, semua gratis pompa manual (sudah terkumpul 5 pompa anyway). Bentuknya kaya pompa balon. Menurutku pompa ini useless. Aku ngga berhasil mengeluarkan udara dari dalam plastik. Cuma nambah nambahin pegel di tangan aja. Plastik vacuum hanya akan efektif dengan pompa elektrik atau vacuum cleaner
  3. Timbangan koper. Atau timbangan badan, meskipun akan sulit melihat angkanya. Pada timbangan koper, posisi angka lebih mudah dilihat. Kalau kebetulan bertetangga dengan posyandu, bisa juga pinjam timbangan gantung yang biasa dipake bayi itu. Kalau bidannya ngijinin.
  4. Kontainer plastik. Yang aku punya ini kebetulan merk-nya lock n lock. Tadinya berfungsi sebagai penyimpanan bumbu dapur. Ketika pindahan begini bisa difungsikan untuk menyimpan benda keras yang ukurannya kecil dan mudah tercecer, kaya jepit rambut anak gadis, aksesoris, cetakan jeli. Meskipun cuma plastik, rasanya belum rela kasih ke orang 😀 . Aku mulai beli waktu di Syria dulu dan terus bertambah di Indonesia. Nanti di tempat baru, kontainer ini akan kembali masuk dapur.
  5. Kain flanel & pita. Kain flanel ini aku gunakan untuk membungkus pakaian anak-anak di koper kabin. Aku butuh sesuatu untuk menjaga pakaian kecil ini tetap rapi, tetap pada tempatnya, mudah dicari dan diambil.
  6. Kantong kecil. Di toko banyak dijual kantong kantong organizer untuk bepergian. Tapi kita ngga harus beli. Bisa pake kantong seadanya di rumah. Kantong atau dompet kecil ini berfungsi untuk menyimpan benda kecil di kabin. Seperti cemilan anak-anak, peralatan mandi, obat-obatan, kosmetik, charger, dll. Menyimpannya dalam kantong yang berbeda akan memudahkan kita menemukannya.
  7. Kardus. Aku hampir selalu menyimpan kardus pembungkus barang yang aku beli, berikut busa di dalamnya. Ini penting banget untuk bangsa nomaden macam kami. Blender akan tetap utuh dan terjaga dengan baik meski dibawa lintas negara.
  8. Stiker label. Tentunya untuk melabeli. Misalnya, catatan isi dan berat koper. Sekaligus berfungsi untuk mainan Mawiya *sigh* apasih yang ngga jadi mainan….
  9. Gunting & lakban.
  10. Kapur barus. Yang ini untuk keperluan penyimpanan barang yang akan ditinggal beberapa tahun.
  11. Koyo. Kami dapet jatah bagasi 148 kg yang harus dibagi dalam 7 koper. Ngga boleh kurang karena rugi dong. Jadi tiap selesai menata koper, aku angkat untuk ditimbang. Kurang, isi lagi. Timbang lagi. Kebayang ga apa yang terjadi sama otot lengan? Pijet? Tak de waktu lah….

So, itulah beberapa peralatan perang kami. Sampai sekarang aku masih bermimpi punya koper kaya punya Harry Potter. Yang seisi rumah bisa masuk ke dalamnya.

Btw aku punya tips pindahan ala-ala.

  1. Siapkan satu koper untuk baju seminggu sebelum pindah. Anggaplah kita sudah tidak berada di rumah. Pilih baju yang mudah dicuci, dan mudah padu padannya. Menjelang kepindahan biasanya ada acara perpisahan. Kita perlu menyiapkan baju yang pantas untuk itu juga. Setelah ini akan lebih mudah mengosongkan isi lemari.
  2. Berhenti memasak seminggu sebelumnya. Mengemas peralatan dapur tidak semudah mengemas baju, menurutku. Karena baju bisa dilipat dan disesel-seselin koper sampai detik terakhir sebelum berangkat. Tapi panci enggak. Harus diatur yang rapi supaya ngga makan tempat, ngga gelondangan, ngga pecah dll. Selain itu juga untuk menghemat waktu dan tenaga kita. Pindahan ini sangat menguras keduanya.
  3. Lakukan pengemasan di satu ruangan khusus. Ini membantu mengurangi stress karena tidak semua ruangan berantakan. Sekaligus memudahkan kita mengecek ruangan, apakah semua sudah dikosongkan.
  4. Kemas pakaian berdasarkan jenis, selain berdasarkan pemilik. Supaya di tempat baru nanti tidak perlu membongkar semua koper. Misalnya, baju hangat di satu koper. Karena kami pindah di musim panas, koper baju hangat akan tetap tertutup sampai beberapa bulan ke depan. Jadi barang tidak terlalu berantakan selagi rumah belum siap.
  5. Buat daftar manifes. Ini akan memudahkan kita mencari barang tertentu tanpa harus membuka kemasan koper atau kardus.
  6. Hitung dengan cermat, mana yang lebih besar biayanya, mengirim barang, atau menjual barang itu dan membeli lagi di tempat baru? Tidak hanya nominal rupiahnya, tapi juga nilai resikonya.
  7. Mainan harus mudah diakses. Mainan adalah barang primer anak anak. Tidak perlu semuanya. Beberapa saja sesuai kesepakatan orangtua dan anak.
  8. Anak-anak disimpen dimana? Libatkan mereka dalam prosesnya. Aku bilang sama duo ratu, “Beberapa hari ini kita akan packing setiap hari, seharian penuh. Mama ngga punya waktu untuk main. Jadi Mawiya tolong bantu Mama untuk jagain Nahrisyah ya. Ajak dia main, bantu dia kalo butuh sesuatu, biar dia ngga sering sering minta micuma.” Hasilnya, Narisya lapar, disuapin Mawiya. Narisya minta susu, diambilin Mawiya. Narisya numpahin susu, Mawiya teriak, “Mamaaaa… Narisya mau menunjukkan hasil karyanyaaaa..” Packing berhenti. Ngepel dulu.
  9. Tidur tepat waktu dan makan makanan sehat. Minum suplemen jika perlu. Berhenti masak, bukan berarti kita makan junk food tiap hari.

Drama Ramadlan 1438 H

Sepertiga pertama di Ramadlan ini telah berlalu. Rasanya begitu cepat. Ini tahun kedua untuk Mawiya berpuasa. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dari tahun lalu. Ketika dia pertama kali puasa di akhir usia 4 tahun, dia belum bangun untuk sahur dini hari. Sahurnya dimulai jam 8 sepeti jam sarapan seperti biasa. Kemudian dia akan berpuasa sampai maghrib. Alhamdulillah dia berhasil melaluinya dengan baik. Itu keren banget menurutku, soalnya aku sendiri masih puasa setengah hari waktu umur 7 tahun. Sementara dia sudah puasa full di usia 5 tahun.

Kupikir tantangan terbesarnya adalah berada di tengah teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa. Ternyata bukan itu. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam rumah. The most uyel-uyel-able creature in the house, Nahrisyah.

Malam itu Mawiya mendadak ngambek ngga mau ikut tarawih. Ramadlan tahun ini kami mengkondisikan dia untuk shalat lima waktu plus tarawih, dengan kartu ber-stiker. Aku tanya kenapa ngga mau shalat. Ngga suka wudlu, jawabnya. Dia terus saja menolak untuk shalat, sampai akhirnya aku shalat sendiri. Papanya kebetulan sedang ada acara di kantor.

Selagi aku shalat, dia hanya diam cemberut, gedebag-gedebug di kasur ngga jelas. Jelas dia kesal. Selesai shalat, aku suruh dia untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Dia kembali merengek, minta ke kamar mandi sama aku. Lah biasanya ke kamar mandi sendiri, sekarang minta ditemani. No! Dia mulai menangis.

“Ada apa sebenarnya? Kamu ngga mau shalat. Ke kamar mandi mau ditemani. Kenapa?”
“Nahrisyah ngga mau wudlu,” jawabnya sambl menangis.
“Loh, apa hubungannya sama Nahrisyah?”
“Aku mau dia melakukan semua yang aku lakukan!”

Oooohhh… crystal clear! Jadi ini masalahnya. Dia cemburu karena Nahrisyah ngga harus shalat dan puasa seperti dia. Ini bayi emang godaan banget. Kerjaannya buka kulkas melulu. Inspeksi isi kulkas, dan mondar mandir dari kulkas ke depan tv sambil bawa makanan. Pada hari pertama puasa Ramadlan, Mawiya menarik bajunya sampai menutupi wajahnya waktu Nahrisyah datang membawa yoghurt dingin. Aku angkat Nahrisyah menjauh dari kakaknya, dia lari lagi menuju tempat semula.

Setelah melalui dialog panjang, alhamdulillah dia mengerti apa bedanya dia dengan bayi 1,5 tahun ini. Setelah itu, kalau lihat Nahrisyah membawa makanan, dia hanya berkata, “Jangan makan di depan kakak ya.. kakak lagi puasa.” Ajaibnya, bayi ini terus pergi dari hadapan kakaknya hahahaha….

Kupikir ini sudah selesai. Kalau hanya ucapan ingin makan, atau ngga sabar nunggu maghrib, biasalah… Yang dewasa aja juga suka begitu. Tapi ternyata ada episode drama lagi. Aku haid. Sebelum ini kami sudah sering bicara tentang haid. Dia sudah tahu wanita dewasa akan haid. Dia juga tahu wanita haid itu tidak boleh shalat. Selama ini ngga pernah drama kalau aku haid. Nah, karena Ramadlan ini ada kartu ber-stiker, dia jadi dilema. Dia ingin shalat dan mendapat stiker, sekaligus iri kenapa aku boleh tidak shalat.

Sepanjang periode haid, 5x sehari, dia terus mempertanyakan kapan aku selesai haid. “Aku mau mama berhenti haid.” “Mama curang, ngga perlu wudlu, ngga perlu shalat.” “Udah adzan, tapi mama tetap saja ngga shalat.” Dan berbagai protes lainnya. Untung ngga pake spanduk. Dia beneran ngga mau shalat, kecuali papanya ada di rumah. Itupun tetep diiringi protes. Sepanjang periode haid pula, 5x sehari, kami berdua berusaha menjelaskan tentang konsekuensi haid. Bahwa dia nanti juga akan haid pada usia tertentu. Ketika itu dia akan resmi menjadi dewasa, serta memiliki tanggung jawab dan konsekuensi yang berbeda dengan sebelum haid. Bahwa haid itu tidak sekedar “ngga shalat”.

Pernah membaca panduan jawaban untuk pertanyaan anak di facebook? Itu hal yang sangat baik untuk dipelajari orangtua. Tapi jangan berharap anak akan menerima pada penyampaian pertama. Dia akan bertanya lagi malamnya, esoknya, lusanya, sampai pada titik kita berpikir, “Ya Tuhan… nanya lagi! Udah dikasih tau berkali-kali masih nanya lagi!!!”

Panduan jawaban yang benar itu penting. Pake banget. Tapi jangan lupa, selain kemampuan bikin orangtuanya bingung, anak juga punya kekuatan super untuk nanya hal yang sama berulang-ulang-ulang-ulang. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu juga harus dikalikan dengan jumlah anak yang kita punya.

Salam…

Lebih dari satu tahun berlalu sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Postingan terakhir tentang arti nama putri kedua kami. Selama hamil pun aku tidak menulis karena tidak betah berlama-lama di depan layar laptop. Apalagi mengurus Mawiya sudah cukup menguras waktu.

Alhamdulillah Allah menyetujui rencana kami menambah anak. Usia Mawiya pun sudah pas untuk menjadi kakak.

Sebenarnya dia sudah memulai menyebar berita ke guru dan teman-temannya “di perut Mama ada adek bayi”, meskipun waktu itu kami berdua belum berencana punya anak lagi. Jadilah orang di sekolah pada kasih selamat hahaha… Oke deh, ini kode kalo dia memang sudah siap menjadi kakak. Sebelumnya kalau ditanya, “Mawiya mau punya adek ga?” Dia selalu menjawab, “Ngga ah.. aku mau anjing aja.” Atau kali lain dia jawab ingin kucing. Aku tanya, buat apa anjing dan kucing. Dia jawab, untuk main hahaha..

Aku mengetahui kehamilan ini ketika sedang berjauhan dengan Rahmat. Dia sedang dinas ke Papua. Karena cukup lama, jadi aku pulang ke Pasuruan. Seperti kehamilan sebelumnya, dia yang ngeh duluan kenapa aku belum datang bulan. Benar, aku hamil.

Saat di Papua itu dia menerima perintah dari kantor untuk berangkat ke Yaman. Begitu menerima tugas ke Yaman, dia berencana untuk menemuiku di Pasuruan, sepulangnya dari Papua. Tapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Dia pun berangkat ke Yaman, tanpa menemuiku, selama kurang lebih 2 minggu.

Yaman di bulan April 2015 bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi. Perang sedang berkecamuk. WNI disana harus segera di evakuasi. Kemlu pun menurunkan tim untuk membantu percepatan proses evakuasi. Untuk kedua kalinya, setelah Suriah, suamiku bersentuhan lagi dengan negara konflik. Tidakkah aku khawatir? Entahlah. Kematian bisa datang kapan saja dimana saja. Biarlah dia dalam lindungan Tuhan yang menciptakannya.

Komunikasi kami berjalan cukup lancar. Kecuali video call yang sering tersendat karena di Sana’a sering mati listrik. Selebihnya kami bisa chatting via whatsapp. Kantor memperpanjang tugas Rahmat disana hingga sebulan.

Aku mulai merasa mual dan pusing. Untungnya sedang berada di rumah orangtua. Ada banyak keluarga yang membantu mengurus Mawiya. Hingga sore itu, 20 April 2015, Rahmat menyapaku di WA. Menanyakan kabarku dan mengatakan, “Aku lagi di wisma duta. Barusan ada bom di KBRI”.

Aku terkejut. Sejauh apa jarak dari KBRI ke wisma duta? Apa yang dia lakukan disana?

Dia bilang dia baik-baik saja dan sekarang sedang menenangkan orang-orang yang shock. Dia mengirimiku foto terbarunya. Memakai sweater biru tua, berdiri di salah satu ruangan wisma duta. Tidak lama kemudian muncul berita di TV dan radio tentang pengeboman itu. Orangtuaku mulai cemas. Aku meyakinkan mereka bahwa Rahmat baik-baik saja.

Video-video yang ditayangkan di TV itu begitu mengerikan. Aku masih berpikir Rahmat selamat karena dia berada di wisma duta. Sambil terus chatting dengannya, baru aku sadar bahwa ketika terjadi ledakan itu, dia sedang berada di KBRI. Setelah itu bersama WNI lainnya, mereka menuju wisma duta. Barulah dia menghubungiku setelah situasi lebih terkendali.

Copot rasanya jantungku! Meski aku tahu dia baik-baik saja, mengetahui situasi yang baru saja dialaminya membuatku tidak tenang. Sangat tidak tenang. Apalagi yang bisa terjadi? 3 tahun sebelumnya, sebuah bom mobil meledak tengah malam di depan apartemen kami, beberapa minggu setelah aku dan Mawiya pulang ke Indonesia, meninggalkan Rahmat di Suriah. Lalu beberapa bulan setelah itu, ketika dia bersama seorang staff KBRI dan seorang pengacara pergi ke bandara Damaskus, mobilnya ditembak pasukan oposisi dari kaca penumpang menembus kaca sopir. Serpihan kaca memenuhi wajahnya. Dan sekarang, dia berada di tempat yang terkena efek ledakan dahsyat.

Aku tahu, kematian itu bisa datang setiap saat. Aku juga tahu bahwa meski kita berada di situasi yang sangat berbahaya, jika Allah masih mengijinkan kita untuk hidup, maka kita pasti selamat. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menahan air mataku. Perasaan dan pikiran buruk menguasaiku.

Pemberitaan media tentang peristiwa itu makin sering. Keluarga, teman-teman dan kerabat menanyakan kabar kami dan mengucapkan doa-doa terbaik. Aku berterima kasih atas empati yang disampaikan oleh Presiden Jokowi atas kejadian itu. Untuk pertama kalinya, aku merasa keberadaan kami diakui oleh negara.

Yah.. inilah salah satu resiko menikah dengan diplomat. Tidak selamanya berisi hal-hal indah. Berkesempatan keluar negeri memang menyenangkan. Tapi dibalik itu, akan selalu ada keringat dan darah yang mengiringi. Dan dari semua itu, kebersamaan kami adalah hal yang terpenting.

Jawa Timur : Batik, Rafting & Hiu

… Sebelumnya

1 Januari 2015

Waktu hunting tiket pesawat beberapa hari yang lalu, harga termurah ada pada penerbangan terakhir tanggal 31 desember, dan penerbangan pertama tanggal 1 januari. Memperhitungkan macet di jalan menuju dan dari bandara, kami pilih penerbangan pertama tanggal 1 januari. Ternyata emang enak, lalu lintas lancar waktu menuju bandara Soehat dan dari bandara Juanda.

Jam 6.30 pagi sampai di Juanda, Ama, Buya dan adekku sudah menunggu disana. Dari Juanda kami berencana ke Pasar Batik Bangkalan. Sebelumnya mampir masjid bandara dulu untuk mandiin Mawiya. Kami melewati jembatan Suramadu menuju pulau Madura. Pasar Batik Bangkalan terletak di pusat kota Bangkalan.

Seperti halnya kampung Kauman di Solo, Pasar Batik Bangkalan ini bikin mataku jereng! Kain-kain batik ini cantik banget! Para penjual menawarkan harga yang ngga kira-kira. Kain-kain ini harus ditawar sampai lebih dari separuh harga. Kain yang aku suka dihargai 900 ribu dan dilepas dengan harga 350 ribu.

Penjual di kampung Kauman, Solo sepertinya lebih rasional dalam memberi harga. Meskipun harga memang dinaikkan untuk turis, tapi setidaknya lebih masuk akal. Ada kain batik di pasar ini yang menawarkan selembar kain batik seharga 3 juta. Cantik banget emang.. tapi 3 juta? Ngga segitunya juga kelleesss.. Masa abis nawarin 3 juta trus turun jadi 1,5 juta. Mana ada orang yang mau kehilangan duit 1,5 juta begitu saja. Ada banyak sekali pilihan motif batik khas Madura di pasar ini. Penjualnya juga sangat banyak, jadi jangan ragu untuk meninggalkannya kalo masih kemahalan.

Aku bertemu dengan 2 teman SMU ku yang tinggal di Madura. Nurul dan Nisa. Ketemu Nurul di pasar batik dan menghadiahi aku dua kantong besar berisi cemilan. Ketemu Nisa dirumahnya, dan berasa sedang di warung. Datang, makan, pulang. Nisa juga membawakan aku sekarung kerupuk yang enak benget. Serunya sekolah di pesantren, teman tersebar di mana-mana!

image
Bersama Nurul di Pasar Batik Bangkalan

Rumah Nisa terletak di dekat penyebrangan Kamal. Sebelum ada jembatan Suramadu, penyebrangan ini adalah satu-satunya penghubung pula Madura dan Jawa. Antriannya bisa berjam-jam. Perjalanan fery-nya sendiri hanya sekitar 15 menit. Sekarang sudah sangat jauh berkurang. Hari ini bahkan tidak ada antrian. Biaya tol Suramadu memang lebih murah dibanding penyebrangan Kamal. Tapi untuk penduduk yang lokasi rumahnya seperti Nisa, penyebrangan Kamal tetap jadi pilihan karena lebih dekat.

image
Di depan rumah Nisa

Mawiya senang sekali bisa naik fery. Dia berdiri di pinggir pagar kapal sepanjang perjalanan. Tidak lupa komentar pedas kalo lihat sampah di laut. “Orang-orang mesti buang sampah sembarangan! Kan lautnya jadi kotor!”
image

Di sebelah kami ada seorang ibu yang membawa kresek hitam berisi kelengkeng. Dia mengupas buah untuk dirinya sendiri dan anaknya. Kulit dan bjinya dilempar sesuka hati ke laut. Mawiya menoleh ke arahku dan bicara keras sekali dengan suaranya yang cempreng, “Iiihh.. kenapa buang sampah sembarangan? Nanti kan lautnya jadi kotor!” Aku merasa tidak enak mendengarnya, tapi akhirnya aku bilang, “Iya ya.. kenapa ngga ditaroh plastiknya lagi aja Bu?” Ibu itu lalu berhenti melempar kulit dan biji kelengkeng.

Untuk menegur perilaku publik yang salah itu, Mawiya jauh lebih pemberani daripada aku.

2-6 Januari 2015

Kami menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Pasuran dan Mojokerto.

7 Januari 2015

Seru-seruan terakhir sebelum liburan berakhir. Jam 5 pagi kami berangkat dari Mojokerto ke Pasuruan, lalu lanjut ke Probolinggo. Kami mau rafting disana. Mawiya langsung diangkat dengan baju tidrnya, pindah tidur di mobil. Jam 10 siang kami sampai di Probolinggo.

Probolinggo dianugerahi sungai-sungai yang lebar, deras dan penuh batu besar. Pas banget buat arung jeram. Ada beberapa pengelola wisata arung jeram, Regulo, Songa dan Noars. Masing-masing punya jeram, ketinggian, dan durasi waktu yang berbeda. Kali ini kami mencoba trip Songa Atas (ada Songa Bawah yang lebih pendek). Pengennya sih Mawiya juga ikut, tapi ternyata ga boleh. Minimal usia 7 tahun.
image

Kita bebas mau pake baju apa aja. Tapi yang disarankan tentu saja outdoor fit. Kaos, celana pendek, tidak berbahan parasut karena nanti pasti menggembung kena air. Atau baju renang panjang. Segala aksesoris sebaiknya dilepas. Setelah mendapat helm, jaket pelampung dan dayung, kami mendapat briefing awal dari mas-mas pemandu.
image

Untuk menuju ke titik awal arung jeram, kita harus naik kendaraan. Mobil bak terbuka cyind.. seru abis! Jalanannya sempit, tidak rata dan berkelok-kelok. Berasa mau jatuh ke jurang kalo ada mobil dari arah berlawanan. setelah mobil berhenti, kita masih harus berjalan kaki, entah berapa jauh dan berapa lama. Tidak ada hanphone, jam dll. Nikmati saja perjalanan yang naik turun, terjal dan berbatu ini. Setidaknya ada dayung yang bisa difungsikan sebagai tongkat pegangan.
image

Sesampainya di bibir sungai, mas-mas pemandu membagi kami dalam 2 kelompok. Masing-masing perahu bisa diisi 5-7 orang, termasuk satu pemandu. Karena kami datang cuma bertujuh, jadi satu kelompok berisi 4 orang plus 1 pemandu, satu kelompok lainnya berisi 3 orang plus 2 pemandu.

Mas-mas pemandu kemudian memberi briefing tentang cara memegang dayung, cara mendayung, dan kode-kode yang harus diingat beserta artinya. Mulailah keseruan ini. Apalah artinya arung jeram tanpa teriakan! Tenggorokanku seperti mau putus setelahnya.

Tidak peru khawatir soal dokumentasi karena pengelola sudah menyiapkan fotografer di spot-spot terbaik. Memang harus bayar untuk tiap file yang kita pilih. Tapi worth it lah.. Mereka sudah tau pasti dimana bisa memperoleh gambar dengan ekspresi dan pemandangan yang fantastis. Salah satunya di air terjun dan gua kelelawar.

image
Apa jadinya kejatuhan air kayak gini tanpa helm..

image
Jelas terlihat kalo yang kerja mas pemandunya doang 😀

Ditengah perjalanan arung jeram ini kami mendengar suara melengking dan jatuhnya air. Ternyata kami melewati tebing-tebing yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Suaranya sih masih tahan. Tapi baunya… Menyengat banget!!! Ribuan kelelawar itu menakjubkan! Tebing-tebing itu seperti ditutup tirai yang terbuat dari tetesan air. Indah sekali. Rasanya seperti berada di dunia lain.

image
Warna hitam dibalik air terjun itu adalah ribuan kelelawar. Warna hijau adalah lumut

Setelah separuh perjalanan, kita berhenti di sebuah pondok di pinggr sungai. Pengelola menyediakan makanan ringan disana. Pisang goreng dan teh rempah yang hangat. Aliran air di sekitar pondok lebih tenang dibanding sebelumnya, dan tidak ada batu-batu besar. Pemandu yang jahil akan membalikkan perahu sehingga semua orang jatuh tercebur ke sungai. Tenang.. sudah pake pelampung kan..

Perjalanan lalu berlanjut sampai di garis finish. Total semuanya 2-2,5 jam. Lalu kami kembali melewati jalan setapak yang menanjak dan berbatu, untuk kembali naik mobil bak terbuka, menuju pos dari arah yang berlawanan waktu berangkat tadi.

Setelah mandi, berganti pakaian dan salat, saatnya makan siang. Nasi jagung dan kawan-kawanya ini terasa enak banget! Pas dengan suasana pedesaan. Apalagi teh rempah-rempahnya.. Juara! Makan siang ini sudah termasuk dalam harga paket sebesar 269 ribu per orang. File foto dijual terpisah.

Kami sudah lumayan capek, tapi pemandu kami menawari mampir ke pantai Bentar. Aku sudah sering melewatinnya, tapi tidak pernah tertarik untuk mampir. Pantai Bentar di Probolinggo yang terletak di jalur pantura ini tidak memiliki garis pantai berpasir, melainkan tebing. Karena tadi Mawiya agak kecewa ngga boleh ikut rafting, akhirnya kami memutuskan mampir ke Pantai Bentar untuk naik perahu.

Mawiya senang sekali bisa naik perahu. dia bilang “Yeay.. kita rafting!” Ooohh kasian sekali kamu nak… Kita akan datang lagi 4 tahun mendatang ya.. Makin lama, perahu makinn jauh meninggalkan pantai. Angin berhembus makin kencang, dan kapal bergoncang makin keras. Kami mulai ngeri. Delapan orang dewasa, satu anak, dan dua orang pemandu di dalam kapal kayu. Ban pelampung yang tersedia hanya 6. Kalo terjadi sesuatu mo minta tolong siapa? Ngga lucu banget deh..

Suamiku akhirnya bilang ke pengemudi supaya berbalik arah ke pantai. Entah ngga denger, entah ngga ngerti, bapak itu diam saja. Suamiku bilang lagi dan dia hanya menjawab, “sebentar..” Sementara kapal makin jauh ke tengah laut. Ini ngga mungkin mau menyebrangi lautan sampai ketemu pulau lain kan..

Suamiku lalu bertanya pada pengemudi, “kita mau kemana?” Bapak itu menjawab pendek, “Nyari hiu.” HAAAHHHHH!!! Ngga salah denger apa? Maksudnya apa coba nyari hiu.. Suamiku bertanya lebih lanjut.

Bapak itu lalu menjelaskan kalau disitu banyak hiu totol yang sering muncul ke permukaan. Hiu-hiu ini merupakan satwa yang dilindungi, dan Pantai Bentar ternyata adalah cagar alam untuk hiu-hiu totol.
image

Tuhan.. Kenapa Bapak itu ngga bilang dari tadi.. Sepanjang perjalanan dia diam saja, ngga ngomong kalo ngga ditanya. Mungkin bapak itu sendiri berpikir kami sudah berniat dari awal untuk melihat hiu. Kenyataannya kami sama sekali ngga tahu.

Perahu lalu terasa berbelok ke kiri. Perasaanku sih begitu, karena pemandangan semua sama, biru. Tiba-tiba bapak itu berkata, “itu hiunya.. item-item itu..” Kami mulai mencari-cari, tapi hanya terlihat air. Bapak itu terus menunjuk ke depan ke arah sesuatu berwarna hitam yang tidak terlihat oleh kami. Ini apa-apaan sih..

Lama-lama kami melihat segitiga-segitga kecil berwarna hitam, jauh di depan. Itu sirip hiu! Subhanallah.. jantungku seperti mau copot! Seperti di film kartun saja. Rupanya pandangan kami kurang ke depan, jadinya kami ngga melihat adanya hiu. Makin lama makin dekat, hiu-hiu tampak jelas di permukaan. Badannya sepanjang perahu yang kami naiki. Kepalanya terlihat pipih dan mulutnya lebar. Tidak runcing seperti penampakan hiu pada umumnya. Kulitnya hitam dengan totol-totol putih. Mereka berenang bebas di sekitar perahu kami.
image

Tidak tahu ada berapa banyak hiu yang kami lihat sore itu. Kami terkesima. Menahan nafas waktu hiu berenang ke arah kami. Hiu itu akan menabrak kapal. Tapi pengemudi buru-buru berbelok, memberi jalan pada hiu itu.

Hiu-hiu cantik ini menjadi penutup liburan tahun baru kami. Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan. Mulai dari kuliner yang lezat, kain-kain tradisional yang cantik sampai menjelajahi alam yang indah dan memacu adrenalin. Semua itu bahkan terasa jauh lebih indah karena adanya keluarga dan teman-teman teristimewa.

Untuk aku dan suami, liburan kali ini bikin kami makin bingung gimana caranya mengunjungi destinasi wisata yang tidak ada habisnya di Indonesia…

Mawiya’s Spring : No More Tears

2010-2011

Damaskus seharusnya merupakan kota yang tenang, damai dan penuh toleransi. Kota ini memang tidak se-gemerlap Dubai, tapi ia memiliki keindahannya sendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Ia menyimpan segala kenangan indah para nabi, sahabat, raja di masa lalu. Tersimpan dalam bangunan kokoh di kota tua.

Aku mencintai Damaskus melalui proses, tidak pada pandangan pertama. Cinta tumbuh seiring aku menyusuri jalan berbatu di kota tua. Memperhatikan sepatu-sepatu hak tinggi wanita Damaskus yang gemar bersolek, rambut klimis pria Damaskus yang seperti kebanyakan gel, juga cara mereka saling mencium ketika bertemu teman atau saudara. Aku mencintai wanita bersasak yang pergi ke gereja, seperti aku mencintai anak-anak yang berlari gembira di pelataran masjid Umawy. Semakin hari semakin tumbuh, bersama janin dalam perutku.

Tiba-tiba saja ketenangannya terusik. Orang-orang dari barat menamainya Arab’s Spring, musim seminya Arab. Apa mereka pikir selama ini Arab di masa kegelapan seperti gelapnya musim dingin? Menurutku ini tidak seperti musim semi. Segala demo, bom, ledakan, pengungsi, kehilangan orang yang dicintai, bagiku terlihat seperti bencana. Bukan musim semi.

Perang begitu menyakitkan, bahkan bagi orang yang tidak berhubungan dengan perang. Kenapa keluarga kami yang harus terpisah? Kenapa para mahasiswa itu yang harus terhenti kuliahnya? Kenapa anak-anak kami yang harus ketakutan? Kenapa orang-orang lanjut usia itu harus menghabiskan masa tuanya di tenda pengungsian?

2011-2012

Tepat di usia 1 tahun, aku dan Mawiya terpaksa pulang ke Indonesia karena situasi makin buruk. Sebenarnya kekhawatiran sudah ada sejak aku hamil. Seumur hidup tinggal di Pasuruan yang tenang, lalu tiba-tiba mendengar suara bom di negara lain, sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Kami sudah mencari alternatif untuk melahirkan di Beirut kalau situasi tidak memungkinkan.  Tapi alhamdulillah, sampai hari kelahiran, Damaskus masih kondusif untuk ditinggali.

Makin lama suara bom makin sering terdengar. Rumah salah satu staff KBRI bahkan ada yang terkena ledakan. Situasi tidak membaik. Bom yang tadinya hanya terdengar waktu weekend, bertambah frekuesinya. Seminggu sekali, seminggu dua kali, sampai sepanjang minggu selalu terdengar bom dan tembakan. Dari yang awalnya hanya mendengar suara, sekarang kami bisa melihat asap hitamnya dari balkon apartemen. Kaca jendela pun ikut bergetar. Kami memutuskan untuk tidak lagi menempati kamar tidur, karena langsung menuju balkon. Mawiya selalu menyusu ketika merasa takut dan kaget.

Tidak ada lagi acara jalan-jalan di malam hari. Meskipun pemerintah tidak menerapkan jam malam, kami tetap mengkhawatirkan keselamatan kami. Beberapa keluarga KBRI mulai menimbang-nimbang  untuk pulang ke Indonesia, karena khawatir sekolah anak-anak akan terganggu. Listrik pun dipadamkan pada jam-jam tertentu secara bergilir. Awalnya listrik padam 2 jam sehari. Berikutnya tambah lagi menjadi 4 jam. Musim dingin terasa lebih berat karena pasokan solar sebagai bahan bakar penghangat rumah menjadi barang langka. Stok gas untuk memasak pun terbatas. Situasi itu sama sekali tidak membaik setiap harinya.

Kesibukan suamiku makin tidak terkendali. Posisinya di bagian konsuler membuatnya harus berada di kantor hampir 24 jam. Ratusan TKI datang dari penjuru Syria untuk meminta perlindungan. KBRI sendiri tidak hanya menunggu dan menerima WNI yang datang, tapi juga menjemput bola, berusaha mendatangi dan membawa mereka ke Damaskus, untuk kemudian dipulangkan ke Indonesia. Shelter yang tersedia makin sesak, sementara WNI terus berdatangan.

Rumitnya situasi keamanan Syria membuat proses ini tidak berjalan mudah. Orang-orang asing tidak bebas keluar Damaskus. Bahkan yang bertujuan untuk menyelamatkan warga negaranya yang terjebak di tengah perang. Staf di konsuler sudah mulai melupakan keluarganya. Mereka konsentrasi penuh pada misi penyelamatan WNI.

Situasi terasa makin tidak nyaman, terutama sejak salah satu staff KBRI turut menjadi korban penembakan. Siang itu salah seorang staff KBRI sedang membawa mobil kantor ke bengkel langganan untuk di servis. Tiba-tiba saja datang sebuah mobil, dan keluar tembakan bertubi-tubi dari dalamnya. Mereka menembak ke segala arah. Sasarannya adalah pemilik bengkel yang ditengarai anggota penting kelompok oposan. Pemilik bengkel itu sendiri sudah mempersiapkan diri dengan mengenakan rompi anti peluru. Tapi tidak dengan teman kami ini. Kematiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi kami.

Beberapa keluarga KBRI yang tinggal di daerah tepi Damaskus akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Rumah mereka tidak lagi aman untuk dihuni. Mereka pergi meninggalkan suaminya yang masih harus bertugas di KBRI. Sepeninggal keluarganya, para suami ini memilih untuk tinggal di KBRI. Sekolah Indonesia Damaskus di lingkungan KBRI akhirnya ditutup dan berubah menjadi shelter WNI yang makin banyak.

Aku sendiri, karena Mawiya belum masuk usia sekolah, memutuskan untuk tetap tinggal di Damaskus. Tapi ternyata keputusan ini tidak berlangsung lama. Seminggu sebelum Ramadlan 2012, terjadi peperangan di ladang kaktus, sekitar 50 meter saja dari KBRI. Yang berarti 100 meter dari apartemen kami. Suara tembakan sangat jelas terdengar. Aku melihat formasi pesawat di udara, menembakkan peluru dari atas. Seperti ada kembang api di atas sana. Suamiku pun memutuskan, aku dan Mawiya harus pulang ke Indonesia. Tidak saja karena alasan keselamatan, tapi juga agar dia lebih banyak waktu untuk mengurus penyelamatan WNI.

Seperti halnya staf KBRI lain, suamiku akhirnya lebih sering menginap di kantor daripada di apartemen kami. Dua minggu setelah kepulanganku ke Indonesia, pada dini hari, sebuah bom mobil meledak di depan apartemen kami. Baru aku merasa kepulanganku ini adalah keputusan yang sangat tepat. Tidak tahu apa jadinya kalau malam itu aku dan Mawiya masih tidur di Damaskus. Setelah itu suamiku memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih kecil. Selain karena alasan praktis, dia mengaku tidak sanggup selalu terbayang-bayang Mawiya tiap kali pulang ke apartemen yang lama.

2012-2013

Pulang ke Indonesia tidak lantas serta merta jadi lebih baik. Mawiya mengalami gegar budaya. Dari yang sebelumnya hanya tinggal berdua dan bertiga, sekarang dia harus tinggal dengan keluarga besar yang meriah. Mawiya adalah cucu pertama di keluarga kami. tinggal di tempat yang jauh pula. Jadilah semua orang berusaha merebut perhatiannya supaya mau digendong. tapi semua usaha itu justru membuatnya makin ketakutan.

Aku mengamati perilakunya, dia selalu menangis ketakutan ketika ada suara keras. Entah itu suara benda atau suara orang. Dadanya berdebar-debar, dan dia lari bersembunyi di pelukanku. Tidak hanya suara keras, suara yang mengagetkan juga membuatnya menangis ketakutan. Dia bisa terbangun dari tidur siangnya hanya gara-gara mendengar suara deru motor di jalanan. Dia tidak suka berada di tengah acara yang hingar bingar, terutama orang-orang yang berebut perhatiannya. Menyusuinya adalah cara yang paling mudah untuk menenangkannya. Ini adalah masa sulit untuk kami.

Tidak hanya pada suara keras, Mawiya juga takut pada orang asing. Mawiya begitu sulit beradaptasi di tengah keluarga besar kami. Aku sendiri merasa berat menghadapi ketakutan Mawiya tanpa suami. Mau ke kamar mandi saja sulit. Sementara dia sendiri belum mau dengan orang lain. Butuh 2 bulan untuk Mawiya menerima keluarga barunya.

2013-2014

Setelah satu tahun berpisah dengan suami, masa tugasnya di Damaskus pun berakhir. Kami kembali hidup bertiga di apartemen mungil. Ketakutan Mawiya pada orang asing makin teratasi, tetapi tidak pada suara keras. Awalnya aku mengira itu hanya proses adaptasi di lingkungan baru. Tapi sudah satu tahun berjalan, dia masih menangis ketakutan ketika mendengar suara keras. Sementara pada orang asing, dia hanya diam dan berpaling.

Kami tinggal di apartemen yang masih banyak tukang bekerja untuk memasang interior. Hampir setiap hari ada suara bor atau pukulan palu terdengar. Setiap kali itu pula Mawiya, yang sedang asyik bermain, langsung berlari ketakutan ke arahku sambil menangis. Aku harus segera menghentikan aktivitasku untuk memeluknya, sampai tangisnya mereda dan dia siap kembali bermain.

Musim hujan juga menjadi saat yang menyedihkan bagi kami. Petir menyambar dan menggelegar. Letak apartemen kami di lantai 11 terasa sangat dekat dengan langit. Lagi-lagi aku harus menghentikan aktivitasku untuk memeluknya.

Malam tahun baru 2014 adalah puncak mimpi buruk bagi kami. Pesta kembang api selama 2 hari membuat Mawiya ketakutan luar biasa. Desember itu dia baru saja menyapih dirinya sendiri. Jadi aku tidak lagi menyusuinya ketika dia takut. Dia ingin kami bertiga harus selalu bersama. Dia menganggap aku dan papanya juga takut seperti dia. Tidak ada yang boleh memisahkan diri. Semalam suntuk dadanya berdebar, merengek, memeluk dan terus berkata, “aku takut.. “. Akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis tepat di pergantian tahun.

2014-2015

Tahun berganti, tapi ketakutan pada suara keras masih saja setia. Syukurnya respon Mawiya tidak se-heboh dulu. Masih takut dan berdebar-debar tapi tidak lagi histeris. Setiap kali dia ketakutan kami hanya berpelukan sambil menunggu dia tenang dengan sendirinya. Setelah itu kami akan berkata, “itu cuma suara, tidak menyakiti Mawiya..”.

Suatu hari di musim hujan, petir menyambar. Mawiya terhenyak, diam, lalu tertawa. Dia berkata, “hahaha… ada petir… petirnya keras ya Ma..”. Dan begitu terus pada petir-petir berikutnya. dia terus tertawa tiap kali ada petir. Lama-lama petir terasa makin dekat. Suaranya seperti tepat diatas kepala. Suaranya kali ini paling keras dibanding sebelumnya. Aku kaget, dia pun kaget. Lalu dia kembali menangis ketakutan dan kami berpelukan.

Ketika sedang asyik bermain, kami mendengar suara bor. Mawiya diam, lalu berkata sambil cemberut, “..mmmm pak tukang jangan ngebor-ngebor terus dong.. aku kan jadi kaget.. kan berisik.. “. Dia tidak lagi menangis. Dia berhasil mengatasi ketakutannya!

2 hari menjeelang tahun baru, aku berkata pada Mawiya, “mulai nanti sore, ada banyak sekali kembang api di luar. Suaranya keras dan berisik. Mawiya takut ngga?” Dia menjawab, “Ngga, kan aku pemberani..”. Ternyata benar, malam itu dia justru keluar menonton kembang api dari balkon.

Malam tahun baru, aku dan suami sudah mempersiapkan diri kalau-kalau Mawiya akan menangis ketakutan seperti tahun lalu. Tapi dia hanya merengek takut sebentar, lalu tidur sampai pagi, bahkan sebelum pergantian tahun.

You did it, girl!  Ini baru namanya musim semi yang indah. Mawiya’s Spring..

Aku Bergembira : Gambar Rahasia

Apa Yang Kami Lakukan?

Saya menggambar di atas kertas putih menggunakan krayon putih. Gambar apa saja.

image

Lalu Mawiya menyapukan cat air diatasnya. Gambar dari krayon putih akan muncul karena cat air tidak menempel diatasnya.
image

image

image

Keterampilan Yang Dipelajari

Seperti halnya melukis atau mewarnai, kegiatan ini juga melatih motorik halus serta koordinasi mata-tangan. Dibanding melukis biasa, gerakannya lebih bebas karena hanya bertujuan memunculkan gambar. Anak akan merasa penasaran dan antusias mencari tahu gambar apa yang akan muncul.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Lihat disini

 

Aku Bergembira : Main Beras

Apa Yang Kami Lakukan?

Ini adalah kelanjutan mewarnai beras. Setelah beberapa hari beras masih terpisah sesuai warnanya, dan Mawiya mulai tidak tertarik lagi, aku pun menggelar selimut, dan menuang beras-beras itu, mencampurnya jadi satu.

Awalnya aku menyediakan beberapa mangkok plastik sebanyak warna, dan dia menuangkan beras kedalamnya. setelah itu sedikit demi sedikit dia mulai mencampur warna. Dia berhati-hati di awal, masih belum yakin apakah aku mengijinkan berasnya dicampur. Setelah yakin dia boleh melakukannya, mulailah kekacauan ini.

Beras dicampur semua, dituang ke berbagai tempat. Aku menyediakan berbagai bentuk wadah, sendok dan corong.
image
image

Lalu dia mengambil beras dan menjatuhkan di kepala dan wajahnya. Katanya hujan.
image

image

Pas lagi ada Upin Ipin kesukaannya, dia nonton sambil tiduran di atas beras.
image

image

Ini seru sekali… Belum lagi acara mandi beras bersama teman-temannya.
image

Beras juga bisa dimanfaatkan sebagai kolase.

image
image

Keterampilan Apa Yang Dipelajari?

Selain bersenang-senang, dan bereksplorasi dengan sensorinya, anak juga bisa memanfaatkan beras untuk main pura-pura. Kita bisa menggunakan alat masak mainan sebagai pelengkap. Beras juga bisa digunakan sebagai sarana belajar pre-reading & pre-writing, dengan cara menulis diatasnya. Sensory play ini bisa membuat anak untuk waktu yang cukup lama.
image

Tips : Gunakan selimut sebagai alas agar lebih mudah membersihkan setelah main.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, proses pembelajaran akan lebih mudah diterima ketika melibatkan kelima indra yang dimiliki. Melalui sensory play, kata Bu Angie Dorell, perkembangan kognisi, sosial-emosional, psikomotor, bahasa dan kreativitas anak akan sangat terbantu. Bu Angie ini adalah direktur kurikulum di La Petite Academy, di Kansas, yang merupakan lembaga preschool dan child care terbesar kedua di Amerika

Kognisi. Permainan sensori bisa mempertajam kemampuan problem solving dan pengambilan keputusan. Misalnya, ketika ingin memasukkan beras ke dalam botol bermulut kecil, beras akan tumpah. Lalu dia mencoba menggunakan corong, dan beras tidak tumpah. Ada proses berpikir yang saat itu bekerja di dalam otaknya. Anak juga belajar tentang matematika, dengan cara membandingkan banyak-sedikit, besar-kecil. Pada permainan sensori lainnya anak juga bisa belajar perubahan warna, perubahan wujud, gravitasi dll.

Sosial-emosional. Para ahli menemukan bahwa permainan sensori yang bersifat repetitif ternyata membantu pelepasan hormon endorphine. Hormon yang membuat sesorang merasa bahagia. Kegiatan repetitif juga menciptakan ketenangan bagi anak. Pada beberapa anak yang memiliki kesulitan mengontrol gerakannya, kegiatan semacam ini bisa memberi efek terapi. Anak akan lebih tenang, gerakannya lebih terkontrol, dan selanjutnya memudahkan dia untuk berkonsentrasi mempelajari hal lain. Ketika anak bermain bersama teman sebayanya yang lain, kegiatan ini juga akan merangsang kemapuan sosialnya, seperti bekerjasama, berbagi, bergiliran, memahami dan menerima sudut pandang temannya yang berbeda, serta percaya diri menyampaikan idenya.

Psikomotor. Menyendok, menuang, menggenggam,menabur, meratakan, semua kegiatan ini merupakan aktivitas pre-writing untuk anak. Aktivitas ini melatih otot-otot kecilnya, dan koordinasi mata-tangannya. Tidak hanya untuk menulis sebenarnya, tetapi juga mengikat tali sepatu, mengancing baju, menarik resleting, dan bahkan membuka halaman buku dengan rapi tanpa kusut.

Bahasa. Bagaimana caranya menjelaskan istilah “berbulir-bulir”? Atau “licin”? Akan lebih mudah menghadirkan pengalaman dan objek yang nyata ketimbang menjelaskannya dengan kalimat, bukan? Anak akan mengerti arti sebenarnya dari sebuah istilah. Sambil bermain peran anak juga akan terlatih menggunakan kosakata yang beragam.

Kreativitas. Saling berkaitan dengan kemampuan problem solving anak. Bermain sensori juga menanamkan pada anak bahwa proses lebih penting daripada hasilnya. Ini adalah efek yang tidak diperoleh dari mainan jadi seperti boneka atau robot.

Aku Bergembira : Finger Painting

Apa Yang Kami Lakukan?

Saya membuat cat dari tepung maizena dan pewarna makanan yang dimasak hingga mengental. Perbandingan tepung dan airnya terserah. Yang penting kekentalannya cukup. Tidak terlalu cair, tidak juga berupa cilok. Setelah itu, do whatever you want!

Awalnya saya menyediakan loofah untuk menciptakan tekstur. Tapi Mawiya cepat bosan dan lebih suka menggunakan jari-jarinya langsung. Setelah itu berturut-turut dia bertanya, “boleh pake kedua (tangan) nya?”, “boleh pake kaki?” Tentu saja boleh!

Dia menikmati tekstur cat yang basah licin dan lengket. Dia mencoba melukis dengan berdiri, tapi kemudian memilih duduk karena takut terpeleset.PicsArt_1414547508709

Kami juga menggunakan tongkol jagung yang sudah dikeringkan.

DSC_3656

Keterampilan Yang Dipelajari

Melukis dengan jari melatih motorik halus anak, sekaligus koordinasi mata dan tangannya. Ini sudah diketahui oleh banyak orangtua. Selain itu, kegiatan sederhana ini melatih kepekaan saraf sensori anak. Sense of art, kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih. Anak bahkan bisa sekaligus belajar sains mengenai perubahan wujud, dari tepung, dicampur air, lalu mengental. Pelajaran sains lainnya yang bisa dipelajari adalah percampuran warna.

Pada anak berkebutuhan khusus, finger painting bahkan bisa menjadi salah satu terapi untuk meredam hiperaktifitas dan melatih konsentrasinya. Kegiatan ini juga bisa jadi alternatif kegiatan seni untuk anak yang kurang tertarik dengan melukis atau mewarnai. Halo anak-anak cowok…

Orangtua juga bisa mengarahkan kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk melampiaskan emosi anak. Anak bisa menyalurkan emosinya melalui warna dan caranya melukis

Variasi lainnya untuk finger painting:

  1. Kentang atau wortel yang diukir, misalnya bentuk geometri
  2. Irisan apel
  3. Mainan miniatur hewan, untuk mendapatkan gambar jejak kaki
  4. Pantat botol minuman ringan, untuk bentuk bunga
  5. Garpu
  6. Mobil-mobilan, celupkan roda ke dalam cat, lalu jalankan mobil di atas kertas
  7. Kelereng
  8. Bibir gelas plastik, dll

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Ujung jari merupakan salah satu anggota tubuh yang memiliki tingkat kepekaan tinggi. Para tunanetra menggunakan ujung jarinya untuk membaca, membuka wawasan, yang membuatnya memiliki kompetensi setara dengan yang tidak tunanetra.

Ujung jari juga bisa menentukan nasib seseorang. Bagaimana bisa? Bisa dong, ujung jari pimpinan yang mengecek kebersihan. Colek mejanya, dan kita akan tahu cleaning service-nya kena marah atau tidak :-).

Finger painting adalah bentuk kreativitas tanpa batas. Dalam hidup ini, apa sih yang ngga butuh kreativitas? Bahkan untuk kebutuhan dasar biologis, seperti makan saja butuh kreativitas.  Anak-anak yang terbiasa berkreasi akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyelesaikan persoalan hidup.

Pemanfaatan finger painting sebagai metode pelampiasan emosi juga akan membiasakan anak untuk menyalurkan emosinya dengan cara positif. Kita tentu tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang merusak lingkungan ketika marah, atau tenggelam dalam kesedihan yang mendalam sehingga tidak produktif.

Aku Mau Anakku Mandiri

Hidup tanpa ART itu enak ngga enak ya. Enaknya, kita bisa bebas ngapain aja sesuka hati tanpa mikir ada orang lain dirumah kita. Merawat rumah bisa sesuai dengan keinginan kita. Memang capek karena harus melakukan sendiri. Tapi hasilnya lebih memuaskan. Ama (ibuku) malah sering merasa kalo pas ngga ada ART, rumah malah lebih bersih, dan semua peralatan mudah ditemukan. Karena kita selalu mengembalikan di tempat semula. Sementara ART, ada aja miss-nya. Udah diajari berkali-kali masih saja ada yang ngga cocok. Tapi tenaga mereka tetap dibutuhkan dan dipertahankan.

Ngga enaknya, ngga ada yang bisa disuruh ketika kita lagi capek. Apalagi kalo sebelumnya terbiasa dengan 8 ART, trus tiba-tiba hidup sendiri, pasti bikin shock. Sore-sore pengen makan gorengan, ngga ada yang bisa disuruh bikin atau beli. Makanya ketika pulang ke rumah orangtua, aku merasa seperti ratu! Maklum sejak menikah, aku hidup berdua saja dengan suami, yang sebenernya lebih banyak sendiri karena dia kerja seharian. Setelah ada anak juga tetep ngga ada ART karena situasi tidak memungkinkan.

Ini situasi yang pelik sebenernya, mengingat sebelum menikah, ketika masih dirumah orangtua, minimal ada 3 ART yang membantu kami. Trus tiba-tiba pindah keluar negeri yang jauh dari keluarga, dan ngurus rumah sendiri. Plus ngurus emosi akibat homesick. Tapi alhamdulillah semua terlewati dengan baik.

Baik maksudku adalah aku bisa bertahan, tidak tertekan dan tetap merasa bahagia dengan kehidupan baruku. Aku harus berterima kasih kepada orangtua yang tidak membiarkanku selalu dilayani. Mereka memberiku tanggung jawab dan kewajiban yang harus aku lakukan dirumah. Dulu sih kesal waktu disuruh-suruh. Tapi ternyata sekarang baru terasa manfaatnya. Siapa yang tahu masa depan seseorang? Aku tidak pernah membayangkan hidup merantau seperti ini. Seluruh keluarga besarku, dari kedua orangtua, tinggal di kota yang sama.

Jadi, aku pun harus mengajarkan hal yang sama pada anakku. Entah dimana dia akan tinggal nanti, dengan siapa, fasilitas apa yang akan dia punya, aku tidak tahu. Tapi bagaimanapun kondisinya, dia harus jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tugas Rutin

Mawiya terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Ada tugas-tugas yang harus dilakukannya sendiri tanpa bantuan, mulai bangun sampai tidur lagi.

1. Mawiya tidur sendiri di sofa bed, di sebelah tempat tidurku. Ketika bangun, dia harus merapikan tempat tidurnya dengan cara meletakkan bantal dan selimutnya di tempat tidurku (untuk aku lipat karena masih terlalu besar untuknya) lalu melipat sendiri sofa bednya. Dia juga harus mengambil penebah untukku.

2. Meletakkan gelas dan piring bekas makan ke tempat cuci piring.

3. Mencuci sendiri bajunya. Ini sebenarnya tidak benar-benar mencuci, hanya simbolis saja. Kami tidak memiliki mesin cuci, jadi harus cuci manual. Ada satu ember kecil untuk Mawiya “mencuci” baju-bajunya sendiri, yang sebenernya sudah aku cuci. Setelah itu biasanya dia menawarkan diri untuk menyikat dinding dan lantai kamar mandi dengan air sabun bekas cucian, sekaligus membilasnya. Aku hanya menujukkan tempat mana yang belum disikat. Anak mana sih yang ngga suka mainan air? Apalagi ada busa sabunnya.

4. Meletakkan bajunya yang sudah di setrika di laci. Dia harus membawa tumpukan baju ke kamar, memisahkan atasan dan bawahan, dan meletakkannya dengan rapi di laci. Rapi berarti laci bisa ditutup dengan baik tanpa membuat baju terjepit atau terlipat.
image

5. Bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempat semula, yang tidak berhenti sepanjang hari.

6. Membantu aku membersihkan rumah dengan cara mengambilkan sapu dan cikrak untukku. Sementara dia mengelap perabot. Biasanya kami giliran menyapu, setelah aku baru dia, itupun simbolis saja. Dia juga bertugas membuka lipatan karpet setelah selesai dibersihkan.

7. Merawat diri sendiri. Mulai menyikat gigi, memakai sabun dan shampoo, mencuci tangan, membuka dan menutup kran sendiri, dibawah pengawasanku.

8. Berpakaian sendiri, meski baru sebatas memakai celana dalam, celana panjang atau rok, kaos kaki pendek dan sepatu sendiri. Untuk baju dia belum bisa dan belum menunjukkan ketertarikan untuk belajar.

9. Dandan sendiri, hanya memakai lotion dan bedak sendiri, dibawah pengawasanku.

10. Membawa ransel dan kopernya sendiri ketika sekolah atau bepergian. Beratnya tentu disesuaikan dengan kemampuannya. Kalau ternyata barang bawaannya banyak, aku membaginya di ranselku, BUKAN membawakan ranselnya.
image

image

11. Siap-siap tidur sendiri, mulai dari membuka sofa bed sebelum tidur, mengambil buku yang ingin dibaca dan boneka yang dia inginkan.

Sementara itulah hal-hal rutin yang harus dilakukan sendiri. Beberapa aktivitas masih harus diawasi. Aku juga sering minta tolong diambilkan sesuatu, seperti gunting, lem dll.

Saat yang Tepat untuk Belajar

Kapankah saat yang tepat bagi anak untuk mempelajari sesuatu? Tiap anak memiliki masa peka belajar. Masa ketika ia menunjukkan minat untuk melakukan sesuatu, seperti berjalan, memakai sepatu sendiri, mencoret-coret dll. Ketika masa itu datang, proses pembelajaran akan berlangsung mudah dan cepat. Masalahnya kita tidak pernah tau kapan masa itu akan datang. Secara garis besar memang ada standar kompetensi anak. Misalnya pada rentang 10-18 bulan, anak biasanya sudah bisa berjalan. Tapi di bulan berapa tepatnya, akan berbeda masing-masing anak. Ada 240 hari, atau 5760 jam disitu. Kita hanya harus percaya dan sabar menunggu saatnya masa peka itu datang.

Sambil menunggu, apa yang harus kita lakukan? Jawabnya adalah stimulasi. Anak butuh banyak stimulasi dan dukungan dalam belajar. Adakalanya anak menunjukkan minat sebelum kita mengajari, atau sebaliknya. Kita mengajari, lalu anak tertarik untuk mencoba. Aku tidak pernah menyuruh Mawiya untuk berpakaian sendiri. Tapi satu hari ketika aku sedang menyetrika, tiba-tiba saja dia mengambil celananya dan memakainya sendiri. Ting! Inilah masa peka untuk belajar berpakaian. Sekali saja diajari, dia langsung bisa. Sedangkan untuk bertanggung jawab mengembalikan mainan, dia sudah dibiasakan sejak usia 6 bulan. Tentu dia masih belum mengerti waktu itu. Aku yang beres-beres sambil berkata, “kita beresin dulu ya..”. Sampai di usia 3 tahun ini, perilaku beres-beres sudah mulai tampak permanen, meski kadang harus diingatkan juga. Tahapan belajarnya mulai dari melihat orangtuanya beres-beres, 50-50 bersama orangtua, 25% dibantu, sampai sekarang cukup disuruh saja. 2,5 tahun ternyata belum cukup untuk membentuk anak jadi terbiasa berbuat baik. Jadi heran kan sama orangtua yang mengeluhkan anaknya yang selalu berantakan, sementara dia sendiri tidak membiasakan untuk rapi. Bagaimana bisa dia berharap anaknya bisa terbiasa rapi dengan hanya diomeli? Anak tidak hanya butuh perintah, tapi juga contoh dan supervisi.

Kebiasaan apa yang harus di stimulasi sebelum minat anak muncul? Jawaban menurutku adalah semua kebiasaan baik. Yang perlu dikendalikan adalah ambisi orangtua. Berikan saja dorongan dan contoh tanpa berharap anak akan mengerti dan meniru saat itu juga. Mereka selalu punya kejutan untuk kita.

Reward and Punishment

Apakah Mawiya mendapat reward untuk semua itu? Ya, dia mendapat reward berupa ucapan terima kasih dan pujian. Aku katakan, “terima kasih Mawiya, sudah membantu mencuci”, “terima kasih Mawiya, sudah bertanggung jawab”, “terima kasih Mawiya, sudah jadi anak yang menjaga kebersihan”, dll. Pujian untuknya harus jelas, apa yang sudah dilakukan. Bukan hanya “anak pinter” atau “anak hebat”. Dia sering mengatakan “aku pintar”. Biasanya aku akan bertanya, “pintar apa?” lalu dia menjawab, “pintar lap-lap”. Dia butuh pujian dan penghargaan atas perilaku positifnya, tapi aku juga tidak ingin dia jadi narsis ngga jelas.

Soal reward ini memang tricky. Kita harus mempertimbangkan dengan baik efeknya. Kita ingin anak merasa dihargai setelah melakukan hal positif, sekaligus tidak ingin dia berbuat pamrih dan tidak ikhlas. Karakter anak juga harus dipertimbangkan. Ada anak yang memang ringan tangan, ada juga yang sadar ekonomi banget. Karena itu, proses pembiasaan perilaku bisa berbeda-beda tiap anak. Yang pasti tujuan nya sama, ingin anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Evaluasi harus selalu dilakukan orangtua, apakah metodenya berhasil atau tidak.

Mawiya tidak selalu mendapat hadiah mainan atau makanan atau benda apapun, karena aku tidak ingin dia terbiasa dibayar. Untuk situasi tertentu kita memang bisa menggunakan hadiah untuk penguatan, misalnya ketika toilet training. Jika anak berhasil mencapai prestasi tertentu, kita bisa memberikan hadiah sebagai penghargaan. Tapi untuk perilaku yang sifatnya rutin, hadiah tidak diperlukan. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan coba, kalo dikit-dikit harus dikasih hadiah.

Ada loh anak yang hanya mau membantu orangtuanya hanya jika dia mendapat upah atau hadiah. Entah itu uang receh kembalian setelah disuruh beli gula ke warung, permen, susu atau apapun.

Bagaimana dengan punishment? Apakah dia harus dihukum jika tidak melakukan tugasnya? Tidak, aku hanya ngomel 😀 plus melarang dia melakukan hal yang diinginkan sebelum melaksanakan tugasnya. Misalnya sebelum main balok, dia harus mengembalikan playdoh yang dimainkan sebelumnya. Kalau tidak, aku akan menyimpan baloknya, sampai dia membereskan playdoh. Itu dulu, waktu masih pembiasaan. Sekarang sudah tidak begitu lagi.

Aku lebih suka memakai istilah konsekuensi daripada hukuman. Karena sebelum diberikan, terlebih dahulu kami membicarakannya. Misalnya, ini masih berlaku sampai sekarang, ketika proses toilet training, untuk mencegah dia mengompol, kami membuat kesepakatan di awal. Dia tidak boleh main selama setengah hari kalau mengompol. Hanya boleh membaca buku. Dia sama sekali tidak boleh mengambil mainan atau boneka. Maka ketika dia mengompol, dia akan langsung membereskan mainannya dan mengambil buku. Pada Mawiya ini berhasil, belum tentu ini juga efektif pada anak lain.

Ketika menerapkan konsekuensi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

1. Buat kesepakatan sebelum perilakunya muncul. Ini bisa menghindarkan kita dari gelora amarah membabi buta, yang mengakibatkan kita menghukum anak dengan keras dan emosional, tapi tidak efektif untuk menghentikan perilaku buruknya.

2. Pastikan konsekuensi yang ditetapkan efektif untuk anak. Ngga lucu dong kalo maksudnya menghukum tapi anak malah menikmati hukumannya. Sebelum menerapkan aturan “tidak boleh main kalo ngompol”, aku menerapkan aturan “harus mencuci clodi yang kena ompol”. Ternyata ini sangat tidak efektif karena Mawiya malah betah di kamar mandi. So, selalu lakukan evaluasi.

3. Konsekuen dengan kesepakatan yang telah dibuat, dimanapun kita berada. Termasuk didalamnya kekompakan orangtua dan orang lain dalam keluarga. Kesepakatan akan sia-sia jika orang dewasa di sekitar anak menerapkan aturan berbeda. Ngeselin kan kalo kita melarang anak makan permen, tapi bapaknya malah beliin. Ngga lucu juga kalo pas lagi ngajarin toilet training, kita malah menyuruh anak untuk pipis di pospak, hanya karena sedang di perjalanan dan malas mencari toilet. Sekali lagi, malas, bukan tidak ada toilet. Padahal sang anak sudah mampu mengendalikan otot panggulnya untuk menahan pipis.

4. Berikan apresiasi ketika anak berhasil berperilaku sesuai harapan. Jangan pelit memuji. Pujian tidak akan berefek buruk jika disampaikan secara fair. Maksudnya, pujian yang disampaikan tidak diiringi dengan mencela anak lain. Misalnya, “kamu pinter deh, sudah bisa pake sepatu sendiri. Temanmu yang itu belum bisa loh..” Pujian seperti ini akan memunculkan sifat sombong pada anak. Dia akan merasa lebih hebat dibanding temannya yang belum bisa. Kita juga bisa memuji kemampuan anak lain, yang belum dimiliki anak kita, tanpa merendahkannya. Ini akan membuat dia belajar menghargai kelebihan orang lain, tanpa merasa iri dan sakit hati. Tidak perlu kita berkata, “dia sudah bisa loh, kamu kok belum..”. Ucapan semacam ini hanya akan menyakiti perasaan manusia.

5. Yang terpenting dari semua tadi, berdoa. Tidak ada yang mengalahkan kesaktian doa orangtua untuk anaknya. Titik.

Keefektifan reward dan punishment akan berbeda pada tiap anak. Apapun pilihan kita sebagai orangtua, harus tetap menyesuaikan dengan keunikan pribadi masing-masing anak.