Category Archives: Pendidikan

Aku Bergembira : Gambar Rahasia

Apa Yang Kami Lakukan?

Saya menggambar di atas kertas putih menggunakan krayon putih. Gambar apa saja.

image

Lalu Mawiya menyapukan cat air diatasnya. Gambar dari krayon putih akan muncul karena cat air tidak menempel diatasnya.
image

image

image

Keterampilan Yang Dipelajari

Seperti halnya melukis atau mewarnai, kegiatan ini juga melatih motorik halus serta koordinasi mata-tangan. Dibanding melukis biasa, gerakannya lebih bebas karena hanya bertujuan memunculkan gambar. Anak akan merasa penasaran dan antusias mencari tahu gambar apa yang akan muncul.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Lihat disini

 

Advertisements

Aku Bergembira : Main Beras

Apa Yang Kami Lakukan?

Ini adalah kelanjutan mewarnai beras. Setelah beberapa hari beras masih terpisah sesuai warnanya, dan Mawiya mulai tidak tertarik lagi, aku pun menggelar selimut, dan menuang beras-beras itu, mencampurnya jadi satu.

Awalnya aku menyediakan beberapa mangkok plastik sebanyak warna, dan dia menuangkan beras kedalamnya. setelah itu sedikit demi sedikit dia mulai mencampur warna. Dia berhati-hati di awal, masih belum yakin apakah aku mengijinkan berasnya dicampur. Setelah yakin dia boleh melakukannya, mulailah kekacauan ini.

Beras dicampur semua, dituang ke berbagai tempat. Aku menyediakan berbagai bentuk wadah, sendok dan corong.
image
image

Lalu dia mengambil beras dan menjatuhkan di kepala dan wajahnya. Katanya hujan.
image

image

Pas lagi ada Upin Ipin kesukaannya, dia nonton sambil tiduran di atas beras.
image

image

Ini seru sekali… Belum lagi acara mandi beras bersama teman-temannya.
image

Beras juga bisa dimanfaatkan sebagai kolase.

image
image

Keterampilan Apa Yang Dipelajari?

Selain bersenang-senang, dan bereksplorasi dengan sensorinya, anak juga bisa memanfaatkan beras untuk main pura-pura. Kita bisa menggunakan alat masak mainan sebagai pelengkap. Beras juga bisa digunakan sebagai sarana belajar pre-reading & pre-writing, dengan cara menulis diatasnya. Sensory play ini bisa membuat anak untuk waktu yang cukup lama.
image

Tips : Gunakan selimut sebagai alas agar lebih mudah membersihkan setelah main.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, proses pembelajaran akan lebih mudah diterima ketika melibatkan kelima indra yang dimiliki. Melalui sensory play, kata Bu Angie Dorell, perkembangan kognisi, sosial-emosional, psikomotor, bahasa dan kreativitas anak akan sangat terbantu. Bu Angie ini adalah direktur kurikulum di La Petite Academy, di Kansas, yang merupakan lembaga preschool dan child care terbesar kedua di Amerika

Kognisi. Permainan sensori bisa mempertajam kemampuan problem solving dan pengambilan keputusan. Misalnya, ketika ingin memasukkan beras ke dalam botol bermulut kecil, beras akan tumpah. Lalu dia mencoba menggunakan corong, dan beras tidak tumpah. Ada proses berpikir yang saat itu bekerja di dalam otaknya. Anak juga belajar tentang matematika, dengan cara membandingkan banyak-sedikit, besar-kecil. Pada permainan sensori lainnya anak juga bisa belajar perubahan warna, perubahan wujud, gravitasi dll.

Sosial-emosional. Para ahli menemukan bahwa permainan sensori yang bersifat repetitif ternyata membantu pelepasan hormon endorphine. Hormon yang membuat sesorang merasa bahagia. Kegiatan repetitif juga menciptakan ketenangan bagi anak. Pada beberapa anak yang memiliki kesulitan mengontrol gerakannya, kegiatan semacam ini bisa memberi efek terapi. Anak akan lebih tenang, gerakannya lebih terkontrol, dan selanjutnya memudahkan dia untuk berkonsentrasi mempelajari hal lain. Ketika anak bermain bersama teman sebayanya yang lain, kegiatan ini juga akan merangsang kemapuan sosialnya, seperti bekerjasama, berbagi, bergiliran, memahami dan menerima sudut pandang temannya yang berbeda, serta percaya diri menyampaikan idenya.

Psikomotor. Menyendok, menuang, menggenggam,menabur, meratakan, semua kegiatan ini merupakan aktivitas pre-writing untuk anak. Aktivitas ini melatih otot-otot kecilnya, dan koordinasi mata-tangannya. Tidak hanya untuk menulis sebenarnya, tetapi juga mengikat tali sepatu, mengancing baju, menarik resleting, dan bahkan membuka halaman buku dengan rapi tanpa kusut.

Bahasa. Bagaimana caranya menjelaskan istilah “berbulir-bulir”? Atau “licin”? Akan lebih mudah menghadirkan pengalaman dan objek yang nyata ketimbang menjelaskannya dengan kalimat, bukan? Anak akan mengerti arti sebenarnya dari sebuah istilah. Sambil bermain peran anak juga akan terlatih menggunakan kosakata yang beragam.

Kreativitas. Saling berkaitan dengan kemampuan problem solving anak. Bermain sensori juga menanamkan pada anak bahwa proses lebih penting daripada hasilnya. Ini adalah efek yang tidak diperoleh dari mainan jadi seperti boneka atau robot.

Aku Bergembira : Mewarnai Beras

Apa Yang Kami Lakukan?

Saya membeli 2 kg beras dan membaginya dalam 6 wadah. Lalu Mawiya meneteskan pewarna makanan, dan mencampurnya. Jika diperlukan bisa ditambahkan satu sendok air untuk memudahkan warna merata.

image

image

image

Setelah tercampur rata, Mawiya menuang beras ke atas kertas koran supaya lebih cepat kering.

image

Awalnya menggunakan sendok, tapi lama-lama dia tidak tahan menggunakan tangannya sendiri.

image

Setelah kering, beras dimasukkan ke dalam botol bekas air dengan menggunakan corong.

image

Sempat bereksperimen membalikkan corongnya, dan tertawa melihat beras yang berjatuhan.

image

Mawiya hanya memasukkan satu warna saja, karena dia heboh duluan main beras dalam botol, menjadikannya marakas. Selebihnya tidak mau lagi memasukkan ke dalam botol. So I did it.

image

Bosan jadi marakas, dia meyusun botol-botol ini menjadi menara. Karena hanya bisa menyusun 2 botol, dia pun menjadikan menara-menara ini sebagai halangan dan berjalan zig-zag diantaranya. Dia membuat peraturan sendiri tidak boleh menyenggol botolnya.

image

Sementara beras-beras masih aman di dalam botol. Warnanya masih terpisah-pisah. Nanti kapan-kapan bisa jadi bahan kolase buat dia ūüôā
image

Keterampilan Apa Yang Dipelajari?

Motorik halus dan sensorik banyak tereksplor di kegiatan ini. Anak akan mengenali tekstur beras yang berbulir-bulir. Koordinasi visual motorik juga dipelajari melalui proses mengaduk, menuang dan memasukkan beras ke dalam botol. Anak mempelajari tentang sains melalui percampuran warna. Kami mencapur warna merah dan kuning untuk mendapatkan oranye.

Kreativitas anak juga muncul ketika ia menjadikan botol beras menajdi alat musik. Bunyi marakas juga melatih sensor pendengaran anak. Inisiatif terlihat pada saat anak menyusun botol menjadi menara. Dia juga harus berusaha membuat botol seimbang agar tidak jatuh.

Variasi lain dari kegiatan ini adalah mewarnai berbagai bentuk pasta atau biji oat. Tapi karena di Indonesia yang murah adalah beras, pake beras sajalah.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Manfaat kegiatan motorik halus sudah banyak dibahas di postingan sebelumnya ūüôā

Mawiya’s Toilet Training

Kejadian ini sudah lama sekali, tepatnya Ramadlan pada Juli 2014 kemarin. Tapi baru sekarang ditulis. Itu adalah momen ketika Mawiya lulus toilet training, di usianya yang ketiga. Aku lupa kapan tepatnya memulai latihan ke toilet, jadi ngga bisa memastikan berapa lama latihan ini berlangsung.

Sejak lahir sampai usia 10 bulan Mawiya full pospak yang berarti kami harus mengeluarkan dalam jumlah besar (untuk sesuatu yang berakhir sebagai sampah). Di catatan belanjaku, pengeluaran untuk pospak di Damaskus, kalau dirupiahkan, kurang lebih 200 ribu rupiah. Dikali 10 bulan pemakaian, berarti mencapai kurang lebih 2 juta rupiah. Sedih rasanya membayangkan uang sebanyak itu berakhir di tempat sampah. Belum lagi kalau mau idealis memikirkan global warming…

Sebelum Mawiya lahir, sebenarnya aku sudah banyak membaca tentang clodi. Aku pun menjelajah toko-toko bayi di Damskus dan tidak menemukan clodi seperti yang kulihat di internet. Popok kain yang ada bentuknya seperti celana dalam plastik, dengan lapisan kain atau handuk di dalamnya. Modelnya sih ngga masalah ya, clodi kan juga ada yang model pull-up begitu. Cuman ukurannya itu, super big size untuk bayi. Ternyata itu memang diperuntukkan untuk anak usia 1 tahun ke atas. Waktu tanya ukuran newborn, penjual tokonya malah bilang, “kasihaaaannn… nanti dia kedinginan kalau harus terus disiram air..” Errr…what? Kasihan? Ngga masuk deh di akalku..

Satu saat ada seorang teman yang akan liburan ke Indonesia. Dia menawarkan diri barangkali aku mau dibawakan sesuatu. Langsung deh titip clodi. Karena ngga ingin terlalu memberatkan, aku minta dibawakan semampu dia saja. Aku pun mendapat 3 buah clodi merk zigie zag. Setelah pemakaian, aku merasa merk ini kurang cocok untuk Mawiya. Bocor melulu dari samping karena kurang menutup lingkar pahanya. Jadinya males mau pakein clodi lagi. Ya sudahlah, ngga nemu clodi oke, ngga berhasil juga pesan online, terpaksalah pakai pospak. Satu sisi ini membantuku juga sih, mengingat ngga punya ART. Kita positive thinking saja deh. Toh udah berusaha nyari.

Sampai satu saat, suamiku kebetulan ada tugas ke Indonesia, dan alhamdulillah bisa borong 10 biji clodi. Itung-itungan ideal, harusnya kita punya 12 biji. Dengan asumsi, 1 clodi mampu menampung pipis selama 4 jam. Berarti dalam sehari kita butuh 6 buah clodi. Karena clodi ini butuh waktu lama untuk kering, sudah gitu tidak disarankan menggunakan mesin pengering, maka sebaiknya kita punya 2 grup clodi, yang masing-masing terdiri dari 6 buah clodi. Jadi, senin memakai clodi grup A. Selasa, selama grup A kita cuci (atau dikeringkan), grup B dipakai. Rabu, tukar posisi, begitu seterusnya. Tapi ternyata 10 buah clodi sudah cukup untuk Mawiya.

Berdasarkan review merk clodi yang bertebaran di internet, akhirnya aku memilih merk pempem, dengan pertimbangan buatan Indonesia dengan kualitas oke punya. Clodi zigie zag yang dulu itu akhirnya pas juga untuk Mawiya, setelah dia berusia 1 tahun.

Harga pempem waktu itu 75 ribu rupiah. DIkali 10 = 750 ribu rupiah. Wiihh… ini jelas penghematan anggaran besar-besaran! Bayangkan kalau anak baru bisa pipis di toilet pada usia 3 tahun, dan harus memakai pospak selama itu. Rp. 200.000 x 36 bulan = Rp. 7.200.000 !!! Sekarang Rp. 7.200.000 dikurangi Rp.2.000.000 (biaya pospak 0 – 10 bulan) dikurangi lagi harga clodi sebesar Rp. 750.000. Dengan membeli clodi ini berarti kami telah melakukan penghematan anggaran sebesar Rp. 4.450.000! Wah.. dapat emas berapa gram ya… My husband surely loved me more hihihi…

Ini bukan pelit untuk anak loh, bukan tidak pro kepentingan anak, tapi mengalihkan subsidi untuk kepentingan yang lebih produktif dan bermanfaat. Kalau uang sebanyak itu dialokasikan untuk beli mainan edukatif, jadinya lebih bermanfaat kan untuk anak. Memang pengalihan subsidi ini diikuti oleh beberapa kerepotan. Ini berarti tugas tambahan untuk orangtua. Harus menyisihkan waktu untuk nyuci clodi. Ribet karena ngga boleh dicuci pake mesin, karena akan menurunkan performa clodi. Lebih ribet lagi karena sebaiknya tidak menggunakan deterjen. Deterjen akan meninggalkan partikelnya di sela-sela tenunan sehingga lagi-lagi performa clodi akan turun. Belum lagi ini menghabiskan banyak tempat di jemuran. Dan ketika bepergian, beban barang bawaan bertambah karena harus bawa clodi dan baju ganti. Kalau sudah ganti lebih berat lagi karena clodi dalam keadaan basah. Bandingkan dengan pospak yang selalu kering meski si kecil pipis 6x. Begitu penuh tinggal buang. Who cares about green living, and lets just forget about that super bored global warming. Itu bukan urusan kita kok. Bahagianya hidup tanpa cucian! Pantas saja dimana-mana orang demo ketika subsidi BBM dicabut. Loh?!

Meski begitu, kami tetap memutuskan untuk mengganti pospak dengan clodi. Dibalik semua keluh kesah tadi, clodi pun memiliki keuntungan:

  1. Hemat pengeluaran
  2. Mengajarkan anak perasaan risih ketika buang air
  3. Bebas bahan kimia yang rentan alergi pada kulit
  4. Mengurangi resiko ISK (Infeksi Saluran Kencing) karena kotoran segera dibersihkan, sehingga bakteri pun tidak memiliki waktu yang cukup untuk menginfeksi.
  5. Motifnya cute, bisa menjadikan bayi nampak fashionable
  6. Ramah lingkungan, karena mengurangi jumlah sampah di muka bumi

Step 1, mengganti pospak dengan clodi, done.

Step 2, sejak Mawiya bisa berjalan, dia mulai diajarkan adab masuk kamar mandi, which is, baca doa dan masuk dengan kaki kiri. Sebagai muslim, sudah seharusnya ini masuk dalam tahapan toilet training.

Step 3, aku menjadwalkan pipisnya. Jadwal wajib pipis adalah bangun tidur, kemudian tiap 2-3 jam berikutnya, dan sekali di tengah malam. Ini adalah masa yang lebih sulit bagiku dibanding masa peralihan dari pospak ke clodi. Effortnya lebih besar, terutama ketika ke kamar mandi tengah malam. Mawiya masih menyusu waktu itu, setiap malam dia pasti bangun minta ASI. Saat itulah aku langsung gendong dia ke kamar mandi untuk pipis, baru menyusui. Bangun tidur langsung berjalan sambil gendong anak itu rasanya sesuatu ūüôā

Bisa dibilang aku terlambat melakukan penjadwalan ini. Orangtua jaman dulu sudah melakukannya sejak baru lahir. Sambil menjadwalkan pipis, aku memberi tahunya, kalau pipis itu harus di kamar mandi, tidak boleh di clodi. Aku membiasakan dia untuk duduk di kloset kecil untuk anak, tapi dia menolak. Maunya sambil berdiri. Oke, untuk awal, ngga papa. Lama-lama akhirnya dia mau jongkok, dan akhirnya bisa duduk di kloset

Para ahli sendiri mengatakan, orangtua sebaiknya menunggu kesiapan anak untuk memulai toilet training. Ada pendapat yang mengatakan toilet training itu sebenernya bukan menjadwalkan pipis, tapi latihan mengendalikan otot di sekitar kemaluan untuk menahan pipis atau pup. Ada beberapa tanda yang menunjukkan anak sudah siap untuk toilet training. Jika anak sudah menunjukkan 2 atau lebih tanda-tanda ini, maka dia sudah siap untuk toilet training.

1. Sering kering ketika bangun tidur siang
2. Sering kering ketika bangun tidur di pagi hari
3. Bersembunyi atau menujukkan gerakan tertentu ketika pup
4. Minta ganti atau berkata “pipis” ketika pipis
5. Menunjukkan ketertarikan ke kamar mandi

Step 4, Aku membaca dan mendengarkan pengalaman para orangtua tentang toilet training. Aku mencoba segala macam trik toilet training yang kurasa mungkin untuk dilakukan. Mulai dari mengenalkan tempat keluarnya pipis dengan istilah sebenarnya, which is vagina. Mengenali tanda-tandanya mau pup.¬†Mengajak bonekanya untuk pura-pura pipis di toilet. Mengajak “bicara” pipisnya, “tunggu pis… jangan keluar dulu.. Mawiya mau ke toilet..”. Tetap saja dia belum bisa bilang kalau mau pipis. Dia baru bisa bilang “pipis” setelah pipisnya keluar.

Lama-lama aku jadi tidak sabar. Sampai kapan acara nyuci clodi ini akan berlangsung??? Dia sudah 2,5 tahun dan masih belum bisa pipis dengan benar. Mulai deh toilet training ini dihiasi omelan monster mama. Bagian ini sungguh tidak untuk dicontoh. Karena ini bukan salah dia. Ini semata-mata ketidaksabarannku mendidik dia. Lagipula siapa suruh telat ngajarin?

Hingga tiba saatnya, di bulan Ramadlan, dia berdiri sambil memegang pantatnya, lalu bilang, “pipis!” Oh My God… cepat-cepat kita lari ke kamar mandi, dan dia berhasil melakukannya untuk pertama kali! Hujan pujian segera datang. “Ini baru namanya anak pinter, pipisnya di kloset, ngga di clodi. Ini namanya anak yang sehat, anak yang bersih. Mama sennnnneng sekali kalau Mawiya menjaga kebersihan.”¬†Sepanjang Ramadlan dia berhasil melakukan pipis di kloset. Jadwal pipis masih tetap berlaku, kecuali malam karena dia sudah tidak terbangun untuk menyusu. Aku mengajaknya membeli celana dalam dengan gambar yang dipilihnya sendiri.

Lebaran di rumah orangtua juga berlangsung lancar. Mawiya tidak mengompol sama sekali meski kami menempuh perjalanan panjang untuk silaturahmi ke rumah saudara. Satu ketika kami pulang bepergian dari sebuah acara. Karena waktu salat sudah mepet, kami memutuskan untuk salat di musholla bawah apartemen. Lah kok ndilalah Mawiya tiba-tiba ngompol! Di karpet musholla!!! Kalo mikir positif sih, untung ngompolnya di bawah apartemen, buka di perjalanan. Tapi tempatnya itu kok ya di musholla! Repot deh manggil tukang laundry buat nyuci karpet.

Aku marah sekali waktu itu sama Mawiya. Suamiku bertanya kenapa Mawiya ngga pakai clodi. Dia bilang aku terlalu percaya diri membiarkan dia pakai celana dalam. Terlalu pede gimana, lah wong sepanjang lebaran itu aman-aman saja meski kita melakukan perjalanan jauh.

Setelah itu ternyata kecelakaan ini terulang. Ini tidak bisa dibiarkan. Mengompol itu berarti tambahan cucian untukku. Belum lagi perkara najisnya.

Masuk step 5, mulailah kami membuat kesepakatan. Kalau dia mengompol, dia harus kembali memakai clodi seperti bayi. Aku berharap ini bisa menurunkan self-esteem-nya sebagai anak yang bukan bayi lagi. Kalau dia berhasil pipis di kloset, dia bisa memilih sendiri mau pakai celana dalam apa setelah mandi nanti. So far ini  cukup berhasil. Mawiya tidak lagi mengompol. Celana dalam yang dipilihnya sendiri ternyata bisa menjadi motivasi yang kuat untuk menahan pipis sampai di toilet.

Lama-lama aku merasa ini tidak lagi efektif karena clodinya makin ngga muat. Akhirnya kesepakatan konsekuensi mengompol diganti menjadi “mencuci celana dan baju yang kena ompol”. Kesepakatan ini hanya sebentar karena lagi-lagi kurasa ini kurang efektif. Mawiya malah menikmati ketika di kamar mandi. Dikira disuruh main air kali ya.

Ganti kesepakatan lagi. Mawiya tidak boleh main selama setengah hari jika mengompol. Dia hanya boleh membantu aku, dan membaca buku. Tidak ada boneka, tidak ada playdoh, tidak ada hp, atau mainan apapun. Begitu mengompol, dia harus segera membereskan mainannya. Setengah hari tanpa mainan itu benar-benar menyiksa untuknya. Beberapa kali dia bertanya, “trus bolehnya apa dong?”. Sampai sekarang kesepakatan ini masih terus berlangsung¬†dan¬†aku tidak tahu kapan akan berakhir.

Kesepakatan itu menjadi motivasi untuknya. Pas lagi mau pipis dia bilang, “tunggu pis… Mawiya mau ke toilet dulu, kan udah pinter. Nanti kalo ngompol ngga boleh main loh..”

Aku Bergembira : Finger Painting

Apa Yang Kami Lakukan?

Saya membuat cat dari tepung maizena dan pewarna makanan yang dimasak hingga mengental. Perbandingan tepung dan airnya terserah. Yang penting kekentalannya cukup. Tidak terlalu cair, tidak juga berupa cilok. Setelah itu, do whatever you want!

Awalnya saya menyediakan loofah untuk menciptakan tekstur. Tapi Mawiya cepat bosan dan lebih suka menggunakan jari-jarinya langsung. Setelah itu berturut-turut dia bertanya, “boleh pake kedua (tangan) nya?”, “boleh pake kaki?” Tentu saja boleh!

Dia menikmati tekstur cat yang basah licin dan lengket. Dia mencoba melukis dengan berdiri, tapi kemudian memilih duduk karena takut terpeleset.PicsArt_1414547508709

Kami juga menggunakan tongkol jagung yang sudah dikeringkan.

DSC_3656

Keterampilan Yang Dipelajari

Melukis dengan jari melatih motorik halus anak, sekaligus koordinasi mata dan tangannya. Ini sudah diketahui oleh banyak orangtua. Selain itu, kegiatan sederhana ini melatih kepekaan saraf sensori anak. Sense of art, kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih. Anak bahkan bisa sekaligus belajar sains mengenai perubahan wujud, dari tepung, dicampur air, lalu mengental. Pelajaran sains lainnya yang bisa dipelajari adalah percampuran warna.

Pada anak berkebutuhan khusus, finger painting bahkan bisa menjadi salah satu terapi untuk meredam hiperaktifitas dan melatih konsentrasinya.¬†Kegiatan ini juga bisa jadi alternatif kegiatan seni untuk anak yang kurang tertarik dengan melukis atau mewarnai. Halo anak-anak cowok…

Orangtua juga bisa mengarahkan kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk melampiaskan emosi anak. Anak bisa menyalurkan emosinya melalui warna dan caranya melukis

Variasi lainnya untuk finger painting:

  1. Kentang atau wortel yang diukir, misalnya bentuk geometri
  2. Irisan apel
  3. Mainan miniatur hewan, untuk mendapatkan gambar jejak kaki
  4. Pantat botol minuman ringan, untuk bentuk bunga
  5. Garpu
  6. Mobil-mobilan, celupkan roda ke dalam cat, lalu jalankan mobil di atas kertas
  7. Kelereng
  8. Bibir gelas plastik, dll

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Ujung jari merupakan salah satu anggota tubuh yang memiliki tingkat kepekaan tinggi. Para tunanetra menggunakan ujung jarinya untuk membaca, membuka wawasan, yang membuatnya memiliki kompetensi setara dengan yang tidak tunanetra.

Ujung jari juga bisa menentukan nasib seseorang. Bagaimana bisa? Bisa dong, ujung jari pimpinan yang mengecek kebersihan. Colek mejanya, dan kita akan tahu cleaning service-nya kena marah atau tidak :-).

Finger painting adalah bentuk kreativitas tanpa batas. Dalam hidup ini, apa sih yang ngga butuh kreativitas? Bahkan untuk kebutuhan dasar biologis, seperti makan saja butuh kreativitas.  Anak-anak yang terbiasa berkreasi akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyelesaikan persoalan hidup.

Pemanfaatan finger painting sebagai metode pelampiasan emosi juga akan membiasakan anak untuk menyalurkan emosinya dengan cara positif. Kita tentu tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang merusak lingkungan ketika marah, atau tenggelam dalam kesedihan yang mendalam sehingga tidak produktif.

Aku Mau Anakku Mandiri

Hidup tanpa ART itu enak ngga enak ya. Enaknya, kita bisa bebas ngapain aja sesuka hati tanpa mikir ada orang lain dirumah kita. Merawat rumah bisa sesuai dengan keinginan kita. Memang capek karena harus melakukan sendiri. Tapi hasilnya lebih memuaskan. Ama (ibuku) malah sering merasa kalo pas ngga ada ART, rumah malah lebih bersih, dan semua peralatan mudah ditemukan. Karena kita selalu mengembalikan di tempat semula. Sementara ART, ada aja miss-nya. Udah diajari berkali-kali masih saja ada yang ngga cocok. Tapi tenaga mereka tetap dibutuhkan dan dipertahankan.

Ngga enaknya, ngga ada yang bisa disuruh ketika kita lagi capek. Apalagi kalo sebelumnya terbiasa dengan 8 ART, trus tiba-tiba hidup sendiri, pasti bikin shock. Sore-sore pengen makan gorengan, ngga ada yang bisa disuruh bikin atau beli. Makanya ketika pulang ke rumah orangtua, aku merasa seperti ratu! Maklum sejak menikah, aku hidup berdua saja dengan suami, yang sebenernya lebih banyak sendiri karena dia kerja seharian. Setelah ada anak juga tetep ngga ada ART karena situasi tidak memungkinkan.

Ini situasi yang pelik sebenernya, mengingat sebelum menikah, ketika masih dirumah orangtua, minimal ada 3 ART yang membantu kami. Trus tiba-tiba pindah keluar negeri yang jauh dari keluarga, dan ngurus rumah sendiri. Plus ngurus emosi akibat homesick. Tapi alhamdulillah semua terlewati dengan baik.

Baik maksudku adalah aku bisa bertahan, tidak tertekan dan tetap merasa bahagia dengan kehidupan baruku. Aku harus berterima kasih kepada orangtua yang tidak membiarkanku selalu dilayani. Mereka memberiku tanggung jawab dan kewajiban yang harus aku lakukan dirumah. Dulu sih kesal waktu disuruh-suruh. Tapi ternyata sekarang baru terasa manfaatnya. Siapa yang tahu masa depan seseorang? Aku tidak pernah membayangkan hidup merantau seperti ini. Seluruh keluarga besarku, dari kedua orangtua, tinggal di kota yang sama.

Jadi, aku pun harus mengajarkan hal yang sama pada anakku. Entah dimana dia akan tinggal nanti, dengan siapa, fasilitas apa yang akan dia punya, aku tidak tahu. Tapi bagaimanapun kondisinya, dia harus jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tugas Rutin

Mawiya terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Ada tugas-tugas yang harus dilakukannya sendiri tanpa bantuan, mulai bangun sampai tidur lagi.

1. Mawiya tidur sendiri di sofa bed, di sebelah tempat tidurku. Ketika bangun, dia harus merapikan tempat tidurnya dengan cara meletakkan bantal dan selimutnya di tempat tidurku (untuk aku lipat karena masih terlalu besar untuknya) lalu melipat sendiri sofa bednya. Dia juga harus mengambil penebah untukku.

2. Meletakkan gelas dan piring bekas makan ke tempat cuci piring.

3. Mencuci sendiri bajunya. Ini sebenarnya tidak benar-benar mencuci, hanya simbolis saja. Kami tidak memiliki mesin cuci, jadi harus cuci manual. Ada satu ember kecil untuk Mawiya “mencuci” baju-bajunya sendiri, yang sebenernya sudah aku cuci. Setelah itu biasanya dia menawarkan diri untuk menyikat dinding dan lantai kamar mandi dengan air sabun bekas cucian, sekaligus membilasnya. Aku hanya menujukkan tempat mana yang belum disikat. Anak mana sih yang ngga suka mainan air? Apalagi ada busa sabunnya.

4. Meletakkan bajunya yang sudah di setrika di laci. Dia harus membawa tumpukan baju ke kamar, memisahkan atasan dan bawahan, dan meletakkannya dengan rapi di laci. Rapi berarti laci bisa ditutup dengan baik tanpa membuat baju terjepit atau terlipat.
image

5. Bertanggung jawab mengembalikan mainan ke tempat semula, yang tidak berhenti sepanjang hari.

6. Membantu aku membersihkan rumah dengan cara mengambilkan sapu dan cikrak untukku. Sementara dia mengelap perabot. Biasanya kami giliran menyapu, setelah aku baru dia, itupun simbolis saja. Dia juga bertugas membuka lipatan karpet setelah selesai dibersihkan.

7. Merawat diri sendiri. Mulai menyikat gigi, memakai sabun dan shampoo, mencuci tangan, membuka dan menutup kran sendiri, dibawah pengawasanku.

8. Berpakaian sendiri, meski baru sebatas memakai celana dalam, celana panjang atau rok, kaos kaki pendek dan sepatu sendiri. Untuk baju dia belum bisa dan belum menunjukkan ketertarikan untuk belajar.

9. Dandan sendiri, hanya memakai lotion dan bedak sendiri, dibawah pengawasanku.

10. Membawa ransel dan kopernya sendiri ketika sekolah atau bepergian. Beratnya tentu disesuaikan dengan kemampuannya. Kalau ternyata barang bawaannya banyak, aku membaginya di ranselku, BUKAN membawakan ranselnya.
image

image

11. Siap-siap tidur sendiri, mulai dari membuka sofa bed sebelum tidur, mengambil buku yang ingin dibaca dan boneka yang dia inginkan.

Sementara itulah hal-hal rutin yang harus dilakukan sendiri. Beberapa aktivitas masih harus diawasi. Aku juga sering minta tolong diambilkan sesuatu, seperti gunting, lem dll.

Saat yang Tepat untuk Belajar

Kapankah saat yang tepat bagi anak untuk mempelajari sesuatu? Tiap anak memiliki masa peka belajar. Masa ketika ia menunjukkan minat untuk melakukan sesuatu, seperti berjalan, memakai sepatu sendiri, mencoret-coret dll. Ketika masa itu datang, proses pembelajaran akan berlangsung mudah dan cepat. Masalahnya kita tidak pernah tau kapan masa itu akan datang. Secara garis besar memang ada standar kompetensi anak. Misalnya pada rentang 10-18 bulan, anak biasanya sudah bisa berjalan. Tapi di bulan berapa tepatnya, akan berbeda masing-masing anak. Ada 240 hari, atau 5760 jam disitu. Kita hanya harus percaya dan sabar menunggu saatnya masa peka itu datang.

Sambil menunggu, apa yang harus kita lakukan? Jawabnya adalah stimulasi. Anak butuh banyak stimulasi dan dukungan dalam belajar. Adakalanya anak menunjukkan minat sebelum kita mengajari, atau sebaliknya. Kita mengajari, lalu anak tertarik untuk mencoba. Aku tidak pernah menyuruh Mawiya untuk berpakaian sendiri. Tapi satu hari ketika aku sedang menyetrika, tiba-tiba saja dia mengambil celananya dan memakainya sendiri. Ting! Inilah masa peka untuk belajar berpakaian. Sekali saja diajari, dia langsung bisa. Sedangkan untuk bertanggung jawab mengembalikan mainan, dia sudah dibiasakan sejak usia 6 bulan. Tentu dia masih belum mengerti waktu itu. Aku yang beres-beres sambil berkata, “kita beresin dulu ya..”. Sampai di usia 3 tahun ini, perilaku beres-beres sudah mulai tampak permanen, meski kadang harus diingatkan juga. Tahapan belajarnya mulai dari melihat orangtuanya beres-beres, 50-50 bersama orangtua, 25% dibantu, sampai sekarang cukup disuruh saja. 2,5 tahun ternyata belum cukup untuk membentuk anak jadi terbiasa berbuat baik. Jadi heran kan sama orangtua yang mengeluhkan anaknya yang selalu berantakan, sementara dia sendiri tidak membiasakan untuk rapi. Bagaimana bisa dia berharap anaknya bisa terbiasa rapi dengan hanya diomeli? Anak tidak hanya butuh perintah, tapi juga contoh dan supervisi.

Kebiasaan apa yang harus di stimulasi sebelum minat anak muncul? Jawaban menurutku adalah semua kebiasaan baik. Yang perlu dikendalikan adalah ambisi orangtua. Berikan saja dorongan dan contoh tanpa berharap anak akan mengerti dan meniru saat itu juga. Mereka selalu punya kejutan untuk kita.

Reward and Punishment

Apakah Mawiya mendapat reward untuk semua itu? Ya, dia mendapat reward berupa ucapan terima kasih dan pujian. Aku katakan, “terima kasih Mawiya, sudah membantu mencuci”, “terima kasih Mawiya, sudah bertanggung jawab”, “terima kasih Mawiya, sudah jadi anak yang menjaga kebersihan”, dll. Pujian untuknya harus jelas, apa yang sudah dilakukan. Bukan hanya “anak pinter” atau “anak hebat”. Dia sering mengatakan “aku pintar”. Biasanya aku akan bertanya, “pintar apa?” lalu dia menjawab, “pintar lap-lap”. Dia butuh pujian dan penghargaan atas perilaku positifnya, tapi aku juga tidak ingin dia jadi narsis ngga jelas.

Soal reward ini memang tricky. Kita harus mempertimbangkan dengan baik efeknya. Kita ingin anak merasa dihargai setelah melakukan hal positif, sekaligus tidak ingin dia berbuat pamrih dan tidak ikhlas. Karakter anak juga harus dipertimbangkan. Ada anak yang memang ringan tangan, ada juga yang sadar ekonomi banget. Karena itu, proses pembiasaan perilaku bisa berbeda-beda tiap anak. Yang pasti tujuan nya sama, ingin anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Evaluasi harus selalu dilakukan orangtua, apakah metodenya berhasil atau tidak.

Mawiya tidak selalu mendapat hadiah mainan atau makanan atau benda apapun, karena aku tidak ingin dia terbiasa dibayar. Untuk situasi tertentu kita memang bisa menggunakan hadiah untuk penguatan, misalnya ketika toilet training. Jika anak berhasil mencapai prestasi tertentu, kita bisa memberikan hadiah sebagai penghargaan. Tapi untuk perilaku yang sifatnya rutin, hadiah tidak diperlukan. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan coba, kalo dikit-dikit harus dikasih hadiah.

Ada loh anak yang hanya mau membantu orangtuanya hanya jika dia mendapat upah atau hadiah. Entah itu uang receh kembalian setelah disuruh beli gula ke warung, permen, susu atau apapun.

Bagaimana dengan punishment? Apakah dia harus dihukum jika tidak melakukan tugasnya? Tidak, aku hanya ngomel ūüėÄ plus melarang dia melakukan hal yang diinginkan sebelum melaksanakan tugasnya. Misalnya sebelum main balok, dia harus mengembalikan playdoh yang dimainkan sebelumnya. Kalau tidak, aku akan menyimpan baloknya, sampai dia membereskan playdoh. Itu dulu, waktu masih pembiasaan. Sekarang sudah tidak begitu lagi.

Aku lebih suka memakai istilah konsekuensi daripada hukuman. Karena sebelum diberikan, terlebih dahulu kami membicarakannya. Misalnya, ini masih berlaku sampai sekarang, ketika proses toilet training, untuk mencegah dia mengompol, kami membuat kesepakatan di awal. Dia tidak boleh main selama setengah hari kalau mengompol. Hanya boleh membaca buku. Dia sama sekali tidak boleh mengambil mainan atau boneka. Maka ketika dia mengompol, dia akan langsung membereskan mainannya dan mengambil buku. Pada Mawiya ini berhasil, belum tentu ini juga efektif pada anak lain.

Ketika menerapkan konsekuensi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

1. Buat kesepakatan sebelum perilakunya muncul. Ini bisa menghindarkan kita dari gelora amarah membabi buta, yang mengakibatkan kita menghukum anak dengan keras dan emosional, tapi tidak efektif untuk menghentikan perilaku buruknya.

2. Pastikan konsekuensi yang ditetapkan efektif untuk anak. Ngga lucu dong kalo maksudnya menghukum tapi anak malah menikmati hukumannya. Sebelum menerapkan aturan “tidak boleh main kalo ngompol”, aku menerapkan aturan “harus mencuci clodi yang kena ompol”. Ternyata ini sangat tidak efektif karena Mawiya malah betah di kamar mandi. So, selalu lakukan evaluasi.

3. Konsekuen dengan kesepakatan yang telah dibuat, dimanapun kita berada. Termasuk didalamnya kekompakan orangtua dan orang lain dalam keluarga. Kesepakatan akan sia-sia jika orang dewasa di sekitar anak menerapkan aturan berbeda. Ngeselin kan kalo kita melarang anak makan permen, tapi bapaknya malah beliin. Ngga lucu juga kalo pas lagi ngajarin toilet training, kita malah menyuruh anak untuk pipis di pospak, hanya karena sedang di perjalanan dan malas mencari toilet. Sekali lagi, malas, bukan tidak ada toilet. Padahal sang anak sudah mampu mengendalikan otot panggulnya untuk menahan pipis.

4. Berikan apresiasi ketika anak berhasil berperilaku sesuai harapan. Jangan pelit memuji. Pujian tidak akan berefek buruk jika disampaikan secara fair. Maksudnya, pujian yang disampaikan tidak diiringi dengan mencela anak lain. Misalnya, “kamu pinter deh, sudah bisa pake sepatu sendiri. Temanmu yang itu belum bisa loh..” Pujian seperti ini akan memunculkan sifat sombong pada anak. Dia akan merasa lebih hebat dibanding temannya yang belum bisa. Kita juga bisa memuji kemampuan anak lain, yang belum dimiliki anak kita, tanpa merendahkannya. Ini akan membuat dia belajar menghargai kelebihan orang lain, tanpa merasa iri dan sakit hati. Tidak perlu kita berkata, “dia sudah bisa loh, kamu kok belum..”. Ucapan semacam ini hanya akan menyakiti perasaan manusia.

5. Yang terpenting dari semua tadi, berdoa. Tidak ada yang mengalahkan kesaktian doa orangtua untuk anaknya. Titik.

Keefektifan reward dan punishment akan berbeda pada tiap anak. Apapun pilihan kita sebagai orangtua, harus tetap menyesuaikan dengan keunikan pribadi masing-masing anak.

Aku Bergembira : Crafting, Membuat Bunga Kertas

Apa Yang Kami Lakukan?

Dirumah ada banyak sisa tangkai balon milik Mawiya yang nganggur. Hampir tiap ke mall Mawiya dapat balon gratis. Setelah balonnya meletus atau kempes, saya menyimpan tangkainya. Siapa tau bisa bikin sesuatu. Mawiya sendiri suka memainkannya menjadi stik drum, atau stetoskop. Itu tuh, pake penyangga balon. Seru ya imajinasi dan kreativitas anak-anak itu…

Seperti biasa, saya browsing dan menemukan link keren ini. Mawiya sendiri suka bangeeeeeet sama origami. Dia selalu menyimpan dengan baik origami yang saya buat, memainkannya berulang-ulang sampai lecek. Jadi waktu saya ajak bikin bunga kertas ini, dia antusias sekali.

Kemampuan melipatnya memang belum sempurna. Sudut-sudutnya belum pas dan lipatannya kurang mandhes. Apa ya bahasa indonesianya mandhes? Tapi dia sudah bisa melipat dasar bentuk segi empat dan segi tiga.

Pertama, lipat kertas menjadi persegi panjang. Lipat lagi menjadi kotak. Lipat lagi menjadi segitiga.

image

Kedua, gunting keempat sisinya seperti ini, tapi jangan sampai tengah, nanti putus.

image

Lipat dan lem di empat bagian yang diberi tanda.

image

Gunting ujung tangkai, lalu tusukkan bunganya. Voila!

image

Bisa jadi sunggar juga loh ūüėÄ

image

Keterampilan yang dipelajari

Origami membuat anak belajar mengenai arahan / instruksi. Orang dewasa menyampaikan langkah pembuatan, anak menyimak, lalu meniru. Anak belajar disiplin dengan mengikuti instruksi secara berurutan. Dia tidak bisa seenaknya melompat dari langkah satu ke langkah lainnya. Beberapa anak bisa merekam beberapa instruksi sekaligus, tapi ada juga yang harus diberi instruksi satu satu. Ini tergantung pada usia dan kemampuan memori jangka pendeknya.

Origami juga membuat anak belajar membaca diagram. Dengan bimbingan orangtua, anak juga bisa belajar mempresentasikan diagram, dengan cara menjelaskan langkah pembuatan origami.

Anak juga mempelajari bentuk-bentuk geometri dasar seperti segi empat dan segitiga. Begitu juga tentang akurasi. Untuk membuat origami yang baik, anak harus mempertemukan sudut kertas dengan tepat dan akurat. Selain itu, tentu saja, ada pembelajaran mengenai kesabaran, ketelitian, koordinasi visual motorik, seni dan konsentrasi.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Begitu banyak hal yang bisa dipelajari anak melalui origami yang sangat bermanfaat di kehidupannya kelak. Kesabaran, ketelitian, dan disiplin adalah sifat yang harus dimiliki setiap individu. Bisakah kita membayangkan apa jadinya anak kita nanti tanpa ketiga sifat itu?

Akan ada banyak kesalahan yang dibuatnya. Pensilnya selalu ketinggalan. Lupa dimana kaos kaki sebelahnya. Selalu mendapat komplain karena tidak mengembalikan barang yang dipinjam. Membuat teman sekelompok kesal karena dia tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Nilai ipk tidak maksimal. Perusahaan tidak memberikan bonus karena telat melulu. Atau jika memilih berwirausaha, pelanggan tidak mau lagi memesan karena hasilnya tidak sesuai keinginan mereka. Aduuuuuh…

Siapa tahu nih, dengan belajar origami, kita bisa ketularan sifat disiplin dan telitinya orang jepang ūüôā

Aku Bergembira : Sains, Tenggelam & Mengapung

Apa Yang Kami Lakukan?

Pertama saya membuat tabel percobaan yang terdiri dari 4 kolom, nama benda, tenggelam, melayang dan mengapung. Setelah itu saya menyiapkan air dalam baskom. Lalu bersama-sama kami mengumpulkan benda-benda yang aman untuk dimasukkan air, seperti gunting, mainan, uang, pensil, dan lain-lain. Saya juga memberitahu Mawiya bahwa beberapa benda tidak boleh terkena air, seperti HP (Helepon Penggam).

Satu per satu, Mawiya memasukkan benda ke dalam air, dan mengamati apakah benda itu tenggelam, melayang atau mengapung. Setelah itu dia memberi tanda di kolom yang sesuai. Tadinya saya ingin mengajari menulis huruf V, tapi akhirnya malah jadi garis lurus doang. Tidak apa-apa, bisa bikin garis lurus saja sudah bagus¬†:-). Di percobaan yang¬†lain¬†malah¬†berubah¬†jadi¬†huruf¬†D¬†ūüôā

PicsArt_1413774127527

Keterampilan Yang Dipelajari

Sains menyentuh ranah kognisi anak. Kognisi itu sendiri Рkata Pak Piaget Рberkembang melalui beberapa tahap dalam hidup seseorang. Di usia Mawiya saat ini (3 tahun) dia berada di tahap kedua, yaitu tahap pra-operasional. Tahap selengkapnya bisa dibaca disini. Pada usia ini anak seharusnya sudah mulai bisa melakukan klasifikasi berdasarkan ciri tertentu, misalnya warna, bentuk dan lain-lain.

Pada percobaan kali ini anak belajar meng-klasifikasi, benda apa saja yang tenggelam di air, dan apa yang bisa mengapung. Meskipun penjelasan tentang kenapa ada benda yang tenggelam dan ada yang mengapung belum bisa dipahami, kegiatan sederhana ini sudah memberi pemahaman bagi anak bahwa beberapa benda memiliki sifat yang berbeda.

Inti dari kegiatan ini adalah prosesnya, bukan hasil. Percobaan sains bisa mempertebal rasa ingin tahu anak dan menanamkan kebiasaan untuk menjawab pertanyaan melalui cara yang ilmiah dan rasional, bukannya berdasarkan dugaan dan anggapan saja. Selain itu, keberanian untuk mengeksplorasi benda-benda di sekitar juga akan tertanam.

Apa Manfaatnya Ketika Mereka Dewasa?

Ketika mengajarkan konsep baru kepada anak, kita harus tahu berada dimana tingkat penerimaan anak. Apakah dia sudah bisa memahami hanya dengan mendengar? Atau dia harus menggunakan seluruh indranya? Saat kita mengetahui posisinya, akan lebih mudah bagi anak untuk belajar. Dia tidak merasa frustrasi dan kelelahan dalam memahami konsep baru. Ini akan menanamkan rasa cinta belajar pada anak.

Orang dewasa yang tidak cinta belajar akan terperangkap di masa lalu. Dia tidak akan bisa menerima bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang. Generasi-generasi baru melakukan riset yang seringkali mematahkan teori lama. Di saat ilmuwan baru menemukan sumber energi terbarukan, beberapa orang masih sulit meninggalkan sumber energi yang diprediksi secara ilmiah akan habis.

Seorang marketer yang baik akan selalu bertanya-tanya, inovasi apa lagi yang harus dilakukan untuk meningkatkan penjualannya. Lalu dia akan melakukan uji coba inovasi barunya. Berhasilkah? Kalau gagal, dimana kesalahannya? Apa yang harus diperbaiki? Dan dia akan mencatat faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan penjualan produknya. Rasa ingin tahu yang tinggi, keberanian bereksplorasi, dan pola pikir ilmiah akan membantu anak menjadi pribadi yang berkualitas.

Aku Bergembira : Fun Rorschach

Apa Yang Kami Lakukan?

Rorschach adalah nama salah satu tes kepribadian, diambil dari nama penemunya, Hermann Rorschach. Tes ini juga disebut tes bercak tinta, karena menggunakan kartu kartu bergambar abstrak, seperti tinta yang tumpah di satu sisi, kemudian kertasnya dilipat sehingga membentuk pola yang sama di kedua sisi seperti cermin. Testee diminta menyebutkan, gambar apa yang dilihatnya dari kartu-kartu itu. Jawaban tiap orang bisa saja berbeda. Ada yang melihatnya sebagai satu objek secara utuh, ada yang melihatnya parsial. Jawaban-jawaban itu kemudian diinterpretasikan, seperti apakah kepribadian orang tersebut.

Lupakan soal penggambaran kepribadian. Sampai kapanpun, menebak gambar abstrak selalu menyenangkan. Seperti halnya menebak bentuk awan. Kita akan menemukan bentuk baru dari gambar itu. Apalagi ketika membandingkan tebakan kita dengan tebakan orang lain.

Cara membuatnya pun sangat menyenangkan untuk anak.

  1. Siapkan benang dan cat warna-warni (bisa juga menggunakan pewarna makanan dan air).
  2. Celupkan benang ke dalam pewarna, lalu buat pola di satu sisi kertas.
  3. Lipat kertas menjadi dua bagian.
  4. Tekan kertas, lalu tarik benang hingga keluar. Benang berwarna akan meninggalkan jejak yang sama di kedua sisi kertas.
  5. Variasikan pola dan warna.
  6. Setelah kering, biarkan anak menebak menyerupai bentuk apakah pola yang dibuatnya tadi.

Fun RorschachKeterampilan yang dipelajari

Aktivitas ini akan membuat anak melatih motorik halusnya, mulai mencelupkan benang, mengambil benang yang basah dan menjaganya agar tidak kusut, meletakkan di atas pola secara berlekuk-lekuk, melipat kertas, lalu menarik benang sementara tangan lainnya menekan kertas.

Ia akan memperoleh kesempatan untuk bebas berimajinasi.Dimana dia akan meletakkan warna tertentu? Saling terpisah, atau bertumpuk beberapa warna?

Bagaimana ia menerjemahkan gambarnya? Sebagai satu objek keseluruhan? Atau melihatnya sebagai cermin? Melihat gambar besar, atau beberapa gambar kecil?

Bagaimana jika kertas diputar? Apakah dia melihat gambar yang sama? Atau berubah jadi bentuk lain?

Bagaimana kisahnya? Apakah gambar-gambar itu saling berhubungan? Atau terpisah-pisah dengan kisah yang berbeda?

Bagaimana kosakata yang digunakan? Apakah anak hanya menyebutkan benda yang dihatnya? Atau menambahkan imajinasi lain? Misalnya, dia melihat kupu-kupu, apa dia hanya menyebutkan kupu-kupu saja, atau menyebutkan¬†“kupu-kupunya sedang terbang mencari temannya”?

Proses ini sangat menyenangkan dan bagus untuk melatih imajinasi dan kemampuan berbahasanya. Kita bisa memancing dengan pertanyaan terbuka untuk membuatnya lebih banyak bercerita.

Apa manfaatnya ketika mereka dewasa?

Manusia menyampaikan pemikirannya melalui bahasa. Beberapa orang ahli dalam menyampaikannya secara lisan, beberapa ahli melalui tulisan, gambar bahkan musik.Keterbatasan kemampuan dan kosakata yang dimiliki sering menyulitkan anak  dalam berpendapat dan menyampaikan keinginannya. Seiring proses belajar, kesulitan ini akan teratasi.

Pancingan orangtua agar anak lebih banyak bercerita sangatlah penting. Ini akan menambah istilah-istilah baru dalam perbendaharaan katanya. Salah satu indikator kecerdasan individu adalah kemampuan verbalnya. Seberapa lengkap perbendaharaan katanya, bagaimana susunan kalimatnya, caranya menyampaikan pemikiran dll.

Imajinasi juga penting di kemudian hari. Imajinasi bukan hanya tentang dongeng khayalan¬†– yang ternyata bisa membuat sesorang bisa jadi sangat hebat sepanjang masa seperti Hans Christian Andersen. Imajinasi juga dibutuhkan dalam perencanaan sesuatu. Kita tidak akan bisa melakukan perencanaan dengan baik tanpa bisa membayangkan kondisi di masa depan –¬†yang belum terjadi¬†– sedetail mungkin.

Ketika memulai usaha baru, kita harus bisa menjelaskan detail usaha kita, apa potensinya di masa depan, bagaimana peluang pasarnya, seperti apa perkembangan usaha ini di masa depan, siapa pesaingnya, dan bagaimana pembiayaannya. Semua ini harus sudah jelas sebelum usaha berjalan. Nah, bagaimana kita bisa membuat business plan yang baik tanpa kemampuan berbahasa dan berimajinasi yang juga baik?

Aku Bergembira : Melukis 3 Dimensi

Apa Yang Kami Lakukan?

Mawiya suka sekali melukis dan mewarnai. Tapi lama-lama bosan juga ya kalo materinya hanya itu-itu saja. Suatu hari waktu kami beli telur di supermarket, stoknya tinggal sedikit. Kardus-kardus telur jadi terlihat kosong. Tiba-tiba saja terpikir, sepertinya seru kalau kardus ini di lukis. Bisa jadi variasi baru untuk Mawiya selain melukis di kertas. Gratis pula (catet!).

Kami tidak memiliki tujuan khusus ketika melukis. Tidak ingin membentuk gambar tertentu. Acak saja meletakkan warna, sesuka hati Mawiya. Setelah itu, Mawiya bisa meletakkan telur mainannya disitu, dan main peran berjualan telur. Atau menggunakannya sebagai wadah potongan kertas yang akan disusun menjadi kolase.

Melukis 3 Dimensi

Keterampilan yang dipelajari

Seperti halnya melukis di atas kanvas atau kertas atau bidang datar lainnya, melukis benda 3 dimensi juga membutuhkan koordinasi visual motorik yang baik. Tapi 3 dimensi memberikan sensasi berbeda bagi anak, melalui lekukan dan celah-celah sempitnya. Gerakan melukisnya jadi lebih bervariasi.

Melalui aktivitas ini konsep ruang juga dipelajari, seperti atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang. Anak juga belajar lebih mengenai ketelitian dibanding melukis di atas bidang datar, karena sudut pandang yang terbatas.

Apa maanfaatnya ketika mereka dewasa?

Menurut saya ketelitian adalah salah satu basic skill yang harus dimiliki seseorang. Orang yang kurang teliti tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga merugikan lingkungannya. Mereka sering membuat rekan kerjanya bekerja dua kali bahkan lebih, yang berarti sangat tidak efektif dan efisien.

Beberapa individu terlahir dengan ketelitian yang baik. Tapi ada juga yang tidak. Terlahir dengan ketelitian super atau tidak, kemampuan ini tetaplah harus dilatih. Salah satunya dengan melukis 3 dimensi ini. Anak akan belajar memeriksa pekerjaannya secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang.

Memiliki sudut pandang yang beragam akan membuat anak menjadi individu yang objektif. Dia akan mampu menjelaskan sebuah objek secara menyeluruh dari berbagai sisi. Seorang arsitek harus mampu membuat gambar rumah yang akan dibangunnya dari sisi atas, bawah, dan memutar. Kalau tidak, pada saat pembangunan nanti, bisa saja terjadi kesalahan yang mengakibatkan kerugian materi, waktu dan tenaga.

Seorang hakim harus bisa menilai sebuah masalah tidak hanya dari sudut pandang korban, tapi juga dari sisi tersangka. Tidak selalu kasus kejahatan  yang terjadi sepenuhnya kesalahan pelaku.

Kedua hal ini, ketelitian dan sudut pandang yang beragam, jika dilatih dengan baik sejak dini, akan sangat membantu kesuksesan anak di masa mendatang.