Category Archives: Perjalanan

Jawa Timur : Batik, Rafting & Hiu

… Sebelumnya

1 Januari 2015

Waktu hunting tiket pesawat beberapa hari yang lalu, harga termurah ada pada penerbangan terakhir tanggal 31 desember, dan penerbangan pertama tanggal 1 januari. Memperhitungkan macet di jalan menuju dan dari bandara, kami pilih penerbangan pertama tanggal 1 januari. Ternyata emang enak, lalu lintas lancar waktu menuju bandara Soehat dan dari bandara Juanda.

Jam 6.30 pagi sampai di Juanda, Ama, Buya dan adekku sudah menunggu disana. Dari Juanda kami berencana ke Pasar Batik Bangkalan. Sebelumnya mampir masjid bandara dulu untuk mandiin Mawiya. Kami melewati jembatan Suramadu menuju pulau Madura. Pasar Batik Bangkalan terletak di pusat kota Bangkalan.

Seperti halnya kampung Kauman di Solo, Pasar Batik Bangkalan ini bikin mataku jereng! Kain-kain batik ini cantik banget! Para penjual menawarkan harga yang ngga kira-kira. Kain-kain ini harus ditawar sampai lebih dari separuh harga. Kain yang aku suka dihargai 900 ribu dan dilepas dengan harga 350 ribu.

Penjual di kampung Kauman, Solo sepertinya lebih rasional dalam memberi harga. Meskipun harga memang dinaikkan untuk turis, tapi setidaknya lebih masuk akal. Ada kain batik di pasar ini yang menawarkan selembar kain batik seharga 3 juta. Cantik banget emang.. tapi 3 juta? Ngga segitunya juga kelleesss.. Masa abis nawarin 3 juta trus turun jadi 1,5 juta. Mana ada orang yang mau kehilangan duit 1,5 juta begitu saja. Ada banyak sekali pilihan motif batik khas Madura di pasar ini. Penjualnya juga sangat banyak, jadi jangan ragu untuk meninggalkannya kalo masih kemahalan.

Aku bertemu dengan 2 teman SMU ku yang tinggal di Madura. Nurul dan Nisa. Ketemu Nurul di pasar batik dan menghadiahi aku dua kantong besar berisi cemilan. Ketemu Nisa dirumahnya, dan berasa sedang di warung. Datang, makan, pulang. Nisa juga membawakan aku sekarung kerupuk yang enak benget. Serunya sekolah di pesantren, teman tersebar di mana-mana!

image
Bersama Nurul di Pasar Batik Bangkalan

Rumah Nisa terletak di dekat penyebrangan Kamal. Sebelum ada jembatan Suramadu, penyebrangan ini adalah satu-satunya penghubung pula Madura dan Jawa. Antriannya bisa berjam-jam. Perjalanan fery-nya sendiri hanya sekitar 15 menit. Sekarang sudah sangat jauh berkurang. Hari ini bahkan tidak ada antrian. Biaya tol Suramadu memang lebih murah dibanding penyebrangan Kamal. Tapi untuk penduduk yang lokasi rumahnya seperti Nisa, penyebrangan Kamal tetap jadi pilihan karena lebih dekat.

image
Di depan rumah Nisa

Mawiya senang sekali bisa naik fery. Dia berdiri di pinggir pagar kapal sepanjang perjalanan. Tidak lupa komentar pedas kalo lihat sampah di laut. “Orang-orang mesti buang sampah sembarangan! Kan lautnya jadi kotor!”
image

Di sebelah kami ada seorang ibu yang membawa kresek hitam berisi kelengkeng. Dia mengupas buah untuk dirinya sendiri dan anaknya. Kulit dan bjinya dilempar sesuka hati ke laut. Mawiya menoleh ke arahku dan bicara keras sekali dengan suaranya yang cempreng, “Iiihh.. kenapa buang sampah sembarangan? Nanti kan lautnya jadi kotor!” Aku merasa tidak enak mendengarnya, tapi akhirnya aku bilang, “Iya ya.. kenapa ngga ditaroh plastiknya lagi aja Bu?” Ibu itu lalu berhenti melempar kulit dan biji kelengkeng.

Untuk menegur perilaku publik yang salah itu, Mawiya jauh lebih pemberani daripada aku.

2-6 Januari 2015

Kami menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Pasuran dan Mojokerto.

7 Januari 2015

Seru-seruan terakhir sebelum liburan berakhir. Jam 5 pagi kami berangkat dari Mojokerto ke Pasuruan, lalu lanjut ke Probolinggo. Kami mau rafting disana. Mawiya langsung diangkat dengan baju tidrnya, pindah tidur di mobil. Jam 10 siang kami sampai di Probolinggo.

Probolinggo dianugerahi sungai-sungai yang lebar, deras dan penuh batu besar. Pas banget buat arung jeram. Ada beberapa pengelola wisata arung jeram, Regulo, Songa dan Noars. Masing-masing punya jeram, ketinggian, dan durasi waktu yang berbeda. Kali ini kami mencoba trip Songa Atas (ada Songa Bawah yang lebih pendek). Pengennya sih Mawiya juga ikut, tapi ternyata ga boleh. Minimal usia 7 tahun.
image

Kita bebas mau pake baju apa aja. Tapi yang disarankan tentu saja outdoor fit. Kaos, celana pendek, tidak berbahan parasut karena nanti pasti menggembung kena air. Atau baju renang panjang. Segala aksesoris sebaiknya dilepas. Setelah mendapat helm, jaket pelampung dan dayung, kami mendapat briefing awal dari mas-mas pemandu.
image

Untuk menuju ke titik awal arung jeram, kita harus naik kendaraan. Mobil bak terbuka cyind.. seru abis! Jalanannya sempit, tidak rata dan berkelok-kelok. Berasa mau jatuh ke jurang kalo ada mobil dari arah berlawanan. setelah mobil berhenti, kita masih harus berjalan kaki, entah berapa jauh dan berapa lama. Tidak ada hanphone, jam dll. Nikmati saja perjalanan yang naik turun, terjal dan berbatu ini. Setidaknya ada dayung yang bisa difungsikan sebagai tongkat pegangan.
image

Sesampainya di bibir sungai, mas-mas pemandu membagi kami dalam 2 kelompok. Masing-masing perahu bisa diisi 5-7 orang, termasuk satu pemandu. Karena kami datang cuma bertujuh, jadi satu kelompok berisi 4 orang plus 1 pemandu, satu kelompok lainnya berisi 3 orang plus 2 pemandu.

Mas-mas pemandu kemudian memberi briefing tentang cara memegang dayung, cara mendayung, dan kode-kode yang harus diingat beserta artinya. Mulailah keseruan ini. Apalah artinya arung jeram tanpa teriakan! Tenggorokanku seperti mau putus setelahnya.

Tidak peru khawatir soal dokumentasi karena pengelola sudah menyiapkan fotografer di spot-spot terbaik. Memang harus bayar untuk tiap file yang kita pilih. Tapi worth it lah.. Mereka sudah tau pasti dimana bisa memperoleh gambar dengan ekspresi dan pemandangan yang fantastis. Salah satunya di air terjun dan gua kelelawar.

image
Apa jadinya kejatuhan air kayak gini tanpa helm..

image
Jelas terlihat kalo yang kerja mas pemandunya doang 😀

Ditengah perjalanan arung jeram ini kami mendengar suara melengking dan jatuhnya air. Ternyata kami melewati tebing-tebing yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Suaranya sih masih tahan. Tapi baunya… Menyengat banget!!! Ribuan kelelawar itu menakjubkan! Tebing-tebing itu seperti ditutup tirai yang terbuat dari tetesan air. Indah sekali. Rasanya seperti berada di dunia lain.

image
Warna hitam dibalik air terjun itu adalah ribuan kelelawar. Warna hijau adalah lumut

Setelah separuh perjalanan, kita berhenti di sebuah pondok di pinggr sungai. Pengelola menyediakan makanan ringan disana. Pisang goreng dan teh rempah yang hangat. Aliran air di sekitar pondok lebih tenang dibanding sebelumnya, dan tidak ada batu-batu besar. Pemandu yang jahil akan membalikkan perahu sehingga semua orang jatuh tercebur ke sungai. Tenang.. sudah pake pelampung kan..

Perjalanan lalu berlanjut sampai di garis finish. Total semuanya 2-2,5 jam. Lalu kami kembali melewati jalan setapak yang menanjak dan berbatu, untuk kembali naik mobil bak terbuka, menuju pos dari arah yang berlawanan waktu berangkat tadi.

Setelah mandi, berganti pakaian dan salat, saatnya makan siang. Nasi jagung dan kawan-kawanya ini terasa enak banget! Pas dengan suasana pedesaan. Apalagi teh rempah-rempahnya.. Juara! Makan siang ini sudah termasuk dalam harga paket sebesar 269 ribu per orang. File foto dijual terpisah.

Kami sudah lumayan capek, tapi pemandu kami menawari mampir ke pantai Bentar. Aku sudah sering melewatinnya, tapi tidak pernah tertarik untuk mampir. Pantai Bentar di Probolinggo yang terletak di jalur pantura ini tidak memiliki garis pantai berpasir, melainkan tebing. Karena tadi Mawiya agak kecewa ngga boleh ikut rafting, akhirnya kami memutuskan mampir ke Pantai Bentar untuk naik perahu.

Mawiya senang sekali bisa naik perahu. dia bilang “Yeay.. kita rafting!” Ooohh kasian sekali kamu nak… Kita akan datang lagi 4 tahun mendatang ya.. Makin lama, perahu makinn jauh meninggalkan pantai. Angin berhembus makin kencang, dan kapal bergoncang makin keras. Kami mulai ngeri. Delapan orang dewasa, satu anak, dan dua orang pemandu di dalam kapal kayu. Ban pelampung yang tersedia hanya 6. Kalo terjadi sesuatu mo minta tolong siapa? Ngga lucu banget deh..

Suamiku akhirnya bilang ke pengemudi supaya berbalik arah ke pantai. Entah ngga denger, entah ngga ngerti, bapak itu diam saja. Suamiku bilang lagi dan dia hanya menjawab, “sebentar..” Sementara kapal makin jauh ke tengah laut. Ini ngga mungkin mau menyebrangi lautan sampai ketemu pulau lain kan..

Suamiku lalu bertanya pada pengemudi, “kita mau kemana?” Bapak itu menjawab pendek, “Nyari hiu.” HAAAHHHHH!!! Ngga salah denger apa? Maksudnya apa coba nyari hiu.. Suamiku bertanya lebih lanjut.

Bapak itu lalu menjelaskan kalau disitu banyak hiu totol yang sering muncul ke permukaan. Hiu-hiu ini merupakan satwa yang dilindungi, dan Pantai Bentar ternyata adalah cagar alam untuk hiu-hiu totol.
image

Tuhan.. Kenapa Bapak itu ngga bilang dari tadi.. Sepanjang perjalanan dia diam saja, ngga ngomong kalo ngga ditanya. Mungkin bapak itu sendiri berpikir kami sudah berniat dari awal untuk melihat hiu. Kenyataannya kami sama sekali ngga tahu.

Perahu lalu terasa berbelok ke kiri. Perasaanku sih begitu, karena pemandangan semua sama, biru. Tiba-tiba bapak itu berkata, “itu hiunya.. item-item itu..” Kami mulai mencari-cari, tapi hanya terlihat air. Bapak itu terus menunjuk ke depan ke arah sesuatu berwarna hitam yang tidak terlihat oleh kami. Ini apa-apaan sih..

Lama-lama kami melihat segitiga-segitga kecil berwarna hitam, jauh di depan. Itu sirip hiu! Subhanallah.. jantungku seperti mau copot! Seperti di film kartun saja. Rupanya pandangan kami kurang ke depan, jadinya kami ngga melihat adanya hiu. Makin lama makin dekat, hiu-hiu tampak jelas di permukaan. Badannya sepanjang perahu yang kami naiki. Kepalanya terlihat pipih dan mulutnya lebar. Tidak runcing seperti penampakan hiu pada umumnya. Kulitnya hitam dengan totol-totol putih. Mereka berenang bebas di sekitar perahu kami.
image

Tidak tahu ada berapa banyak hiu yang kami lihat sore itu. Kami terkesima. Menahan nafas waktu hiu berenang ke arah kami. Hiu itu akan menabrak kapal. Tapi pengemudi buru-buru berbelok, memberi jalan pada hiu itu.

Hiu-hiu cantik ini menjadi penutup liburan tahun baru kami. Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan. Mulai dari kuliner yang lezat, kain-kain tradisional yang cantik sampai menjelajahi alam yang indah dan memacu adrenalin. Semua itu bahkan terasa jauh lebih indah karena adanya keluarga dan teman-teman teristimewa.

Untuk aku dan suami, liburan kali ini bikin kami makin bingung gimana caranya mengunjungi destinasi wisata yang tidak ada habisnya di Indonesia…

Trip To Jordan (Gua Kahfi)

…sebelumnya

Destinasi terakhir perjalanan ini adalah gua 7 penidur… kok ngga enak ya kedengerannya. Maunya menerjemahkan “cave of the seven sleepers”. Ya sudah, gua kahfi sajalah, lebih familiar.

Gua ini terletak di pinggiran kota Amman. Tanpa tau sejarahnya, gua ini tidak akan berarti apapun. Isinya hanya semacam 3 ruang sempit dan tidak seindah gua Maharani.

Karena tertera di Al-Quran lah gua ini menjadi istimewa. Kisahnya tercantum dalam Surat Al-Kahfi. Kisah tentang Ashhabul Kahfi ini tidak hanya populer di agama Islam tetapi juga di agama Kristen.

Adabanyak versi mengenai letak gua ini. Mulai dari Yordania, Syria, Turki, Swedia, Norwegia, Denmark, Hungaria hingga Rusia. Sementara Al-Quran sendiri tidak menyebut secara eksplisit dimana letaknya. Yang ada adalah ciri-ciri gua tersebut yang tertera dalam Surah AL-Kahfi ayat 17.

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk. Dan, barang siapa yang disesatkanNya, kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Kemudian pada ayat 21 dijelaskan, “… Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, sebagian dari mereka berkata, ‘Dirikanlah sebuah bangunan di sisi (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka,’ Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, Sesungguhnya kamu akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”

Banyak ahli yang meyakini bahwa gua yang dimaksud terletak di Ephesus, Turki. Tapi gua tersebut memiliki pintu yang menghadap ke utara, sehingga sinar matahari tidak dapat menembus ke dalam gua. Namun demikian, karena banyaknya ulama yang meyakini hal ini, pemerintah Turki pun melakukan penggalian di situs Ephesus ini.

Tapi hasilnya justru semakin menguatkan bahwa letak yang tepat adalah yang terletak di Amman, Yordania. Bentuk gua ini persis seperti yang tertera dalam Al-Quran. Di atasnya terdapat lubang sehingga cahaya matahari bisa masuk ke dalamnya. Terdapat pula rumah ibadah yang dibangun di atas gua tersebut.

Selain itu di dalam gua terdapat kesan Nawawis. Nawawis adalah kubur bagi orang Nasrani, yang mayatnya diletakkan di dalamnya. Pada Nawawis terdapat ukiran tanda bintang segi delapan sebagai tanda kerajaan Rum-Byzantium pada abad ke – 3 Masehi. Ini menjadi tanda bahwa pada masa itu, mayat ketujuh pemuda ini telah diurus dengan adat mereka waktu itu. Tulang-belulang ini sampai sekarang masih bisa kita lihat.

Di gua yang terletak di Amman, Yordania, ini juga ditemukan berbagai benda seperti tembikar, lampu, uang tembaga dan perak dari berbagai zaman (Umawiyyah, Abbasiyah dan Turki Utsmaniyah). Hal ini menunjukkan bahwa tempat ini telah dijaga oleh berbagai zaman yang lalu.

Pemerintah Turki pun secara resmi mengakui bahwa situs Ashhabul Kahfi itu terletak di Yordania. Menurut mereka, situs di Ephesus tidak terdapat tempat peribadatan dan tidak terdapat tulisan Byzantium, seperti di Amman. Pendapat ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Ainui Dajjani, seorang doktor dari jawatan purbakala Yordania, pada tahun 1962.

Jadi, begitulah ceritanya, tidak ada lagi keraguan mengenai letak gua Ashhabul Kahfi yang sebenarnya. Mengenai cerita tentang Ashhabul Kahfi itu sendiri, ada berbagai versi juga, mengingat kisah ini juga populer dalam agama Kristen. Versi pendek bisa dibaca di buku pelajaran agama Islam. Versi panjang bisa dibaca disini, dikutip dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad.

Berakhirlah perjalanan ini. Mempelajari sejarah dengan cara ini sungguh menyenangkan. Membayangkan Nabi Muhammad pernah mengunjungi Petra membuat aku jadi merasa…

apa ya namanya…

…seperti…

…semacam…

…deskripsikan sendiri sajalah, kita mencintai seseorang, dan kita berada di tempat yang sama dengannya, hanya saja waktunya berbeda. Shallu ‘alan Nabiy..

Trip To Jordan (Wadi Rum)

…sebelumnya

Jam 6.30 teng kita check out dan melanjutkan perjalanan ke Wadi Rum. Perjalanan sekitar 2 jam. Tapi pemandangan gurun itu bikin perjalanan berasa 3x lipat lamanya. Di perjalanan menuju Wadi Rum ini kita melewati spot untuk ngeliat sunset yang paling keren. Sungguh menyesal taunya ngga dari kemaren. Padahal kita punya banyak waktu.

Wadi Rum adalah lembah terbesar di Jordan. Letaknya di sebelah selatan Jordan. Lembah ini terdiri dari gurun pasir dan batuan granit. Nama Rum sendiri diambil dari bahasa Aramaic (bahasa yang digunakan Jesus sehari-hari) yang berarti “tinggi”.

Waktu sampai di visitors center, kami dicegat satu petugas sekuriti dan seorang Badui. Mereka nanya kami sama rombongan ngga. Kami bilang engga. Mereka bilang kami harus bayar 35 JD. Sopir taksi kami merasa itu terlalu mahal. Jadinya ditawar-tawar. Ga ngerti deh kenapa mereka tiba-tiba nodong minta 35 JD. Setelah tawar-menawar itu akhirnya kita bayar 30 JD. Which is per orang 10 JD. Setelah parkir, Badui itu datang bawa mobil dengan bak di belakang. Kita pun memasuki lembah naik mobil itu. Lagi-lagi, makin kenceng gronjalannya, makin senenglah Mawiya!

Ada beberapa area di lembah ini, dan ada Badui yang benar-benar tinggal di gurun ini. Pertama kami berhenti di tempat air dialirkan dari puncak gunung. Air ini menjadi sumber kehidupan mereka.

Setelah itu kami berhenti di tenda mereka yang astaghfirullahaldzim… kuotor, juorok dan buau! Ada dua tenda, satu untuk pria, satu untuk wanita dan anak-anak. Ada kandang kambing dan onta disebelahnya, dengan kotoran dimana-mana.

Wanita Badui itu menjamu kami dengan teh yang dicampur sejenis rumput. Katanya rumput itu baik untuk perut. Enak sih, tapi setengah hati minumnya. Ngeliat kandang, ngeliat ingus anaknya, ngeliat daki di kulit mereka, ngeliat karpet dan bantal tempat mereka tidur bercampur pasir gurun. Mawiya suka sama anak-anak disitu. Akhirnya suamiku pengen Mawiya foto sama mereka. Tapi setelah itu, ibunya protes. Dia nanya kita foto dia ngga. Karena menurut kepercayaan mereka, wanita dewasa ngga boleh difoto. Kata sopir taksi kita, sambil berbisik, “apa-apaan ngga boleh difoto, buat mereka asal ada duitnya mah ngga pa pa”.

Setelah itu kita melanjutkan perjalanan dan berhenti di gunung apa ya. Pokoknya keren deh.. Aku ngga banyak tau tentang Wadi Rum ini, selain gunungnya banyak dipake buat hiking dan climbing.

Terlepas dari joroknya, menarik juga mengetahui sedikit gaya hidup suku Badui. Selama ini kan cuma tau dari buku sejarah Islam pas SD dulu, bahwa ada suku di Arab yang bernama Badui.

Banyak spot keren buat fotografi disini. Waktu ngeliat langsung mungkin tidak terlalu indah. Tapi begitu difoto, keren gilak!

Image
Rasanya pengen balik dan foto ngga pake mobil ntu! Menyesal sangat!

Disini kita ketemu seorang turis asal Bribanne. Wanita paro baya, dan dia menjelajah Jordan sendirian. Sepanjang perjalanannya, dia memungut sampah yang ditemui, memasukkannya ke ransel, dan nanti dibuang ke tempat sampah yang proper menurut dia. Luar biasa!

Tips ke Wadi Rum menurut aku :

  1. Masih sama seperti ke Petra, siapkan outfit yang pas untuk daerah gurun yang panas, berangin dan berpasir. Termasuk segala perisai matahari
  2. Ngga ada souvenir yang keren disini, jadi aku cuma beli rumput-rumputan kering untuk campuran teh.
  3. Ternyata, harga 35 JD yang dibilang Badui itu adalah harga sewa untuk mobil. Dan itu adalah harga resmi! Cappe deh! Kalo itu memang harga resmi, kenapa juga mereka pake acara minggirin mobil kita dan ngomong sambil bisik-bisik. Kenapa ngga bawa kita ke loket aja. Kenapa ngga tunjukin aja daftar harganya. Aku baru tau daftar harga ini pas mo pulang. Pas kita mo foto di depan tulisan “visitors center”.Image
  4. Kalau merasakan camping di gurun juga bisa. Badui-badui itu menyediakan tenda dan karpet. Tapi tentu lebih aman bawa sleeping bag sendiri.
  5. Kalau punya waktu lebih, mengelilingi Wadi Rum naik onta lebih berasa “Badui”nya. Berkuda juga seru. Yang praktis tentu mobil. Itu saja butuh waktu 2 jam untuk separuh lembah.

Kita ngga mau terlalu lama disitu, karena perjalanan ke Dead Sea masih panjang. Lagipula itu hari Jumat, saatnya lelaki jumatan…. (bersambung)

Trip To Jordan (Petra)

Akhirnyaa… travelliiiiiiiiing!!! Setelah sekian lama merencanakan jalan-jalan ke Jordan, datang juga kesempatannya. Kebetulan di Syria lagi long weekend karena Hari Ibu. What a sweet mother’s day hihihi…

Kami menyewa taksi selama 2 malam 3 hari dengan harga 25.000 ls. Karena lira sedang turun, jadi kalo didolarin sekitar US$ 360. Itu udah bersih, tanpa ongkos makan dan penginapan buat sopirnya.

Kamis, 22 Maret 2012, kita berangkat ke Jordan. Jam 6 pagi kita mulai jalan. Sampai di perbatasan 1,5 jam kemudian. Tujuan pertama adalah Petra, dengan waktu tempuh sekitar 4 – 5 jam dari perbatasan. Alhamdulillah perjalanan selama itu Mawiya ngga rewel. Dia lebih banyak tidur.

Setelah itu langsung nyari hotel. Si sopir taksi kebetulan punya teman yang punya hotel. Lebih tepatnya backpackers hostel. Senangnya bisa dapet hotel murah! 25 JD saja semalam, alias sekitar US$ 35. Kita toh cuma butuh kasur sama kamar mandi doang hehehe.. Setelah naro barang, salat jama qasar dhuhur asar, berangkatlah kita ke Petra. Ohya, hostel ini ada TKW nya ternyata! Busyet dah… jauh-jauh liburan ke Jordan, TKW juga ketemunya! Tapi jumlah TKW di Jordan emang jaaaaauuuuh lebih banyak dari Syria.

Tiket masuk Petra untuk turis asing adalah 50 JD atau sekitar US$ 70. Tapi untuk turis lokal, hanya 1 JD. Gila-gilaan ga tuh si Badui! Beruntungnya kami, dikenakan tiket 1 JD saja. Awalnya suamiku beli tiket dalam bahasa Arab. Trus petugasnya nanya, kita darimana.

Suamiku         : dari Indonesia, tapi kita tinggal di Damaskus

Petugas          : wah.. Damaskus, gimana disana?

S : masih aman, tidak semua tempat tidak aman

P : kamu muslim?

S : iya

P : sudah salat dhuhur?

S : sudah, asar juga sudah

P : ya sudah, kamu 1 dinar saja, kita anggap penduduk lokal karena kamu tinggal di Damaskus

Petra, البتراء, berasal dari bahasa Yunani yang berarti batu, adalah sebuah kota yang dibangun di gunung batu. Petra merupakan ibukota kerajaan Nabatean yang didirikan 9 tahun sebelum Masehi sampai tahun ke-40 oleh Raja Aretas IV. Kota ini dirancang sebagai kotayang sulit ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir.

Sebelum memasuki situs kota, kita akan berjalan melalui Siq, jalan yang diapit gunung batu. Gunung batu ini bikin kita seolah terhimpit karena begitu tinggi. Jalannya tidak terlalu lebar dan cukup melelahkan untuk orang yang tidak biasa berolahraga seperti akyu hihihi.. 1,2 km lumayan juga toh.

Tapi tak perlu resah tak perlu gundah, karena sudah tentu ada fasilitas yang disediakan. Ada delman, ada keledai, ada onta. Tinggal pilih yang mana, harganya sama saja, per orang 5 JD untuk sekali jalan. Aku sudah tentu pilih delman saja, bawa bayi Bo! Ngeri duluan mo naik onta. Dan Mawiya, masya Allah… makin kenceng delmannya, makin keras goncangannya, makin kenceng ketawanya!

Setelah lorong, kita akan sampai di the Treasury, atau Al-Khazneh. Dan aku ngga tau ini apah hahaha.. yang jelas ini adalah spot yang paling terkenal, yang jadi ikonnya Jordan. Al-Khazneh adalah ikon Petra. Al-Khazneh adalah spot buat foto yang paling penting.

Image
AL-Khazneh (The Treasury)

Berikutnya, ada teater yang mampu menampung 4000 orang, pemakaman, gereja dan museum, yang semua itu ngga mungkin bisa dikunjungi dalam satu hari dengan jalan kaki.

Petra dibangun oleh suku Nabatean, salah satu rumpun bangsa Arab yang hidup sebelum masuknya bangsa Romawi. Mereka memiliki kemampuan yang sangat baik dalam sistem pengairan. Mereka membangun terowongan dan bilik penyimpanan air bersih untuk disalurkan ke kota. Ingat, ini di gurun yang susah air. Tidak hanya itu, mereka juga sudah mengaplikasikan teknologi hidrolik untuk mengangkat air. Suku Nabatean sendiri sebenarnya adalah suku pengembara. Dengan kemampuan pengairan yang dimiliki, mereka mampu memenuhi kebutuhan air bersih dimanapun mereka berada.

Perkembangan dunia perdagangan membuat suku Nabatean memberanikan diri untuk masuk dalam perdagangan dunia. Mereka memanfaatkan Petra sebagai salah satu rute perdagangan dunia. Suku ini akhirnya menjadi saudagar sukses dengan berdagang dupa, rempah-rempah dan gading yang berasal dari Arab dan India.

Letak yang strategis dan aman membuat suku Nabatean memutuskan untuk menetap di Petra. Mereka menerapkan pajak dan bea cukai pada pedagang setempat atau dari luar yang masuk kesana. Petra pun menjadi kota perdagangan internasional yang unik. Kabarnya Nabi Muhammad SAW pernah berkunjung bersama pamannya ketika beliau berusia 10 tahun.

Pada tahun 106 Masehi, Romawi menguasai Petra sehingga jalur perdagangannya melemah. Sekitar tahun 700 Masehi, sistem hidrolik dan beberapa bangunan utamanya hancur. Petra pun hilang dan menjadi legenda.

Tahun 1812, seorang petualang Swiss bernama Johann Burckhardt, menemukan kembali kota ini secara tidak sengaja dengan menyamar sebagai muslim, dan memunculkan Petra ke dunia modern. Saat itu hanya suku Badui yang mengenal Petra.

Hingga saat ini, suku Badui menjadi tuan rumah di Petra. Mereka hidup dari pariwisata ini.

Tips ke Petra menurut aku :

  1. Bawa air dan snack secukupnya, karena seperti halnya di tempat wisata, makanan dan minuman yang dijual tentu harganya ga masuk akal
  2. Kenakan pakaian dan sepatu yang nyaman untuk berjalan jauh di arena penuh pasir dan batu. Memang sih ada kendaraan, tapi masa iya mo duduk di atas onta terus.
  3. Segala perisai matahari wajib dibawa, seperti krim tabir surya, kacamata hitam, topi, dll.
  4. Untuk yang mau jalan, bisa banget bawa tongkat hiking, karena medannya naik turun dan berbatu.
  5. Kalau cinta sejarah, satu hari ngga cukup untuk eksplorasi Petra. Itu sebabnya tiket dijual dalam beberapa pilihan, satu hari, dua hari …
  6. Foto foto foto dan foto, siapkan kamera dengan kualifikasi okeh punyak. Karena kameraku ngga banget deh buat motret daerah gurun yang sangat kaya matahari. Jadinya silau mulu!
  7. Tidak disarankan beli souvenir di Jordan kalo ada rencana mampir ke Suriah. Karena barang dan desainnya sama aja, tapi harganya jaaaaaauuuh lebih murah di Suriah.
  8. Menjelang matahari terbenam, segera keluar dari Petra dan pergi ke jalan utama Wadi Musa. Yang ini harus naik mobil ya. Dari jalan utama ini kita bisa melihat matahari terbenam di balik gunung menuju Wadi Arabia yang katanya indah banget. Dan aku sungguh menyesal baru tau tempat ini besok paginya, ketika di perjalanan menuju Wadi Rum. Ternyata banyak hotel berbintang disini dengan panorama gurun yang luar biasa indah. Tapi, matahari terbenam di Petra sendiri juga tidak kalah indah.
  9. Tuan rumah Jordan adalah Badui. Badui sama dengan uang. Jadi segalanya adalah muahual sodara!

Keesokan harinya kita lanjut ke Wadi Rum… (bersambung)

Mawiya’s 1st Trip To Indonesia (Part 2)

…sebelumnya

Sampai di Jakarta aku dijemput orangtuaku. Wuah senangnya mereka ketemu sang cucu. Tapi situasi tidak terlalu menyenangkan buat Mawiya karena dia masih jetlag. Perubahan jam Damaskus –Jakarta kan 5 jam. Udah gitu capek pula karena perjalanan jauh. Dan aku kesal karena bantal menyusuiku ketinggalan di pesawat huhuhu… Dalam hati berharap bantalnya selamat di lost n found Soetta.

Besoknya aku ke kemlu untuk minta exit permit dan langsung ke Surabaya sorenya. Dan inilah bedanya penerbangan internasional dibanding lokal. Pertama pas check in, kita disuruh ngisi formulir yang intinya kami bertanggungjawab atas bayi berusia 3 bulan yang kami bawa ini. Eee.. pas udah di pesawat disuruh ngisi lagi formulir yang sama! Katanya yang tadi itu untuk di bawah, dan yang ini untuk di atas.

Udah gitu aku ternyata dapet seat tengah yang ngga memungkinkan dipasang bassinette. Trus aku tanya mbak pramugari,

“Mbak saya bisa minta baby bassinette?”

“Oh bisa bu, nanti kita ambilkan”

Trus mbaknya dateng lagi ngasih sabuk pengaman dan pelampung buat bayi.

Pesawat pun siap-siap take off, aku mulai menyusui Mawiya. Tapi sampe Mawiya tidur, belom naik juga itu pesawat. Ga taunya ngantri nunggu tiga pesawat yang mo landing! Ajegile! Sibuklah aku bangunin Mawiya biar dia mau micuma. Gimana dia ga tidur, lha wong nunggunya aja setengah jam.

Pas tanda sabuk pengaman sudah mati, bassinette ngga dateng-dateng juga. Aku tanya lagi sama mbaknya (mbak yang lain).

“Mbak, saya bisa minta bassinette”

“Maaf ibu, kami ngga menyediakan bassinette”

“Loh, tadi kata mbaknya ada”

“Siapa yang bilang, Ibu?”

“Yang ngasih sabuk pengaman sama pelampung”

“Untuk bayi kami cuma menyediakan sabuk pengaman sama pelampung”

…bengong… dasar Lion Air! Udah delay 1 jam, nunggu landasan setengah jam, ngisi formulir yang sama 2x, diboongin pula!

Cukup sudah, suamiku akhirnya memutuskan kita naik Garuda pas balik Surabaya-Jakarta. Emang beda ya yang harganya 2x lipat ini. Kita dapet bassinette, dapet baby kit yang isinya mainan, tisu basah, pospak, dan kantong sampah. Udah gitu ga pake delay pula, dan menambah pemasukan negara hahaha…

Jadi begitulah kisah perjalanan 2 hari 2 malam berdua bayi 3,5 bulan. Capek? Sangat. Tapi ngga sulit kok. Btw, bantalku ketemu di lost n found. Alhamdulillah.

Mawiya’s 1st Trip To Indonesia (Part 1)

Ini cerita lama sebenernya, 3 bulan yang lalu kejadiannya. Cuman baru ditulis sekarang.

Ceritanya aku sudah sangat pengen pulang keIndonesia, plus mbah lagi sakit dan kebayang-bayang buyut barunya. Jadi aku dan suami ngitung-ngitung tanggal berapakah enaknya pulang. Setelah ketemu, kami memutuskan untuk pulang sendiri-sendiri. Mengingat suamiku ga bakal bisa cuti lama-lama. Jadi, aku dan Mawiya pulang duluan, baru nanti suamiku nyusul. Nantinya kita balik ke Damaskus barengan. Orangtuaku akan jemput di Jakarta.

Waktu itu Mawiya masih 3,5 bulan. Sebelum berangkat cek kesehatan dulu ke DSA, dan semua oke. Boleh banget melakukan perjalanan panjang dengan pesawat. Kita pun pesan tiket, dan tak lupa minta seat yang pake baby bassinette.

Selain satu koper gede buat ditaro bagasi, aku juga bawa satu tas bayi buat kabin. Isinya adalah :

  1. Baju ganti buat Mawiya
  2. Baju hangat buat Mawiya
  3. Baju ganti aku
  4. Baju hangat aku
  5. Nursing apron
  6. Selimut bayi
  7. Pospak (banyak)
  8. Kantong plastik untuk sampah
  9. Vitamin, obat penurun panas dan thermometer digital (dalam satu dompet)
  10. Tisu basah
  11. Tisu kering
  12. Paspor
  13. Kartu identitas dari kemlu Suriah
  14. Akte kelahiran Mawiya
  15. Charger hape
  16. Netbook & charger
  17. Rajutan
  18. Uang tentu saja

Aku juga bawa gendongan dan bantal menyusui. Aku ga bawa stroller karena aku tau nanti di bandara Dubai tempat aku transit disediakan stroller gratis. Okeh, lengkap sudah, mari kita berangkat!

Perjalanan pertama, Damaskus-Dubai, waktu tempuh 2 jam. Aku dapet kursi paling depan emang, yang bisa dipasang baby bassinette di depannya. Tetapi oh tetapi, di sebelahku itu ibu-ibu bawa bayi juga. Dan karena pesawatnya ini ga terlalu gede, jadinya hanya bisa pasang bassinette satu doang. Sementara di seat yang lain udah penuh dengan bayi-bayi yang lain.

Mbak pramugari dengan baik hati meletakkan tasku di kabin. Akunya susah dong naro tas di atas sambil bawa bayi. Waktu pesawat take off, Mawiya micuma dengan sukses. Pas lagi micuma itu, aku merasa ada getaran yang tidak asing lagi. Yeah, dia poop sodara!

Setelah tanda sabuk pengaman mati, aku minta tolong si mbak ngambilin tasku. Ambil pospak, tisu basah dan kantong plastik, lalu pergi ke toilet. Aku cari toilet dengan pintu bergambar orang dan bayi. Toilet dengan logo itu mengandung meja lipat buat tempat ganti popok. Selesai, kembali ke tempat duduk dan tersenyum melihat bassinette-nya ditempati bayi lain. Ya sudahlah, cuma 2 jam aja kok mangku Mawiya. Bantal menyusui ini benar-benar membantu.

Ada beberapa tipe bantal menyusui. Ada yang berisi spon, ada yang berisi dakron, ada yang berisi butir-butir seperti pasir. Menurut perkiraanku, yang berisi spon dan dakron ini kurang nyaman kalo dipake di kursi yang ada pegangannya seperti di pesawat, karena bentuknya kaku. Yang pasir lebih enak karena bentuknya luwes dan menyesuaikan kebutuhan. Ini perkiraan ajah loh yah.. punyaku sih yang isinya pasir hehehe..

Ngga ada masalah apapun sampai tiba waktunya makan. Gimana caranya aku bisa makan di tempat sesempit itu sambil mangku Mawiya? Tapi ajaibnya, ternyata bisa! Mejanya masih bisa dibuka berdesakan dengan bantal dan Mawiya. Ibu-ibu sebelahku, yang bayinya tidur di bassinette, dengan ramah membantu aku membuka makanan dan minumanku. Alhamdulillah.

Sampai akhirnya pesawat landing. Kembali micuma, dan perjalanan Damaskus-Dubai ini alhamdulillah lancar.

Sampai di Dubai Int’l Airport aku langsung lapor untuk penerbangan berikutnya dan memastikan dapet baby bassinette. Setelah itu ambil stroller. Tapi Mawiya ga betah lama-lama di stroller. Dia lapar, padahal aku harus scan mata, lapor ke imigrasi, nyari hotel dll. Jadinya micuma pun dilakukan sambil jalan. Strollernya jadi tempat tas deh.

Waktu periksa paspor, aku ditanya paspornya Mawiya. Dia belom punya emang. Lha wong baru lahir di negara orang. Cuma ada fotonya di pasporku dan kutunjukkan akte lahirnya sebagai bukti dia benar-benar anakku. Semua beres, waktunya nyari hotel. Aku udah dapet voucher di hotel bandara. Tapinya jarak dari pemeriksaan paspor ke pintu keluar itu jauuuuuuuuuuuuuuh banget! Gila ni bandara!

Sampe di pintu keluar sudah ada minibus jemputan dari hotel. Cek in, dan akupun dapat kamar. Aku juga dapet voucher dinner, breakfast dan snack 24 jam. Setelah dinner, bersihin dan boboin Mawiya, saatnya aku berendam. Capek banget man! Ga kebayang kalo aku dapet transit 6 jam tanpa hotel. Bener-bener keputusan yang tepat memilih transit 14 jam plus hotel.

Besoknya setelah mandi dan sarapan, aku balik ke bandara 2 jam sebelum take off. Pake minibus jemputan hotel juga. Untung banget deh, dengan harga tiket yang sama dengan transit 6 jam, aku bisa dapet hotel dan makan. Badan fresh lagi, siap menempuh perjalanan 7 jam ke depan.

Setelah lapor dan melalui berbagai pemeriksaan, aku nyari gate 202. dan betapa bengongnya aku pas ketemu gate ini. Berasa udah di Indonesia bo. TKW buanyak amit-amit! Mereka ini juga transit 14 jam tapi ga dapet hotel. Ga kebayang juga sih kalo dapet hotel. Betapa bingungnya mereka tar di bandara segede itu.

Alhamdulillah aku dapet bassinette-ku. Dubai-Jakarta terasa lancar. Kaya gini nih enaknya Mawiya bobo di pesawat.

Image

…bersambung

Trip To Lebanon (Part 1)

Libur lebaran ini kami pengen jalan berdua. Secara ijin tinggalku sudah keluar. Lebanon jadi tujuannya. Suamiku sudah punya langganan hotel dan travel karena seringnya dia kesana sebelum kami nikah (dia bilang mumpung belum ada aku! Huh!). Kita naik bus dulu ke terminal (10 lira saja alias 2000 rupiah). Trus kita naik taksi. Lebih tepatnya mobil yang disewakan share dengan orang lain. Harga sewanya 4500 lira, dibagi 5 orang, jadi jatohnya 800 lira per orang atau sekitar 160rb rupiah. Dengan uang segitu kita sudah bisa ke negara tetangga.

Perjalanannya cuma 2 jam, lebih-lebih dikit kalau kebetulan antrean di imigrasi agak panjang. Jam 3.45 kita sampai di terminal. Setelah itu jalan kaki ke masjid Muhammad, dekat terminal. Ternyata masjidnya masih tutup. Akhirnya kita mampir ke makam Hariri, PM Lebanon yang meninggal karena peristiwa pengeboman.

Masuk ke makam ini tidak seperti masuk pekuburan pada umumnya, tapi lebih mirip area pameran. Tendanya putih, ber-AC dan full karpet. Banyak pajangan foto mendiang semasa hidupnya, doa-doa, dan rangkaian bunga hidup. Makamnya tertutup bunga seluruhnya. Bunga-bunga ini cantik sekali sampai aku pikir lebih cocok untuk acara kawinan! Di area ini juga ada makam pengawal-pengawal Hariri yang ikut tewas terbunuh.

Keluarga Hariri adalah keluarga kaya di Lebanon. Mereka tidak hanya membiayai area pemakaman yang wah itu (pengawalnya 24 jam dan banyak loh!), tapi juga mensponsori pembangunan masjid Muhammad yang terletak tepat di sebelah pemakaman. Masjid ini punya arsitektur yang indah. Aku sih tidak terlalu memperhatikannya, selain karena ngantuk, di Timur Tengah banyak masjid berdesain indah. Yang aku perhatikan adalah toiletnya. Toilet adalah pertimbangan utama aku memilih masjid kalau lagi di perjalanan. Dan susah sekali menemukan toilet yang bersih di Indonesia. Toilet di masjid Muhammad ini, sumpah, aku bilang lebih bagus dari hotel bintang 3. Bersih minta ampun! Bagus lagi! Keramiknya, pencahanyaannya, aromanya, bahkan cara meletakkan tisunya, semua bagus! Betah sebenarnya berlama-lama di toilet (ya elah!), tapi aku takut karena sendirian dan masih gelap (baru buka sih, aku menyalakan semua lampu yang ada).

Setelah salat Shubuh, pengennya rebahan bentar di masjid. Tapi ternyata kata penjaga mereka mau tutup. Nanti buka lagi jam 9. ya sudahlah, kita keluar, jalan kaki ke hotel. Sepanjang jalan banyak sekali tulisan-tulisan perancis di toko-toko. Aku seolah di Eropa saja. Lebanon memang dijuluki Paris di Timur Tengah. Penduduknya sendiri menggunakan 3 bahasa untuk bercakap-cakap. Arab, Inggris dan Perancis.

Kami melewati daerah Kristen di Beirut, namanya Gemmayzeh. Sepanjang jalan banyak sekali bar. Kecil-kecil, seukuran ruko di Indonesia, tapi buanyak banget. Waktu itu semua pada tutup, jadi sepi. Kami berjalan sekitar 30 menit, dari masjid menuju hotel langganan suami. Hotelnya kecil (kok semua kecil yah), tapi bersih dan bagus. Karena sudah kenal dengan pegawainya, kami boleh menunda check in (biar ngga dihitung 2 hari) dan numpang tidur di lobi hotel. Sayang ngga ada yang bisa dimintai tolong mengambil gambar 2 orang gembel ini lagi ngorok di lobi hotel hehehe. Kami juga mendaftar untuk ikut tur jam 7.30 nanti.

Sekitar jam 8.00 barulah travelnya datang menjemput ke hotel dan membawa kami ke kantor untuk menyelesaikan pembayarannya. Jam 8.30 tepat bus berangkat. Kata suamiku travel ini on time. Bus ini berisi 34 orang dewasa dan 5 anak-anak. Tour guide kami namanya Rania, drivernya Joe. Sebelumnya dia memastikan bahasa apa yang digunakan untuk menjelaskan. Dan akhirnya dia memandu kami dalam bahasa Inggris. Travel yang kami pilih ini punya jadwal tur harian, artinya kita bisa jalan-jalan seharian dengan tujuan yang berbeda setiap harinya. Dan karena kami punya kesempatan Senin, tujuan turnya adalah Anjar, Baalbek dan Ksaar.Semua adalah tempat wisata sejarah. Sebelum sampai di Anjar, kami berhenti di sebuah rumah makan, sarapan dulu.

Anjar adalah sebuah kota tua peninggalan kaum muslim di jaman Umawi. Letaknya di dataran tinggi berdekatan dengan Damaskus. Ada banyak peninggalan Umawy di Lebanon, tapi yang berupa kota hanya Anjar satu-satunya. Kota ini terbagi dalam 4 bagian yang dipisahkan oleh 2 jalan utama, vertical dan horizontal. Bayangkan saja garis x dan y yang membentuk 4 kuadran. Seperti itulah tatanan kotanya. Sekarang hanya tinggal puing-puingnya saja. Kota ini hancur akibat perang saudara pada masa pemerintahan Khalifah Al-Waleed.

Dari Anjar, travel membawa kami ke Baalbeck. Baalbeck disebut juga Heliopolis atau Palace of Sun. Ini adalah peninggalan bangsa Romawi. Rania menjelaskan pada kami kenapa bangsa Romawi membangun istana terbesarnya di Lebanon. ini adalah alasan politis, Romawi ingin menunjukkan kekuasaannya tanpa perang.

Pertama kami memasuki Jupiter Temple yang merupakan kuil terbesar di Baalbeck. Mereka memisahkan tempat ibadah untuk golongan elit dan golongan bawah. Masih ada sisa-sisa pilar yang dikenal sebagai “the six pillars” yang merupakan bekas tempat ibadah kaum elit.

Dari puing-puing the six pillars ini kita bisa melihat Bachos, kuil yang dipersembahkan untuk dewa wine, art and music. Ini adalah dewa hedonis, kesenangan. Banyak sekali ditemukan ukiran daun anggur disini. Ada juga yang mengatakan kuil ini dipersembahkan untuk dewi venus karena banyak ditemukan lambang heksagonal dengan ukiran wanita didalamnya. Selanjutnya kami menuju museum yang memamerkan puing-puing Baalbeck. Tapi aku dan suami tidak terlalu tertarik. Jadi kami pamit untuk membeli souvenir.

Dari Baalbeck Rania menggoda kami apakah kami sudah lapar atau belum. Tentu saja kita kelaparan! Sudah jam 2.30 waktu itu. Kami pun melanjutkan perjalanan ke restoran yang memakan waktu sekitar 45 menit. Menu makan siang kami adalah khubs (roti khas Arab) dengan krim zaitun dan mayonnaise, kue yang mirip pastel dengan isi daging kambing dan daun anggur, asinan sayuran (orang Syria & Lebanon suka banget deh sama sayuran yang diasinkan atau diasamkan). Itu baru appetizer. Main coursenya adalah daging ayam, sapi dan kambing yang kurasa cuma direbus pake bawang putih sama merica doang. Dessertnya adalah buah-buahan segar macam semangka dan anggur.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke destinasi ketiga yaitu Ksaar. Aku pikir ini masih puing-puing seperti Anjar dan Baalbeck. Ternyata ini adalah gua tempat penyimpanan wine! Gudang ini didirikan pada tahun 1857 dan wine-nya banyak memperoleh penghargaan sebagai wine terbaik dalam berbagai festival. Ksaar adalah kebanggaan masyarakat Lebanon. Aku dan suami tidak mendengarkan penjelasan dari tour guide karena kami sibuk foto-foto, gimana caranya dapet foto keren di tempat gelap hehehe… jadi aku tidak tahu seperti apa sejarahnya.

Setelah itu kami menuju lantai 2 dan mendapat kesempatan untuk mencicipi wine. Aku dan suami? Pengen sih, tapi ngga diijinin sama Tuhan. Ya sudahlah, makan es krim saja (kagak nyambung!). Sementara 80% teman tur kami mencicipi wine, kami berdua dan beberapa teman yang lain duduk di taman depan gudang. Disinilah perjalanan tur berakhir.

Kami sampai hotel menjelang maghrib. Masih ada waktu untuk salat dhuhur dan ashar. Setelah itu, jalan lagi ke pantai dekat hotel. Tadinya mau lihat matahari terbenam. Tapi ternyata matahari tertutup awan. Ya sudahlah, view-nya tetep bagus kok. Setelah makan malam kami berdua pulang ke hotel dengan jalan kaki. Jarak dari hotel ke pantai ini nanggung untuk naik taksi. Lagian kan seru menikmati pertokoan di Beirut yang harganya ngga kejangkau untuk kantong kami berdua hehehe.. Psst.. ada banyak baju made in Indonesia loh! Ada 2 jam kami jalan kaki. Efeknya adalah, kita terkapar begitu sampai hotel, dan kesiangan bangun esok harinya yang berarti suamiku terlambat ngantor hehehe…

Akan ada trip to Lebanon part 2..

Foto-foto perjalanan kami ada disini

Sampai di Damaskus

Kemarin aku udah cerita tentang perjalanan dari Jakarta menuju Damaskus. Sesampainya di bandara internasional Damaskus, suami aku sudah menunggu di bagian imigrasi. Duh.. senangnya ketemu yayang setelah sebulan ngga ketemu.. hihihi (nggilani mode on).

Loket pemeriksaan paspor dibagi dalam 4 bagian, Syrian passport, Arab Passport, Foreign Passport, dan Diplomatic Passport. Aku dan pasangan yang bertemu di Doha melewati loket Diplomatic Passport. Pasangan itu ternyata orangtua dari staff suamiku. Setelah melewati pemeriksaan ini, seperti biasa kami mengambil bagasi, dan selesai sudah. Sebelum meninggalkan bandara aku mampir ke toilet. Dan ternyata, masih mending toiletnya bandara Juanda! Disini jorce alis jorok. Padahal ini bagian international departure.

Setelah itu aku dan pasangan tadi berpisah. Aku dan suami melanjutkan perjalanan ke apartemen yang tidak terlalu jauh dari bandara. Sejak di Doha, aku sudah merasakan betapa gerahnya udara. Begitu juga sesampainya aku di Damaskus. Bulan ini memang musim panas. Dan musim panas kali ini luar biasa panas bahkan bagi penduduk setempat. Suhu udara di siang hari bisa mencapai 43 DC. Selain itu, siang hari lebih panjang daripada malam. Subuh pukul 4.25, Dhuhur 13.30, Ashar 16.30, Maghrib 19.45, dan Isya 20.45. Kebayang kan gimana rasanya puasa selama hampir 16 jam di musim panas. So, kalau ada yang ngerasa puasa di Indonesia itu berat, coba inget-inget cerita ini aja hehehe..

Aku punya waktu 4 hari untuk beradaptasi dengan cuaca sebelum memasuki Ramadlan. Dua hari pertama di Damaskus aku mimisan karena tidak tahan panasnya udara. Padahal aku baru keluar apartemen sore hari menjelang maghrib. Ngga kebayang kalau keluarnya siang bolong. Kelembaban udara disini juga sangat rendah seperti halnya Negara-negara lain di benua Afrika (psssttt… aku baru tau kalau Timur Tengah itu terletak di Benua Afrika sebulan sebelum berangkat hihihi). Rendahnya kandungan air membuat aku kurang nyaman ketika bernafas. Hidung dan tenggorokan jadi terasa panas dan kering. Aku bisa menghabiskan air kemasan 1,5 liter hanya dalam waktu sejam saja. Untungnya AC di apartemen berfungsi dengan baik. Paling tidak sedikit menyejukkan.

Selain AC, air juga sangat membantu mendinginkan udara. Anehnya, air di sini sangat dingin. Seperti air di daerah pegunungan. Kontras sekali dengan udara yang begitu panas. Saking dinginnya, kadang kita perlu menggunakan pemanas air. Lucu aja mandi air hangat di musim panas hehehe.. Perpaduan udara panas kering dan air dingin ini membuat kulit jadi kurang bagus. Terlihat agak berkerut dan bersisik. Jadi kita harus mengoleskan pelembab sesering mungkin, bahkan pada pria. Waktu pertama kali masuk kamar tidur dan kamar mandi apartemen suami, aku terkaget-kaget dengan banyak dan lengkapnya produk perawatan yang dia punya. Ngaku deh kalo aku kalah! Kenyataannya situasi memang membuat kita lebih ekstra merawat diri. Beberapa produk yang dibawa dari Indonesia kurang cocok untuk suasana Syria. Jadi harus beli produk baru yang sesuai untuk Negara 4 musim.

Kalau sudah kepanasan begini, rasanya bersyukur sekali punya Negara seperti Indonesia yang mudah sekali menemui tetumbuhan. Sementara disini gersang, penuh gurun-gurun tandus yang menyilaukan mata… Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..

Menuju Damaskus

Selamat bergabung untukku di wordpress.com!

Ini cuma tulisan iseng-iseng untuk mengisi waktuku yang bejibun tapi gat au mo dipake apa hehehe.. Maklum, pengantin baru, belum punya anak, dan ga diijinin kerja. Enak banget deh!

Sejak 7 Agustus yang lalu aku resmi mengikuti suami yang bertugas di Damaskus, Syria, selama kurang lebih 3 tahun. Tinggal di Negara orang tentu berbeda dengan Negara sendiri. Aku akan cerita mulai dari perjalananku, situasi, budaya dan banyak hal lain tentang Damaskus dan tempat-tempat lain yang akan kukunjungi nanti.

Perjalananku menuju Damaskus dimulai Jumat, 6 Agustus 2010, pukul 18.05. Pihak travel sudah mengingatkan aku untuk sampai di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, karena ini adalah international flght. Tapi dasar bandel, aku baru tiba 1,5 jam sebelumnya. Masih keburu sih check in, tapi jadi ngga tenang karena dikejar waktu. Apalagi Jakarta macet. Udah sampe bandara pun masih ketemu macet. Bersyukur deh Pasuruan ngga macet. Akhirnya setelah check in, ngga bisa berlama-lama pamitan sama keluarga karena harus langsung boarding. Padahal mau pergi jauh dan lama banget. So, the fisrt lesson is, nurut ama travel!

Masih di bandara Soetta, lagi-lagi ada hal yang bikin nyesek. Excess baggage alias kelebihan bagasi aku banyak banget. Ternyata ada hal yang baru aku ketahui tentang maskapai penerbangan aku ini (maksudnya maskapai yang aku pilih, bukan milik aku :p). Beberapa maskapai mengijinkan bagasi sampai 30 kg. Tapi maskapai aku ini hanya mengijinkan 20 kg saja. Sudah gitu biaya excess per kilonya mahal sekali. Mencapai US$ 52 per kilo. Padahal maskapai lain hanya US$ 30 perkilo. Bayangkan saja kalau excess baggage aku mencapai hampir 20 kg. Yah namanya juga orang lagi pindah rumah, pasti banyak dong bawaannya (apologi hehehe..). Akhirnya, karena kalkulasi yang tidak tepat, aku harus menguras tabungan hanya untuk bayar bagasi. Padahal itu duit udah direncanain buat macem-macem. Waktu kedatangan yang mepet sekali dengan boarding time juga bikin aku ngga punya kesempatan untuk membongkar koper dan mengurangi isinya. So, the second lesson if you’re gonna bring a lot of things, timbang dulu di rumah pake timbangan badan. Cari info selengkap-lengkapnya juga tentang maskpai yang akan kita naiki. Karena masing-masing maskapai punya kebijakan yang berbeda.

Sebelum sampai di Damaskus, aku transit dulu di Doha, Qatar. Hal pertama yang berkesan dari Duty Free Qatar adalah, terang banget! Ngga tau deh ada berapa banyak lampu yang dipakai. Sensasi penglihatan di sini sangat jauh berbeda dengan Duty Free Soetta, Jakarta yang cenderung romantis. Hah? Bandara suasananya romantis? Yah, daripada bilang gelap kan mending romantis hehehe.. Bisa jadi bandara kita memang sengaja di desain agak gelap untuk memunculkan efek romantis, atau bisa juga bertujuan untuk ngirit listrik. Jadi beban pemerintah kita tidak terlalu berat hehehe.

Setelah transit 2 jam, perjalanan aku berlanjut ke Damaskus. Tidak banyak orang yang ada dalam pesawat ini. Penumpangnya hanya 18 orang. Pesawatnya juga tergolong kecil. Dalam perjalanan Doha-Damaskus ini secara tidak sengaja aku bertemu dengan sepasang suami istri dari Ambon yang akan mengunjungi anaknya di Damaskus. Wah, senang sekali rasanya ada teman yang bisa diajak berbahasa Indonesia.

Total perjalanan Jakarta-Damaskus membutuhkan waktu 13 jam. Aku berangkat pukul 18.05 WIB dan tiba pada pukul 03.10 WS (07.10 WIB). Selama perjalanan itu aku memperoleh 3x jatah makan. Kata suamiku, kalau melakukan perjalanan ke Negara Timur Tengah, kita tidak perlu khawatir soal makanan. Karena makanan yang disajikan pasti halal. Meskipun mereka juga menyediakan minuman beralkohol. Lain halnya ketika kita melakukan perjalanan ke Negara non muslim. Pada saat booking tiket kita sudah harus memesan makanan halal. Kalau tidak, bisa-bisa kita yang muslim tidak makan selama perjalanan. Itu adalah pengalaman suami ketika terbang ke Amerika.

Well, ini baru sekelumit cerita perjalanan aku dari Jakarta ke Damaskus. Ada banyak hal menarik di Damaskus yang menunggu untuk di eksplorasi. Terutama Ramadlannya…