Category Archives: Posting

Penyesuaian Diri

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar diplomat ditugaskan ke luar negeri? Beberapa teman berpikir, kami pindah tinggal bawa keperluan pribadi saja. Sisanya sudah diurus kantor. Rumah dinas, mobil dinas, sekolah anak diurusin. Sederet staff sudah siap membantu kemudahan hidup kami di negara baru.

Asumsi itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Beberapa kantor perwakilan Indonesia memang menyediakan rumah dinas. Biasanya satu komplek dengan kantor, seperti di Riyadh atau Seoul. Tapi, yang tidak menyediakan rumah dinas lebih banyak lagi. Di kantor perwakilan seperti ini, kami mendapat tunjangan sewa rumah. Kadang jumlahnya memang cukup, kadang kami harus nombok. Tergantung kebutuhan pribadi dan situasi negara setempat.

Mobil dinas, duta besar sih sudah tentu dapet. Tapi diplomat remah remah macam kami, kalo mau punya mobil ya bellliii..

Jadi, apa aja yang harus kami lakukan di bulan pertama posting? Begini..

Identitas

Meskipun tercatat sebagai staff kedutaan, seorang diplomat tetap harus lapor diri ke kantor perwakilan. Ya sambil ngantor sih. Ada dokumen dari Kemlu di tanah air yang harus diserahkan ke kantor perwakilan. Paspor seluruh keluarga juga diserahkan untuk diurus status kependudukannya. Setelah itu kami akan mendapat diplomatic card sebagai kartu identitas yang sah.

Rumah

Seperti yang aku bilang tadi, ada kantor perwakilan yang menyediakan rumah dinas. Tapi kebanyakan sih enggak. Kami mendapat tunjangan sewa rumah. Bentuk rumahnya tergantung situasi negara.

Tahun 2011, aku datang ke Damaskus ketika Rahmat sudah berada disana selama 6 bulan. Jadi semua sudah rapi. Aku ngga tau gimana repotnya dia nyari apartemen.

Tapi di DC ini, aku ikut prosesnya dari awal. Kami dibantu oleh staff kantor mencari rumah yang disewakan. Selain itu kami juga mencari informasi dari internet. Total ada 16 rumah & apartemen yang kami datangi dalam waktu 2 minggu. Kebayang ga capeknya, jetlag diri sendiri belum ilang, masih harus mengatasi jetlag anak-anak.

Selama belum mendapat tempat tinggal, kantor menyediakan serviced apartment untuk kami. Kenapa ngoyo tempat tinggal harus fix maximal dalam 3 minggu? Karena di AS, sekolah anak bergantung pada tempat tinggalnya. Kalau rumah belum jelas, ngga bisa ngurus sekolah anak.

Di Damaskus dulu, kami menyewa apartemen 2 kamar tidur. Masih pengantin baru ❤❤… Disana hampir semua hunian disewakan fully furnished. Memudahkan banget karena lengkap sampe kesetnya. Apartemen salah satu teman kami bahkan tersedia mesin pembuat pasta dan sandal di tiap kamar.

Yang sekarang ini, semua hunian, baik apartemen maupun rumah, disewakan kosongan kecuali dapur. Kulkas, kompor, microwave, mesin cuci piring sudah tersedia. Tapi perabotannya ngga ada. Maka urusan rumah ini luar biasa menyita waktu, tenaga dan kantong. Karena kita bener-bener harus beli SEMUANYA. Untuk menghemat, bisa beli barang bekas melalui internet. Atau jeli memanfaatkan masa diskon. Seperti sekarang ini, menjelang labour day, diskon abis-abisan deh.

Saat ini kami menyewa sebuah town house 3 lantai. Hampir semua rumah modelnya begitu. Yang cuma 2 lantai harganya ga karuan 😁. Kami jatuh cinta sama rumah ini, tapi tidak pada harganya. Udah dihindari, nyari kemana mana, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan jadi menyewa. Begitu ngasih kabar ke perusahaannya, lah kok katanya udah ada yang mau sewa. Baruuuu tadi pagi deal-nya. Oalah… yo wes.. berjuang maneh..

Besoknya pas lagi nyari-nyari info sewa rumah, dapet kabar kalo penyewa yang kemarin ngga di approve pemilik. Entah kenapa. Wah.. jodoh nih. Langsung deal saat itu juga. Alhamdulillah.. rumah fix tepat 3 minggu setelah kedatangan kami.

Sekolah

Begitu lokasi rumah jelas, kami langsung melapor ke kantor dinas pendidikan setempat, ke bagian internasional. Anak-anak pindahan, harus mengikuti tes bahasa inggris dan matematika untuk mengetahui di kelas mana dia akan belajar nanti. Tapi karena Mawiya baru kelas 1 SD, dia ngga perlu mengikuti tes itu.

Selain tes tulis, anak-anak pindahan di AS juga harus dicek kelengkapan imunisasinya. Disini kami cukup menunjukkan kartu atau buku catatan vaksin dari rumah sakit atau dokter. Peraturan ini sangat mungkin berbeda dengan negara lain. Seperti cerita teman diplomat di australia misalnya, catatan yang diminta tidak berupa buku, tapi berupa sertifikat. Sertifikat ini bisa didapat dari puskesmas dengan menunjukkan buku vaksin.

Di AS, anak-anak pindahan juga wajib mendapat vaksin TB disini (bukan di Indonesia). Hasilnya harus diserahkan ke sekolah, dengan nota di atas kertas pink, “Simpan baik-baik. Dokumen akan berguna ketika kamu ngurus sekolah, kuliah, dan kerja di seluruh dunia.”

Oke, jadi sekarang catatan vaksin sejak bayi procot itu harus disimpan dan di laminating macam akta kelahiran. Tak punya catatan vaksin? Tenang, bisa vaksin ulang. Seperti yang kebetulan terjadi pada anak salah satu teman kami. Anaknya udah naik kelas X, anak kedua pula. Sewajarnya banget kalo catatan imunisasinya udah ngga ada. Hari itu dia rapelan 5 vaksin sekaligus! Bayangkan! LIMA! Keluar ruangan dia jalan sambil pelukan nyandar ibunya. Kliyengan abis. Kemeng. Mumet.

Sekolah seperti apa yang kami pilih? Amerika Serikat punya sistem pendidikan yang bagus. Sekolah negerinya bagus dan gratis. Jadi kami ngga perlu repot milih, karena udah otomatis sesuai tempat tinggal. Ngga perlu khawatir tentang kualitas karena udah standar dan semuanya bagus.

Beda dengan di Damaskus. Sekolah lokal kurang mengakomodir kebutuhan siswa internasional. Jadi anak-anak asing kebanyakan belajar di sekolah internasional dan tidak terikat zona tinggal.

SIM

Ketika mendampingi suami di Damaskus dulu, cukup setor foto, paspor dan SIM A yang masih berlaku, aku udah langsung dapet semua kartu identitas. Visa tinggal, kartu diplomatik dan SIM Syria. Tapi di DC, kami harus ikut tes. Tanpa kecuali! Bahkan dubes.

Karena sudah punya SIM A yang masih berlaku, kami ngga perlu tes praktek, cukup tes pengetahuan aja. Ini jadi horor buatku karena selain bahasa inggrisku terlalu ngepres, tesnya banyak hafalan dari manual setebal 101 halaman. Seperti berapa jarak parkir dari hydrant. Kenyataan bahwa sebagian besar teman-teman ngga lulus pada trs yang pertama, jadi tekanan tersendiri. Mereka yang bahasa inggrisnya lebih jago aja harus ngulang lagi, apalagi aku kan… Ada 6x jatah mengulang tes. Kalo gagal 6x harus nunggu setahun dari tes yang pertama.

Alhamdulillah setelah try out 14x dan tes 2x, aku lulus. Satu tahapan lain terlewati.

Berbenah

Sebulan tinggal di hotel, tentu banyak barang yang sudah keluar dari koper. Belum lagi belanjaan baru yang dicicil sedikit demi sedikit untuk rumah. Pindah dari hotel ke rumah sewa ternyata tidak semudah itu. Tapi kami juga ngga mau terlalu repot packing rapi. Toh nanti dibongkar lagi. Packing asal masuk aja. Asal ngga ada yang ketinggalan di hotel.

Sampai di rumah, bongkar lagi semuanya. Lemari sudah tersedia, menyatu dengan dinding (aku suka banget lemari macam ini karena kamar jadi terlihat rapi). Semua barang asal masuk lemari aja. Rapi rapinya sambil jalan. Yang penting koper bisa disimpan, enyah dari pandangan mata! 3 bulan penuh berurusan sama koper itu bikin eneg.

Sambil memasukkan barang ke lemari, Rahmat bilang,” dulu pas daftar jadi diplomat, aku ngga kebayang loh akan jadi (ribet) kaya gini. Kirain semua udah ada yang ngurusin.”

“Tapi ngga menyesal kan?” Kataku.

“Yo lapo…” 😂😂😂

Mobil

Entar dulu lah… Bernafas dulu..


Untuk menambah suasana drama, semua itu dilakukan ketika masih jetlag. Perbedaan waktu mencapai 11 jam. Menunggu Isya datang di jam 9.20 terasa sangat berat karena ngantuk. Nahrisyah tantrum hampir 30 menit setiap harinya. Menangis, berteriak, meraung ngga jelas apa maunya. Ditambah lagi dia batuk flu.

Tapi dimana-mana, badai pasti berlalu. Alhamdulillah pelan pelan hidup kami makin teratur dan tertata. Sebelumnya ngga kebayang dan ngga ada yang ngajari secara detil gimana caranya hidup berpindah pindah. Sebagai keluarga diplomat, mau ngga mau kami harus bisa melakukannya.

Advertisements

Di Dalam Sebuah Taksi

Ini adalah Idul Adha pertama kami di Amerika Serikat. Baru sebulan pindah dan kami masih disibukkan dengan urusan rumah, sekolah dll. Pas malam takbiran, di rumah baru lagi rempong abis ngangkat kasur ke lantai atas. Kasurnya nyangkut di tangga karena kegedean 😥. Akhirnya terpaksa diturunkan lagi. Besoknya mereka akan datang lagi dengan tambahan orang. Untungnya malam itu kami masih bisa tidur di hotel.

Kami baru sampai hotel menjelang tengah malam. Anak-anak segera tidur karena kecapekan. Rahmat masih mencari informasi tempat salat Id. Kami punya dua pilihan tempat. Islamic center terdekat, atau Imaam center (milik orang Indonesia) yang lokasinya cukup jauh. Nyari nyari info kesana kemari, ngga juga dapet info tentang salat Id di Islamic center. Kalau ke Imaam center, kebayang jauhnya karena kami lelah dan akan pindahan setelah salat. Kami pun memutuskan untuk coba coba. Coba ke Islamic center aja, kalau ternyata sepi langsung cus ke Imaam center.

Bangun pagi ini rasanya super berat. Masih ngantuk dan capek pindahan rumah. Udah kesiangan nih kita. Segera naik taksi menuju Islamic center, yang ternyata sepi. Bener bener ngga ada tanda yang menunjukkan adanya kegiatan. Entah belum mulai, entah udah selesai, sepi tanpa petunjuk. Langsung putar balik menuju stasiun Dupont Circle. Naik kereta menuju Imaam Center di Silver Spring. Jaraknya sekitar 11 km, dan ada 10 stasiun yang kita lewati. Di kereta kami sudah pasrah kalau seandainya nanti ngga bisa ngejar waktu salat.

Sampai di stasiun Silver Spring, kami mencari taksi. Ternyata lokasinya cukup jauh. Taksi terdepan dikemudikan seorang wanita. Aku minta tolong dia untuk membuka pintu bagasi. Dia sedang membaca buku sambil menunggu penumpang. Dari jendela, terlihat buku yang sedang dibacanya. Ada 2 kolom di tiap halamannya. Yang kanan berbahasa arab, dan yang kiri berbahasa inggris.

Aku terkejut. “Kamu muslim?” Tanyaku.

“Oh bukan. Aku hanya sedang mencari tahu kenapa orang bisa membunuh dengan alasan agama. Aku katolik,” jawabnya.

Setelah mengetahui tujuan kami, dia bercerita bahwa seorang temannya yang beragama Islam memberikan Alquran kepadanya. Supaya dia bisa mencari tahu alasan orang yang membunuh atas nama agama.

“Kamu menemukan sesuatu?” Tanyaku.

“Ya. Tidak ada sama sekali perintah agama untuk membunuh. Lalu kenapa mereka melakukannya? Aku ngga habis pikir. Disini tertulis ‘jangan melakukannya’, tapi malah dilakukan.

“Mereka melakukannya untuk kepentingan mereka sendiri. Entah untuk uang atau kekuasaan atau yang lainnya,” kata Rahmat.

“Disini juga tertulis bahwa Allah adalah Master of Judge. Apa mereka tidak tahu tentang itu?” Kata pengemudi itu sambil menunjukkan surat Alfatihah ayat keempat.

“Tentu saja mereka tahu. Tapi mereka tetap melakukannya,” kata Rahmat.

“Kenapa mereka ingin semua orang menjadi Islam juga?”

“Islam yang seperti mereka. Jangankan dengan agama lain. Sesama Islam yang berbeda dengan mereka saja, juga dibunuh. Padahal Nabi Muhammad, ketika memasuki kota Makkah, tidak mewajibkan semua penduduk untuk pindah Islam. Nabi hanya membuat kesepakatan dengan mereka. Tertulis di Alquran ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’,” kata Rahmat.

“Begitu ya.. hei kelihatannya tempatnya kelewatan,” dia memutar balik mobilnya, tapi tidak menemukan Imaam center. “Kamu yakin alamatnya benar?”

Dia memeriksa lagi alamatnya, mengutak atik GPS nya, ternyata kami berjalan ke arah sebaliknya. Entah siapa tadi yang salah. Kami sudah sangat terlambat.

“Sudah selesai ya salatnya?” Tanya Rahmat pada petugas penjaga parkir. “Masih khutbah sih, Pak. Tapi beberapa menit lagi selesai.” Kami tertawa, dan memutuskan untuk langsung kembali ke stasiun, dengan taksi yang sama.

“Hari ini hari raya kami umat muslim,” kataku pada pengemudi.

“Ohya? Kalian muslim?”

“Iya. Ini hari ketika umat Islam menjalankan ibadah haji,” kataku.

“Apa itu haji?”

“Haji itu salah satu prinsip dasar dalam Islam. Umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Makkah.” Ngga akan cukup waktunya untuk menjelaskan haji 😁

“Oh.. begitu. Kalian ketinggalan ibadah, kalian ngga tau jamnya?”

“Tahu. Tapi kami ngga tau tempatnya. Tidak apa-apa, ini bukan wajib. Bagus kami terlambat, jadi bisa bertemu kamu.”

“Ya.. senang bertemu kalian”

“Sudah berapa lama kamu tinggal disini?” Tanyaku.

“Sudah 7 tahun. Aku datang bersama anakku. Tapi orang tidak memperlakukan kami dengan baik. Sepupu suamiku itu katanya mau membantu, karena kami baru pindah. Tapi dia terus minta minta sampai akhirnya uangku $3000 habis dalam waktu dua minggu.”

“Sekarang kamu masih bertemu dia?”

“Oh tidak.. aku tidak mau lagi bertemu dia. Dalam injil dikatakan, kita tidak perlu bertemu dengan orang yang berbuat negatif pada kita. Jangan menyakiti diri sendiri.”

“Itu adalah alasan yang sama dengan orang yang membunuh dengan alasan agama. Sepupu suamimu itu beralasan membantu, tapi sebenarnya dia hanya butuh uangmu. Orang orang itu membunuh dengan alasan agama, padahal dia punya kepentingan sendiri. Agama adalah senjata paling mudah untuk mengontrol orang lain. Jangan takut pada Islam.”

Obrolan terhenti karena kami sampai di stasiun Silver Spring. “Rugi banget deh kita, udah jalan jauh ternyata ngga bisa salat,” keluh Mawiya. “Ngga rugi kok, kan kita bisa ketemu sama sopir taksi yang seru,” jawabku.

Kami Pergi (lagi)

Sejak ketetapan kantor tentang penugasan suamiku dikeluarkan pada februari 2017 lalu, kami menerima banyak sekali sambutan dari saudara dan teman. Hampir semuanya menunjukkan ekspresi gembira dan antusias. Betapa menyenangkannya hidup di negara lain. Bertemu dengan orang baru, bicara dengan bahasa baru, mengalami budaya baru.

Lalu mulailah segala persiapan seru itu. Mempelajari tentang negara tujuan penempatan nanti. Apa saja yang perlu dibawa kesana. Menginventarisir kebutuhan. Mengikuti berbagai macam pembekalan dan orientasi. Memeriksakan kesehatan keluarga. Tak lupa bagian favoritku, mencari model dan menjahitkan baju baju khas Indonesia.

Tapi apakah semuanya memang terasa indah?

Goodbye Stuffs

Dua tahun terakhir ini kami tinggal di sebuah apartemen sewa. Karena sudah fully furnished, tidak banyak barang yang kami punya. Kami sendiri belum punya rumah. Jadi mau ngga mau, banyak barang yang terpaksa dititipkan ke rumah orangtua di Jawa Timur. Urusan barang ini, masya Allah… baru bab mainan aja rasanya tak kunjung usai. Aku ajak Mawiya untuk memilah mainan, mana yang akan dibawa pindah, mana yang akan disedekahkan, dan mana yang ingin disimpan di Jawa Timur. Baru masukin satu mainan, ketemu mainan yang lama. “Hei ada boneka ini… udah lama aku ngga main ini. Aku mau main dulu ya..” Lah kapan selesainyaaaa??

Demi kewarasan jiwa, akupun memilah secepat mungkin. Lalu aku kasih Mawiya kesempatan untuk berpamitan pada mainannya. “Bye bye toys…” katanya dengan nada sedih dan mata sayu. Aku tanya lagi, “Masih mau cek lagi ngga?” Dia menggeleng pasrah. Sip, semua sudah pada kardusnya. Tiba-tiba Nahrisyah melihat sesuatu yang menarik dari dalam kardus. Koleksi theeter! Dia tarik begitu saja kantong berisi theeter itu, lalu mengeluarkan semua isinya. Good, extra job for me!

Baju aku dan anak-anak, aku yang memilah. Baju suami, dia pilah sendiri. Begitupun buku anak-anak. Peralatan dapur sebagian besar aku hibahkan pada Bibik yang biasa membantu kami. Rumahnya di kampung belakang apartemen. Ada beberapa peralatan yang sangat membantu aku dalam berkemas. Bisa dibaca disini. Ini bukan kepindahan bertahap yang barangnya bisa dicicil. Semua harus beres dalam sekali angkut. Tidak ada jalan kembali.

Goodbye Friends

Pindah rumah berarti pindah sekolah juga. Di Amerika nanti anak-anak harus mendapat imunisasi tertentu sebagai persyaratan masuk sekolah. Sedangkan untuk dokumen, tidak banyak yang harus disiapkan karena Mawiya masih 5 tahun. Catatan hasil belajarnya juga harus diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Sejak 6 bulan yang lalu, aku dan Mawiya berencana akan memberi kenang-kenangan berupa tas rajut kecil untuk teman-temannya. Tidak semuanya, hanya teman satu tim cheerleadingnya. Sebenarnya ini tidak harus, tapi aku ingin anak-anakku punya memori menyenangkan tentang perpisahan. Sudah menjadi jalan hidup mereka untuk sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan orangtuanya. Mereka akan berpisah dengan teman dan saudaranya berulang-ulang.

Tim cheerleading ini namanya Princess. Mawiya bergabung sejak tahun lalu dan chemistry yang tumbuh diantara mereka terasa begitu kuat. Disini Mawiya belajar tentang teamwork. Bahwa kalau kamu ngga konsentrasi, kamu bisa melukai dirimu sendiri dan temanmu. Kalau kamu ngga disiplin latihan, kamu merugikan teman-temanmu yang sudah bersusah payah datang tepat waktu karena ngga bisa membentuk formasi yang benar. Princess menjadi tim yang kompak dan solid.

Dimana-mana, ketika anak kecil berteman baik, biasanya emaknya juga menjadi dekat. Begitupun Mommies Princess. Dari yang awalnya hanya ngobrol latihan, berkembang tentang banyak hal. Maka selain membuat suvenir untuk tim Princess, aku dan Mawiya juga membuat bando mahkota untuk Mommies. Cuma buat heboh-hebohan aja. Mawiya sendiri dengan terlibat dalam proses pembuatan suvenir, dia makin sadar bahwa kami akan pindah, dan kebersamaan bersama teman-temannya akan berakhir.

“Mawiya gimana rasanya mau pindah?”
“Aku ngga tau. Kan aku belum tau Amerika itu seperti apa.”
“Maksudnya, Mawiya senang atau sedih?”
“Hhh..” menghela nafas. Sok gede banget. “Nanti kalo udah sampe sana aku kasih tau. Kalo sekarang aku ngga tau.”
“Oke.. Kalau mau pisahan sama teman-teman, Mawiya gimana rasanya?”
“Mmm…” matanya melihat ke bawah. “Nanti jangan hapus (pesan) whatsapp nya Princess ya..”
“Kenapa?”
“Supaya kita tau mereka lagi ngapain..”

Aku menangkap kesedihan dari nada bicaranya. Mungkin saat itu belum terlalu, karena masih bertemu teman-temannya.

Tibalah kami di hari itu. Ketika kami akan membagikan kenang-kenangan untuk Princess. Mawiya terlihat biasa saja. Aku yang lebay. Pake nangis segala. Bersama tim ini, kami mengumpulkan 2 piala juara 1 kompetisi tingkat DKI, 1 medali perak dan 1 medali perunggu di even olimpiade klub gym kami. Juga sebuah pertunjukan resital yang megah. Semua latihan yang ketat ini berakhir manis. Princess akan mengikuti kompetisi nasional, tetapi Mawiya tidak lagi tergabung sebagai tim. Semua penghargaan itu menjadi akhir yang menyenangkan untuk Mawiya. Sementara aku membayangkan situasi ini akan terus berulang. Ketika kita menjalin kedekatan dengan teman, ketika kita berhasil meraih penghargaan atas usaha selama ini, datanglah hari itu. Hari ketika kita harus berpindah ke tempat baru.

Goodbye Families

Oh Dear… apa yang paling menyakitkan di dunia ini selain berpisah dengan orang yang kau cintai?

Kami punya kesempatan untuk mudik lebaran sebelum pindah ke Amerika. Kesempatan yang sangat baik untuk berpamitan dengan keluarga besar. Semua orang meluangkan waktu untuk bertemu saudaranya. Setiap kali kesal pada mereka, aku menahan diri untuk tidak mengomel atau bersikap tidak baik. Aku tidak mau mengisi waktu yang sempit ini dengan situasi buruk. Setiap kali bertemu dengan keluarga yang sudah berusia lanjut, mataku terasa panas, membayangkan bisa saja ini terakhir kali aku melihat raga mereka. Setiap kali merasa nyaman berada di dekat mereka, hatiku berdesir, bertanya tanya apakah perasaan ini akan bertahan meski kami berjauhan.

Lebaran kemarin aku bertemu dengan saudara yang sedang merindukan anak perempuannya. Sejak menikah, anak perempuannya itu jarang sekali berkunjung karena suaminya tidak mengijinkan. Padahal jarak rumahnya tidak terlalu jauh. Padahal anak perempuan itu sebelumnya adalah aktivis yang lincah. Padahal anak perempuan itu adalah kesayangan dan kebanggannya. Padahal menantunya itu juga kebanggannya. Lalu sekarang dia merasa seperti tidak punya hak atas anak perempuannya. Lah kan aku jadi heran dengernya… Bukankah suami itu memang lebih berhak atas seorang wanita daripada orangtuanya?

Disini aku merasa pernikahanku dengan Rahmat benar-benar dipenuhi nikmat dan rahmat Allah. Keridloan orangtua membuat langkah kami terasa lebih ringan. Tidak sanggup aku membayangkan apa yang akan kuhadapi seandainya aku jauh dari ridlo orangtua. Aku tahu mereka pasti merasa kehilangan, tapi juga sekaligus ikhlas. Terima kasihku yang tak terhingga pada orangtua atas doa dan keikhlasan mereka untuk hidup kami. Tidak sedikitpun, terucap keberatan dari orangtuaku tentang bagaimana Rahmat membawaku selama ini. Mereka sungguh menempatkan diri menjadi orangtua yang pantas untuk diteladani.

Mawiya sendiri, setiap kali berpisah dengan Teta dan Jiddo, pasti sedih. Pasti drama menangis tersedu-sedu. Entah Teta dan Jiddo yang pergi atau dia yang pergi. Ketika kami kembali ke Jakarta, aku cukup terkesan karena ternyata Mawiya tidak seheboh yang kupikirkan. Dia sedih, tapi hanya sebentar menangis. Sampai di playground, biasanya dia akan langsung main. Ternyata kali ini dia bilang, “aku belum siap main.” Oh My… ucapan itu terasa lebih menyedihkan buatku daripada dia menangis tersedu-sedu.

Akupun mengajak dia untuk duduk di pinggir playground bandara sambil mengawasi Nahrisyah bermain. Untungnya tidak lama kemudian, dia mau bermain.

Di pesawat, situasi cukup terkendali. Dia makan, bercanda dan bermain dengan Nahrisyah. Tiba-tiba dia diam, dan berkata,
” Mama, apakah mengucapkan selamat tinggal itu memang sulit?”
“Ya.. kadang-kadang. Mawiya masih sedih?”
Dia mengangguk sambil mengusap air matanya.
“Mama juga sedih. Teta dan Jiddo juga pasti sedih. Kita semua sedih.”
Dia menarik nafas panjang dan kembali mengusap matanya.

Sebelum kami berangkat ke DC, keluarga datang untuk melepas kami. Dibalik semua kerepotan mengurus bagasi, kesedihan kami bisa jadi lebih besar dari yang tampak. Beginilah kehidupan. Sampai jumpa semuanya. Miss you already..