Category Archives: Ramadlan

Drama Ramadlan 1438 H

Sepertiga pertama di Ramadlan ini telah berlalu. Rasanya begitu cepat. Ini tahun kedua untuk Mawiya berpuasa. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dari tahun lalu. Ketika dia pertama kali puasa di akhir usia 4 tahun, dia belum bangun untuk sahur dini hari. Sahurnya dimulai jam 8 sepeti jam sarapan seperti biasa. Kemudian dia akan berpuasa sampai maghrib. Alhamdulillah dia berhasil melaluinya dengan baik. Itu keren banget menurutku, soalnya aku sendiri masih puasa setengah hari waktu umur 7 tahun. Sementara dia sudah puasa full di usia 5 tahun.

Kupikir tantangan terbesarnya adalah berada di tengah teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa. Ternyata bukan itu. Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam rumah. The most uyel-uyel-able creature in the house, Nahrisyah.

Malam itu Mawiya mendadak ngambek ngga mau ikut tarawih. Ramadlan tahun ini kami mengkondisikan dia untuk shalat lima waktu plus tarawih, dengan kartu ber-stiker. Aku tanya kenapa ngga mau shalat. Ngga suka wudlu, jawabnya. Dia terus saja menolak untuk shalat, sampai akhirnya aku shalat sendiri. Papanya kebetulan sedang ada acara di kantor.

Selagi aku shalat, dia hanya diam cemberut, gedebag-gedebug di kasur ngga jelas. Jelas dia kesal. Selesai shalat, aku suruh dia untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Dia kembali merengek, minta ke kamar mandi sama aku. Lah biasanya ke kamar mandi sendiri, sekarang minta ditemani. No! Dia mulai menangis.

“Ada apa sebenarnya? Kamu ngga mau shalat. Ke kamar mandi mau ditemani. Kenapa?”
“Nahrisyah ngga mau wudlu,” jawabnya sambl menangis.
“Loh, apa hubungannya sama Nahrisyah?”
“Aku mau dia melakukan semua yang aku lakukan!”

Oooohhh… crystal clear! Jadi ini masalahnya. Dia cemburu karena Nahrisyah ngga harus shalat dan puasa seperti dia. Ini bayi emang godaan banget. Kerjaannya buka kulkas melulu. Inspeksi isi kulkas, dan mondar mandir dari kulkas ke depan tv sambil bawa makanan. Pada hari pertama puasa Ramadlan, Mawiya menarik bajunya sampai menutupi wajahnya waktu Nahrisyah datang membawa yoghurt dingin. Aku angkat Nahrisyah menjauh dari kakaknya, dia lari lagi menuju tempat semula.

Setelah melalui dialog panjang, alhamdulillah dia mengerti apa bedanya dia dengan bayi 1,5 tahun ini. Setelah itu, kalau lihat Nahrisyah membawa makanan, dia hanya berkata, “Jangan makan di depan kakak ya.. kakak lagi puasa.” Ajaibnya, bayi ini terus pergi dari hadapan kakaknya hahahaha….

Kupikir ini sudah selesai. Kalau hanya ucapan ingin makan, atau ngga sabar nunggu maghrib, biasalah… Yang dewasa aja juga suka begitu. Tapi ternyata ada episode drama lagi. Aku haid. Sebelum ini kami sudah sering bicara tentang haid. Dia sudah tahu wanita dewasa akan haid. Dia juga tahu wanita haid itu tidak boleh shalat. Selama ini ngga pernah drama kalau aku haid. Nah, karena Ramadlan ini ada kartu ber-stiker, dia jadi dilema. Dia ingin shalat dan mendapat stiker, sekaligus iri kenapa aku boleh tidak shalat.

Sepanjang periode haid, 5x sehari, dia terus mempertanyakan kapan aku selesai haid. “Aku mau mama berhenti haid.” “Mama curang, ngga perlu wudlu, ngga perlu shalat.” “Udah adzan, tapi mama tetap saja ngga shalat.” Dan berbagai protes lainnya. Untung ngga pake spanduk. Dia beneran ngga mau shalat, kecuali papanya ada di rumah. Itupun tetep diiringi protes. Sepanjang periode haid pula, 5x sehari, kami berdua berusaha menjelaskan tentang konsekuensi haid. Bahwa dia nanti juga akan haid pada usia tertentu. Ketika itu dia akan resmi menjadi dewasa, serta memiliki tanggung jawab dan konsekuensi yang berbeda dengan sebelum haid. Bahwa haid itu tidak sekedar “ngga shalat”.

Pernah membaca panduan jawaban untuk pertanyaan anak di facebook? Itu hal yang sangat baik untuk dipelajari orangtua. Tapi jangan berharap anak akan menerima pada penyampaian pertama. Dia akan bertanya lagi malamnya, esoknya, lusanya, sampai pada titik kita berpikir, “Ya Tuhan… nanya lagi! Udah dikasih tau berkali-kali masih nanya lagi!!!”

Panduan jawaban yang benar itu penting. Pake banget. Tapi jangan lupa, selain kemampuan bikin orangtuanya bingung, anak juga punya kekuatan super untuk nanya hal yang sama berulang-ulang-ulang-ulang. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu juga harus dikalikan dengan jumlah anak yang kita punya.

17-an di Damaskus

Aku mau certain pengalaman 17-an pertamaku di luar negeri. Udah lewat jauh banget emang. Dan tulisan ini aku buat setelah selesai upacara yang lalu. Tapi karena baru punya blog, ya baru diposting sekarang. Lagian, nanti akan ada tulisan tentang malam gembira perayaan hari kemerdekaan yang mau diadakan KBRI tanggal 16 september mendatang.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan merayakan HUT RI di luar negeri. Dan rasanya… seperti yang akan aku ceritakan kali ini.

Selepas Subuh aku dan suami, begitu juga masyarakat Indonesia lain yang akan mengikuti upacara, tidak lagi kembali tidur seperti biasa. Kami semua tidak ingin keenakan tidur karena semalam tidur sebentar saja dan akhirnya terlambat mengikuti upacara. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, di musim panas siang lebih panjang dari malam. Kami baru selesai tarawih pukul 10 atau 11 malam. Jadi baru tidur pada pukul 12 atau 1 dini hari. Kemudian sudah harus bangun untuk sahur pada pukul 3. Kebayang kan ngantuknya.

Kami harus siap di tempat upacara pada pukul 6.45. Upacara dilakukan pada pukul 7.00 WS atau pukul 10.00 WIB. Jadi bareng kan sama di Indonesia. Lagian, ngga kebayang deh kalau harus upacara pada pukul 10.00 WS seperti di Indonesia. Panasnya minta ampun!

Upacara diikuti oleh seluruh staff KBRI dan perwakilan masyarakat Indonesia di Syria. Peserta tidak lebih dari 200 orang (termasuk anak-anak). Peserta pria mengenakan full dress dan peci, sedangkan peserta wanita mengenakan busana nasional.

Tidak ada yang berbeda dari susunan acara, karena itu memang sudah pakem. Yang berbeda adalah jumlah anggota Paskibra-nya. Kalau di Indonesia format pasukannya diatur 17-8-45, disini hanya ada 6 pasukan. 3 perempuan pembawa bendera, 3 laki-laki sebagai pengibar. Tidak ada ketentuan tinggi badan juga seperti di Indonesia, karena siswa di Sekolah Indonesia Damaskus sangat terbatas. Meski demikian mereka berlatih sungguh-sungguh setiap hari sejak sebelum puasa. Paskibra ini tampil sempurna dan membanggakan.

Sebelum upacara, bahkan sampai upacara dimulai pun, perasaan aku biasa-biasa saja. Tidak ada yang berbeda dari upacara ini selain dilakukan di bulan Ramadlan. Melihat wajah-wajah melayu dan ibu-ibu berkebaya itu membuat aku merasa sedang di Indonesia saja. Waktu paskibra melaksanakan tugasnya aku mulai deg-degan. Tapi sekali lagi ini adalah perasaan yang sudah biasa. Melihat paskibra di Indonesia juga deg-degan. Begitu pengibar mengatakan “bendera siap!”, tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba ada alunan orkestra Indonesia Raya! Suara orkestra itu terdengar begitu gagah, megah dan berwibawa. Seperti ada listrik yang menyengat tengkuk belakang aku dan mengalir ke sekujur tubuh! Sekuat tenaga aku tahan air mata dan itu membuat tenggorokan jadi tercekat sakit. Susah sekali mengeluarkan suara untuk menyanyi dalam keadaan seperti itu. Baru aku menyadari bahwa aku berada di ribuan kilo jauhnya dari Indonesia. Dari tanah kelahiran yang indah, gemah ripah loh jinawi. Dari keluarga dan sahabat yang tercinta. Dari keramahan bangsa yang dipuji bangsa lain.

Lupakan sejenak, tentang korupsi, tentang Malaysia brengsek, tentang anak-anak putus sekolah, tentang petani yang mengeluhkan harga pupuk, tentang demokrasi yang belum juga dewasa, tentang semua persoalan yang ada. Coba ingat dan sadari bahwa kita adalah bangsa yang besar dan kaya. Kita bisa melakukan apapun asalkan kita mau. Kita sama hebatnya dengan Negara lain yang mengaku adidaya. Negara lain sangat tergantung pada keberadaan kita. Kita adalah bangsa yang tidak bisa diremehkan. Masalah itu akan selalu ada selama kita hidup. Yang terpenting adalah kita tidak lari darinya. Selama kita memiliki cinta yang besar dan tidak bersyarat pada Negara, aku yakin kita bisa menyelesaikan masalah yang ada. Cinta itu akan membuat kita menjaga Negara secara otomatis.

Rasa nasionalisme seperti menguat ketika kita berada di luar Indonesia. Termasuk ketika bertemu TKW yang diperlakukan secara tidak adil dan manusiawi. Di Syria sendiri permasalahan TKW tidak ada habisnya. Seperti yang kita tahu, Negara Timur Tengah adalah tujuan utama pengiriman TKW. Nanti aku akan ceritakan permasalahan TKW yang ada di Syria.

Kembali ke upacara bendera, biasanya dilakukan pagi dan sore. Tapi karena saat ini Duta Besar yang baru belum daatang, maka upacara dilakukan sekali saja. Acara resepsi diplomatik yang biasanya ada juga ditiadakan. Selesai upacara ada penyerahan hadiah bagi pemenang lomba yang diadakan sebelum puasa. Setelah itu kami pulang, dan membayar hutang tidur kami.

Ramadlan Mubarak

Aku udah cerita kan kalau musim panas kali ini sangat panas bahkan untuk penduduk setempat. Subhanallah, di hari pertama Ramadlan sampai sekarang, Allah menurunkan sedikit suhu udaranya beberapa derajat sehingga terasa lebih sejuk. Ramadlan yang penuh berkah..

Mau tau cerita Ramadlan disini kan?

Kita awali dari penetapan harinya ya. Ngga terdengar ada yang mulai pada hari yang berbeda tuh. Semua mulai puasa pada hari yang sama, Rabu kemarin. Cuman Ramadlan disini ngga semeriah Indonesia. Semua berjalan biasa-biasa saja. Tidak ada acara khusus sahur seperti di Indonesia yang dipromokan sebulan sebelumnya. Tidak ada iklan khusus versi Ramadlan. Tidak ada patrol. Flat aja. Pada dasarnya keramaian disini pada hari-hari biasa juga stabil. Artinya, siang malem sama aja. Mobil yang lewat siang segitu, malem juga segitu aja. Ngga ada cerita kalo siang macet, kalo malem lancar. Ada juga daerah yang macet, tapi kalo siang macet, malem juga macet. Stabil.

Begitu juga ramadlan dan bukan ramadlan. Tidak ada libur awal puasa seperti di Indonesia. Puasa ya puasa aja kali. Jam kerja juga seperti biasa, ngga dikurangi. Beberapa toko memberikan potongan harga ketika ramadlan. Tapi tidak banyak. Kalau restoran, aku belum tahu sih seperti apa di bulan ramadlan. Karena emang belum jalan-jalan. Yang ini ceritanya menyusul ya.. :p

Sekarang tarawih, ada khilafiyah juga seperti halnya di Indonesia. 8 dan 20 rakaat. Di Pasuruan dulu kan biasanya ada kultum setelah tarawih sebelum witir. Disini juga ada kultum tapi setelah rakaat ke-8. Isinya adalah penjelasan ayat Al-qurán yang baru saja dibaca. Setelah itu tarawih dilanjutkan sampai 20 rakaat. Jamaah yang ingin lanjut, tetap tinggal di masjid. Setelah tarawih, witir 3 rakaat. Ada yang memisahnya, 2 dan 1 rakaat, ada juga yang menggabungkannya, 3 rakaat langsung.

Masjid tempat aku tarawih dekat apartemen terletak di depan KBRI. Masjid ini menerapkan system khataman di bulan ramadlan. Artinya tiap hari membaca satu juz. Jadi genap 30 hari, mereka sudah mengkhatamkan Al-Quran. Imam membacanya dengan kecepatan stabil. Tidak lebih cepat dari salat Isya’, seperti d Indonesia. Karena itu, dari salat isya’ sampai selesai witir, butuh waktu 1,5 jam. Cukup melelahkan bagi aku yang terbiasa tarawih hanya setengah jam hehehehe..

Lamanya waktu salat membuat jamaah lelah memang, tapi tidak membuat mereka meninggalkan masjid. Aku tidak tahu seperti apa jamaah pria, tapi di tempat wanita ada banyak sekali jamaah yang salat sambil duduk di kursi. Ketika bertanya pada jamaah di sebelah aku, dia mengaku sakit pada lututnya dan tidak bisa melipat kaki untuk sujud seperti biasa. Aku jadi teringat orangtua di rumah yang juga menderita osteo arthritis ini. Nampaknya ada banyak jamaah yang juga menderita penyakit ini sehingga pihak masjid menyediakan banyak kursi plastik untuk tempat duduk. Tapi ada juga menurut aku agak aneh. Orang yang menderita osteo arthritis kan melakukan sujud dengan duduk kursi karena lututnya sakit. Nah ini ada juga jamaah yang takbir sambil berdiri sampai imam selesai membaca Al-Fatihah, kemudian duduk sambil menyimak bacaan Alqurán. Setelah itu dia rukuk dan sujud seperti biasa. Artinya, lututnya bisa dilipat dengan sempurna, tapi mereka memilih untuk salat sambil duduk. Mungkin mereka tidak tahan berdiri lama ketika imam membaca satu halaman Alqurán. Dan memang dilihat dari fisiknya, jamaah yang duduk di kursi sudah tidak muda lagi. Kursi-kursi ini membuat jarak antar saf jadi lebih panjang dari biasanya.

Pakaian ibadah jamaah wanita disini seperti halnya wanita Arab pada umumnya, tidak memakai mukena tapi jubah dan kerudung yang mereka kenakan itu. Bedanya dengan wanita Saudi adalah bentuk jubah dan kerudungnya. Wanita Saudi memakai jubah hitam longgar, menyapu lantai dan bercadar. Sementara wanita Syria lebih modis. Jubah mereka berbentuk long coat sampai mata kaki yang pas badan. Bahkan ada ikat pinggangnya. Kerudungnya juga berwarna-warni tapi kebanyakan putih. Pakaian inilah yang juga mereka kenakan ketika salat. Beberapa anak muda salat dengan kaus ketat, jilbab yang dimasukkan ke dalam pakaian dan bawahan mukena. Hanya bawahannya saja untuk menutup celana ketat mereka.

Pada dasarnya kultur masyarakat Syria dalam berpakaian tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Wanita hanya memakai tanktop dan celana pendek adalah hal biasa. Berkerudung dan berbaju ketat juga biasa. Tapi mudah juga kita temui wanita berjubah panjang yang pas badan. Mereka memasukkan kerudung ke dalam pakaian sehingga tampak ringkas.

Begitu juga dengan pria. Pria dengan tampilan sporty ala pemain basket sama mudahnya ditemui dengan pria berjubah. Jubah mereka juga lebih modis dan kasual daripada pria Saudi. Kalau di Saudi pria mengenakan jubah putih lengan panjang dan kerah tegak, di Syria pria mengenakan jubah dalam warna yang lebih variatif. Lengannya pendek dan kerahnya V.